Sejarah Desa Bayalangu Lor | Asal Usul Desa Bayalangu Lor | Profil Desa Bayalangu Lor | Kabupaten Cirebon |
Sejarah Desa Bayalangu Lor Kabupaten Cirebon (Sejarah, Asal Usul dan Profil) Lengkap
Ketika Cirebon mendapat serangan Syekh Majarail dari Alas Tiris Dermayu yang bertujuan menghalangi perkembangan agama Islam, dapat digagalkan dan dikalahkan oleh Fadilah Khan atas perintah Mbah Kuwu Cerbon. Maka terlewatlah bahaya yang mengancam.
Raden Wira Serabaya menikah dengan Nyai Mas Ratu Sekar Lelangu, kemudian bersama Ki Ageng Sumerang membangun padukuhan. Oleh Mbah Kuwu padukuhan tersebut diberi nama sesuai dengan nama suamiistri : Raden Wira serabaya dan Nyai Mas Ratu Sekar Lelangu.
Di Sungai Sigranala Bayalangu dipercayai ada seekor buaya yang sering muncul, akan tetapi setiap dicari tidak dapat ditemukan, padahal buaya itu telah mati.
Sultan Datuk Saleh dari Samudra Pasai meninggalkan negerinya mencari tempat baru untuk mencari ketenangan hidup. Tampuk pemerintahan negaranya diserahkan kepada adiknya yaitu Sultan Malikul Saleh.Di tempatnya yang baru Sultan Syekh Datuk Saleh selalu mendekatkan diri dan berdoa terhadap Allah Swt. Dengan melakukan sholat dan berdzikir beliau memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Akhirnya Datuk Saleh mendapat petunjuk bahwa daerah yang ditempati itu adalah Pulau Majeti, dan juga mendapat petunjuk agar Datuk Saleh membuka daerah itu untuk dijadikan padukuhan atau perkampungan.
Fadilah Khan putra Datuk Saleh merasa rindu setelah ditinggalkan sekian lama oleh ayahnya. Setelah meminta izin dan doa restu dari ibunya pergilah Fadilah Khan meninggalkan Samudera Pasai meski tidak tahu arah yang harus dituju guna mencari ayahnya. Sampailah Fadilah Khan di suatu tegalan (ladang) di mana di situ dikenal dengan nama Desa Tegal Gubug.Dari Tegal Gubug Fadilah Khan mendapati petunjuk bahwa ayahnya, Datuk Saleh sedang babad alas (menebang pepohonan) di Pulau Majeti. Mendengar berita demikian berangkatlah Fadilah Khan menuju Pulau Majeti. Bertemulah ia dengan ayah yang dirindukannya. Pertemuan ayah dan anak ini sangat mengharukan. Mereka saling berpelukan dengan penuh rasa bahagia.Beberapa waktu kemudian, Fadilah Khan diperintahkan oleh ayahnya agar menghadap Mbah Kuwu Cerbon. Sebelum pergi menghadap Mbah Kuwu, Fadilah Khan terlebih dahulu diminta untuk bertapa di dalam tanah di bawah pohon asam kecil (sekarang dikenal dengan nama Asem Cilik).
Ketika Fadilah Khan bertapa, datanglah bertengger sepasang burung Bangau di atas pohon asam itu. Bangau betina bertanya kepada Bangau jantan apa nama tempat dan pohon ini. Apakah pohon ini menyimpan suatu rahasia, karena tampaknya sangat berbeda dengan yang lainnya. Sang Bangau jantan menjawab bahwa daerah ini adalah Pulau Majeti, pohon ini disebut asem cilik dan benar menyipan suatu rahasia, tetapi tidak boleh diceritakan.Bangau betina meminta kepada Bangau jantan agar rahasia dari pohon asam itu diceritakan saja, namun Bangau jantan tetap menolak dengan alas an kuatir ada yang mendengarkan pembicaraan mereka. Tetapi Bangau betina tetap mendesak, dan dikatakan bahwa di sekitar sini tidak ada siapa-siapa, bahkan di sekitar itu (di sekeliling pohon asam) paling hanya terdapat air. Bangau betina tetap mendesak ingin mendapat penjelasan, bahkan mengancam jika tidak memberitahukan ia akan meninggalkan Bangau jantan.Karena Bangau betina terus mendesak, dan mengancam akan meninggalkannya, akhirnya Bangau jantan bercerita juga. Katanya : “Jika cabang pohon asam sebelah Selatan diambil, maka akan menjadi seekor Kuda Sembrani, sebelah Timur diambil menjadi Pakaian Kuda, dan sebelah Utara menjadi Pecut (Cemeti)”.
Penjelasan Bangau jantan ini didegar oleh Fadilah Khan yang sedang bertapa I dalam tanah, kemudian Fadilah Khan berdehem. Mendengar ada yang berdehem, Bangau kaget. Sambil terbang Bangau jantan berkata kepada Bangau betina : “Tuuuuhh…ada yang mendengar”.Fadilah Khan mengakhiri pertapaannya, kemudian diambilnya cabang-cabang pohon asam yang diceritakan Bangau tadi, dan apa yang dikatakan Bangau menjadi kenyataan. Dengan naik Kuda Sembrani itu berangkatlah Fadilah Khan menemui Mbah Kuwu Cerbon memohon agar ia dapat dijadikan muridnya. Mbah Kuwu Cerbon menerimanya.
Suatu waktu Syekh Majarail dari Alas Tiris Dermayu menyerang Cerbon dengan tujuan igin menghapus ajaran agama Islam yang pada waktu itu berkembang pesat. Diutuslah Fafilah Khan untuk menumpas serangan Syekh Majarail. Terjadilah perang tanding antara Fadilah Khan yang mempertahankan perkembangan agama Islam melawan Syekh Majrail. Fadilah Khan dapat mengalahkan Syekh Majrail. Atas kemenangannya dalam mempertahankan serta membela agama Islam dan keutuhan daerah Cerbon, maka oleh Mbah Kuwu ditetapkan bahwa Sultan Datuk Saleh beserta puteranya untuk menetap di Pulau Majeti. Oleh Mbah Kuwu, Datuk Saleh dianugerahi nama Imam Dalika, sedang Fadilah Khan dengan nama Pangeran Alas Putra Agung (sebagian oran menyebut Pangeran Alas).Oleh Mbah Kuwu, Pulau Majeti diberi julukan : BAYALANGU. Baya dari asal kata bahaya, dan Langu artinya terlewat. Jadi arti Bayalanguadalah bahaya yang terlewat, yaitu ketika Cerbon mendapat serangan dari Syekh Majrail tetapi dapat diatasi oleh Fadilah Khan.Di samping julukan Bayalangu, Pulau Majeti dikenal juga dengan nama Bumu Segandu, Cerbon Ilir dan Bumi Caruban.
Nama Kuwu/Kepala Desa Bayalangu:
- Kuwu Irsyad
- Kuwu Sanyar
- Kuwu Irsyad (yang kedua)
- Kuwu H. Anwar Idris : 1937 – 1941
- Kuwu H. Abdulmanan : 1941 – 1945
- Kuwu Wastirah : 1945 – 1950
- Kuwu Khariri (H. As ’ari) : 1950 – 1951
- Kuwu Aksa : 1951 – 1953
- Kuwu Mawi : 1953 – 1961
- Kuwu Kurtuby : 1961 – 1966
- Pjs. H. Ahmad Saefuddin : 1966 – 1967
- Kuwu H. Moh. Syafe’I : 1967 – 1981






