Mahabbah Adalah | Pengertian Mahabbah Menurut Para Ahli | Tingkatan Mahabbah | Cara Mencapai Mahabbah |
Pengertian Mahabbah Menurut Para Ahli
Berikut adalah beberapa pengertian mahabbah menurut para ahli yang dikutip dari beberapa sumber:
- Menurut Ibn Miskawaih mengatakan bahwa Mahabbah Adalah fitrah untuk bersekutu sengan yang lain, sehinggah menjadi sumber alami persatuan. Mahbbah mempunyai dua obyek, yaitu; a) hewani berupa kesenangan dan ini haram, b) spiritual berupa kebijakan atu kebaikan. Sedang tujuan akhir kebaikan adalh kebahagiaan ilahi yang hanya dapat dimiliki oleh orang suci.
- Menurut Imam al-Gazali sebagai seorang sufi mengatakan bahwa Mahabbah Adalah kecenderungan hati kepada sesuatu. Bagi Imam al-Gazali tentunya yang dimaksud adalah kecenderungan kepada Tuhan.
- Menurut Harun Nasution mengemukakan bahwa Mahabbah Adalah mempunyai beberapa pengertian: a) Memeluk kepatuhan pada Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-Nya. b) Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasih. c) Mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali yang dikasih.
- Menurut Rabi’ah al-Adawiyah menggambarkan bahwa Mahabbah Adalah pemberian Tuhan, karena Tuhanlah yang menyingkap tabir, dan keadaan itulah terjadi mahabbah. Oleh karenanya kepada-Nyalah al-mahabbah itu harus dikembalikan.
- Menurut Dzul al-Nun al-Misriy Mahabbah Adalah mencintai apa yang dicintai oleh Allah dan membenci apa yang dibenci oleh-Nya.
- Menurut al Junaid tentang Mahabbah Adalah memasukkan sifat-sifat sang kekasih untuk menggati sifat sang pencinta.
- Menurut al-Sahrawardi menjelaskan bahwa sesungguhanya Mahabbah Adalah suatu mata rantai keselarasan yang mengikat sang pecinta kepada kekasihnya, suatui ketertarikan kepada kekasih, yang menarik sang pecinta kepadanya, sehingga ia melenyapkan sifat yang tidak sesuai dengan kekasihnya agar dapat menangkap sifat sang kekasih.
Tingkatan Mahabbah
Berikut adalah penjelasan tentang Tingkatan Mahabbah :
- Cinta biasa, yaitu selalu mengingat Tuhan dengan zikir, suka menyebut namanama Allah dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan Tuhan.
- Cinta orang sidiq, yaitu orang yang kenal kepada Tuhan, pada kebesaran-Nya, pada kekuasaan-Nya dan lain-lain. Cinta yang dapat menghilangkan tabir yang memisahkan diri seseorang dari Tuhan dan dengan demikian dapat melihat rahasia-rahasia pada Tuhan.
- Cinta orang yang arif, yaitu tahu betul pada Tuhan, yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta, diri yang dicintai. Akhirnya sifat-sifat yang dicintai masuk ke dalam diri yang mencintai.
Cara Mencapai Mahabbah
Berikut adalah penjelasan tentang cara mencapai maqom mahabbah.
Taubat
Dosa merupakan penghalang untuk mendekatkan diri kepada Allah. Seorang Muslim yang hendak mencapai mahabbah dianjurkan untuk membersihkan dosanya terlebih dahulu. Jalur pertama yang bisa ditempuh adalah dengan cara bertaubat. Taubat di sini tidak hanya terbatas pada pelanggaran ajaran agama saja, melainkan juga taubat karena lalai mengingat Tuhan. Ini selaras dengan pendapat Dzunun al-Misri yang membagi taubat menjadi dua bagian. Pertama adalah taubat orang awam, yaitu taubat seseorang karena dosa-dosanya. Dan kedua adalah taubat khawas, yaitu taubat seorang mukmin dari kelalaian mengingat Tuhannya.
Wara’
Wara’ berarti menahan dan memegang. Maksudnya, seorang Muslim harus menahan diri agar tidak melakukan penyimpangan dan tetap memegang teguh ajaran agama, sehingga terpelihara darinya segala macam dosa. Bagi kaum sufi, wara’ diartikan meninggalkan yang syubhat (samar), baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan.
Zuhud
Secara bahasa, zuhud berarti berpaling dan meninggalkan. Maksudnya, seorang Muslim harus berpaling dan meninggalkan segala sesuatu yang dapat menjadi sebab lalai mengingat Tuhan, terutama yang berhubungn dengan duniawi dan segala kemewahannya.
Sabar
Sabar berarti menahan dan meninggikan sesuatu. Umat Islam dianjurkan untuk menahan diri dari segala hal yang tidak sesuai dengan ajaran agama, sehingga kontrol dirinya pun semakin meningkat. Karena itu, kesabaran hal yang penting untuk mempertahahankan diri dari lubang kemaksiatan.
Faqr
Faqr dari segi bahasa berarti patah tulang punggungnya. Karena itu tidak dapat berusaha, sehingga tidak mempunyai apa-apa. Itulah sebabnya faqr diartikan tidak memiliki usaha dan penghasilan yang mencukupi kebutuhan hidupnya.
Namun demikian, faqr bagi kaum sufi adalah tidak menuntut lebih dari apa yang telah dimiliki atu melebihi kebutuhan primer, tetapi juga bererti tidak memiliki sesuatu dan tidak dikuasai oleh sesuatu. Kaum sufi lebih bahagia tidak memiliki sesuatu daripada punya sesuatu, tetapi jauh dari Tuhan.
Dengan demikian, faqr adalah tidak membutuhkan sesuatu kecuali Allah. Mngosongkan hati dari pengaruh dan ikatan materi atau selain Tuhan, agar dirinya tetap suci dan bersih serta berada bersama Tuhan.
Tawakkal
Tawakkal berasal dari kata bererti mewakilkan urusan kepada yang lain. Maksudnya menyerahkan segala urusan kepada Tuhan setelah melakukan usaha semaksimal mungkin karena Dialah yang menentukan segala-galanya.
Ridha
Dari segi bahasa berarti merestui, kebalikan dari murka atau marah.49 Sementara Dzu al-Nun al-Misri mengatakan, seperti yang dikutip oleh al-Kalabazi bahwa ridha adalah merasa bahagia dengan segala ketentuan Tuhan sekalipun pahit. Maksudnya senantiasa dalam keadaan suka dan senang dengan menghilangkan perasaan benci dalam hati. Segala coban diterima dengan senang hati, sehingga sama saja mendapat nikmat atau malapetaka.






