5 Pengertian Ibadah, Macam Macam, Bentuk, Tujuan dan Hikmah Melakukan Ibadah

Pengertian ibadah

Ibadah Adalah | Pengertian Ibadah Menurut Para Ahli | Macam Macam Ibadah | Bentuk Bentuk Ibadah | Tujuan Ibadah | Hikmah Melakukan Ibadah |

Pengertian Ibadah Menurut Para Ahli

Berikut adalah beberapa pengertian ibadah menurut para ahli yang dikutip dari beberapa sumber :

  1. Menurut ulama Tauhid Ibadah Adalah “pengesaan Allah dan pengagunganNya dengan segala kepatuhan dan kerendahan diri kepada- Nya.”
  2. Menurut ulama Akhlak Ibadah Adalah “Pengamalan segala kepatuhan kepada Allah secara badaniah, dengan menegakkan syariah- Nya.”
  3. Menurut ulama Tasawuf Ibadah Adalah “Perbuatan mukalaf yang berlawanan dengan hawa nafsunya untuk mengagungkan Tuhan- Nya.”
  4. Menurut ulama Fikih Ibadah Adalah “Segala kepatuhan yang dilakukan untuk mencapai rida Allah, dengan mengharapkan pahala-Nya di akhirat.”
  5. Menurut jumhur ulama Ibadah Adalah nama yang mencakup segala sesuatu yang disukai Allah dan yang diridlai- Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik terang- terangan maupun diam- diam.”

Macam Macam Ibadah

Berikut adalah penjelasan tentang macam macam ibadah:

Mahdhah

Ibadah mahdhah atau ibadah khusus ialah ibadah yang apa saja yang telah ditetapkan Allah baik tata cara dan perincian-perinciannya (sifat, waktu, tempat dll). Dengan prinsip : Harus berdasarkan adanya dalil perintah, baik dari Al-Quran maupun Hadits. Tata caranya harus berpola kepada apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Bersifat supra rasional (di atas jangkauan akal) artinya ibadah bentuk ini ukurannya bukan logika.

Ghairu Mahdhah

Ibadah ghairu mahdhah ialah segala amalan yang diizinkan oleh Allah yang tata cara dan perincian-perinciannya tidak ditetapkan dengan jelas. Dengan prinsip : Keberadaannya didasarkan atas tidak adanya dalil yang melarang, selama Allah dan Rasul-Nya tidak melarang maka ibadah bentuk ini boleh dilakukan. Tata laksananya tidak perlu berpola kepada contoh Rasulullah sehingga perkara baru (bid’ah) dalam ibadah ghairu mahdhah diperbolehkan. Bersifat rasional, ibadah bentuk ini baik-buruknya, atau untung-ruginya, manfaat atau mudharatnya, dapat ditentukan oleh akal atau logika. Sehingga jika menurut logika sehat, itu buruk, merugikan dan mudharat, maka tidak boleh dilaksanakan. Azasnya Manfaat, selama itu bermanfaat maka boleh dilakukan. Dalam ibadah ghairu mahdhah, jangan bertanya mana dalil yang memerintahkannya. Tapi tanyakan dalil mana yang melarangnya?.

Bentuk Bentuk Ibadah

Berikut adalah penjelasan tentang bentuk bentuk ibadah :

  • Ibadah jasmaniah dan rohaniah (jasmani dan rohani). Contohnya: sholat dan puasa.
  • Ibadah rohaniah dan maliyah (rohani dan harta). Contonya: zakat.
  • Ibadah jasmaniah, rohaniah, dan maliyah (jasmani, rohani, dan harta). Contohnya: ibadah haji.

Tujuan Ibadah

Berikut adalah penjelasan tentang tujuan ibadah:  

  • Ibadah dilakukan untuk menciptakan hubungan harmonis antara makhluk dan Sang Penciptanya, yaitu Allah SWT.
  • Ibadah dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah karena telah menciptakan, memelihara, mengangkat manusia sebagai khilafah di bumi, serta mengizinkan manusia untuk mengambil manfaat yang disediakan oleh alam.
  • Ibadah dilakukan untuk mengukur sejauh mana kepatuhan para makhluk ciptaan Allah dalam melaksanakan perintah-Nya.
  • Patuh tidaknya seorang hamba dalam melaksanakan perintah Allah akan mempengaruhi nasib mereka di dunia maupun di akhirat untuk kehidupan yang akan datang.
  • Ibadah dapat memberikan rasa aman, damai, dan tenang, karena Allah dapat mengurus setiap urusan pada hambanya.
  • Ibadah dilakukan untuk menghilangkan rasa takabur karena hanya Allah Yang Maha Besar yang memiliki segala kesempurnaan.
  • Ibadah dilakukan sebagai bentuk ekspresi bahwa manusia hanya makhluk yang lemak dan membutuhkan setiap pertolongan dan kekuatan dari Allah SWT.

Hikmah Melakukan Ibadah

Berikut adalah penjelasan tentang hikmah melakukan ibadah:  

  • Tidak Syirik. Seorang hamba yang sudah berketetapan hati untuk senantiasa beribadah menyembah kepada Nya, maka ia harus meninggalkan segala bentuk syirik. Ia telah mengetahui segala sifat-sifat yang dimiliki Nya adalah lebih besar dari segala yang ada, sehingga tidak ada wujud lain yang dapat mengungguli-Nya.
  • Memiliki ketakwaan. Ketakwaan yang dilandasi cinta timbul karena ibadah yang dilakukan manusia setelah merasakan kemurahan dan keindahan Allah SWT. Setelah manusia melihat kemurahan dan keindahan Nya munculah dorongan untuk beribadah kepada Nya. Sedangkan ketakwaan yang dilandasi rasa takut timbul karena manusia menjalankan ibadah dianggap sebagai suatu kewajiban bukan sebagai kebutuhan. Ketika manusia menjalankan ibadah sebagai suatu kewajiban adakalanya muncul ketidak ikhlasan, terpaksa dan ketakutan akan balasan dari pelanggaran karena tidak menjalankankewajiban.
  • Terhindar dari kemaksiatan. Ibadah memiliki daya pensucian yang kuat sehingga dapat menjadi tameng dari pengaruh kemaksiatan, tetapi keadaan ini hanya bisa dikuasai jika ibadah yang dilakukan berkualitas. Ibadah ibarat sebuah baju yang harus selaludipakai dimanapun manusia berada.
  • Berjiwa sosial, ibadah menjadikan seorang hamba menjadi lebih peka dengan keadaan lingkungan disekitarnya, karena dia mendapat pengalaman langsung dari ibadah yang dikerjakannya. Sebagaimana ketika melakukan ibadah puasa, ia merasakan rasanya lapar yang biasa dirasakan orang-orang yang kekurangan. Sehingga mendorong hamba tersebut lebih memperhatikan orang lain.
  • Tidak kikir. Harta yang dimiliki manusia pada dasarnya bukan miliknya tetapi milik Allah SWT yang seharusnya diperuntukan untuk kemaslahatan umat. Tetapi karena kecintaan manusia yang begita besar terhadap keduniawian menjadikan dia lupa dan kikir akan hartanya. Berbeda dengan hamba yang mencintai Allah SWT, senantiasa dawam menafkahkan hartanya di jalan Allah SWT, ia menyadari bahwa miliknya adalah bukan haknya tetapi ia hanya memanfaatkan untuk keperluanya semata-mata sebagai bekal di akhirat yang diwujudkan dalam bentuk pengorbanan hartauntuk keperluan umat.

Related posts