Pemikiran Muhammad Abduh Tentang Pembaharuan Islam dan Penelitian Tentangnya

Pemikiran Muhammad Abduh

Pemikiran Muhammad Abduh Tentang Pembaharuan Islam | Makalah Pemikiran Muhammad Abduh Tentang Pembaharuan Islam | Penelitian Pemikiran Muhammad Abduh Tentang Pembaharuan Islam |

Pemikiran Muhammad Abduh Tentang Pembaharuan Islam

Gagasan pembaharuan Pembaharuan Islam Islam adalah keniscayaan yang tidak dapat dianggap sederhana karena modernisasi Pembaharuan Islam Islam tidak akan berjalan dengan baik jika kita terlena kejayaan masa lalu dan tidak mempersiapkan diri dalam menghadapi tuntutan zaman di era kontemporer. Keinginan untuk mengembalikan bendera kejayaan hanya omong kosong, jika kita tidak berikhtiar mencari jalan terbaik dalam menyelesaikan seluruh problematika Pembaharuan Islam Islam.

Ide Pembaruan Islam muncul pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 Masehi. Hal ini ditandai dengan terjadinya kontak Islam dengan Barat untuk kali kedua sehingga terjadi pertukaran di berbagai aspek. Kontak ini telah mengakibatkan masuknya ilmu pengetahuan dan teknologi Barat ke dalam dunia Islam. Proses ini diawali dengan ekspedisi Napoleon ke Mesir pada tahun 1798. Misi kedatangan Napoleon ke Mesir ingin memperkenalkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Barat terhadap kaum muslim. Kaum Muslim amat terkejut melihat kemajuan yang telah dicapai Barat. Mereka tidak mengira, Barat yang dulu pada abad ke-12 dan ke-13 M belajar dari Islam, tapi kini telah begitu maju melebihi kaum Muslim dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menurut Abduh, pembaharuan agama berarti membebaskan akal fikiran dari ikatan taklid, memahami agama lewat pemahaman kaum salaf umat ini sebelum munculnya perselisihan, kembali kepada sumber-sumber utama dan asli dalam memperoleh pengetahuan (agama) sambil meletakkannya dalam timbangan akal sebagai karunia Allah bagi manusia agar mereka tidak tergelincir dan tersesat. Akal juga merupakan kesempurnaan hikmah Allah dalam memelihara aturan alam insani. Dalam hal ini akal merupakan teman seiring ilmu, pendorong untuk menyingkap rahasia-rahasia semesta (al-kaun), penyeru untuk menghormati hakikat-hakikat sejati, dan salah satu sarana terbaik untuk mendidik jiwa dan meluruskan amal perbuatan.

Pernyataan di atas memberi gambaran jelas tentang bagaimana Abduh sangat menghormati akal, posisi serta kemampuannya dalam mencari, meneliti, dan menemukan hakikat-hakikat semesta dan kehidupannya. Ini sama sekali tidak mengimplikasikan makna bahwa agama dalam pemikiran Muhammad Abduh menempati posisi di bawah akal. Ia justru menjadikan agama sebagai sumber pertama dan asasi bagi segenap aktifitasmanusia.

Menurut Abduh, Tujuan pendidikan adalah “mendidik akal dan jiwa dan menyampaikannya kepada batas-batas kemungkinan seorang mencapai kebahagian hidup dunia dan akhirat”. Muhammad Abduh menitik beratkan pembaruannya di bidang pendidikan. Hal ini sejalan dengan tujuan hidupnya yaitu:

  1. Membebaskan pemikiran dari belenggu taklid dan memahami ajaran agama sesuai dengan jalan yang ditempuh ulama zaman klasik (salaf), yaitu zaman sebelum timbulnya perbedaan faham, yaitu dengan kembali kepada sumber-sumber utamanya.
  2. Memperbaiki bahasa Arab yang dipakai, baik oleh instansi pemerintah maupun surat-surat kabar dan masyarakat pada umumnya, dalam surat menyurat mereka.

Menurut Muhammad Abduh, salah satu sebab keterbelakangan umat Islam yang amat memprihatinkan ini adalah hilangnya tradisi intelektual, yang intinya adalah kebebasan berpikir. Menurutnya, bidang pendidikan dan keilmuan lebih menentukan ketimbang bidang politik. Karena itu, Muhammad Abduh kemudian memilih mencurahkan perhatiannya kepada usaha reformasi intelektual dan pendidikan. Menurutnya, upaya pembaruan dimulai dengan membangun sistem pendidikan yang kritis dengan metode yang modern.

Dalam pandangan Muhammad Abduh, kekalahan serta ketertinggalan Mesir terhadap Eropa penjajah disebabkan karena ketidak-mampuan orang-orang Mesir untuk keluar dari jerat dogmatisme yang itu diperkuat oleh pendidikan Mesir yang konvensional (metode hafalan). Lemahnya penguasaan terhadap bahasa Arab juga menjadi faktor lain sehingga orang-orang Mesir tidak memiliki cukup alat guna mengkaji ulang kitab-kitab yang ditulis oleh para cendikiawan muslim pendahulunya. inilah yang menjadi salah-satu faktor kekakuan orang-orang Mesir dalam berfikir. Akibatnya, orang-orang Mesir kemudian terlalu asyik dengan cara-cara berfikir yang berlandaskan warisan kebudayan berfikir klasik (taqlid), sehingga tidak memiliki kreatifitas yang inovatif dalam melahirkan pandangan-pandangan. baru untuk kemaslahatannya, lebih-lebih menghadapi zaman yang selalu menuntut perubahan. Hal tersebut sangat berbeda dengan sistem pendidikan modern yang diterapkan oleh Eropa yang hakikatnya adalah pendidikan Islam itu sendiri.

Dalam dunia politik, ketertarikan Muhammad Abduh pada dunia politik semenjak perkenalannya dengan seorang pembaharu yaitu jamaludin al Afghani pada saat ia masih mahasiswa al Azhar. Abduh juga ikut dalam revolusi Urabi Pasya, yaitu golongan tentara nasionalis Mesir yang ingin mengontrol dan menguasai tentara mesir dari perwiraperwira Turki dan sarkas Inggris. Yang kemudian loyalis Urabi Pasya inipun diberangus oleh Inggris dan para tokohnya ditahan dan dibuang termasuk Muhammad Abduh, seperti tertulis di atas bersama al Afgani selama pengasingannya di Paris, Muhhamd Abduh membuat organisasi dan majalah al urwat al Wusqa dan al Manar. Melalui majalah ini menyusungerakan kesadaran umat Islam sedunia. Dengan perantaraan majalah inilah di tiupkan kesadaran supaya umat islam bangkit dari tidurnya, Abduh berpendapat bahwa pembaharuan negara dapat dicapai melalui pembaharuan umat.

Beberapa Penelitian Pemikiran Muhammad Abduh Tentang Pembaharuan Islam

Berikut adalah beberapa penelitian “Pemikiran Muhammad Abduh Tentang Pembaharuan Islam”:

Muhammad Abduh dan Pemikiran-Pemikirannya Oleh Moh. Khozin

Berikut adalah kesimpulan dari penelitian yang ditulis oleh Moh. Khozin dengan judul Muhammad Abduh dan Pemikiran-Pemikirannya dalam jurnal Educational Journal of History and Humanities Volume 1 No (2), 2018, Hal 6-15

Dari uraian tentang pemikiran-pemikiran Muhammad Abduh di atas, tampak sekali Abduh sangat menonjolkan peran akal dalam memahami masalah-masalah keagamaan. Hal terpenting yang dilakukan Abduh adalah usahanya untuk membebaskan akal dari belenggu taqlid yang disadari atau tidak menghambat perkembangan pengetahuan agama. Sebagai seorang ulama, pemikir, pendidik dan teolog, pemikiran Muhammad Abduh sebenarnya ingin memajukan umat Islam dengan cara merombak pemahaman keagamaan umat Islam, tak terkecuali dalam masalah-masalah teologi. Ia ingat concern dalam bidang pendidikan, hampir seluruh hidupnya ia curahkan untuk meningkatkan kwalitas pendidikan. Dengan pengalaman masa lalu yang ia dapatkan, bahwa metode pengajaran yang salah, menghafal di luar kepala tanpa memahami makna dan ketertinggatan umat Islam dari barat, membuat dia terobsesi akan sistem pendidikan di Mesir

Studi Pemikiran Muhammad Abduh Dan Pengaruhnya Terhadap Pendidikan Di Indonesia Oleh Komaruzaman

Berikut adalah kesimpulan dari penelitian yang ditulis oleh Komaruzaman dengan judul Studi Pemikiran Muhammad Abduh Dan Pengaruhnya Terhadap Pendidikan Di Indonesia dalam jurnalTarbawi: Jurnal Keilmuan Manajemen Pendidikan

Muhammad Abduh adalah sosok pembaharu pada abad 19 yang ide-idenya sangat cemerlang untuk pembaharuan Islam dari bebagai aspek. Abduh bisa membangkitkan kembali semangat juang umat Islam untuk terus maju dalam bidang ilmu pengetahuan setelah mengalami fase kejumudan. Ide pembaruan Abduh merupakan hal yang sangat besar pengaruhnya terhadap pendidikan pada saat itu dan masih terasing hingga kini. Ia menggagas kurikulum pendidikan yang berbasis ilmu pengetahan dan filsafat yang menggunakan akal dengan tidak meninggalkan pelajaran agama.

Konsep Pemikiran Pembaharuan Muhammad Abduh Dan Relevansinya Dalam Manajemen Pendidikan Islam Di Era Kontemporer (Kajian Filosofis Historis) Oleh Rz. Ricky Satria Wiranata

Berikut adalah kesimpulan dari penelitian yang ditulis oleh Rz. Ricky Satria Wiranata dengan judul Konsep Pemikiran Pembaharuan Muhammad Abduh Dan Relevansinya Dalam Manajemen Pendidikan Islam Di Era Kontemporer (Kajian Filosofis Historis) dalam jurnal Al-Fahim : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam vol. 1 no. 1 (2019)

Pendidikan Islam harus memiliki menejemen yang mampu mengakomodir urusan dunia dan ukhrowi. Menurut Abduh, kewajiban belajar itu tidak hanya mempelajari buku-buku klasik Berbahasa Arab yang berisi dogma Ilmu Kalam untuk membela Islam. Akan tetapi, kewajiban belajar juga terletak pada mempelajari sains modern, serta sejarah dan agama Eropa, agar diketahui sebab-sebab kemajuan yang telah mereka capai. Hal ini sejalan dengan spirit Lembaga Pendidikan Islam unggulan di Indonesia saat ini. 

Related posts