Pada jurnal membaca kali ini, kalian akan diajak untuk membuat resensi buku, khususnya hikayat dan atau kumpulan cerpen. Resensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya atau buku. Resensi ditulis untuk menyampaikan kepada para pembaca apakah hasil karya atau buku tersebut patut mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak.

Soal Jawaban Kurikulum Merdeka

Kalian dapat membaca buku antologi cerpen yang ditulis oleh satu pengarang atau hikayat yang ada di perpustakaan sekolah atau di sekitarmu. Kalian juga dapat mengunakan buku-buku elektronik berikut:

1. Hikayat Aladin (http://repositori.kemdikbud.go.id/id/eprint/1873)

2. Hikayat Banjar dan Kotaringin (http://repositori.kemdikbud.go.id/13617/)

3. Hikayat Panji Kuda Semirang (http://repositori.kemdikbud.go.id/1893/)

4. Hikayat Sariman Budi (http://repositori.kemdikbud.go.id/8330/)  

5. Hikayat Negri Johor (http://repositori.kemdikbud.go.id/1890/)

Jawaban:

Untuk membuat resensi dari beberapa beberapa buku di atas, kamu bisa contoh resensi antologi cerpen di bawah ini:

Resensi Antologi Cerpen

Perempuan Merah dan Lelaki Haru

Judul: Perempuan Merah & Lelaki Haru

Penulis: FLP Malang

Penerbit: Ide Kreatif 

ISBN: 978-602-18126-3-1 

Tebal: 158 hal   

Tahun terbit: November 2012 

Cetakan: ke I 

Genre: Fiksi — Cerpen   

Perempuan Merah & Lelaki Haru merupakan antologi cerpen fiksi karya FLP Malang yang sukses mengukir kesan mendalam yang membekas di hati pembacanya. Seperti karya fiksi mereka yang terasa begitu khas lainnya, hal tersebut juga dirasakan di buku ini. Dari sampulnya yang sederhana namun tetap elegan, penulis yakin pembaca sudah bisa merasakan keistimewaan dari buku ini bahkan sebelum membaca isinya yang mengagumkan . 
Buku antologi ini berisi 15 cerita pendek yang ditulis oleh 11 orang anggota FLP Malang. Hebatnya, sebagian besar karya ini pernah diterbitkan di koran, majalah, hingga memenangkan lomba kepenulisan tingkat provinsi dan nasional. Hal itu membuktikan bahwa karya di buku ini beserta penulisnya memiliki kualitas yang bukan main. Selain itu, cerpen yang ada di dalamnya juga kaya akan ide-ide segar yang sangat menarik untuk ditelusuri. Berbagai tema yang hadir di lingkungan sekitar diramu secara kreatif dengan karakter yang begitu unik. Pesan moralnya pun berhasil disampaikan oleh para penulis secara tak langsung dan meninggalkan makna mendalam setelah membacanya. 
Dibuka oleh Ai El APf dengan cerpennya yang berjudul “Perempuan Merah”, alurnya sukses membuat pembaca penasaran dan terus membaca hingga akhir. Cerpen ini berkisah tentang tokoh “Aku” yang sangat membenci perempuan merah, seorang wanita baru dalam kehidupan ayahnya yang juga ia benci. Tokoh “Aku” diceritakan sedang bercerita kepada adiknya yang sudah meninggal bernama Dullah. Emosi dan perang batinnya terhadap perempuan merah begitu terasa dan sangat kuat. Rasa benci, sedih, serta konflik yang ada terasa sangat nyata meski harus berakhir tragis dan ditutup oleh api. 
Cerpen lain berjudul “Di Balik 102 Tahun Pak Sinden” karya Ummu Rahayu juga tak kalah menarik. Berkisah tentang seorang kakek tua dengan tingkah laku dan kebiasaan anehnya yang menarik perhatian Ulfah, seorang mahasiswi yang ngekos di depan rumah pak Sinden. Ulfah memberi nama kakek itu ‘Pak sinden’ karena ia selalu mengumandangkan adzan dengan nada sinden. Cerpen ini berhasil membangkitkan rasa penasaran pembaca karena penulis dengan lihainya dapat menceritakan “Pak Sinden” secara detail dan berkarakter kuat. Kisah tentang Ulfah dan Pak sinden ini pun ditutup hanya oleh dialog Ulfah dan temannya, Neni, yang mengungkapkan siapa sebenarnya pak Sinden yang aneh dan selalu membuat Ulfah penasaran serta rindu ingin melihatnya. 
Selain itu, buku ini juga memuat cerpen berjudul “Sepenggal Janji” karya Maulida Azizah. Berkisah tentang seorang anak dengan keterbelakangan mental, ia ingin memenuhi janji kepada seorang pencopet cilik yang ia temui—temannya. Sepeninggal ayahnya, si pencopet kecil begitu terpukul karena dirinya dan “Aku” terlambat mengumpulkan uang untuk operasi ayahnya. “Aku” pun menghibur temannya itu dan berjanji akan mengabulkan apapun yang temannya mau. Namun, pencopet kecil itu lebih memilih mati daripada hidup tanpa ayahnya. “Aku” pun memenuhi janjinya dengan mengakhiri hidup si pencopet. Cerita ini kemudian berakhir di Rumah Sakit Jiwa, tragis dan sedih. Meski begitu, terasa ketulusan hati seorang anak dengan keterbelakangan mental yang hanya ingin memenuhi janjinya. 
Cerpen lain yang juga sangat mengesankan dan menyayat hati antara lain “Bocah Pasir Brantas”, “Gelar di Atas Batu Nisan” dan “Ode Sebuah Perjalanan” karya Mashdar Zainal; “Adik Bela & Bola” karya Nur Muhammadian; “Laptop Tahun Baru” karya Fahrul Khakim; dan “Kerasukan” karya Mahbub Ul Haq. 
Seluruh kisah di buku ini mampu membuat pembacanya hanyut dalam berbagai perasaan. Mulai dari terkesan, senang, tergelitik, terenyuh, menangis, bahkan menahan napas. Berbagai diksi yang indah, penokohannya yang kuat, emosi yang tentunya membekas, dan pemaparan latar sangat detail, serta makna yang mendalam. Buku ini juga dilengkapi lembar proses kreatif penulisan cerpen. Sehingga, selain bisa menikmati cerpennya, pembaca juga dapat mengetahui bagaimana para penulis menciptakan cerpen memukau mereka. Secara tak langsung, buku ini dapat menjadi sarana belajar menulis untuk pembaca. Hanya saja, untuk pemilihan kertasnya dirasa sedikit tipis dan terdapat sedikit kesalahan penulisan. Namun, itu bukanlah kesalahan yang fatal dan tidak menutupi segala kelebihan yang buku ini miliki.  
Secara keseluruhan, antologi ini sangatlah bagus dan layak untuk dibaca. Bagi para pecinta dan penikmat kisah fiksi, terutama cerita pendek, buku ini menjadi salah satu koleksi yang wajib untuk dimiliki. Keren!   
DOWNLOAD DI SINI

Related posts