Menafsirkan Makna Tari | Makna Tari Berdasarkan Kajian Tekstual | Makna Seni Tari Berdasarkan Kajian Kontekstual | Makna Tari Tradisi Indonesia Berdasarkan Pendekatan Kajian Tekstual dan Kontekstual | Makna Tari Non tradisi Indonesia Berdasarkan Pendekatan Kajian Tekstual dan Kontekstual |
Makna Tari Berdasarkan Kajian Tekstual
Tari dapat dikaji secara luas, artinya dalam melihat seni tari tidak hanya sekedar melihat gerak tubuh dan mendengarkan alunan musik saja, melainkan tari perlu dilihat secara lebih utuh dan lengkap berdasarkan pendekatan tekstual dan kontekstual.
Terdapat beberapa tahapan yang dapat dilakukan untuk mengetahui makna tari berdasarkan kajian tekstual. Tahapan tersebut adalah proses mengamati semua unsur atau elemen dalam tari yang tampak oleh indera, tidak hanya elemen pokok berupa penari ataupun gerak tari, tetapi dengan mengamati juga seluruh elemen pendukungnya.
- Mengamati penari sebagai pelaku pertunjukan
Penari sebagai pelaku tari merupakan objek yang bisa diamati secara tekstual. Makna tari berdasarkan kajian tekstual dapat diamati dalam beberapa kategori, antara lain penari berdasarkan jenis kelamin, penari berdasarkan usia, penari berdasarkan jumlah penari dalam pertunjukan atau ciri-ciri dan kriteria khusus fisik penari.
Dalam kepercayaan masyarakat suatu daerah, terdapat beberapa pertunjukan tari yang tidak lazim dibawakan oleh jenis kelamin tertentu. Contoh tari yang pada pertunjukannya terikat dengan gender adalah tari Bedhaya Ketawang, yaitu tari klasik yang ditampilkan dalam lingkungan kasunanan Surakarta yang hanya boleh dilakukan oleh perempuan. Hal itu karena berkaitan dengan makna perempuan sebagai penyeimbang dan sumber dalam kehidupan.
Kategorisasi penari yang menggambarkan makna berdasarkan kategorisasi usia, contohnya tari Tarawangsa dalam upacara Ngalaksa di desa Rancakalong, Sumedang. Penari yang berumur lanjut atau menopause melambangkan kematangan diri dan orang yang paling dekat menuju Sang Maha Pencipta, sehingga dalam tarian ini tidak dapat digantikan oleh remaja karena kesakralan tariannya tidak akan tercapai.
Selanjutnya makna tari terikat pada kategori berdasarkan jumlah penari. Secara tekstual bilangan ganjil genap memiliki makna tersendiri yang erat kaitan dengan kepercayaan masyrakat. Angka 1, 3, 5, 7 dan 9 biasanya terdapat pada tari-tarian upacara yang bersifat sakral.
- Mengamati Gerak
Gerak terdiri dari ruang, tenaga dan waktu. Seperti materi yang telah dijelaskan pada bab 1, desain gerak, tempo dan tenaga memiliki kaitan dengan makna tari. Tari dengan gerak, tempo lambat dan ruang yang sempit memiliki makna yang umumnya menceritakan tentang kesedihan, sedangkan gerak dengan tempo cepat, tenaga yang kuat, serta ruang yang lebar mengandung makna kebebasan. Mengamati elemen gerak tari merupakan bagian paling utama dalam menganalisis makna tari berdasarkan kajian tekstual, karena melalui gerak kita dapat melihat rangkaian isi cerita yang disampaikan, baik melalui gerak murni maupun maknawi.
- Mengamati Musik
Musik iringan tari dalam kajian tekstual adalah memahami makna musik iringan tari dari aspek tempo, volume dan dinamika untuk membantu penciptaan suasana. Misalnya tempo yang lambat dengan volume kecil atau samar melambangkan suasana yang khusuk dan hening, sedangkan musik dengan tempo cepat dapat menggambarkan kecerian.
- Mengamati Tata Rias, Busana dan Properti
Tata rias, busana, properti maupun aksesori merupakan elemen yang dapat dianalisis berdasarkan bentuk, warna, dan material atau bahan bakunya. Contoh untuk melambangkan karakter jahat seperti buto (raksasa), bentuk pakaiannya bisa dibuat sedemikian rupa dengan desain celana pendek hitam, badan diberi riasan cat/body painting dengan warna hijau, tata rias wajah dapat menggunakan tata rias fantasy, aksesori kepala berupa rambut palsu yang materialnya kasar sehingga rambut terkesan kusut. Desain rias, busana dan properti seperti ini ingin menunjukan karakter tokoh Buto (raksasa) yang seram. Contoh lainnya, desain baju dengan gaun selendang yang menjuntai, kain dengan corak khusus dihiasi taburan prada atau payet, dan tata rias korektif, mengandung makna tekstual bahwa koreografer ingin menampilkan tokoh putri yang memiliki karakter lemah lembut.
- Mengamati Tata Pentas dan Penonton
Tata pentas tidak selalu berarti panggung atau stage. Tempat pertunjukan dapat berupa tempat alaminya sesuai dengan fungsi tari nya. Pentas dengan keadaan panggung sesuai dengan kejadian alaminya, biasanya dilaksanakan untuk pementasan jenis koreografi lingkungan. Pada tarian tradisional yang erat kaitannya dengan upacara sedekah laut biasanya dipertunjukkan di pesisir pantai.
Tata pentas biasanya dilengkapi dengan setting maupun dekorasi. Setting adalah segala peralatan di atas pentas untuk mendukung konsep tari. Dekorasi adalah segala peralatan di atas pentas yang fungsinya untuk memperindah panggung.
Posisi duduk penonton dan keterlibatan penonton sebagai pelaku seni memiliki hubungan yang erat dengan makna tari yang ingin ditampilkan. Pada tari-tari ritual, posisi penonton tidak ada batas dengan penari, penonton terkadang menjadi bagian dari pelaku upacara.
Contoh lain pada tari-tari yang dipentaskan di Keraton. Letak tempat duduk penonton lebih tinggi dari pentas dan terdapat batas jarak dengan pelaku seni, letak penonton tersebut memiliki makna bahwa tarian tersebut dipertunjukan untuk menghormati orang yang kedudukannya lebih tinggi, misalnya sosok tetua adat, pejabat atau raja.
Makna Seni Tari Berdasarkan Kajian Kontekstual
Kajian makna tari secara kontekstual merupakan pengkajian tari yang terfokus pada kaitan tari dengan sosial dan budaya masyarakat pendukung tari tersebut. Kajian tari secara kontekstual erat kaitannya dengan fungsi tari dan nilai-nilai yang berhubungan dengan fungsinya bagi masyarakat, Sediawati (1981) mengungkapkan bahwa fungsi dari seni dapat diklasifikasikan ke dalam tujuh hal, yaitu pemanggilan kekuatan gaib, penjemputan roh-roh pelindung untuk hadir di tempat pemujaan, memanggil roh-roh baik untuk mengusir roh-roh jahat, peringatan pada nenek moyang dengan menirukan kegagahan maupun kesigapan, pelengkap upacara sehubungan dengan peringatan tingkat hidup seseorang, pelengkap upacara sehubungan dengan saat-saat tertentu dan perputaran waktu, dan perwujudan dari dorongan untuk mengungkapkan keindahan semata.
Pada bab 1 telah dijelaskan bahwa fungsi tari erat kaitannya juga dengan makna. Karena di dalam fungsi tersebut mengandung nilai-nilai yang berkaitan dengan budaya masyarakat. Makna tari secara kontekstual dapat dilakukan dengan cara melihat nilai-nilai yang berkaitan dengan fungsi tari berikut.
- Nilai yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, pada umumnya terdapat pada tari-tarian yang memiliki fungsi sebagai upacara. Tari memiliki makna yang secara tidak langsung sebagai doa yang dapat menyampaikan harapan-harapan sebagai manusia dalam menjaga keseimbangan dalam hidup.
- Nilai yang mengatur hubungan manusia dengan alam, terdapat pada tari yang berfungsi sebagai ritual maupun hiburan, nilai-nilai tersebut berisi pesan untuk menjaga kebersihan, melestarikan alam, flora dan fauna. Pada tari tradisional, nilai-nilai yang mengatur hubungan manusia dengan alam terdapat pada tarian yang tumbuh di masyarakat agraris, peladang, maupun pesisir.
- Nilai yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya, contohnya nilai kesopanan, nilai tanggung jawab dan nilai-nilai toleransi keberagaman. Nilai-nilai ini biasanya terdapat pada tari-tarian pergaulan, maupun tarian yang berfungsi sebagai media pendidikan.
Makna Tari Tradisi Indonesia Berdasarkan Pendekatan Kajian Tekstual dan Kontekstual
Jumlah penari merupakan hal yang erat kaitannya dengan makna tari. Dengan mengetahui jumlah penari, kita dapat menganalisis makna tari secara tekstual maupun kontekstual. Jumlah penari merupakan salah satu media komunikasi koreografer dalam menyampaikan pesan dalam karya tari. Berikut ini jenis tari di Indonesia berdasarkan jumlah penarinya.
Tunggal
Tari tunggal adalah tari yang desain geraknya untuk satu orang penari. Tari tunggal yang berfungsi untuk tari hiburan memiliki makna bahwa tokoh yang diperankan adalah tokoh inti, di mana tari menggambarkan cerita atau karakter tokoh tersebut.
Tari tunggal sebagai fungsi upacara atau simbolik berkaitan dengan filosofi angka satu. Angka satu bermakna tunggal atau esa, dalam filosofi Jawa di perkenalkan oleh Syeik Siti Jenar yaitu manunggaling kawula Gusti yang juga memiliki makna bersatunya rasa ke dalam Tuhan (Solikhin, 2014). Tari tunggal yang memiliki fungsi sebagai tari yang sakral dan erat kaitannya dengan nilai-nilai dalam kehidupan terdapat pada tari topeng yang tersebar di wilayah pulau Jawa. Tari Topeng merupakan tarian yang biasanya ditarikan oleh satu orang penari dengan menggambarkan karakter tiap-tiap topeng yang digunakan.
Berpasangan
Tari berpasangan adalah tari yang desain geraknya untuk dua orang penari, biasanya jumlah penarinya satu pasang. Tari berpasangan biasanya berjumlah genap, yaitu bilangan dua dan kelipatannya. Tari berpasangan pada beberapa tarian biasanya mengandung makna hubungan antara dua unsur yang berlawanan, misalnya perempuan dan laki-laki. Tari berpasangan pada beberapa tarian juga menjelaskan karakter tokoh, misalnya jahat dan baik, tua dan muda, kaya dan miskin. Tari berpasangan menitik beratkan pada interaksi dua tokoh penari yang saling terhubung oleh peran sehingga penonton dapat menangkap makna dari interaksi tokoh yang ditampilkan dalam karya tari.
Berkelompok
Tari berkelompok adalah tari yang menggunakan desain kelompok. La Mery (1965) menjelaskan desain kelompok, meliputi desain serempak, berimbang, terpecah, selang-seling, atau bergantian. Pada umumnya jumlah kelompok tidak melebihi kapasitas luas panggung atau tempat pertunjukan yang digunakan. Tari berkelompok memiliki makna khusus dalam menggambarkan tujuan atau fungsi dari sebuah tarian. Misalnya tarian yang bertema sosial, seperti tari pemetik teh, tari nelayan, tari prajurit biasanya digarap berkelompok karena pada kenyataannya profesi tersebut dilakukan oleh sekelompok orang. Tari berkelompok juga ada yang terinspirasi dari kehidupan satwa misalnya tari Merak dari Jawa Barat, Tari Cendrawasih dari Bali, tari Kijang dari Jawa Timur.
Jenis Tari Tradisi Berdasarkan Pola Garapan Tari
- Tari Tradisi Klasik
Tari tradisi klasik adalah tari yang berasal dari masyarakat istana dengan kaidah gerak yang baku, serta estetikanya yang mengacu pada kaidah-kaidah yang baku dari semua elemennya. Tari klasik adalah tari yang berkembang di lingkungan kerajaan sebagai sarana upacara maupun sarana penghormatan pada raja, contohnya dapat diamati dalam tari Bedhaya atau Srimpi.
- Tari Tradisi Kerakyatan
Tari kerakyatan adalah tari yang berasal dari lingkungan masyarakat di luar lingkungan kerajaan. Tari rakyat umumnya didominasi dengan kaidah gerak yang beragam dan spontan hasil ekspresi jiwa masyarakat. Contoh makna tari berdasarkan kajian tekstual dan kontekstual tari rakyat dapat dilihat pada tari-tari dengan gerak dan musik yang spontan seperti pada tari Bajidoran di Jawa Barat atau tari Joget Bumbung di Bali, tari Zapin Muda Mudi dari Riau dan masih banyak lagi.
- Tari Kreasi Baru
Tari kreasi baru adalah sebuah karya tari yang berasal dari hasil cipta seniman tari yang berasal dari pengembangan tari-tari tradisi yang melatarbelakangi kehidupan seniman tersebut. Tari kreasi baru dapat terinspirasi dari tari– tari klasik atau tari rakyat. Dalam tari kreasi baru terdapat pula unsur-unsur pembaruan pada beberapa elemen dalam seni tari. Namun memang tari kreasi baru tidak dapat begitu saja meninggalkan elemen-elemen tradisi yang melekat dalam memori koreografer lokalitas tersebut (Susmiarti, 2013). Ciri khas dalam tari kreasi baru adalah fleksibilitas garapan tarinya. Tari kreasi baru ini biasanya menjadi tarian yang berfungsi sebagai hiburan dan pertunjukan. Fleksibilitas garapan tari kreasi baru dapat dilihat dari durasi waktu pertunjukan yang tidak terlalu lama, inovasi pada kostum dan musik. Tari kreasi baru juga terinspirasi dari fenomena sosial yang melatarbelakangi seniman tari, contohnya sebuah peristiwa, akulturasi budaya, dan kemajuan teknologi pada suatu masyarakat. Terdapat beberapa contoh tari kreasi baru yang terinspirasi dari tari tradisi di suatu daerah, contohnya Tari Jaipong dari Jawa Barat karya Gugum Gumbira yang terinspirasi dari tari rakyat Ketuk Tilu, Tari Renggong Manis dari Betawi karya Syarifudin yang terinspirasi dari tari Topeng Betawi dan Tari Cokek Betawi, serta tari Gandrung Marsan dari Banyuwangi karya Sabari Sufyan yang terinspirasi dari tari Gandrung Banyuwangi.
Kreatifitas dan pengalaman berkesenian yang menjadi dasar dalam proses penciptaan tari, menjadikan beragamnya bentuk karya tari yang diciptakan oleh para koreografer, dengan menambah perbendaharaan karya tari yang ada di Kota Tanjungbalai. Karya-karya tari yang diciptakan adalah tari-tari dari etnik Sumatera Utara, namun yang paling banyak diciptakan adalah tari kreasi Melayu. Penciptaan tari kreasi Melayu berbeda-beda, sesuai dengan kreatifitas yang dimiliki setiap koreografer. Akan tetapi, tari kreasi Melayu tidak lepas dari aturan maupun norma-norma yang memiliki etika dalam gerak tari, salah satunya adalah tari kreasi melayu bernuansa Islami Al Fallah .
Makna Tari Non tradisi Indonesia Berdasarkan Pendekatan Kajian Tekstual dan Kontekstual
Tari yang turun temurun, memiliki kaidah–kaidah tertentu yang sifatnya baku dan dianut oleh masyarakat terdahulu mulai dari leluhur suatu masyarakat dan masih bertahan sampai saat ini biasanya disebut dengan tari tradisi. Tari nontradisi adalah tari yang lepas dari kaidah-kaidah tradisi yang dalam hal ini, kaidah tari tradisi di Indonesia. Berikut beberapa jenis tari nontradisi yang ada di dunia berdasarkan istilah yang berkaitan dengan waktu dan latar belakang masyarakatnya.
Tari Klasik
Tari klasik merupakan istilah untuk menjelaskan tari–tarian yang terikat dengan aturan-aturan baku. Aturan baku tersebut disepakati bersama sebagai hal yang tidak boleh dilanggar. Salah satu contoh tari yang termasuk dalam kategori tari klasik di Eropa adalah tari Balet.
Balet merupakan adalah satu seni tari yang usia perkembangannya sudah cukup matang, karena mulai dikenal di Italia sejak abad ke-15. Kata balet berasal dari bahasa Italia ‘ballo’, yang berarti tarian. Dari Italia, balet kemudian berkembang ke Perancis sebagai bagian dari sebuah opera. Balet di Indonesia mula-mula diperkenalkan oleh orang-orang Belanda pada masa penjajahan. Sejak itu semakin berkembang karena pada dasarnya bangsa Indonesia adalah bangsa yang menghargai kebudayaan (Sedyawati, 1981). Gerak balet menonjolkan teknik-teknik gerak tubuh tertentu dengan ciri khas pose penari dengan ujung kaki. Balet klasik biasanya membawakan beberapa cerita, dengan penokohan seperti cerita “Swan Lake Dance”.
Balet juga memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh. Tarian ini juga diyakini bermanfaat dalam memperkuat daya tahan tubuh. Terutama bagi anak-anak yang lemah secara fisik. Melalui tari Balet, anak akan belajar mengembangkan sense atau rasa tentang gerakan tari, ritme, serta apresiasi mereka terhadap musik (Nuraini, 2015).
Tari Modern
Tari modern merupakan jenis tarian yang berkembang sekitar awal abad ke-20, sebagai bentuk reaksi terhadap tari balet yang dianggap kaku. Tari modern adalah tari yang dibangun oleh rasa dan emosi koreografernya, rasa dan emosi tersebut mengarah kepada kebebasan hidup sebagai manusia.
Pengertian kebebasan pada tari modern dapat diartikan juga, kebebasan dalam mengekspresikan ragam gerak, tanpa harus mengikuti pola, pakem, dan tradisi yang ada. Beberapa contoh tari modern di dunia misalnya Hiphop, Breakdance, Shuffle Dance, atau beberapa tari yang berasal dari beberapa negara seperti, Salsa dan Flamenco dari Spanyol, Samba dari Brazil dan lain-lain. Tari-tarian ini berkembang di kalangan masyarakat yang saat itu menjunjung tinggi asas–asas kebebasan baik dari kegiatan berkesenian maupun dalam kehidupan sosial.
Tari Kontemporer
Kontemporer merupakan sebuah mazhab dalam dunia tari masa kini. Kontemporer berarti sebuah pilihan bagi seniman untuk mengekspresikan dirinya secara pribadi dengan kebebasannya (Susmiati, 2009). Maksudnya, seniman tidak perlu lagi merasa terpasung oleh sebuah budaya tradisi yang melatarbelakangi seniman untuk menciptakan sebuah karya seni.
Seni tari kontemporer tidak selalu mengarah pada sebuah karya seni yang bersifat kebarat -baratan. Seni tari kontemporer dapat bersumber dari seni tradisional, baik inspirasi geraknya maupun musiknya. Tari kontemporer tidak terikat dengan aturan-aturan dari tradisi yang biasanya bersifat kaku, bentuk tari nya harus baru dan relevan dengan keadaan zaman yang melingkupinya. Seni tari kontemporer selalu bersifat aktual. Artinya, persoalan atau gagasan yang dituangkan dalam tari kontemporer selalu baru atau kekinian, baik cerita, bentuk, maupun pola garap (Andra, 1997). Tari kontemporer cenderung mengusung persoalan yang terdorong oleh persoalan sosial masyarakat dan kemanusiaan. Istilah seni tari kontemporer mengarah pada pengertian sebuah karya tari yang memiliki ide yang baru, aktual dan kontekstual. Artinya geraknya harus memuat unsur kebaruan, ceritanya mesti berangkat dari isu-isu terkini, sehingga garapan tari kontemporer berwujud inovatif sesuai dengan keadaan masa kini, baik dari segi garapannya maupun persoalan–persoalan yang diangkat.
Terdapat beberapa tarian kontemporer yang cukup populer di era milenial dan bagi kalangan generasi muda saat ini. Tari populer adalah suatu inovasi yang dapat menyuarakan pembebasan individual dalam berkreativitas di bidang seni tari. Seni tari kontemporer dapat terlepas dari kaidah-kaidah tari klasik atau tari tradisi dalam konteks kesenian Indonesia, Dalam kaidah bentuk pertunjukan seperti musik, gerak dsn tata panggung dapat juga terlepas dari aturan-aturan baku dalam tari. Dari Barat misalnya balet klasik, tetapi seni tari kontemporer biasanya tercipta dari suatu perenungan koreografer atas kondisi aktual pada zamannya.
Berbicara tari populer, maka tidak lagi berbicara persoalan geografi maupun etnik tertentu, serta kultur tertentu atau berbicara soal negara. Yang ada adalah karya seorang individu yang aktual, konseptual sesuai dengan zamannya dan selera masyarakat di mana tarian tersebut dinikmati, atau berbicara lingkungan sekitarnya yang sifatnya juga sesaat, terus bergulir dalam bentuk inovasi lagi (Indrayuda, 2001). Tari-tari populer yang digandrungi oleh remaja saat ini beraneka ragam seperti Hip-hop, Breakdance, K-pop dance. Tari-tarian tersebut semakin populer setelah aplikasi Tik-tok mulai terkenal pada tahun 2016.

