Membangun Jati Diri dalam Kebinekaan, Arti, Indahnya Kebersamaan, Menghargai dan Kerja Sama (Rangkuman Materi PPKn SD/MI Kelas 4 Bab 3 ) Kurikulum Merdeka

  • Whatsapp
Keragaman Aktivitas Ekonomi Masyarakat, Proses Geografis, Pemanfaatan Lingkungan dan Perdagangan Antarpulau (Rangkuman Materi IPS SMP/MTS Kelas 8 Bab 2) Kurikulum Merdeka

Rangkuman Materi PPKn SD/MI Kelas 4 Bab 3 | Kurikulum Merdeka | Membangun Jati Diri dalam Kebinekaan | Arti Semboyan Bhinneka Tunggal Ika | Indahnya Kebersamaan | Menghargai Keberagaman Lingkungan Sekitar | Kerja Sama yang Menyenangkan |

Arti Semboyan Bhinneka Tunggal Ika

Semboyan Bhinneka tunggal ika berasal dari bahasa Sansakerta. Semboyan ini diambil dari sebuah kalimat yang terdapat dalam buku Sutasoma karya Mpu Tantular pada zaman kerajaan Majapahit. Kalimat tersebut sebenarnya tidak hanya terdiri dari tiga kata, tetapi lebih panjang. Kalimat lengkapnya adalah Bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa yang artinya adalah meskipun kita berbeda-beda, kita tetap satu jua, tidak ada hukum yang mendua.

Kalimat tersebut menggambarkan keadaan masyarakat kerajaan Majapahit yang beranekaragam. Keanekaragaman mereka terutama dalam hal agama yang dipeluknya. Mereka ada yang memeluk agama Syiwa, Budha dan kepercayaan yang telah ada sebelumnya. Mereka hidup rukun berdampingan secara damai. Adapun hukum yang berlaku bagi seluruh masyarakat dan negara adalah satu, yaitu hukum Negara Majapahit.

Indahnya Kebersamaan

Eddy dan teman-temannya ditugaskan gurunya untuk melakukan percobaan mengenai bunyi. Setelah waktu sekolah usai, mereka berencana untuk berkumpul di rumah Eddy. Setiap dari mereka sudah mempersiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan. Lani dan Suci membawa bahan berupa kaleng bekas yang sengaja telah dilubangi. Ujang dan Boni membawa benang/tali kasur. Lalu mereka berkelompok di teras rumah. Keenam bersahabat ini telah bersiap untuk bekerja sama membuat percobaan.



Ketika mulai pelaksanaan kegiatan, terdengar lantunan suara adzan dari kejauhan. Kemudian, Suci dan Ujang meminta izin kepada yang lain untuk terlebih dahulu menunaikan ibadah salat. Teman-temannya memaklumi dan mengizinkan mereka untuk melakukan ibadah. Eddy mempersilakan Suci dan Ujang shalat secara bergantian di dalam kamarnya. Eddy memang beragama Katolik, tetapi ia tidak merasa keberatan kamar di rumahnya dipakai untuk shalat. Sementara itu, teman-temannya yang juga beragama lain; Boni, Dayu, dan Lani tetap menunggu dengan sabar temannya yang sedang beribadah. Keenam anak yang bersahabat ini menghargai satu sama lain.

Baca Juga :   Pancasila Sebagai Nilai Kehidupan, Dasar Negara, Nilai Kebersamaan, Penerapan dan Meneladani (Rangkuman Materi PPKn SD/MI Kelas 4 Bab 1 ) Kurikulum Merdeka

Pelaksanaan membuat percobaan pun dimulai. Setiap orang bertanggung jawab atas pekerjaannya. Tiada seorang pun diantara mereka yang sekadar menyuruh atau bahkan berdiam diri. Semua berpartisipasi dalam pembuatan percobaan. Ketika Boni memerlukan bantuan untuk memutuskan tali/benang, maka Ujang membawakan guntingnya. Pada saat Eddy terlihat agak kebingungan mengikat kaleng dengan benang, Suci ikut pula membantu. Keenam sahabat ini tampak semangat dalam bekerja sama dengan riang dan gembira. Kehidupan mereka penuh dengan kerukunan dan saling membantu tanpa melihat perbedaan yang ada.

Menghargai Keberagaman Lingkungan Sekitar

keanekaragaman ini jangan dijadikan sebagai alat pemecah persatuan dan kesatuan, melainkan menjadi penguat ikatan persatuan dan kesatuan antar warga masyarakat yang satu sama lainnya. Penghargaan terhadap keragaman dan keunikan ini harus tetap disadari oleh setiap orang agar semakin memperkaya dan melestarikan khasanah budaya bangsa Indonesia.

Bolehkah merasa bangga terhadap budaya dan suku daerah sendiri? Tetap diperbolehkan, tetapi tidak berlebih-lebihan. Jangan sampai memandang rendah budaya daerah lain karena dengan bersikap begitu perpecahan dan perselisihan menjadi hal yang sulit dihindari. Sebaiknya, tetap menghormati dan menghargai budaya daerah lain agar bangsa ini menjadi kuat dan maju serta dapat berperan dalam globalisasi.

Baca Juga :   Capaian Pembelajaran PJOK Kelas 5 & 6 SD / MI (Fase C) Kurikulum Merdeka



Sikap toleransi dan lapang dada antar agama dan suku bangsa dapat dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya, mencintai dan menghormati agama dan suku asal tanpa merendahkan agama dan suku yang lain, bergaul dengan baik dengan teman atau orang yang berbeda agama dan suku, memberikan penghargaan atau apresiasi atas keindahan budaya dari suku daerah lainnya, menyaksikan seni dan budaya suatu daerah, dan sebagainya.

Selain itu, kita juga dapat menerima dan menyadari bahwa kekayaan bangsa berupa keanekaragaman yang ada dalam negeri sendiri, seperti kesenian daerah; tarian, alat musik, pakaian, rumah, dan lain sebagainya berusaha kita pelajari. Jika hal ini dilakukan berarti kita telah menjaga dan melestarikan budaya bangsa. Pada saat menjadi warga pendatang suatu daerah, sebaiknya dapat menyesuaikan diri dan mempelajari kebudayaan daerah setempat. Dengan demikian, sikap menghargai, menghormati, dan menerima keanekaragaman budaya akan tercipta dan pada akhirnya menjaga kerukunan antar warga sekitar.

Kerja Sama yang Menyenangkan

Hari Minggu ini sekolah tidak seperti biasa dan terlihat ramai. Semua siswa tetap datang ke sekolah untuk menghias kelas masing-masing. Karena hari Senin akan ada perlombaan menyambut hari kemerdekaan. Bapak kepala sekolah berpesan bahwa setiap kelas harus terlihat unik dan dihiasi oleh kreasi anak-anak. Adi dan teman sekelasnya datang juga ke sekolah. Menghias kelas telah menjadi tanggung jawab bersama. Adi dan teman-teman telah membagi tugas untuk membuat hiasan pada hari Jumat yang lalu.

Hampir semua siswa di kelas Adi sudah nampak hadir pada pagi ini. Hanya Ucok dan Santi yang belum terlihat. Ucok dan Santi sudah meminta izin akan hadir terlambat kepada teman-temannya. Mereka terlebih dahulu pergi ke Sekolah Minggu di gereja dekat rumahnya untuk melakukan ibadah pagi. Adi dan teman-teman yang lain tidak keberatan.

Baca Juga :   Capaian Pembelajaran Informatika Kelas 1 & 2 SD / MI (Fase A) Kurikulum Merdeka

Pagi-pagi sebelum ke sekolah, Adi dan Suci mampir ke rumah Ucok kemudian ke rumah Martha untuk mengambil alat dan bahan sebagai hiasan kelas yang telah disiapkan sebelumnya. Hari Minggu pagi merupakan waktu ibadah bagi Ucok dan Santi yang beragama Katolik, jadi hal ini sudah dipahami oleh Adi dan teman-temannya. Mereka bekerja sama tanpa terhalang perbedaan waktu dan cara beribadah.

Sekolah semakin ramai ketika siang hari. Kelas-kelas tampak semarak dan indah penuh hiasan merah putih buatan siswa masing-masing kelas. Adi dan teman-temannya juga tidak ingin kelas mereka tertinggal untuk dihias. Ucok dan Santi juga sudah tiba dalam kelas dan terlihat di antara mereka. Selesai ibadah pagi Ucok dan Santi bersegera menyusul untuk datang ke sekolah. Adi dan teman-teman merasa senang sekali berbagi tugas karena lelah menjadi tak terasa. Di sini terlihat ada yang melipat dan menggunting kertas, di sebelah sana ada yang naik ke atas meja untuk menggantung lampion kertas, di depan kelas ada juga yang menghias pintu dengan pita kertas merah putih. Adi, Suci, serta teman-teman yang beragama Islam menjalankan ibadah ketika waktu shalat Zuhur tiba. Ucok dan Santi serta beberapa teman lain yang tidak menjalankan ibadah shalat tetap melanjutkan pekerjaannya. Menjelang sore, semua kelas telah selesai dihias. Begitu pun kelas Adi sudah terlihat semarak. Meskipun berbeda daerah dan keyakinan, bekerja sama serta saling membantu selalu menyenangkan.




Related posts