Kunci Jawaban Tema 6 Kelas 6 SD Halaman 64, 65, 66, 67, 68, 69 Kurikulum 2013 (K-13) Revisi

kunci jawaban tematik kelas 1, 2, 3, 4, 5, 6

Kunci Jawaban Tema 6 Kelas 6 SD Halaman 64, 65, 66, 67, 68, 69 | Kurikulum 2013 | K-13 Revisi | Menuju Masyarakat Sehat | Masyarakat Sehat Negara Kuat  |

Kunci Jawaban Tema 6 Kelas 6 SD Halaman 64, 65, 66, 67, 68, 69

Apakah kamu sedang mencari jawaban dari pertanyaan ada di dalam buku pelajaran Tema 6 Kelas 6 SD Halaman 64, 65, 66, 67, 68, 69? Kamu sekarang berada di tempat yang tepat.

Di bawah ini akan dihadirkan jawaban dari pertanyaan yang ada di Halaman 64, 65, 66, 67, 68, 69. Hal ini supaya kamu mudah dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru. Upss… ini bukan anjuran untuk mencontek yah. Terlebih WISLAH sekarang sudah punya TANYA.WISLAH.COM yang menyajikan semua soal berserta jawaban dari berbagai tugas yang diberikan guru.

Model memberikan jawaban ini, kami niatkan untuk melatih kamu mengukur akurasi pemahaman kamu atas pertanyaan yang ada. Dan belajar konsep besar dari alur dari sebuah bahasan. Karena tidak mungkin kumpulan soal termasuk soal bahasan ini (Soal dalam Tema 6 Kelas 6 Halaman 64, 65, 66, 67, 68, 69) dibuat tidak berdasar struktur logika yang runut dan terstruktur. 

Jawaban Tema 6 Kelas 6 Halaman 64, 65, 66, 67, 68, 69

Ayo Berlatih

Sudahkah Kamu Masuk Masa Pubertas?

Masa pubertas dapat dibedakan dengan masa kanak-kanak atau anak-anak.

Untuk mengetahui kamu saat ini sudah memasuki masa pubertas atau masih anak-anak, dapat kamu lakukan dengan menjawab secara jujur pertanyaan-pertanyaan dalam tabel berikut.

Isi tabel dengan tanda centang (v) pada kolom yang tersedia.

Untuk kolom kesimpulan isi berdasarkan jawaban atas lima pertanyaan yang tersedia.

Jika jawaban lebih banyak pada kolom ‘Sudah’ berarti kesimpulannya kamu sudah memasuki masa pubertas.

Sebaliknya, jika jawaban lebih banyak pada kolom ‘Belum’ berarti kamu masih anak-anak (kanak-kanak).

Jawaban:

Sesuai dengan kondisi masing-masing peserta didik.

Semisal sudah mengalami pubertas:

Kolom diisi oleh anak laki-laki

Kolom diisi oleh anak Perempuan

Kamu telah membaca dengan cermat teks nonfiksi berjudul Tari Klana Topeng.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

1. Informasi apakah yang kamu harapkan ketika kamu baru membaca judul teks nonfiksi (Tari Klana Topeng)?

2. Sesuaikah antara harapan informasi yang kamu peroleh ketika baru membaca judul teks nonfiksi dengan informasi yang kamu peroleh setelah membaca teks nonfiksi berjudul Tari Klana Topeng?

3. Informasi apakah yang kamu peroleh setelah membaca teks nonfiksi berjudul Tari Klana Topeng?

Jawaban:

1. Tari Klana Topeng

2. Judul teks nonfiksi tersebut sesuai dengan isi informasi

3. Informasi baru seperti asal Tari Klana Topeng, Gerak-gerik tari, dan properti tari.

Berlatihlah memperagakan gerak-gerak tari kreasi bentuk tunggal di atas. Sebelum bergerak siapkan properti tari berupa tongkat.

Setelah melakukan latihan memperagakan gerak tari tersebut, ungkapkan pendapatmu mengenai gerakan. Apakah gerak tari di atas sulit diperagakan? Tuliskan dalam kolom berikut.

Jawaban:

Gerakan di atas mudah dilakukan.

Properti yang dibutuhkan juga mudah didapat.

Saya merasa senang bisa melakukan gerakan tari tersebut.

Buatlah kelompok terdiri atas 5 anak. Lakukan pengamatan terhadap sebuah tarian kreasi daerah bersama teman satu kelompokmu.

Cermati tahapan penampilan karya tari kreasi daerah tersebut. Tuliskan unsur-unsur tari dari tarian yang kamu amati.

Jawaban:

Sesuai tarian yang diamati siswa.

Misal tari yang diamati yakni Bedhaya ketawang.

Hasil Pengamatan :

Nama Tarian: Bedhaya ketawang

Asal daerah tarian: Surakarta

Unsur karya tari yang diamati: Dilakukan oleh 9 orang penari wanita, menggunakan pakaian pengantin adat jawa lengkap dengan aksesorisnya, tarian ini diiringi dengan musik, dan alat musik yang digunakan untuk mengiringi adalah Gendhing Ketawang.

Tari Bedhaya Ketawang adalah sebuah tarian kebesaran yang hanya dipertunjukkan ketika upacara peringatan kenaikan tahta raja.

Tanggapan terhadap karya tari: Sakral, anggun, magis, tarian yang diiringi dengan mitos (cerita rakyat).

Bonus Cerita Anak SD: Malin Kundang Legenda Sumatra Barat

Malin Kundang Legenda Sumatra Barat

Suatu waktu, hiduplah sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas.

Maka tinggallah si Malin dan ibunya di gubug mereka. Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan bahkan sudah 1 tahun lebih lamanya, ayah Malin tidak juga kembali ke kampung halamannya. Sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah.

Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.

Setelah beranjak dewasa, Malin Kundang merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Malin tertarik dengan ajakan seorang nakhoda kapal dagang yang dulunya miskin sekarang sudah menjadi seorang yang kaya raya.

Malin kundang mengutarakan maksudnya kepada ibunya. Ibunya semula kurang setuju dengan maksud Malin Kundang, tetapi karena Malin terus mendesak, Ibu Malin Kundang akhirnya menyetujuinya walau dengan berat hati.

Setelah mempersiapkan bekal dan perlengkapan secukupnya, Malin segera menuju ke dermaga dengan diantar oleh ibunya. “Anakku, jika engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan kau lupa dengan ibumu dan kampung halamannu ini, nak”, ujar Ibu Malin Kundang sambil berlinang air mata.

Kapal yang dinaiki Malin semakin lama semakin jauh dengan diiringi lambaian tangan Ibu Malin Kundang. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut.

Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.

Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya.

Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.

Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin Kundang setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.

Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.

Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat bekas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang.

“Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?”, katanya sambil memeluk Malin Kundang.

Tapi apa yang terjadi kemudian? Malin Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh.

“Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku”, kata Malin Kundang pada ibunya.

Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping.

“Wanita itu ibumu?”, Tanya istri Malin Kundang.

“Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku”, sahut Malin kepada istrinya.

Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata

“Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu”.

Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.

Related posts