Kunci Jawaban Tema 5 Kelas 2 SD Halaman 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20 Kurikulum 2013 (K-13) Revisi

kunci jawaban tematik kelas 1, 2, 3, 4, 5, 6

Kunci Jawaban Tema 5 Kelas 2 SD Halaman 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20 | Kurikulum 2013 | K-13 Revisi | Pengalamanku | Pengalamanku di Rumah |

Kunci Jawaban Tema 5 Kelas 2 SD Halaman 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20

Apakah kamu sedang mencari jawaban dari pertanyaan ada di dalam buku pelajaran Tema 5 Kelas 2 SD Halaman 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20? Kamu sekarang berada di tempat yang tepat.

Di bawah ini akan dihadirkan jawaban dari pertanyaan yang ada di Halaman 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20. Hal ini supaya kamu mudah dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru. Upss… ini bukan anjuran untuk mencontek yah. Terlebih WISLAH sekarang sudah punya TANYA.WISLAH.COM yang menyajikan semua soal berserta jawaban dari berbagai tugas yang diberikan guru.

Model memberikan jawaban ini, kami niatkan untuk melatih kamu mengukur akurasi pemahaman kamu atas pertanyaan yang ada. Dan belajar konsep besar dari alur dari sebuah bahasan. Karena tidak mungkin kumpulan soal termasuk soal bahasan ini (Soal dalam Tema 5 Kelas 2 Halaman 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20) dibuat tidak berdasar struktur logika yang runut dan terstruktur. 

Jawaban Tema 5 Kelas 2 Halaman 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20

Ayo Berdiskusi

Buatlah sebuah pertanyaan. Pertanyaan ini berkaitan dengan gambar gerakan bertumpu. Gerakan bertumpu dengan tangan. Mintalah temanmu menjawabnya!

Pertanyaan: Dengan apa Beni bertumpu?

Jawaban teman:

Dengan tangan

Ayo Berdiskusi

Perhatikan Gambar 1, 2, dan 3! Lakukan bersama temanmu. Diskusikan cara melakukan gerakannya. Lihat halaman 14.

Gambar 1: Posisi badan tengkurap, lalu tangan bertumpu seakan hendak bangun.

Gambar 2: Posisi badan tengkurap, lalu tangan bertumpu seakan hendak bangun, angkat tubuh bagian tengah.

Gambar 3: Berdiri satu langkah dari tembok dan menghadap tembok, julurkan kedua tangan ke tembok, lalu badan diarahkan ke tembok.

Ayo Berlatih

Perhatikan gambar berikut! Gambar-gambar tersebut mencerminkan sila Pancasila. Berikan centang pada gambar yang menunjukkan sila pertama.

Tuliskan sikap yang sesuai sila pertama Pancasila!

1. Berdoa sebelum maka

2. Ikut berziarah

3. Merawat tumbuhan

4. Merawat hewan

5. Menghargai perbedaan agama

Ayo Mencoba

Kamu pasti mempunyai pengalaman. Ceritakan pengalamanmu menerapkan sila pertama Pancasila!

Ceritakan di hadapan temanmu!

Setiap pagi sebelum berangkat sekolah. Aku dan keluargaku selalu menyempatkan waktu untuk sarapan bersama. Sebelum sarapan, kami berdoa terlebih dulu. Sebelum belajar di sekolah, aku juga selalu berdoa.

Ayo Mencoba

Perhatikan teks percakapan berikut!

Bacalah dengan lancar!

Jawablah pertanyaan berikut dengan benar!

Jawabanmu berdasarkan percakapan di atas.

Beni : “Ayah, Beni meminta maaf.“

Ayah: “Meminta maaf tentang apa?”

Beni : “Karena Beni kurang hati-hati.”

Ayah: “Ya, Nak! Ayah maafkan. Beni lain kali harus hati-hati, ya”.

Beni : “Ya, Ayah”

Ayah: “Ayo main kuda-kudaan lagi!”.

Beni : “Aku ingin menjadi anak kuda lagi!”

Ayah: “Baiklah jagoanku!”

Ayo Menulis

Jawablah pertanyaan berikut dengan benar!

Jawabanmu berdasarkan percakapan di atas.

Contoh ungkapan permintaan maaf.

“Ayah, Beni meminta maaf.”

Makna ungkapan permintaan maaf: kalimat seseorang meminta ampunan atas apa yang telah dilakukan.

Bonus Cerita Anak SD: Cermin di Dinding

Cermin di Dinding

Cermin, cermin di dinding, siapakah yang paling cantik di kota ini?” tanya Reina. Cermin besar yang tergantung di tembok kamar Reina pun menjawab, “Kaulah Reina yang cantik. Sayang, bukan kau yang memiliki hati terbaik.”

“Lagi-lagi jawabanmu seperti itu!” teriak Reina kesal. “Aku kan hanya bertanya siapa yang paling cantik? Aku tak perlu menjadi anak yang baik hati. Menjadi anak cantik, jauh lebih menyenangkan,”katanya lagi.

“Tak ada gunanya menjadi anak cantik jika hatimu tak baik,”jawab cermin itu tenang.

Reina memang cantik. Rambutnya cokelat tua, matanya bersinar-sinar, dan kulitnya pun halus sekali. Sayangnya, ia egois. Ia tak bisa melihat makhluk lain senang.

Reina sering sengaja menginjak sarang semut di halaman rumahnya. Ia juga sering memetik bunga-bunga yang masih kuncup. Yang paling parah, Reina sering mengejek teman-temannya. Ada saja yang dijulukinya si gendut, si ceking, si hidung melon, atau si rambut sarang burung.

Kini, Reina tak punya teman sama sekali. Ia kesepian, tetapi masih tak sadar juga. Satu-satunya temannya adalah cermin di dinding kamarnya itu. Tetapi, akhir-akhir ini, cermin itu juga membuatnya marah.

Suatu pagi, lagi-lagi Reina bertanya, “Cermin, cermin di dinding, siapakah yang paling cantik di kota ini?”

Jawaban dari cermin tetap sama. “Kaulah Reina yang tercantik. Sayang, bukan kau yang memiliki hati terbaik.”

Kali ini Reina benar-benar marah. “Mengapa kau selalu berkata begitu?” katanya.

“Reina sayang, lihatlah dirimu. Apakah kau punya sahabat? Itu semua karena tingkah lakumu. Coba kau sedikit bersikap manis pada teman-temanmu, juga pada makhluk lain. Aku yakin, sebenarnya kau tak suka hidup kesepian seperti ini,” jawab cermin panjang lebar.

Reina semakin marah. Ia membanting cermin itu. PRAAANG! Cermin itu jatuh berkeping-keping. Reina lalu menyimpan serpihannya ke dalam kardus, dan menaruhnya di bawah tempat tidurnya.

Aku akan membuangmu jauh-jauh nanti,” katanya kesal.

Kini Reina benar-benar tak punya teman. Hari-harinya bertambah sepi sejak cermin itu tak lagi ada di dinding kamarnya. Reina pun berusaha menghibur dirinya sendiri. Ia berjalan-jalan ke teras rumahnya.

“Aha… semut-semut ini membangun sarang lagi ya? He he… rasakan ini!” katanya sambil mengangkat kaki. Ia siap menginjak sarang semut itu ketika tiba-tiba ia teringat kata-kata si cermin.

“Aku harus bersikap manis? Ah, ini kan cuma semut?” pikirnya.

Reina menghela nafas. Ia akhirnya tak jadi menginjak sarang semut itu. Ia duduk dan memandangi semut-semut yang sedang mengumpulkan makanan.

“Hmmm…. mereka sungguh kompak. Kerja sama yang bagus, gumamnya.

Reina lalu melihat bunga-bunga di sekitarnya. Tangannya terulur hendak memetik kuncup bunga. Tetapi pandangannya lalu teralih pada bunga-bunga lain yang mekar.

“Indah sekali. Kenapa aku baru melihatnya ya?” Reina sadar, ia tak pernah melihat bunga bermekaran karena ia selalu memetiknya saat mereka masih kuncup!

Reina tak jadi memetik kuncup bunga. Ia mengambil gunting dan keranjang. Ia menggunting bunga-bunga yang mekar dan menaruhnya di keranjang.

“Aku akan merangkainya untuk ibu,”katanya senang.

Saat hendak masuk ke rumah, lewatlah Rosa, temannya yang bertubuh gemuk.

“Hai gen… “Reina tak meneruskan kata-katanya. “Hai Rosa, kau mau kemana? Temani aku merangkai bunga, yuk!” sapanya.

Rosa membelalakan matanya, seolah tak percaya.

“Ayo! Aku suka merangkai bunga,”jawab Rosa.

Siang itu, Reina dan Rosa sibuk merangkai bunga. Ibu Reina gembira saat menerima rangkaian bunga itu.

Setelah Rosa pulang, Reina kembali ke kamarnya. Ia pun kembali kesepian. Ia lalu teringat pada serpihan cermin yang belum dibuangnya. Diambilnya kardus tempat ia menyimpan serpihan cermin tadi. Reina berusaha merekatkan pecahan cermin itu. Beberapa jam kemudian, pekerjaan Reina pun selesai. Cermin itu kembali ia gantung di dinding, meskipun tak lagi sempurna.

“Cermin, cermin di dinding, maafkan aku karena telah membantingmu. Rupanya kau benar, sedikit bersikap manis telah membuat hatiku gembira. Hari ini aku belajar banyak hal. Aku baru tahu jika semut itu hewan yang kompak. Aku juga baru tahu kalau Rosa pandai merangkai bunga.”

Cermin diam tak menjawab. Reina sedih. Ia tahu, cermin itu mungkin telah rusak. Cermin itu tak lagi bisa diajaknya bercakap. Reina bertekad, ia tak mau pengorbanan cermin itu sia-sia. Esok, ia akan belajar bersikap manis lagi terhadap semua teman dan makhluk hidup. Esok, dan esok, dan esok, dan selamanya, ia akan bersikap manis.

DOWNLOAD DI SINI

Related posts