WISLAH.COM – Tulisan berjudul “Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 Halaman 73 Kurikulum Merdeka” ini, memuat kunci jawaban serta pembahasan untuk tugas mengubah kutipan Hikayat Si Miskin ke dalam bahasa cerpen yang lebih modern. Tugas ini bertujuan untuk melatih siswa dalam memahami perbedaan gaya bahasa antara teks hikayat (klasik) dengan cerpen (modern), serta mengembangkan kreativitas siswa dalam menggunakan konjungsi dan majas.
Kunci jawaban ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi siswa kelas 10 dalam mengerjakan tugas tersebut, sekaligus membantu mereka memahami bagaimana mengubah gaya bahasa klasik menjadi lebih mudah dipahami oleh pembaca masa kini. Selain itu, penggunaan konjungsi dan majas yang tepat juga akan meningkatkan kualitas tulisan siswa, sehingga lebih menarik dan ekspresif.
Bagi guru, kunci jawaban ini dapat dijadikan referensi dalam menilai hasil kerja siswa. Dengan memahami bagaimana siswa mengubah teks hikayat menjadi cerpen, guru dapat memberikan umpan balik yang konstruktif dan membantu siswa mengembangkan kemampuan menulis mereka.
Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 Halaman 73
Ubahlah kutipan Hikayat si Miskin ini menjadi bahasa cerpen yang lebih populer. Gunakanlah konjungsi urutan waktu dan berbagai majas untuk mengembangkannya.
Asalnya raja kayangan dan jadi demikian karena disumpahi oleh Batara Indera. Terlantar di negeri antah-berantah dan keduanya sangat dibenci orang. Setiap kali mengemis di pasar dan kampung, mereka dipukuli dan diusir hingga ke hutan. Oleh yang demikian, tinggallah dua suami-istri itu di hutan memakan batang kayu dan buah-buahan.
Baca Juga : Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 Halaman 58, 59 Kurikulum Merdeka
Hatta beberapa lamanya maka istri si Miskin itu pun hamillah tiga bulan lamanya. Maka istrinya menangis hendak makan buah mempelam yang ada di dalam taman raja itu. Maka suaminya itu pun terketukkan hatinya tatkala ia di Keinderaan menjadi raja tiada ia mau beranak. Maka sekarang telah mudhorot. Maka baharulah hendak beranak seraya berkata kepada istrinya, “Ayo, hai Adinda. Tuan hendak membunuh kakandalah rupanya ini. Tiadakah tuan tahu akan hal kita yang sudah lalu itu? Jangankan hendak meminta barang suatu, hampir kepada kampung orang tiada boleh.”
(Sumber: Bunga Rampai Melayu Kuno, 1952, dengan penyesuaian)
Jawaban:
Pada zaman dahulu hiduplah seorang raja dan ratu dari kayangan yang mendapat hukuman dari Batara Indera. Mereka dibuang ke negeri antah-berantah menjadi orang miskin. Tidak ada satu pun orang di negeri itu yang menyukainya. Setiap kali mereka mengemis di pasar dan perkampungan, mereka dipukuli dan diusir hingga mereka pun pergi ke hutan. Di hutan, mereka hidup dengan memakan dedaunan,
buah-buahan, bahkan kayu-kayu. Beberapa lama kemudian, sang istri pun hamil. Saat kandungannya berusia tiga bulan ia menangis dan meminta kepada suaminya untuk mengambilkan buah mempelam yang tumbuh di taman istana kerajaan. Si Miskin pun terketuk hatinya karena ia sudah lama menanti kehadiran seorang anak. Namun, ia bingung karena hal itu sepertinya tidak mungkin ia lakukan.
“Bagaimana mungkin aku dapat mendapatkannya, istriku? Mengemis sedikit saja, kita sudah diusir,” kata si Miskin kepada istrinya yang masih merengek seperti anak kecil.
Baca Juga : Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 Halaman 63 Kurikulum Merdeka
Penutup
Semoga artikel “Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 10 Halaman 73 Kurikulum Merdeka” ini bermanfaat bagi siswa dan guru dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia. Dengan memahami perbedaan gaya bahasa dan penggunaan konjungsi serta majas, diharapkan siswa dapat lebih terampil dalam menulis berbagai jenis teks, baik klasik maupun modern.






