KHR Ilyas Abdullah: Dari Gemblengan Kiai Abbas Hingga Malaikat Izrail

Ainur Rofiq Al Amin

KHR Ilyas Abdullah dilahirkan pada tahun 1820 dan wafat pada tahun 1975. Usianya panjang sekali, 155 tahun. Beliau masih famili keraton Ceribon yang silsilahnya sambung sampai Sunan Gunung Jati dan otomatis sambung ke Rasulullah.

Beliau pada masa mudanya bertapa di hutan selama tiga tahun. Dalam masa pertapaannya, beliau pernah jalan kaki menuju Bangkalan untuk menemui Syaikhona Cholil yang memang masih ada hubungan famili.

Jalan kaki mengikuti rel kereta api yang ketika sampai Semarang (tentu masih banyak hutan apalagi di sekitar rel kereta) sempat berada di sana selama berbulan-bulan. Di Semarang ini beliau didatangi banyak hewan yang akhirnya tunduk kepada beliau. Hewan itu antara lain adalah harimau, ular dan buaya.

Pesan Kiai Ilyas kepada Kiai Ahid, kalau bertemu harimau jangan dibelakangi, tapi harus dihadapi karena harimau malu sama muka manusia. Kalau menghadapi ular besar, maka pegang atau terkam lehernya. Kalau menghalau buaya harus dengan tongkat, karena buaya takut kena matanya. Tentu ini pengalaman individual plus sudah ada lelakonnya.


Setelah dari Semarang, beliau melanjutkan ke Bangkalan. Di Bangkalan ini beberapa hari diajak Kiai Kholil nirakati tempat yang akan didiami keluarga Kiai Kholil.

Selesai tirakat, beliau kembali ke Cirebon dan diberi amanah oleh keraton untuk menjaga keamanan keraton Cirebon bagian selatan. Sekaligus sebagai penjaga “pendeman” uang atau harta kerajaan. Pasukannya adalah harimau siluman, yang tugas dan ilmu ini melanjutkan dari apa yang dulu pernah diemban oleh Mbah Kiai Usman (kakeknya).

***

Pada tahun 1945, Kiai Abbas (1879-1946), Buntet pernah menyowankan pasukannya ke Kiai Ilyas agar diberi omben-omben (minuman) saat mau berangkat ke Surabaya untuk melaksanakan resolusi jihad. Kiai Ahid yang saat itu masih kecil (sekitar usia 10 tahun) masih hafal nama-nama para kiai-pendekar yang mendampingi Kiai Abbas, karena semuanya masih ada hubungan famili.


Para kiai pendekar itu antara lain adalah Kiai Hamzah, Kiai Adrai, Kiai Hamim, Kiai Abdul Hanan, Kiai Afif, Kiai Romli, Kiai Anwar serta beberapa santri lain. Pasukan Kiai Abbas digembleng untuk mengamalkan hizib Rifai. Setelah mau berangkat, ada ritual dimandikan di pancuran dan diminumi air pancuran. Lebih panjang kisah Kiai Abbas terkait perang 10 Nopember silakan baca: https://www.liputan6.com/…/kisah-gaib-perang-10…

Baca Juga :   Biografi Singkat Syaikh Nawawi Al-Bantani : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

***

Kiai Ahid juga menerangkan bahwa Kiai Adrai (salah satu pasukan Kiai Abbas) selanjutnya menjadi pengawal di Pondok Tebuireng, Jombang.

Nampaknya Kiai Hasyim Asy’ari “berlangganan” mengundang jawara dari Cirebon. Dalam buku karya Akarhanaf (putra Kiai Hasyim Asy’ari) dijelaskan, pada awal berdirinya Tebuireng, Kiai Hasyim Asyari mendatangkan para pendekar Cirebon karena adanya gangguan-gangguan dari para preman di sekitar pondok Tebuireng. Kiai Hasyim Asy‘ari mengutus santri untuk pergi ke Cirebon untuk menemui Kiai Saleh Benda Kerep, Kiai Abdullah Panguragan, Kiai Syamsuri, Wanantara, dan Kiai Abdul Jamil Buntet.

Saat saya menyebutkan nama nama kiai yang diundang Mbah Kiai Hasyim Asy’ari dalam karya Akarhanaf di atas, Kiai Ahid teringat kisah dari abahnya (Kiai Ilyas) tentang Kiai Syamsuri. Pada zaman Belanda, ada tanah lapangan yang terdapat makam kakeknya Kiai Syamsuri. Belanda mau memaksa memindah makam itu, namun Kiai Syamsuri menolak, diskusi buntu. Lalu Belanda terbang memakai helikopter atau pesawat yang ada baling-balingnya untuk pulang berkoordinasi atas sikap Kiai Syamsuri. Saat pesawat di udara, Kiai Syamsuri malah berada di bawah baling-baling sambil jualan es dengan membunyikan suara klinting-klinting tanda penjual es. Tahu akan kehebatan Kiai Syamsuri yang bisa di udara sambil jualan es, Belanda turun lagi ke darat dan langsung hormat dan tidak jadi memindahkan makam. Sampai sekarang makam itu masih ada.

***

Kiai Ilyas Abdullah yang mengasuh pesantren kecil di Cidadap, Ceribon memang termasuk kiai tetua dan kiai spiritualis yang menjadi jujugan. Selama berbulan-bulan, pondoknya menjadi markas untuk penggemblengan para pejuang.


Untuk itu, pondok Kiai Ilyas selalu diwaspadai Belanda. Ada kisah dari Kiai Ahid yang berasal dari Kiai Ilyas bahwa suatu saat ada intel Belanda (orang pribumi yang jadi antek Belanda). Intel ini berkata kepada Kiai Ilyas bahwa ada tamu dari angkatan minta diizinkan mau sowan. Si antek tidak menjelaskan angkatan darimana. Tapi setelah di lokasi, ternyata Kiai Ilyas melihat banyak tentara Belanda. Berkat kelinuwihan Kiai Ilyas, akhirnya mata pasukan itu hanya melihat hutan belantara tanpa ada bangunan sama sekali.

Baca Juga :   Biografi Singkat Imam Maraghi : Profil, Pendidikan, Karya dan pemikiran

Pernah juga suatu kali antek Belanda bersama pasukannya datang. Si antek beserta pasukan tiba tiba sudah berada di pintu rumah dimana Kiai Ilyas duduk sambil merokok di teras, dekat pintu. Antek itu salam bolak balik dan dijawab oleh Kiai Ilyas, namun antek dan pasukan Belanda hanya mendengar suara tanpa ada rupa orangnya. Akhirnya mereka takut sendiri dan kembali pulang.

Tidak hanya pada masa penjajahan saja pondok Kiai Ilyas dikunjungi tentara atau tokoh. Pada era Orde Baru, banyak tokoh termasuk jenderal yang sowan kepada Kiai Ilyas. Tokoh yang masih diingat Kiai Ahid adalah Amir Mahmud. Para tamu itu tidak sedikit yang tinggal selama satu Minggu untuk tirakatan hizib Rifai sebanyak minimal tiga kali.

***

Kiai Ilyas mempunyai sikap yang sama dengan kiai Benda Kerep yang dahulu mengharamkan tv, radio apalagi bioskop. Kiai Ilyas naik haji tahun 1957 didampingi Kiai Ahid Sambas. Selesai haji mampir ke Turki membeli akik dan kitab Syamsul Maarif Kubro.

Sepulang haji, beliau tetap berada di pondoknya dan membina masyarakat hingga akhir hayat beliau yang sangat panjang usianya. Ada kejadian menarik saat Kiai Ilyas hendak wafat. Kata Kiai Ahid, jelang wafat abahnya, pada suatu sore saat Kiai Ilyas dipangku oleh Kiai Ahid, Kiai Ilyas berkata, “Nanti dulu belum selesai wiridanku.” Lalu anak-anak bertanya kepada Kiai Ilyas, “Siapa itu Abah?” Kata Kiai Ilyas, “Malaikat Izrail.”

Lalu pada pagi harinya, malaikat datang lagi dan Kiai Ilyas berkata yang sama. Setelah itu beliau minta dibopong oleh Kiai Ahid untuk melihat pekarangan luar rumah. Selanjutnya pada sore hari beliau mengucap salam ke anak-anaknya yang mengelilinginya, beliau wafat dengan tenang.

***

Kiai Ilyas yang linuwih itu mempunyai amalan doa pegangan keluarga beliau yang turun temurun hingga ke Sunan Gunung Jati. Amalan ini juga menjadi andalan Kiai Ahid pada tahun 1965.

Karena amalan ini dipandang oleh para kiai sebagai ilmu yang sanadnya perlu didapat, maka beberapa kiai mencari sanad-ijazah amalan tersebut. Sebagai informasi, dahulu para ulama tidak gengsi mencari ilmu atau mencari sanad yang baginya dirasa belum lengkap. Alkisah, Kiai Kholil mengaji kepada muridnya, KH. Hasyim Asy’ari di Tebuireng.

Baca Juga :   Profil dan Sejarah Pondok Modern Darussalam Gontor

Beberapa kiai seperti Kiai Mahrus Aly, Kiai Badrus Sholeh, Purwoasri, dan Gus Maksum Jauhari, Lirboyo meminta sanad ijazah amalan doa itu kepada Kiai Ahid bin Kiai Ilyas.

Nampaknya memang ada hubungan khusus antara Kiai Mahrus Aly dengan Kiai Ahid. Kiai Ahid yang tawadlu dan sejak tahun 1974 berpuasa tiap hari ini saat tinggal di Sanggrahan, Prambon, Nganjuk sejak tahun 1961 sampai 1969 sering dikunjungi Kiai Mahrus Aly. Beberapa kali Kiai Mahrus Aly dengan putranya, Gus Imam (Kiai Imam Yahya) mengunjungi Kiai Ahid sambil membawa beras, sarung dan tapih (jarik).

Hubungan khusus ini juga diikat dengan kenyataan bahwa Kiai Mahrus Aly dan Kiai Ahid masih ada hubungan keluarga, selain itu pada tahun 1957, Kiai Ahid mondok di Lirboyo. Kalau ingin tahu tentang sepak terjang Kiai Ahid Sambas, baca:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=715971515866942&id=100023623007183

****

Kembali ke amalan, Kiai Ilyas bercerita bahwa amalan ini dahulu juga digunakan oleh Sunan Gunung Jati untuk menaklukkan 12 pendekar dari pulau Jawa. Dua belas Pendekar ini kompak mendatangi Sunan Gunung Jati dengan berkata, “Anda boleh menyebar Islam asal bisa mengalahkan kami.”

Sunan Gunung Jati meladeni tantangan itu. Pertarungan pertama adalah dengan bermain sepakbola di atas air laut. Dua belas melawan satu. Tapi ternyata 12 pendekar itu tidak bisa memasukkan bola di atas air laut dengan gawang terbuat dari bayang-bayang. Lalu permainan diganti dengan bola api di darat. Bola api yang membuat adalah para pendekar. Tentu bolanya sudah “disuwuk” ala ilmu mereka, tapi akhirnya tetap kalah. Lalu mereka menyerah, yang 8 mau syahadat, sisanya lari.

Untuk para kiai ampuh di atas, lahumul Fatihah.

***


Kisah di atas diceritakan Kiai Ahid kepada saya pada 17 Mei 2021. Agar lebih valid saya menelepon beliau pada tanggal 14 dan 17 Juni 2021 untuk bertanya dan jawaban beliau sama. Lalu pada 27 Juni 2021 lalu, saya bacakan tulisan saya ke beliau. Tidak ada koreksi malah ditambahi. Saya sudah izin untuk saya tulis-sebarkan agar tidak hilang fragmen sejarah dan tradisi para kiai.

Related posts