Kematian | Pengertian Kematian | Anjuran Mengingat Kematian | Sakaratul Maut | Alam Kubur atau Barzakh | Hikmah Kematian dan Alam Kubur |
Pengertian Kematian
Dari segi bahasa, istilah kata mati (al-maut) memiliki korelasi yang sama dengan istilah panca indera, akal dan lain-lain. Korelasi ini mengandung pemahaman bahwa, kematian yang dimaksud berarti telah kehilangan kekuatan atau kemampuan untuk hidup; dan ini sama seperti seseorang telah kehilangan sejumlah organ tubuh, yang menyebabkan seseorang tidak dapat merasakan atau melihat sesuatu.
Kematian menurut al Ghazali berarti perubahan keadaan, dan bahwa setelah kematian jasad, ruh manusia tetap hidup dan merasakan siksaan ataupun kebahagiaan. Maka, perpisahan ruh dengan jasad adalah bahwa ruh sama sekali tidak lagi efektif bagi jasad. Karena itu, jasad pun tak lagi tunduk pada perintah-perintahnya. Mati adalah lawan kata hidup (al Hayat). Hidup dan mati adalah kehendak Allah sebagaimana ikrar kita setiap shalat dalam doa iftitah.
Al-Qur’an menunjukkan bahwa setiap makhluk yang bernyawa (ruh) pasti mati, bahkan alam dunia pun akan diakhiri dengan mati (kiamat). Oleh karena itu, kematian adalah suatu kepastian, dan tiada satu pun yang dapat melarikan diri dari padanya; dan bahkan mati yang akan mendatanginya. Mati menjadi titik pemisah di antara dua perkara, yakni masa, keadaan dan kehidupan dunia menuju kepada masa, keadaan dan kehidupan akhirat yang abadi. la bertindak sebagai pintu ke alam akhirat.
Anjuran Mengingat Kematian
Nabi Muhammad sering mengingatkan kita untuk selalu mengingat mati karena itu akan menambahkan rasa takut kita seandainya mati dalam keadaan yang tidak diridhai Allah sehingga kita sekuat tenaga untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dalam sabdanya beliau bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemisah kenikmatan (kematian)”
Menurut al Ghazali bahwa manusia terbagi menjadi tiga golongan; pertama, orang yang terlena dengan dunianya, kedua, orang memulai untuk bertaubat dan ketiga, orang yang arif tentang hakikat kematian. Orang yang terlena dengan dunianya tidak pernah mengingat kematian. Jika diingatkan dengan kematian maka akan semakin menjauhkan dirinya dari ketaatan. Adapun orang memulai bertaubat akan ingat kematian karena rasa takut yang menghantuinya jikalau ia mati sebelum sempurna taubatnya. orang semacam ini biasanya takut akan kematian. Sedangkan orang yang arif akan selalu ingat mati dan dia siap menghadapi kematian. Seakan-akan kematian merupakan penantian yang ia tunggu-tunggu. Kematian menjadikannya terbebas dari dunia yang membelenggunya.
Dunia ibarat sebuah penjara bagi orang yang beriman artinya ia akan terus menerus berada dalam situasi dan kondisi yang sulit akan menyiksa jiwanya karena perjuangannya dan penolakannya terhadap nafsunya sendiri. Sayyidina Ali berkata: “Dunia ini akan berlalu ( sirna) dan akhirat akan menghadap (datang) dan setiapa masing-masing mempunyai pengikut maka jadikanlah diri kalian sebagai pengikut akhirat dan jangan jadi pengikut dunia, sekarang (didunia) adalah tempat beramal belum ada hisab dan besok (diakhirat) tempat hisab tidak ada amal” (HR. al Bukhari).
Sakaratul Maut
Sakaratul maut adalah rasa sakit yang menyerang jiwa dan menjalar keseluruh bagian jiwa sehingga tidak akan ada lagi satu pun bagian jiwa yang terbebas dari rasa sakit itu, sakit dari sakaraul maut akan menghujam ke jiwa dan menyebar keseluruh anggota badan dan orang yang sekarat akan merasakan sendiri dirinya ditarik-tarik dan dicabut dari setiap urat saraf, persendian dan dari tiap akar rambut di kaki dan kepala. Rasulullah bersabda: ”Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang’ (HR.at Tirmidzi)
Ka’b al-Ahbar berpendapat : “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuatkuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”.
Alam Kubur atau Barzakh
- Kebenaran Adanya Alam Kubur
Termasuk perkara yang dibawa Nabi dan wajib kita mengimaninya, Allah ta’ala berfirman: “Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’awn dan kaumnya ke dalam ‘adzab yang sangat keras” (Q.S. Ghafir: 46).
Para ulama menafsirkan ayat ini tentang adanya alam kubur karena ketika di dunia orang-orang kafir tidak ada yang diperlihatkan kepadanya api yang menakutkan setiap hari dua kali yaitu pagi dan sore bahkan keadaan mereka sebaliknya, kebanyakan mereka diberi rizki oleh Allah dengan dunia yang banyak, dan tidak mungkin diperlihatkannya api ini ketika hari kiamat karena ada kata “ketika terjadi hari kiamat” bearti kalau di dunia dan di akhirat tidak diperlihatkan api kepada mereka maka itu menandakan terjadinya adalah di antara dunia dan akhirat yaitu alam barzakh atau alam kubur.
Al Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud dan an-Nasa`i telah meriwayatkan dari Ibn ‘Abbas: (suatu ketika) Rasulullah melewati dua kuburan, maka beliau bersabda: “Sungguh, keduanya sedang disiksa dan keduanya tidak disiksa karena dosa yang besar dalam anggapan banyak orang”. Rasulullah bersabda: “(Padahal sesungguhnya dosa tersebut adalah dosa besar), iya (keduanya adalah dosa besar). Salah seorang di antara keduanya selalu menebarkan namimah (mengadu domba) dan yang lain tidak menjaga dari air kencingnya”.
- Keadaan alam kubur
Kehidupan di alam barzah sementara waktu, yaitu hingga datangnya hari kiamat. Sebab setelah datangnya hari kiamat nanti akan ada kehidupan lagi yaitu kehidupan di alam akhirat. Di dalam hadits Nabi menegaskan bahwa alam kubur merupakan tahap pertama menuju alam akhirat. Alam kubur bisa juga sebagai taman surga atau lubang neraka, seseorang yang selamat melewati tahap pertama itu untuk tahap selanjutnya bakal lebih ringan, tetapi jika melalui tahap pertama tidak selamat, untuk tahap selanjutnya akan semakin berat.
Sabda Rasulullah : ‘’Sesungguhnya alam kubur merupakan tahap pertama menuju alam akhirat. Apabila seseorang selamat melewati tahap pertama, maka untuk tahap selanjutnya bakal lebih ringan. Namun jika tidak selamat melewati tahap pertama, maka untuk tahap selanjutnya akan lebih dahsyat.’’ (H,R. Tirmidzi).
- Kembalinya ruh ke jasad
Dan ketahuilah bahwa telah diriwayatkan secara tsâbit dalam hadits-hadits yang shahih tentang kembalinya ruh ke jasad di dalam kubur seperti hadits al Barâ` bin ‘Âzib yang diriwayatkan oleh al Hakim, al Bayhaqiyy dan Abu ‘Awanah dan dinilai shahih oleh beberapa hafizh hadits, juga hadits Ibn ‘Abbas yang marfû’: “Tidaklah ada seorangpun yang berjalan melewati kuburan saudara muslimnya yang ia kenal di dunia, lalu mengucapkan salam kepadanya kecuali dia mengenalnya dan menjawab salamnya” (H.R. Ibn ‘Abdil Barr dan ‘Abdul Haqq al Isybîliyy dan beliau menilainya shahih).
- Pertanyaan malaikat dan siksa kubur
Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alahi wasalam bahwa ia bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba ketika diletakkan di dalam kuburnya dan para sahabatnya telah berpaling darinya dan ia-pun mendengar suara sandal mereka ketika mereka meninggalkan tempat, maka datang kepadanya dua malaikat lalu mendudukkannya seraya berkata: Apa yang kamu katakan tentang laki-laki ini, Muhammad?. Orang mukmin -yang sempurna imannya- menjawab: Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba dan utusan Allâh. Kemudian dikatakan kepadanya: Lihatlah tempatmu di neraka, Allâh telah menggantinya dengan tempat di surga, maka ia melihat dua-duanya. Sedangkan orang kafir atau munâfiq, dia menjawab: Aku tidak tahu, dahulu aku berkata seperti yang dikatakan orang tentangnya, kemudian dikatakan kepadanya: Kamu tidak tahu kebenaran, kemudian dia dipukul dengan palu dari besi di antara kedua telinganya dan dia pun menjerit dengan jeritan yang didengar oleh semua yang ada di sekitarnya kecuali manusia dan jin”. (H.R. al Bukhari dan Muslim).
Hadits ini menjelaskan bahwa pertanyaan malaikat munkar dan nakir adalah suatu kebenaran dan orang yang tidak bisa menjawab pertanyaan kedua malaikat tersebut akan disiksa dengan pukulan. Meskipun begitu ada sebagian aliran yang mengingkari adanya siksa kubur, di antaranya aliran Mu’tazilah dan ibadiyah. Salah seorang pembesar Mu’tazilah bernama Dharar ibn Umrah al Ghathafani di antara yang mengingkari siksa kubur. Sedangkan kelompok Ibadhiyah mereka terbagi menjadi dua bagian: sebagian ada yang mengakui siksa kubur sebagian lain tidak mengakuinya. Mereka yang mengingkari siksa kubur berdalih bahwa orang yang mati akan hancur dan menjadi tanah atau sebagaimana yang matinya kebakar atau dimangsa hewan buas maka tidak akan disiksa. Sebagaimana sebagian mereka juga berdalih bahwa hadits-hadits tentang siksa kubur adalah hadits ahad dan hadits ahad tidak bisa digunakan sebagai hujjah dalam hal ini.
- Nikmat kubur
Dalam kitab Shahih ibn Hibban juz 5 hal.: 50 disebutkan dari Abu Hurairah dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya orang mukmin didalam kuburnya akan seperti taman yang hijau dan kuburannya akan diluaskan tuju puluh dzira (hasta) dan akan terang benderang seperti terangnya malam pada waktu bulan purnama”.
Dalam Hadits tesebut menjelaskan bahwa allah akan memberikan kenikmatan dikuburan berupa diluaskannya kuburannya sampai tuju puluh dzira (hasta) bagi orang yang bertakwa kepada allah yaitu orang mukmin yang menjalankan perintah allah dan menjauhi larangan-Nya dan selainnya seperti orang yang mati syahid tidak dalam keadaan bertakwa, dan sebagian yang lain diberi kenikmatan diluaskannya kuburan sebatas mata memandang, dan sebagian orang mukmin juga diberikan kenikmatan berupa disinari kuburannya seperti sinar yang ada dimalam bulan purnama, dan masih banyak yanglaiinya nikmat yang akan diterima oleh orang mukmin dikuburan seperti mencium bau surga. Dan dikecualikan dari pertanyaan kubur: para nabi allah, orangorang yang mati syahid dalam peperangan dan anak kecil yang meninggal sebelum baligh.
Hikmah Kematian dan Alam Kubur
Ada beberapa hikmah yang dapat diambil dari kematian dan alam kubur untuk kita renungkan dan mempersiapkan diri sebelum ajal menjemput. Di antaranya yaitu:
- Mensyukuri nikmat hidup dengan menyembah Allah semata, Dzat yang telah memberikan kita kehidupan.
- Menjadikan dunia sebagai ladang amal untuk bekal akhirat karena kehidupan dunia hanya sementara sedangkan kehidupan di akhirat bersifat abadi.
- Selalu berfikir dan mengingat kematian dengan meningkatkan ketaqwaan agar jika seandainya ajal menjeput maka ia telah siap dengan amal ibadah.
- Meluangkan waktu untuk ziarah kubur agar kita selalu ingat mati dan tidak terlena dengan kenikmatan duniawi.
- Mengambil pelajaran dari kematian orang lain bahwa kita akan merasakan hal yang sama; sakratul maut, diantarkan jenazah kita ke liang kubur dan pertanyaan malaikat munkar dan nakir.
- Memperbanyak amal ibadah yang pahalanya akan terus mengalir meskipun kita telah meninggal dunia.






