4 Pengertian Dalang, Fungsi, Peran dan Nama Nama Dalang Terkenal di Indonesia

Pengertian Dalang, Fungsi, Peran dan Nama Nama Dalang Terkenal di Indonesia

Dalang Adalah | Pengertian Dalang Menurut Para Ahli | Fungsi Dalang | Peran Dalang  |Nama Nama Dalang Terkenal di Indonesia |

Pengertian Dalang Menurut Para Ahli

Berikut adalah beberapa pengertian dalang menurut para ahli yang dikutip dari berbagai sumber:

  1. Menurt Mulanya Hazeu (Antropolog Belanda), dalang adalah seorang pendeta yang ada di dalam pemujaan roh nenek moyang.
  2. Menurut Sujamto, dalang adalah wong kang wasis ngudhal piwulang (orang yang mahir memberikan banyak pelajaran) atau wong kang pantes ngudhal piwulang (orang yang pantas memberikan berbagai pelajaran).
  3. Menurut Victoria Van M C Groenendael, Dalang adalah penutur kisah, penyanyi lagu, memimpin suara gamelan yang mengiringi, dan yang paling utama dalang merupakan pemberi jiwa pada boneka wayang tersebut.
  4. Menurut Suryati, Dalang merupakan pengatur sebuah pertunjukan wayang.

Fungsi dan Peran Dalang

Dalang sebagai figur sentral dalam seni pewayangan mempunyai berbagai fungsi antara lain adalah:

Dalang sebagai Seniman

Dalang diharapkan dapat menguasai dan terus mengembangkan ke-7 unsur seni pedalangan. Yaitu:

  • Seni Drama : Melalui seni drama dapat kita ketahui dan hayati makna kefalsafahan yang dalam dati setiap cerita atau lakon wayang yang bersifat klasik tradisional.
  • Seni Lukis atau Seni Rupa : Seni lukis atau seni rupa yang dapat dilihat dari bentuk wayang, sunggingan dan tata warnanya yang masing-masing warna mewakili simbul kejiwaan tersendiri.
  • Seni tatah (pahat) atau seni Kriya : Seni pahat atau seni kriya yang dapat disimak dati wujud wayang yang dibuat dati kulit kerbau, sapi, kayu dan bahan lainnya melalui proses yang memerlukan ketekunan, kerumitan tapi rapi. Dalam seni pahat atau seni kriya tersebut terdapat beberapa jenis pahatan dan tatahan.
  • Seni Sastra : Seni sastra yang dapat didengar dati bahasa pedalangan yang begitu indah dan menawan hati, misaJnya unggah-ungguh dalam penggunaall bahasa dalam suatu dialog.
  • Seni Suara : Seni suara yang kita tangkap dalam setiap pergelaran wayang dikumandangkan secara ngerangin oleh para wiraswara (penyanyi) dan swarawati (pesinden) serta ki dalang, yang diiringi dengan perpaduan bunyi gamelan dengan alunan lagu yang begitu indah. Pembawaan suara tokoh-tokoh wayang yang berbeda-beda yang sesuai dengan karaktemya merupakan hal yang menarik.
  • Seni Karawitan : Seni karawitan dapat dinikmati dari lagu-Iagu yang etis dan etestis. Seni karawitan merupakan pengiring lagu yang harmonis, laras dan anggun untuk lakon yang dipergelarkan ki dalang.
  • Seni Gaya : Seni gaya dapat dilihat dari gerak dan gaya wayang hasil pantulan sinar lampu atau blencong yang dapat memberikan nafas kehidupan dari setiap pelakunya.

Ng. Ronggowarsito mengatukan bahwa scorang dalang yang tangguh harus menguasai 12 bidang keahlian yaitu :

a. Antawawacanaa (dialog) : dalam mengcmukakan anlawacana harus dapat memberikan perbedaan warna serta volume suara dati tokoh-tokoh wayang.

b. Ranggep: dalang harus berusaha untuk tidak menjemukan pergelarannya, baik dalam antawacana maupun sabetan.

c. Enges: dalang dituntut dapat membedakan dialog-dialog antara tokoh-tokoh wayang yang telah berkeluarga, dengan tokoh-tokoh yang sedang bertunangan atau berpacaran.

d. Tutug : dalam pergelaran sang dalang tidak dibenarkan memperpendek dialog.

e. Pandai dalam Sabetan : dalang dituntut kemahirannya dalam memainkan wayang dalm segala hal.

f. Pandai Melawak : selain pandai memainkan wayangnya, sang dalang pun pandai melawak dengan banyolan-banyolan yang segar dan tidak menjemukan.

g. Pandai Amardawa Lizgu : dalang harus menguasai lagu-Iagu.

h. Pandai Amardi Basa : sang dalang dituntut kepandaiannya dalam menggunakan tata bahasa untuk tokoh-tokoh wayang seperti bahasa para dewa, pendeta, raksasa, kera, ksatria dan sebagainya.

i. Faham Kawi Radya : sang dalang harus dapat menguasai dalam penggambaran suasana kraton dati tiap kerajaan.

j. Faham Parama Kawi : sang dalang harus memahami bahasa Kawi dalam dasanama (10 nama sinominya) yang digunakan untuk penjalasan nama-nama lain dati tokoh tersebut.

k. Faham Parama Sastra : sang dalang harus paham pakem-pakem pedalangan yang berhubungan dengan suluk dan greget saut (untuk menggambarkan suasana tegang, terkejut atau marah).

l. Faham Awi Carita : sang dalang harus mengetahui wayang-wayang mana yang harus dipersiapkan untuk pergelarannya.

Dalang Sebagai Juru Didik

Fungsi sebagai juru didik atau pendidikan dibidang non formal, karena dalang banyak sekaIi cerita dalam pewayangan yang kaya dengan tepa-palupi yang sangat besar manfaatnya bagi generasi kita.

Dalang Sebagai Ahli Falsafah dan Kerohanian

Sebagai ahli falfasah dan kerohanian dalam pewayangan sebenarnya tidak hanya mengenai ajaran moral saja, yakni apa yang baik dan buruk, yang benar dan yang salah, atau yang adil bijaksana dan jahat dan kejam, namun juga mengagungkan Ketuhanan Yang MahaEsa.

Dalang sebagai Juru Suluh

Sebagai juru suluh atau juru didik harns dapat menjelaskan secara gamblang (mudah) segi-segi tertentu dari cerita klasik yang sedang dipentaskan, terutama ungkapan-ungkapan dalam masa pembangun.

Dalang Sebagai Juru Dakwah

Dalang dalam penerangan dititik-beratkan pada segi agama. Dalam hal ini tugas dalang adalah memberikan penyuluhan di bidang agama.

Dalang sebagai Juru Hibur

Wayang merupakan pertunjukan hiburan yang murah bagi rakyat, terutama di daerah pedesaan, karena dari pentas wayang ini secara tradisional para penontonnya tidak dikenakan bayaran.

Dalang sebagai Komunikator Sosial

Dalang adalah salah sdeorang tokoh rakyat, yang hidup di tengah-tengah rakyat dan karenanya lebih peka terhadap aspirasi dan segala sesuatu yang sedang dipikirkan serta dirasakan oleh kebanyakan rakyat.

Dalang sebagai Pelestari Seni Budaya

Melalui ki dalanglah cerita-cerita kuna bail dari epos Ramayana dan Mahabaratam, maupun dari zaman kedatangan Islam di Indonesia sampai pada masa proklamasi kemerdekaan Indonesia, dilestarikan kepada generasi-generasi yang ada

Nama Nama Dalang Terkenal di Indonesia

Ki Nartosabdo

Ki Nartosabdo yaitu seseorang seniman musik serta dalang wayang kulit legendaris dari Jawa Tengah, Indonesia. Nama asli Ki Nartosabdo yaitu Soenarto. Adalah putra seseorang perajin sarung keris bernama Partinoyo.

Ki Nartosabdo bisa disebutkan juga sebagai pembaharu dunia pedalangan di tahun 80-an. Dobrakannya dalam memasukkan gending-gending ciptaannya bikin banyak dalang senior yang menyudutkannya.

Ki Narto juga di kenal juga sebagai pencipta lagu-lagu Jawa yang sangatlah produktif. Lewat group karawitan bernama Cenderung Raos yang ia dirikan, lahir seputar 319 buah judul lagu atau gending, diantaranya yang populer Gambang Suling, Ibu Pertiwi, Klinci Ucul, Prau Monitor, serta Rujak Jeruk.

Ki Anom Suroto

Ki Anom Suroto yaitu seseorang dalang Wayang Kulit Purwa. Ia mulai populer juga sebagai dalang mulai sejak seputar tahun 1975-an. Ia lahir 11 Agustus 1948 di Klaten.

Pengetahuan pedalangan dipelajarinya mulai sejak usia 12 tahun dari ayahnya sendiri, Ki Sadiyun Harjadarsana. Diluar itu dengan cara segera serta tidak segera ia banyak belajar dari Ki Nartasabdo dan dalang senior lainnya.

Sampai akhir era ke-20 ini, Anom Suroto adalah satu-satunya Dalang yang ernah tampil di lima Benua, seperti Amerika Serikat pada tahun 1991, Jepang, Spanyol, Jerman Barat (saat itu), Australia, India, Nepal, Thailand, Mesir, serta Yunani.

Ki Manteb Soedharsono

Ki Manteb Soedharsono yang hari ini meninngal dunia, dia adalah seseorang dalang wayang kulit terkenal yang dari Jawa Tengah. Lantaran ketrampilannya dalam memainkan wayang, ia juga dijuluki sebagai Dalang Setan.

Ia juga dikira juga sebagai pelopor kombinasi seni pedalangan dengan peralatan musik moderen. Manteb Soedharsono yaitu putra seseorang dalang juga, bernama Ki Hardjo Brahim. Ia dilahirkan di desa Jatimalang, Kelurahan Palur, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, pada tanggal 31 Agustus 1948.

Ki Manteb mulai mendalang mulai sejak kecil. Tetapi, popularitasnya melejit ketika dia mengadakan pertunjukan Banjaran Bima yang diadakan sebulan sekali di Jakarta pada tahun 1987. Bahkan juga, pada tahun 90-an, tingkat popularitasnya sudah melebihi Ki Anom Suroto, yang juga jadi kakak angkatnya.

Ki Seno Nugroho

Ki Seno Nugroho lahir di Yogyakarta pada tanggal 23 Agustus 1972. Ki Seno Nugroho ini berasal dari keluarga seniman tradisional dan merupakan anak dalang populer di Yogyakarta yaitu almarhum Ki Suparman Cermowiyoto.

Selain mendalang di Indonesia, Ki Seno Nugroho juga pernah diundang untuk tampil di negara Belanda dan Belgia

Ki Enthus Susmono

Ahir di Tegal, 21 Juni 1966. Selain menjabat bupati, dia adalah seorang dalang berkebangsaan Indonesia. Dia adalah anak semata wayang dari Soemarjadihardja, dalang wayang golek Tegal dengan istri ke-tiga bernama Tarminah. Bahkan, kakek moyangnya, R.M. Singadimedja merupakan dalang terkenal dari Bagelen pada masa pemerintahan Sunan Amangkurat di Mataram.

Pada tahun 2005, dia menerima gelar Doktor Honoris Causa bidang seni-budaya dari International Universitas Missouri, U.S.A dan Laguna College of Bussines and Arts, Calamba, Philippines (2005).

Selain itu, di tahun yang sama, dia terpilih menjadi dalang terbaik se-Indonesia dalam Festival Wayang Indonesia yang diselanggarakan di Taman Budaya Jawa Timur. Kemudian, pada tahun 2008, terpilih mewakili Indonesia dalam event Festival Wayang Internasional di Denpasar, Bali.

Sujiwo Tejo

Sujiwo Tejo dilahirkan di Jember, Jawa Timur, pada 31 Agustus 1962 dengan nama Agus Hadi Sudjiwo. Ia kini dikenal sebagai seorang budayawan dengan aksi dalangnya, juga seorang penulis, pelukis, pemusik dan seorang aktor.

Dia dijuluki sebagai dalang edan, karena pertunjukannya. Dia juga sering dipanggil sebagai Presiden Jancukers yang memiliki penggemar banyak sekali, Tejo sudah banyak menampilkan pertunjukan wayangnya dibanyak tempat bahkan di tahun 2004 tampil di Yunani.

Related posts