Sepenggal Cerita Pasar Baru Jakarta

  • Whatsapp
Sepenggal Cerita Pasar Baru Jakarta

Wislahcom | Referensi | : Bagi sebagian masyarakat Jakarta tentunya sudah tidak asing dengan nama Pasar Baru. Pasar yang terletak di kawasan jalan Pasar Baru, Jakarta Pusat ini telah berdiri sejak tahun 1820 dan menjadi salah satu pusat perbelanjaan tertua di Jakarta. Pasar Baru merupakan surga belanja bagi mereka yang ingin mencari beberapa barang keperluan seperti kain, bahan busana, sepatu, peralatan olahraga, dan juga baju maupun perhiasan sekalipun. Namun seiring perkembangan zaman kejayaan Pasar Baru seakan sirna, terutama bagi kalangan kaum muda-mudi.

Orang kini sudah tidak begitu tertarik untuk mendatangi Pasar Baru. Sisa kejayaan masa lalu masih berdiri kokoh hingga hari ini. Keberadaan Pasar Baru tak lepas dari sejarah perpindahan ibu kota kolonial ke Weltervreden (sekitar Gambir, Lapangan Banteng dan Istana Merdeka). Terbentuknya Pasar Baru sebetulnya sebagai pelengkap di Weltevreden atau biasa kita sebut sebagai kawasan elite Batavia yang mulai berkembang pada abad ke-19. Memang beberapa catatan sejarah mengatakan bahwa Pasar Baru dahulu identik dengan pusat perbelanjaan orang-orang Eropa.

Hari ini, Pasar Baru tidaklah nampak seperti masa keemasan dahulu. Perkembangan zaman dan teknologi yang melaju sangat pesat memiliki dampak besar kepada kondisi Pasar Baru. Ditambah, kondisi pandemi yang seiring berjalannya waktu membuat para pedagang di Pasar Baru menutup tokonya dikarenakan kondisi modal serta pendapatan yang tak bisa diharapkan. Melihat kondisi tersebut, saya mungkin saja mengatakan jika Pasar Baru bisa saja benar-benar ditutup dan mungkin bisa jadi dialihfungsikan ke hal yang lain. Tentu saja hal ini tidak diharapkan oleh banyak masyarakat yang sering datang ke Pasar Baru.  Sebenarnya hal ini juga bukan pertama kali terjadi.

Baca Juga :   Kebudayaan Suku Bangsa Minangkabau : Kepercayaan, Kekerabatan, Politik, Ekonomi dan Kesenian

Pada tahun 1930, Pasar Baru telah menjadi pusat aktivitas ekonomi Jakarta. Namun hal itu tidak bertahan lama seiring derasnya arus modernisasi yang masuk menembus ke kota-kota besar terutama Jakarta. Lambat laun, kejayaanPasar Baru semakin mengalami kemerosotan hingga memasuki titik terparahnya pada hari ini. Hal ini mungkin bukan hanya disebabkan karena adanya pandemi, tetapi juga merebaknya pusat-pusat perbelanjaan yang lebih modern seperti mal, supermarket atau bahkan hypermarket. Pemerintah DKI Jakarta tentunya sudah melihat dan mengatasi tentang permasalahan ini. Seperti pada tahun 2000, Pemerintah DKI Jakarta menetapkan Pasar Baru dan kawasan sekitarnya sebagai kawasan belanja bertaraf internasional melalui SK Gubernur No. 3048 tahun 2000. Akan tetapi bagi saya, peraturan semacam ini belum mampu mendongkrak kembali perkembangan Pasar Baru.

Saya ingin membandingkan Pasar Baru dengan Malioboro di Yogyakarta, Sebetulnya Pasar Baru dan Malioboro bagi saya sama-sama memiliki persamaan dalam beberapa aspek. Layaknya Malioboro, Pasar Baru menyediakan barang dagangan, mulai dari barang-barang kebutuhan primer, sekunder, tersier, hingga kuarter. Secara umum, Pusat perbelanjaan Pasar Baru dibagi menjadi enam kawasan utama, yakni Metro Pasar Baru, Metro Atom, Harco Pasar Baru, Pasar Baru, Istana Pasar Baru, dan kawasan pintu air. Wisatawan akan menemukan deretan toko yang beranekaragam, termasuk toko khas peralatan lenong sekalipun. Selain toko-toko yang menjual barang-barang kebutuhan, urusan kuliner di Pasar Baru tidak perlu diragukan lagi.

Baca Juga :   Purabaya, Tebuireng, Risalatul Muawanah

Terdapat deretan warung makan yang menjajakan ragam kuliner, seperti gudeg batu tulis, bubur Raffles, Es Sari Salju, dan lain-lain. Saya kira, orang-orang Jakarta saat ini mestinya tidak melihat Pasar Baru sebagai hal yang kuno atau ketinggalan zaman. Saya memahami bahwa dahsyatnya e-commerce yang mulai menjamur juga berdampak kepada perkembangan Pasar Baru. Belum lagi ketertarikan generasi milenial untuk berkunjung ke tempat ini. Mempertahankan atau meremajakan kawasan Pasar Baru sebetulnya bukan hanya untuk membantu para pedagangan toko-toko di Pasar Baru saja, melainkan mempertahankan nilai-nilai sejarah yang telah ada pada tempat ini.

Dari segi arsitektur, kompleks pertokoan Pasar Baru sebetulnya sudah mengalami renovasi dan dibangun dengan sentuhan gaya modern berbentuk gedung bersusun yang tertata rapi. Penambahan sarana dan prasana seperti pendingin ruangan, tangga escalator, mushola, toilet umum, tempat parkir, dan lain-lain juga sudah cukup menjadikan Pasar Baru menuju kearah perkembangan modernisasi.

Walaupun sampai saat ini kesemrawutan tetap terlihat di daerah Pasar Baru, sudah sepantasnya kita berbicara dan memberikan masukan maupun perbaikan kepada pemerintah DKI Jakarta untuk melihat kawasan Pasar Baru ini. Seharusnya kawasan ini dapat menjadi icon pariwisata warisan budaya dengan memanfaatkan peninggalan sejarah sebagai daya tarik wisata. Menjadikan Pasar Baru sebagai Heritage Tourism yang lebih dikemas rapih dan modernisasi bisa saja mengembalikan Pasar Baru kepada masa kejayaannya dahulu.

Baca Juga :   Biografi dan Sanad Keilmuan Buya Dr. Arrazy Hasyim

Saya menyakini bahwa jika Pasar Baru mampu dikelola secara baik dan dilakukan penataan yang tepat, tidak menutup kemungkinan kawasan heritage tourism di Pasar Baru akan menjadi sumber pendapatan daerah yang dapat mendorong pertumbuhan perekonomian kota. Sehingga nantinya orang yang datang ke Pasar Baru itu bukan hanya untuk membeli barang atau sekedar berkeliling saja. Pengunjung Pasar Baru bisa juga singgah ke tempat-tempat nongkrong semacam caffe yang dikemas modern namun bernuasa tempo dulu yang justru mampu menarik minat muda-mudi untuk berkunjung ke tempat tersebut. Dengan begitu, Pasar Baru kian hari dapat menarik hati dan minat generasi milenial untuk mau mempelajari dan mengetahui nilai sejarah dengan gaya mereka masing-masing.

Sumber Referensi :

Anonim. “Pasar Baru”. Jakarta.go.id, Juli 2017.

Hanifah, Mutya. “Pasar Baru, Saksi Bisu Sejarah Jakarta”. Okezone.com, Maret 2012.

Wanti. “Pasar Baru Penuh Dengan Pesona Dan Keunikan”. Kemendikbud.go.id, Agustus 2016.

Related posts