Saksi Bisu Kepiluan Keluarga Jenderal Ahmad Yani

  • Whatsapp
Saksi Bisu Kepiluan Keluarga Jenderal Ahmad Yani

Wislahcom | Referensi | : Suara hentakan sepatu milik pasukan Tjakrabirawa membangunkan keluarga Jenderal Ahmad Yani pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965. Anak laki-laki Ahmad Yani kemudian membangunkan sang ayah. Rumah tersebut sudah dikepung oleh pasukan Tjakrabirawa. Sang Jenderal pun menanyakan maksud dari kedatangan pasukan tersebut. Salah satu anggota pasukan tersebut memberitahu bahwa Jenderal Ahmad Yani dipanggil oleh Presiden Soekarno untuk segera datang ke Istana Negara. Ahmad Yani pun mengiyakan dan meminta izin untuk mandi, tetapi pasukan tersebut menolak permintaan Jenderal Ahmad Yani dengan alasan bahwa ia dapat mandi di Istana Negara. Penolakan yang diterima oleh Ahmad Yani membuatnya gusar dan akhirnya melakukan perlawanan terhadap pasukan tersebut.

Sebelum kedatangan pasukan Tjakrabirawa, pada sore harinya Jenderal Ahmad Yani yang baru saja pulang kerja, menyapa dan bermain bersama anak-anaknya di kediamannya yang terletak di kawasan Menteng. Bahkan di sore itu, Ahmad Yani mengajak anak-anaknya untuk pergi bersama ke Istana Negara pada 5 Oktober. Kebahagiaan terpancar dari raut wajah anak-anak Ahmad Yani setelah mendapat ajakan dari sang ayah.

Baca Juga :   Humor Santri: Disentuh Jin

Namun, kebahagiaan yang mengisi seluruh sudut rumah tersebut seolah sirna pada dini hari tanggal 1 Oktober atau tepatnya saat suara hentakan sepatu pasukan Tjakrabirawa terdengar di kediaman Jenderal Ahmad Yani. Terlebih saat peluru pasukan Tjakrabirawa menembus tubuh ayah mereka. Jenderal Ahmad Yani ditembak setelah melakukan sebuah perlawanan terhadap pasukan Tjakrabirawa. Peluru menembus kaca dan tubuh sang jenderal. Seketika terdapat tetesan darah di atas lantai tempat Jenderal Ahmad Yani berdiri. Melihat kondisi ayahnya yang sangat memilukan, anak-anak Jenderal Ahmad Yani pun segera menghampiri sang ayah untuk memberikan kekuatan melalui sebuah pelukan. Sayangnya, beberapa anggota pasukan Tjakrabirawa menahan dan melarang anak-anak Jenderal Ahmad Yani untuk menghampiri sang ayah.

Tangis anak-anak Jenderal Ahmad Yani pecah melihat sang ayah diperlakukan tidak pantas. Mereka melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sang ayah diseret ke luar rumah dalam keadaan tubuh yang dipenuhi darah akibat tembakan. Yang lebih memilukan lagi, istri dari Jenderal Ahmad Yani tidak sempat melihat suaminya untuk yang terakhir kalinya karena ia baru saja pulang dari acara tarekatan. Sang istri hanya mendapati tangisan yang mengisi seluruh sudut rumah dan simbahan darah milik suaminya di lantai. Ruangan yang pada sore hari kemarin masih terdengar obrolan-obrolan serta gelak tawa, kini hanya diisi oleh suara tangisan dan lantai yang berlumuran darah.

Baca Juga :   Sarinah: Dahulu, Kini, dan Nanti

Jenderal Ahmad Yani kemudian dibawa ke Lubang Buaya oleh pasukan Tjakrabirawa bersama lima jenderal dan satu kapten TNI Angkatan Darat lainnya. Mereka ditemukan tewas dengan kondisi yang sangat memprihatinkan dan kemudian dimakamkan pada tanggal 5 Oktober 1965. Pada hari itu, seharusnya anak-anak Jenderal Ahmad Yani bergembira karena akan pergi ke Istana Negara bersama ayahnya. Namun, kekejaman yang dilakukan oleh pasukan Tjakrabirawa membuat tangal 5 Oktober yang seharusnya menjadi hari bahagia, berubah menjadi hari yang memilukan. Pada hari itu, istri dan anak-anak dari Jenderal Ahmad Yani harus menyaksikan tubuh suami serta ayah mereka masuk ke liang kubur.

Kini, rumah tersebut dijadikan sebagai museum atau lebih tepatnya bernama Museum Sasmitaloka Ahmad Yani. Di depan rumah tersebut terdapat patung Jenderal Ahmad Yani yang terlihat sangat gagah. Di rumah tersebut, kita dapat melihat pintu kaca yang terkena tembakan saat insiden memilukan itu terjadi. Seragam dan lencana milik Jenderal Ahmad Yani juga dapat kita lihat saat berkunjung ke museum tersebut. Rumah yang banyak menyimpan kenangan bahagia sekaligus memilukan tersebut dapat dikunjungi secara gratis. Hal tersebut merupakan kebaikan hati dari sang isti Jenderal Ahmad Yani yang menginginkan bahwa siapapun yang berkunjung ke rumah tersebut agar tidak dikenakan biaya.

Baca Juga :   Hijrah Dari Musik

Related posts