Biografi Singkat Aidh Al-Qarni, Pendidikan, Karya, dan Pemikirannya

Biografi Tokoh Lengkap

Biografi Aidh Al-Qarni | Biografi Singkat Aidh Al-Qarni | Profil Aidh Al-Qarni | Pendidikan | Karya | Pemikiran | Baca Biografi Tokoh Lainnya di Wislah.com

Biografi Singkat Aidh Al-Qarni : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

 Aidh al-Qarni lahir di perkampungan al-Qarn tahun 1379H (1960 M) .Nama lengkap beliau adalah`Aidh Abdullah bin `Aidh al-Qarni. Nama al-Qarni diambil dari daerah asalnya di wilayah selatan Arab Saudi.

Beliau berasal dari keluarga “Majdu” di perkampungan al-Qarn, sebelah selatan Kerajaan Arab Saudi. Di perkampungan ini lah beliau dibesarkan, sejak kecil dia sudah dipekenalkan oleh ayahnya dengan aktifitas keagamaan. Sejak kecil sang ayah sudah membawa al-Qarni ke masjid untuk shalat berjamaah. Sang ayah juga telah memperkenalkan berbagai macam buku bacaan kepada Dia semenjak kecil. Karenanya, ia sudah terbiasa dengan bacaan sejak kecil.

Mengenal latar belakang pendidikannya, Aidh Al Qarni telah belajar agama di wilayah selatan Arab Saudi, baik dari ayahnya sendiri maupun dari para ulama setempat. Pendidikan formalnya dimulai di Madrasah Ibtidaiyah Ali Salman di desanya. Setelah lulus, dia kemudian melanjutkan pendidikan ke Ma’had Ilmi sejak bangku SMP, hingga meraih gelar kesarjanaan (Lc) dari Fakultas Ushuluddin di Universitas Islam Imam Muhammad ibn Su’ud tahun 1403-1404 dan gelar Magister dalam bidang Hadits Nabi tahun 1408 H dengan tesis berjudul al-Bid’ah wa Atsaruha fi ad-Dirayah wa ar-Riwayah (Pengaruh Bid’ah terhadap ilmu Dirayah dan Riwayah Hadits).


Ia menamatkan program sarjana (Lc), magister (M.A.) dan doktor di Universitas Islam Imam Muhammad bin Su`ud, Riyadh, Arab Saudi. Gelar Doktornya dalam bidang hadits diraih dari Al-Imam Islamic University, Riyadh, pada tahun 1422 H. Saat itu ia mengajukan disertasi berjudul “Dirasah wa Tahqiq Kitab Al-Mahfum Ala Shahih Muslim li Al-Qurthubi” (Studi Analisis Kitab Al- Mahfum Ala Shahih Muslim Karya Al-Qurthubi).

Profesi Aidh al-Qarni

Aktivitas Aidh al-Qarni boleh dibilang tidak jauh dari kegiatan membaca dan menulis. Bahkan, ketika mendekam dalam penjara, dua aktivitas inilah yang membuatnya sibuk. Pada usia 23 tahun Ia hafal Al-Quran dan kitab Bulughul Maram, serta telah mengajarkan 5.000-an hadis dan 10.000-an bait syair. Sekitar 1.000-an judul kaset yang berisi ceramah agama, kuliah, serta kumpulan puisi dan syair karyanya telah dipublikasikan. Kecerdasannya itu mengantarkan Al-Qarni sebagai penulis produktif dan penceramah populer.

Baca Juga :   Sejarah Singkat Kabupaten Gresik (Sejarah dan Profil)

Selama 29 tahun dia mengarungi dunia dakwah, kaset-kaset ceramahnya telah beredar dan berkumandang di sejumlah masjid, yayasan, universitas dan sekolah di berbagai belahan dunia. Sekitar 1.000-an judul kaset yang berisi ceramah agama, kuliah, serta kumpulan puisi dan syair karyanya telah dipublikasikan. Kitab-kitab karyanya yang berjumlah lebih dari 70 buah itu telah pula diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Keberaniannya menyuarakan kebenaran juga sempat membuatnya merasakan jeruji besi pemerintah Al-Saud., Beliau dan kawan-kawan ulama mudanya berani berteriak lantang menentang kehadiran pasukan Amerika Serikat di Arab Saudi atas undang pemerintah Arab Saudi. Al-Qarni juga dikenal sebagai tokoh pembaruan di Arab Saudi yang mencoba melakukan pendekatan dengan aliran lain.


Tulisannya setiap pekan di harian Asharqul Awsath selalu ditunggu pembaca dan menaikkan tiras koran yang semula diterbitkan di London itu. (Musthafa Helmy).

Ketika berada di balik jeruji penjara, Aidh Al Qarni memilih untuk terus menulis. ”Saya masuk penjara karena saya menulis 50 bait qasidah (puisi) yang di anggap punya pengaruh politik,” ujarnya. Berlembar-lembar tulisan pun menjadi bukti ketekunan pria yang lahir di tahun 1379 H dan berasal dari perkampungan al-Qarn, sebelah selatan Kerajaan Arab Saudi, ini menjalani hari-harinya di penjara.”Sekitar 100 halaman pertama saya tulis di penjara,” katanya.Setelah keluar dari penjara, Aidh Al Qarni melanjutkan tulisannya. Untuk menyelesaikan lembar-lembar itu, dia membutuhkan referensi 300 judul buku.Hingga akhirnya, lahirlah buku La Tahzan yang diterjemahkan dengan Jangan Be rsedih.Hasilnya sungguh fenomenal.Inilah buku yang telah diterbitkan oleh puluhan penerbit dan mencapai angka penjualan fantastis.

Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam 29 bahasa dunia. ”Di Arab Saudi, buku itu sudah dicetak kurang lebih 1,5 juta eksemplar,” kata Al Qarni Di Indonesia, buku ini juga sempat menjadi buku terlaris. Kelebihan buku Al Qarni terlihat pada bahasan-bahasannya yang fokus, penuh hikmah, dan selalu memberi jeda untuk merenung sebelum berlanjut pada bahasan berikut.Pada bagian penutup, hadir pula kata-kata bijak yang menjadi intisari tulisan-tulisan sebelumnya. Dalam bukunya pula, Al Qarni mengajak pembaca agar tidak menyesali kehidupan, tidak menentang takdir, atau menolak dalil-dalil dalam Alquran dan sunnah.

Dalam kunjungan kali pertama di Indonesia, Al Qarni yang hafal Al Qur’an, 5000 hadits, dan 10 ribu bait syair Arab klasik hingga kontemporer ini sempat bertandang ke sejumlah tempat dan menemui tokoh nasional. Saat itulah wartawan Daman huri Zuhri dan Burhanuddin Bella berhasil menemui sosok yang terkenal dengan sikap lembutnya itu.Dengan diperkaya keterangan dari sejumlah sumber, Al Qarni pun bertutur tentang buku, kegiatan dakwah, dan kehidupan pribadinya.


Mengapa Anda memberi judul La Tahzan (Jangan bersedih).Apa sesungguhnya yang mendorong Anda memberi judul seperti itu?

Baca Juga :   Imam Ahmad bin Hanbal : Biografi dan Keteladanan

Pertama, ini alasan dari Alquran. Seperti yang difirman Allah SWT : La tahzan wa laa takhof (Janganlah bersedih dan janganlah takut). Ayat ini disampaikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW ketika bersama-sama sahabatnya Abu Bakar Ash-Shiddiq memasuki Gua Tsur sebelum melakukan hijrah ke kota Yatsrib, Madinah al Munawwarah. Kedua, sesungguhnya kesedihan itu adalah penyakit alam seluruhnya.Muslim atau bukan Muslim, orang pasti mengalami kesedihan.Sedih karena sakit, sedih karena meninggal, sedih karena kesulitan hidup dan berbagai masalah.Jadi, karena alasan itulah makanya buku ini saya beri judul La Tahzan.

Anda dikenal sebagai seseorang yang banyak menulis dan membaca buku. Sebenarnya, apa pedoman-pedoman atau petunjuk-petunjuk praktis supaya lebih mudah dalam mendapatkan ilmu?

Kaidah pertama seseorang yang menuntut ilmu bagi kaum Muslimin untuk mendapatkan ilmu adalah ikhlasun niat lillahi ta’ala. Karena dengan niat yang ikhlas, Allah akan membuka hati seorang Muslim. Kedua, kita mempelajari ilmu secara bertahap, berjenjang, tabarruj.Jangan kita langsung kepada masalah-masalah besar nanti kita tidak bisa menguasai.Ketiga, hendaklah kita membaca.

Tapi, membaca saja tidak cukup kita ambil ilmunya dari para masyarih (yang menguasai masalah). Orang-orang berilmu yang mengerti masalah, sehingga ilmu kita kalau dari buku saja bisa saja pemahaman kita salah. Tapi, ketika kita membahasnya dengan orang-orang yang mengerti, insya Allah, pemahaman kita akan lebih mantap dan ilmu kita akan lebih lurus. Keempat, ketika kita sudah mengetahui satu masalah tentang ilmu kita, amalkan.Jangan hanya dijadikan teori hingga akhirnya ilmu kita tidak berkah.Sebagaimana orang Yahudi dalam Alquran waktu mereka membatalkan janji-janji kepada nenek moyang mereka itu yang membuat hati mereka sesat dan menjadi batu.Ini i’tibar bagi kita sekalian. Kelima, kalau kita sudah punya ilmu dan paham benar maka ajarkan kepada orang lain. Jangan disimpan untuk diri sendiri. Berikan ilmu kita kepada orang lain sehingga banyak manfaatnya untuk masyarakat menjadi amal saleh bagi kita.

Karya-Karya Aidh Al-Qarni.

Aidh al-Qarni merupakan sosok pemikir dan Ulama terkemuka. Ia telah melahirkan karya-karya sastra yang merupakan kekayaan intelektual yang sangat berharga. Karya-karyanya yang berbentuk suluk dari karya pemikir ulama Islam terdahulu. Naskah aslinya yang berupa manuskrip atau tulisan tangan asli masih bisa ditemui pada perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi di Negeri London. Di perpustakaan-perpustakaan tersebut seseorang akan dapat menemukan dan mengkaji berbagai pemikiran yang tersimpan dalam koleksi karya-karya pemikir dan ulama Islam Arab Saudi zaman sekarang.

Baca Juga :   Sejarah Desa Sukagumiwang Kabupaten Indramayu (Sejarah, Asal Usul dan Profil)

Aidh Al-Qarni juga dikenal sebagai tokoh pembaruan di Arab Saudi yang mencoba melakukan pendekatan dengan `aliran` lain. Tulisannya setiap pekan di harian Asharqul Awsath selalu ditunggu pembaca dan menaikkan tiras koran yang semula diterbitkan di London itu.

Aidh al- Qarni telah menuangkan ilmunya melalui tulisan-tulisan ,hal ini dapat dilihat melalui karya-karyanya antara lain:

Karya-karya Aidh al Qarni di Bidang Tafsir al-Qura’an.

Dalam bidang tafsir, Aidh al Qarni di telah menyususn sebuah kitab tafsir yang diberi nama: Tafsir Al Muyassar, berjumlah empat jilid, tafsir ini merupakan tafsir yang cukup mudah di pahami dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara rincih dan jelas.

Sementara bukunya yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia yang cukup laris yang diterbitkan sejumlah penerbit dan dicetak berulang kali adalah:

  1. La Tahzan, Jangan Bersedih` (Qishti Press)
  2. Tips Menjadi Wanita Paling Bahagia di Dunia` (Maghfirah)
  3. Menjadi Wanita Paling Bahagia` (Qishti Press)
  4. Ramadhankan Hidupmu`(Maghfirah Pustaka)
  5. Tersenyumlah`(Gema Insani).
  6. Jangan Putus Asa`(Robbani Press).
  7. Jangan Berputus Asa` (Darul Haq)
  8. Jagalah Allah, Allah Menjagamu (Darul Haq)
  9. Majelis Orang-Orang Saleh`(Gema Insani)
  10. Cambuk Hati`(Irsyad Baitus Salam)
  11. BagaimanaMengakhiriHari-harimu`(SaharaPublisher)
  12. Berbahagialah`(Pustaka Al-Kautsar) dan(Gema Insani)
  13. Menakjubkan!`(Aqwam)
  14. Jadilah Pemuda Kahfi`(Aqwam)
  15. Mutiara Warisan Nabi SAW`(Sahara Publisher)
  16. Gerbang Kematian` (Pustaka Al-Kautsar)

Bila di lihat dari karya-karya Aidh Al Qarni menunjukan bahwa ia cenderung mengajarkan tentang sastra dan motivasi yang mengenai tentang syair- syair arab kuno sebagai motivasi untuk umat islam dan fiqih. Karya- karya Aidh Al Qarni hampir keseluruhannya berbentuk prosa. terdapat satu karya dalam puisi, yaitu Syair Ma’rifah yang salah satu naskahnya dipopulerkan seluruh Indonesia termasuk Arab Saudi. Syair itu mengemukakan tentang empat komponen agama Islam dan motivasi untuk kalangan remaja umat muslimin, yaitu Iman, Islam, tauhid dan Ma’rifah. Serta tentang ma’rifah sebagai pengetahuan sufi yang memahkotai empat komponen itu. Empat komponen agama inilah yang akan menentukan seseorang di sebut sebagai insan kamil (manusia sempurna).


Data di atas menunjukan bahwa Aidh Al Qarni dapat dikatakan sebagai penerus yang sesungguhnya dari tradisi penulisan syair religious yang telah di kenal oleh ribuan umat Islam.

Related posts