Sejarah Singkat Kota Tarakan | Profil Kota Tarakan | Baca Sejarah Kota dan Kabupaten di Indonesia di Wislah.com |
Sejarah Singkat Kota Tarakan (Sejarah dan Profil) Lengkap
Sejarah pertumbuhan dan perkembangan fisik Kota Tarakan berawal dari lingkungan pulau terpencil yang tidak memiliki peran penting bagi Belanda hingga memasuki akhir abad ke-19 Masehi. Penemuan minyak hasil eksplorasi yang dilakukan tahun 1896 dan dilanjutkan kegiatan eksploitasi tahun 1899 menjadi landasan proses awal munculnya Kota Tarakan.
Pertumbuhan dan perkembangan awal kota ini banyak dipengaruhi oleh aktivitas industri pertambangan minyak bumi. Menjadikan morfologi Kota Tarakan kurun waktu 1896 sampai 1940- an lebih dominan diwarnai oleh bangunan-bangunan sarana dan prasarana pertambangan minyak bumi.
Kondisi ini kemudian Kota Tarakan mendapat citra sebagai kota minyak. Demikian julukan tersebut melekat dalam ingatan masyarakat ketika menyebut nama Tarakan yang diidentikkan dengan pulau minyak atau kota minyak.
Citra Kota Tarakan di masa lalu tersebut mulai tidak banyak difahami masyarakat Tarakan yang sekarang sejalan dengan menurunnya tingkat aktivitas dan nilai produksi minyak bumi yang telah berjalan sejak tahun 1904. Mulai muncul sektor industri lain yang dianggap banyak menopang pendapatan asli daerah (PAD). terutama setelah Tarakan defenitif menjadi kota administratif .
Kondisi ini kemudian mengimbangi dominasi peran sumber daya minyak bumi yang telah mengantarkan Tarakan dikenal sebagai kota minyak di masa lalu. Kondisi ini pula yang menjadi alasan Pemerintah Daerah Kota Tarakan mencoba memberi pencitraan baru. Kota Tarakan diarahkan sebagai kota pusat pelayanan, perdangan dan kota jasa. Hal ini menunjukkan pergeseran pemahaman dan penghargaan masyarakat terhadap sejarah kota ini.
Sejarah Kota Tarakan di masa lalu telah menunjukkan satu dimensi identitas masyarakat di masa lalu yang penting artinya bagi kehidupan masyarakat Tarakan sekarang.
Secara formal menunjukkan bahwa masyarakat Kota Tarakan hingga saat ini kurang memahami identitas mereka di masa lalu. Warisan budaya seperti apa yang tepat dijadikan simbol untuk dilembagakan bersama tanpa melepaskan latar belakang sejarahnya.
Termasuk Jenis museum yang dapat memainkan peran menghubungkan antara masa lalu dan masa sekarang serta harapan masa mendatang. Kota Tarakan dan masyarakat di dalamnya telah diperhadapkan pada realitas lingkungan yang terus mengalami perubahan, baik perubahan morfologi kota maupun kehidupan sosial masyarakat.
Perubahan sosial bagi regenerasi yang mengambil alih peran pembangunan daerah kota ini, cenderung tidak memahami masa lalu mereka yang telah menjadi bagian pembentuk identitas diri dan lingkungannya. Mereka cenderung tidak lagi memiliki pijakan atau pegangan yang kuat dan mantap dalam memahami diri dan lingkungannya ditengah arus globalisasi.
Kondisi masyarakat seperti ini mudah diombang-ambing. Kadang kala berujung meluasnya kesenjangan dan dapat menumbuhkan bibit perbedaan cara pandang terhadap diri dan lingkungannya.
Tidak jarang perbedaan yang tidak dilandasi pemahaman kuat akan identitas menimbulkan hilangnya rasa percaya diri. Menimbulkan kerawanan yang dapat menyebabkan terjadinya konflik komunal sebagaimana telah terjadi di berbagai daerah di tanah air.
Sejarah demografi Kota Tarakan telah menunjukkan terbentuknya masyarakat multikultur. Masyarakat multikultur dimaksud mengacu pada masyarakat yang mengakui dan menghargai keberagaman dan perbedaan setiap kelompok atau golongan tertentu di dalam berinteraksi.
Mengutamakan konsep keterbukaan, kesetaraan diversitas etnis dan kultural yang melahirkan konsep baru sebagai pegangan bersama. Berbeda dengan faham monokultur yang memegang prinsip buruk narsisme dan cenderung mengembangkan arogansi, tidak pekah terhadap kebudayaan lain di luar kebudayaanya sendiri.
Kenyataan masa lalu masyarakat Kota Tarakan menunjukkan bahwa sifat monokultur tidak berkembang dalam kehidupan mereka. Baik pada periode awal pembentukan kota maupun dalam perkembangannya kemudian, bahkan hingga sekarang. Sebuah prestasi yang menjunjung tinggi pemahaman perbedaan etnis, agama dan golongan telah berakar sejak masa awal kegiatan pertambangan minyak.
Sungguh sangat penting untuk tetap dirawat dan dikomunikasikan menjadi bagian dalam pesan (message) museum. Museum dalam konteks ini memposisikan diri sebagai “cultural bridge”. Menghubungkan kepentingan pemahaman masa lalu melalui warisan budaya pertambangan minyak untuk kehidupan sekarang dan harapan masa depan mereka.






