Sejarah Singkat Kota Bekasi (Sejarah dan Profil)

Sejarah Kota dan Kabupaten Seluruh Indonesia

Sejarah Singkat Kota Bekasi | Profil Kota Bekasi | Baca Sejarah Kota dan Kabupaten di Indonesia di Wislah.com |

Sejarah Singkat Kota Bekasi (Sejarah dan Profil) Lengkap

Asal nama kota Bekasi dalam sebuah referensi sebagaimana yang tertulis dalam buku “Riwayat Indonesia I”, karya Poerbatjaraka (Seorang ahli bahasa Sansakerta dan Jawa Kuno), kata “Bekasi” secara filologis berasal dari kata Candrabhaga dimana kata candra berarti “bulan” (sama dengan kata sasih, dalam bahasa Jawa Kuno) dan kata Bhaga berarti bagian. Jadi, secara etimologis kata Candrabhaga berarti bagian dari bulan. Pelafalan kata Candrabhaga berubah dengan makna yang sama menjadi Sasihbhaga, kemudian menjadi Bhagasasih, selanjutnya menjadi Bekasi hingga kini.1 Pada perkembangannya, pelafalan kata Bhagasasi mengalami perubahan. Bberbagai sumber tertulis abad ke-18 sampai abad ke-21 menerangkan nama Bekasi dengan tulisan Bekasie, Bekasjie, Bekasie, Bekasi, daan terakhir Bekasi.

Nama Chandrabhaga di atas tidak terlepas dari keberadaan kerajaaan Tarumanegara, yang berdiri sejak abad ke-5 Masehi, sebagaimana tertulis dalam Prasasti Tugu, yang ditemukan di daerah Cilincing. Prasasti ini merupakan yang terpanjang dan banyak memuat keterangan mengenai Kerajaan Tarumanegara dan Sungai Candrabhaga. Kisah yang tertulis dalam prasasti tugu ini berbunyi:

  1. Pura Rajadhirajena guruna pinabahuna Khata Khyatam purim prapaya
  2. Chandrabhagannavam yayau// Pravaddharma-dvavincadvatsare crigunaujasa
  3. Narendrahvaabbhunena (bhutena)
  4. Crimata Purnnavarmmana//prarabhyaa phalgune (ne) mase Khata krashnatashmitithau Caitraacukla-trayodacyam dinais siddhaikavincaika (h)
  5. Ayata shatsahasrena dhanusha(m) sa-caten ca dvavincena nadi ramya Gommati Nirmalosaka// pitamahasya rajashervvidarya cibiravanim
  6. Brahmanai=r ggo-sahasrena (na) prayati krtadakshino//

Artinya: Dahulu atas perintah rajadhiraja Paduka Yang Mulia Purnawaarman, yang menonjol dalam kebahagiaan dan jasanya di atas para raja, pada tahun kedua puluh dua pemerintahannya yang gemilang, dilakukan penggalian di Sungai Chandrabhaga setelah sungai itu melampaui ibukota yang masyur dan sebelum masuk ke laut. Penggalian itu dimulai dari hari kedelapan bulan gelap phalguna dan selesai pada hari ketiga belas bulan terang bulan caitra, selama dua puluh satu hari. Saluran baru dengan air jernih bernama Sungai Gomati, mengaalir sepanjang 6.122 busur (tumbak) melaampaui asrama pendeta raja yang dipepundi sebagai leluhur bersama para bharmana. Para pendeta itu diberi hadiah seribu ekor sapi (versi lain menyebutkan melakukakan penyembelihan 1.000 ekor sapi)

Berdasarkan penelusuran Poerbatjaraka, di duga bahwa Bekasi merupakan salah satu pusat Kerajaan Tarumanegara. Tulisan dalam prasasti di atas menggambarkan perintah Raja Purnawarma untuk menggali kali Candrabhaga sampai ke istananya. Penemuan Poerbatjaraka ini masih sangat sederhana apabila dilihat dari tingkat validitasnya bagi beberapa kalangan ahli sejarah dan bahasa. Hal tersebut disebabkan lebih banyak didasarkan pada kerangka filologi semata, interdisipliner. Akan tetapi, kajian ini setidaknya menjadi bahan acuan ataau pedoman bagi penelusuran secara mendalam mengenai asal muasal nama Bekasi, dan memiliki kontribusi yang cukup besar bagi penelitian sejarah dan budaya Bekasi secara komprehensif dan kronologis.

Menurut JL Moens antara Kerajaan Tarumanegara dengan negeri Cina telah menjalin suatu hubungan “diplomatik” dengan menjalin kerjasama dalam berbagai bidang, terutama perdagangan. Jalur perdagangan yang digunakan oleh kedua negaara, biasanya melalui jalur sungai. Hal ini cukup beralasan bila melihat letak Kerajaan Tarumanegara yang diapit oleh sungai-sungai besar. Di sebelah timur terdapat Sungai Citarum, di sebelah Barat mengalir Sungai Ciaruteun dan Sungai Cisadane. Di antara daerah tersebut, mengalir sungai yang sangat penting bagi Kerajaan Tarumanegara seperti Sungai Ciliwung dan Bekasi. Nama Bekasi berasal dari nama tempat di jaman kuno, sebagai peninggalan jaman Kerajaan Tarumanegara.

Rute perdagangan di atas, semakin diperkuat dengan ditemukannya sejumlah candi di daerah paantai utara Jawa Barat, yaitu Batujaya dan Cibuaya, yang merupakan suatu hal yang menarik untuk dikaji. Pada awalnya tidak pernah ada catatan atau laporan kepurbakalaan Jawa Barat yang menyebutkan Candi di Batujaya. Keberadaan Kerajaan Tarumanegara pun semakin diperkuat dengan ditemukannya barisan candi di daerah perbatasan antara Kabupaten Bekasi-Karawang. Tepatnya di desa Batujaya dan desa Cibuaya, Karawang, ditemukan pertama kali oleh tim arkeolog Fakultas Sastra Universitas Indonesia sekitar 1984 yang kemudian dipugar pada tahun 1996

DOWNLOAD DI SINI

Related posts