Sejarah Sejarah Kota Tua Ampenan | Profil Kota Tua Ampenan | Baca Sejarah Kota dan Kabupaten di Indonesia di Wislah.com |
Sejarah Sejarah Kota Tua Ampenan (Sejarah Profil) Lengkap
Ampenan pernah menjadi pelbahuna penting Pulau Lomnok untuk jangka waktu panjang, sehingga sejarah Lombok tak terlepas dari pasang surut kota tersebut. Keberadaan dan peran Ampenan sebagai simpul lalu lintas: pelabuhan dan persinggahan dapat terbaca pada zaman kerjaan Majapahit, bahkan sebelumnya Ketika sudah terjadi lalu lintas pelayanan Nusantara atau lebih luas di kawasan Kepulauan Sunda Kecil. Sebagai kota pelabuhan penting, Ampenan mulai terdeteksi sejak paruh kedua abad ke-17 ketika lalu lintas Bali – Lombok menjadi ramai oleh perdagangan rempah-rempah.
Dalam kontesk kajian ini sejarah Lombok terbagi atas sembilan babak, yaitu:
- Masa kerajaan Hindu dan sebelumnya – s.d. abad XIII.
Berdasarkan prasasti Tong-Tong yang ditemukan di Pujungan, Bali. Suku Sasak sudah menghuni Pulau Lombok. Era Hindu Buddha memunculkan beberapa kerajaan seperti Selaparang, Hindu dan Bayan.
- Masa Hegemoni Kerajaan Majapahit – abad XIV s.d. akhir abad XV, yaitu keruntuhan kerajaan Majapahit.
Masuknya ekspedisi Majapahit di bawah pimpinan Mpu Nala yang dikirim oleh Gajah Mada sebagai bagian dari usahanya untuk mempersatukan seluruh Nusantara di bawah bendera Majapahit. Kerajaan Lombok mengalami kehancuran akibat serangan tantara Majapahit. Kerajaan Bali yang sejak lama mengincar Pulau Lombok baru berhasil menguasainya pada tahun 1470 setelah kerajaan ini melakukan persekutuan dengan Arya Banjar Getas. Sejak saat itu pengaruh Bali Kembali mewarnai kehidupan sosial, politik dan budaya suku bangsa Sasak. Pada tahun 1478 perkiraan awal waktu runtuhnya Majapahit.
- Masa berkembangnya kerajaan setempat – dimulai dengan pendaratan ekspedisi Magelhaens sampai kedatangan VOC.
Kerajaan Majapahit runtuh dan Kerajaan Lombok berkembang menjadi kerajaan yang maju, pusat persinggahan pelaut-pelaut nusantara yang berlayar dari timur ke barat terutama pelaut Sulawesi. Era islam yang melahirkan kerajaan islam Selaparang dan Penjanggik.
- Masa VOC dengan politik dagangnya dan konflik-konflik internal kerajaan – abad XVII – XVIII.
Kerajaan Goa dalam usahanya menghalangi VOC menguasai jalur perdagangan di utara melakukannya dengan cara menduduki Sumbawa dan Selaparang. Tahun 1618 dan 1640 Sumbawa dan Selaparang ditaklukkan oleh Goa. Belanda telah datang dan berhasil menundukkan banyak kerajaan di nusantara. Imperialisme Belanda yang ingin menguasai seluruh jalur perdagangan di nusantara telah menimbulkan kemarahan Kerajaan Gowa di Sulawesi. VOC berhasil memaksa Sultan Hasanuddin sebagai penguasa Gowa untuk mendatangani perjanjian yang terkenal dengan perjanjian Bongaya. Akibat dari perjanjian itu adalah mundurnya Gowa dari kerajaan-kerajaan yang ada di bawah kekuasaannya.
- Masa pemerintahan kolonial – abad XIX.
Setelah VOC dibubarkan pada akhir tahun 1799 kendali pemerintahan dilanjutkan oleh Kerajaan Belanda. Wihara Bodhi Dharma Ampenan berdiri sejak 1804. Pada tahun 1894 ekspedisi Belanda pimpinan Jenderal Ja Vetter tiba di Pelabuhan Ampenan. Pada saat itu Pelabuhan Ampenan hanya dijadikan tempat berlabuhnya kapal Belanda.
- Masa pengembangan Pelabuhan Ampenan – Tahun 1895 – 1942.
Kota Ampenan dijadikan sebagai Kota Afdeeling Lombok dengan berdasarkan staatblad No. 181/1895 tanggal 31 Agustus 1895 bahwa Pulau Lombok ditempatkan langsung dengan pemerintahan Hindia Belanda sebagai bagian dari karesidenan Bali dan Lombok menjadi wilayah/kompleks kecil seperti kompleks pelabuhan, perkantoran, perdagangan, permukiman dengan berdasarkan etnis masing-masing. Adanya pemindahan ibu kota pemerintahan dari Kota Ampenan ke Kota Mataram oleh Belanda, berarti kantor pemerintahan Asistensi Keresidenan dan perumahan ikut juga pemindahan, sedangkan Kota Ampenan dijadikan sebagai kota pelabihan sekaligus sebagai pusat kota perdagangan. Pada tahun 1924 pemerintahan Kolonial Belanda membangun Pelabuhan Ampenan. Ciri khas bangunan Belanda pada Kota Tua Ampenan terdapat pada tampilan muka rumah Belanda eksterior atau fasad yang cenderung simetris, meski ada juga beberapa rumah Belanda yang mengaplikasikan fasad asimetris tersendiri. Ciri lain dari desain arsitektural rumah Belanda adalah biasanya mempunyai dinding yang cukup tebal.
- Masa pendudukan Jepang – Tahun 1942 – 1945.
Tanggal 8 Mei 1942 Angkatan Laut Jepang mendarat melalui pelabuhan Ampenan dengan menggantikan kedudukan Belanda. Sejak masa pemerintahan Jepang Kota Ampenan sepi Kembali karena sistem pemerintahan lebih berorietasi ke militerisme. Pusat perdagangan Kota Ampenan tidak lagi menjadi ramai, took-toko kosong, gang-gang yang dekat dengan kepentingan Jepang diperlebar secara paksa. Pada zaman pendudukan Jepang kegiatan perdagangan di Kota Ampenan sempat terhenti karena waktu itu Jepang merasa terdesak dari ancaman sekutu, maka Jepang memusatkan perhatian pada latihan militer terhadap pemuda-pemuda berasak dari Lombok Tengah, Lombok Timur dan Lombok Barat untuk dipekerjakan sebagai pembuatan jalan-jalan untuk mempercepat proses hubungan Jepang dari daerah yang sat uke daerah yang lain serta pembuatan benteng-benteng pertahanan di Bangko-Bangko.
- Masa kembalinya kota pelabuhan – Tahun 1945 – 1977 dari masa kemerdekaan dan penyerahan kedaulatan s.d. ketika dipindahkan kegiatannya ke Lembar.
Perkembangan Kota Ampenan telah nampak adanya pembangunan pertokoan-pertokoan, jalan-jalan serta gang-gang yang telah tertata rapi menjadi sanitasi yang indah serta pembangunan parik-pabrik pengolahan hasil bumi seperti; pabrik kecap, beras, minyak goreng dan lain-lain yang menjadi kebutuhan pasar oleh konsumen di sekitar kampung Telaga Mas. Pada tahun 1977 Pelabuhan Pantai Ampenan dipindah lokasinya ke daerah Lembar berdasarkan SK. MENHUB RI. KM. 77/LL305/PHB-77 tanggal 13 Oktober 1977.
- Masa penurunan – Tahun 1977 hingga kini.
Berdasarkan KM. 13/LL305/PHB-79 tanggal 11 januasi 1979 ditetapkan pengalihan kegiatan kepelabuhan dari Pelabuhan Ampenan ke Pelabuhan Lembar, maka sejak itu telah diadakan pengalihan kegiatan kepelabuhan dari Ampenan ke Lembar hingga sekarang (Prakarsaripta, 2013)






