Sejarah Desa Warujaya | Asal Usul Desa Warujaya | Profil Desa Warujaya| Kabupaten Cirebon |
Sejarah Desa Warujaya Kabupaten Cirebon (Sejarah, Asal Usul dan Profil) Lengkap
Pengertian Pakung Wati
Secara etimologi, Pakung Wati berasal dari kata Pakung dan Wati, arti dari kata Pakung sendiri yaitu Udang, sedangkan wati artinya perempuan.Pakung Wati dapat diartikan dengan udang perempuan. Banyak yang mengartikan bahwa Pakung Wati adalah udang pemimpin atau bisa disebut juga dengan pemimpin udang.
Menurut sejarah Cirebon, Nyimas Ratu Pakung Wati adalah puteri pengeran Cakrabuana atau Tumenggung Sri Manana, kemudian Nyimas Pakung Wati di sunting oleh Sunan Gunung Jati atau disebut dengan Sunan Cirebon Syekh Syarif Hidayatullah. Ibu Syekh Syarif Hidayatullah bernama Nyi Indang Ayu atau disebut dengan Nyi Endang Gelis, anak dari Resi Ki Danu Warsih dari pertapaan Gunung Maraapi. Nama Pakung Wati dijadikan nama Keraton Cirebon oleh Sri Mangana, ketika Sri Mangana menjajabat sebagai Tumenggung Cirebon pertama. Ketika dalam acara Caruban Nagari disebutkan bahwa, Nyimas Pakung bersahabat dengan Nyimas Kadilahu (adik Sunan Kalijaga), dan masih ada dua perempuan Cirebon dari keturunan Arab yang tidak disebutkan namanya, tetapi dalam tulisan ini kiprah Nyimas Pakung akan di ceritakan sebagaimana turunan legenda atau disebut dengan cerita rakyat, yang belum tentu berkmana sejarah.
Sejarah Cirebon menceritakan, Nyimas Ratu Pakung Wati adalah buah hati dari masyrakaat Cirebon. Nyimas Pakung Wati dikagumi oleh masyarakat Cirbon, bukan hanya sekedar beliau anak dari Sri Mangana Tumenggung pertama di Cirebon atau istri orang no satu di Cirebon, yaitu Sunan Gunung Jati, tetapi juga karna Nyimas Pakung Wati adalah seorang perempuan yang cantik rupa dan elok putih, serta berbakti kepada suami.
Diceritakan, pada suatu hari di Cirebon, atau tempatnya di masjid Agung Sang Cipta Rasa terjadi suatu musibah dan kemulut (perang) yang besar. Para jemaah sholat di masjid tersebut di ganggu dan mendapatkan ancaman yang mematikan dari seorang pemuda asing dan mempunyai kesaktian yang mandra guna, yang mencoba mengganggu keimanan umat muslim. Pemdua tersebut sangat jail terhadap santri dan jamaah yang selalu memakmurkan masjid Sang Cipta Rasa, pemuda tersebut di juluki dengan Satria Menjangan Wulung. Beliau mempunyai kesaktian yang sakti mandra guna. Beliau memiliki racun yang mematikan, berang siapa ynag menghirup racun tersebut akan lunglai (mati), oleh karna kesaktiannya tersebut, ia menjadi takabur dan sombong, bhakan beliau berani sesumbar dan menantang Sunan Gunung Jati “Ayo, siapa berani mengahadapi kesaktianku ini akan mati!”, kesaktian yang dahsyat tersebut dijadikannya sebagai alat pembunuh. Setelah kejadian tersbeut masjid Sang Cipta Rasa menjadi sepi, karena para jemaah di masjid tersbeut ketakutan.
Suatu hari, Menjangan Wulung menaiki atap masjid dan duduk di pustaka masjid (Ratna Masjid), kemudian beliau sesumbar sambil tertawa terbahak-bahak “ mana Sunan Gunung Jati, yang katanya beliau orang kuat dan tidak bisa dikalahkan.inilah aku orang yang akan mengalahkannnya”.
Mengahadapi musibah tersebut Sunan Gunung Jati bersikap waspada beliau selalu berkholwat, mencari petunjuk yang baik kepada Tuhan yang Maha Esa untuk menghadapi musuh yang sulit diduga ujung pangkalnya.
Singkat cerita, Sinuhun atau Sunan Cirebon, mendapatkan petunjuk, untuk mengatasi musibah tersbeut, akan tetapi, petunjuk tersebut, merupakan kerugian besar untuk dirinya sendiri, karna beliau harus mengorbarkan buah hatinya, beliau harus mengorbankan Nyimas Pakung Wati sebagai tumbal, tidak hanya itu, untuk menanggulangi musibah, dan kemulut yang besar tersebut, mereka juga harus mengorbankan salah seorang sahabat. Istrinya, yaitu Nyimas Kadilangu
Sunan Cirebon mendiskusikan penanggulangan masalah tersebut dengan para waiwali yang lain, pertemuan para segera berlangsung, pada kesempatan tersebut, Sunan Kalijaga, berucap “duhai Sinuhun Cirebon, aku relakan adik ku si Kadilangu menjadi tumbal keganansan mala petaka ini, dan aku mendukung kebijaksanaan yang diputuskan oleh Si Nuhun”.
Mendengar jawaban Sunan Kalijaga, kemudian Sunan Cirebon memutuskan, agar seluruh para wali, pejabat tinggi di Cirebon, dan semua umat Islam berkumpul di masjid Sang Cipta Rasa untuk berkholwat dan berdzikir bersama setelah sholat Isya sampai dengan sholat subuh. Nyimas Ratu Pakung Wati dan NYimas Kadilangu harus hadir di Masdji Sang Cipta Rasa.
Menurut Sejarah, masjid Sang Cipta Rasa pada saat itu penuh dan sesak oleh jamaah. Kemudian berlangsunglah sholat isa berjamaah dan dilanjutkan dengan dzikir sealam suntuk. Masjid Sang Cipta Rasa menjadi bergema dengan suara dzikir sampai menjelamg subuh, pada saat suara adzan subuh, yng di kumandangkan oleh tujuh orang (adzan pitu), dengan alunan suara yang amat merona hati itu berakhir, meledaklah pustaka masjid agung terbang menuju arah Barat. Tubuh Menjangan Wuluh Santria Megananda pun hancur berkeping-keping dan racunnya bertepangan ke angkasa, bersama dengan itu, Nyimas Ratu Pakung Wati dan Nyimas Kadilangu gugur dalam posisi sujud. Jenazah Nyimas Pakung Wati dan Nyimas Kadulangu di makam kan di sana, di komplek masjdi Agung Sang Cipta Rasa (searang kedua makam tersebut tidak ditemukan lagi). Masyarakat Cirebon percaya bahwa memolo yang tebang tersebut mendarat di memolo masjid Agung Banten.
Setelah ledakan tersebut, maka masjid Agung Sang Cipta Rasa menjadi makmur kembali, setiap sholat wajib selalu penuh jamaah apalagi pada waktu sholat Jumaat.
Sejarah Nyimas Pakung Wati Di Desa Warujaya
Pada zaman dahulu kala, diuplah seorang putri yang bernama Nyi Mas Prabu Pakung Wati Ratna Kuning. Pada suatu hari Nyimas Pakung Wati pergi mengembara hingga berbulan-bulan, Ayahanda Nyimas Pakung Wati mulai gelisah, karena Nyimas Pakung Wati belum datang-datang setelah mengembara, kemudian ayahanda Nyimas Pakung Wati mengutus seorang prajurit untuk mencari Nyimas Pakung Wati, perjalanan ketujuh prajutit itu mengalami beberapa rintangan dan juga halangan, tetapi rintangan dan halangan tersebut dapat diatasi oleh ketujuh prajurit tersebut.
Pada suatu hari akhirnya ketujuh prajurit tersebut bertemu dengan Nyimas Pakung Wati yang sedang mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat dzuhur pada saat itu. Setelah semuanya mengambil air wudhu, kemudian mereka mencari tempat untuk melaksanakan ibadah sholat.
Nyimas Pakung Wati dan ketujuh prajuritnya tinggal dan menetap di bawah pohon Waru yang Gede (Besar) dan pohonya rindang, pada saat itu masih berupa pohon belantar, kemudian Nyimas Pakung Wati membakar seluruh hutan belantara, tujuan Nyimas Pakung Wati membakar hutan belantara tersebut untuk mmebuat suatu perkampungan. Nyimas Pakung wati membakar hutan belantara tersebut sambil berucap “barang siapa hutannya terbabakar oleh api ini maka itu adalah daerah kekuasaanku”. Api tersebut menyala dan merambat sampai daerah Mandala.
Kelihatan sangat indah dan bersih setelah hutan belantara tersebut dibakar, NyimasPkaung Wati merasa nyamandan bahaagia tinggal di perkampungan tersebut,hingga pada akhir hayatnya Nyimas Pakung Wati menatapdi perkampungan tersebut,pada zaman dahulu hingga zaman sekarang perkampungan tersebut disebut dengan desa Warugede, pada zaman dahulu desa Warujaya bernama Warugede pada saat pemekaran diganti namanya menjadi Desa Warujaya sampai sekarang.
Sejarah Nyimas Pakung Wati di Desa Warujaya, berdasarkan hasil wawancara, Astana Pakungwati bermula dari keluarnya Nyi Mas Pakungwati dari Keraton Pakungwati (sekarang namanya Keraton Kasepuhan) untuk melakukan perjalanan menuju Banten dan bertemu dengan anak tirinya, Maulana Hasanuddin. Proses perjalanan yang dilakukan Nyi Mas Pakungwati untuk menenangkan diri dan pikirannya akibat rasa cemburu yang muncul di hatinya karena kehadiran Puteri Ong Tien Nio sebagai istri ke empat Sunan Gunung Jati. Rasa cemburu tersebut beliau tuangkan dalam hal positif yakni dengan melakukan dakwah Islam ke seluruh wilayah Cirebon atau wilayah yang dilaluinya selama melakukan perjalanan tersebut. Hal itu beliau lakukan untuk membantu suaminya dalam menyiarkan agama Islam ke seluruh penjuru wilayah, khususnya Cirebon. Atas kesabaran dan usahanya itulah Islam dapat berkembang ke seluruh wilayah Cirebon, khususnya wilayah Cirebon Barat Daya yang menjadi tempat dibangunnya Astana Pakungwati tersebut.
Nyi Mas Pakungwati pada awalnya bertujuan keluar dari wilayah Keraton Pakungwati bukanlah untuk berdakwah, melainkan untuk menenangkan dirinya dan mencari ketenangan. Beliau merasa cemburu dengan kehadiran putri Ong Tien Nio, di tengah-tengah rumah tangganya dengan Sunan Gunung Jati. Beliau merasa sakit hati dan cemburu hingga akhirnya memilih untuk melakukan perjalanan guna menemui anak tirinya di Banten, yaitu Maulana Hasanddin,namun dalam perjalanan tersebut beliau mulai melakukan dakwah Islam ke seluruh wilayah yang dilaluinya, khusunya wilayah Cirebon Barat Daya dengan harapan agar rasa cemburu tersebut hilang dengan sendirinya.
Menurut Ka Farihin selaku orang dalem Keraton Kesepuhan, Sebagian masyarakat tersebut menyakini betul bahwa Astana Pakungwati yang ada di desa Warujaya (dahulu bernama Warugede) adalah sebuah makam dan bukan hanya petilasan. Alasan lainnya didasarkan pada fakta cerita dari masyarakat sekitar bahwa Nyi Mas Pakungwati dahulu mengembara untuk menenangkan pikirannya akibat rasa cemburu yang muncul ketika Sunan Gunung Jati berpoligami dengan Puteri Ong Tien Nio, karena kecemburuan itulah maka beliau tuangkan dalam hal positf dengan berdakwah serta menyebarkan agama Islam seperti yang dilakukan suaminya (Sunan Gunung Jati). Kemudian beliau membuat suatu padepokan atau perkampungan di tengah hutan untuk beristirahat dan menjadi tempat singgahan sementara selama melakukan dakwah tersebut.
Tujuan utama beliau melakukan perjalanan adalah ingin pergi ke Banten dan menemui anak tirinya, Maulana Hasanuddin atau Pangeran Sabakingkin (putra Nyi Kawunganten atau istri ke dua Sunan Gunung Jati) dan mencari ketenangan lahir batin. Namun sesampainya di Banten, beliau tidak bisa tinggal lebih lama lagi. Nyi Mas Pakungwati diminta pulang kembali ke Cirebon oleh Maulana Hasanuddin karena beliau belum meminta izin kepadasuaminya (Sunan Gunung Jati), untuk melakukan perjalanan tersebu,dengan perasaan yang sedikit kecewa akhirnya Nyimas Pakung Wati kembali ke Cirebon. Maulana Hasanuddin merasa khawatir akan keselamatan ibundanya selama di perjalanan, kemudian Maulana Hasanuddin mengutus prajuritnya untuk mengawal Nyimas Pakung Wati untuk melalui perjalan menuju ke Cirebon, Sangga Buana untuk menjadi pengawal Nyi Mas Pakungwati guna melindunginya dari hal-hal yang tidak diinginkan selama di perjalanan. Maulana Hasanuddin pada saat itu cemas dengan Nyimas Pakung Wati yang hendak ingin pulang ke Cirebon seorang diri, karena pada saat itu Cirebon masih berlokasikan hutan belantara dan masih banyak bahaya yang merngintai di sana.
Dalam perjalanan kembali ke Cirebon itu, sebelum sampai di Keraton Cirebon (KeratonPakungwati), beliau singgah di sebuah pedukuhan bernama Duku Demit (Cidemit). Beliau merasa perlu membuat suatu tempat peristirahatan semestara sebelum kembali melanjutkan perjalananya. Nyimas Pakung Wati dan para prajuritnya beristirahat di Desa Waru, menurutnya Desa Waru adalah tempat asri dan tenang serta mendukung suasana hatinya yang sedang kecewa, selain itu juga tempat tersebut dirasa mampu menghilangkan rasa kekecewaanya selama ini, kemudian beliau berencana membuat padepokan atau disebut dengan perkampungan di daerah tersebut dengan cara membakar hutan belantara sampai terbentang luas.
Arah terbakarnya hutan tersebut hingga ke arah Selatan dan Barat Daya. Dalam proses pembakaran hutan tersebut, beliau berucap “Sampai dimanapun api ini membakar hutan belantara, maka wilayah yang terbakar tersebut akan menjadi wilayah kekuasaanku”. Dan benar saja, wilayah hutan belantara yang terbakar tersebut sangat luas hingga ke wilayah Padangbenghar (kecuali Cangkoak). Karena wilayah hutan yang terbentang luas tersebut, maka daerah tersebut diberi nama Desa Warugede, yang artinya desa yang besar. Namun kebenaran fakta mengenai tempat tersebut hanya Tuhan yang tau, manusia hanya bisa menerka-nerka. Hal itu disebabkan kurangnya bukti tertulis yang ditemukan mengenai sejarah tempat bersejarah tersebut
Menurut Ibu Qonitin, Setelah hutan belantara tersebut terbakar, maka beliau mulai membersihkan sisa-sisa pembakaran dan mendirikan suatu Astana atau Keraton kecil di tempat tersebut. Astana yang beliau buat diberi nama Astana Pakungwati, hal itu sesuai dengan namanya. Sebelum mendirikan Astana Pakungwati, terlebih dahulu beliau meminta izin kepada Ki Raksa Guna (Ki Gede Waru) selaku orang pertama yang memiliki desa Waru tersebut guna mendirikan Astana Pakungwati dan oleh Ki Raksa Guna disetujui. Tempat tersebut awalnya tidak dijadikan tempat tinggal selamanya, hanya dijadikan sebagai tempat singgah sementara. Namun karena desa Waru tersebut dirasa lebih tenang dan nyaman, maka beliau enggan melanjutkan kembali perjalananya untuk pulang ke Cirebon Timur. Dan sampai akhir hayatnya pun beliau lebih memilih desa Waru atau Warugede tersebut sebagai tempat tinggalnya dan akhirnya ketika beliau wafat, beliau di makamkan di kompleks Anstana Pakungwati tersebut. Itulah yang menjadi alasan beliau tidak dikuburkan di kompleks pemakaman Gunung Jati. Masih karena alasan sakit hati itu pula, beliau memilih Astana Pakungwati untuk menghabiskan sisa umurnya.
Menurut cerita Ibu Qonitin, Sunan Gunung Jati mengajak Nyi Mas Pakungwati untuk kembali ke keraton Cirebon. Namun Nyi Mas Pakungwati masih tetap ingin tinggal di pansanggrahan Warugede, sehingga Sunan Gunung Jati mengizinkannya dengan memenuhi kebutuhan yang diperlukan, baik alat-alat ataupun dayang-dayang dan para wadyabala (pajurit/bala tentara) secukupnya untuk mengawal dan menjaga keamanan,dan hal itu disetujui oleh Sunan Gunug Jati, karena beliau tidak ingin memaksakan keinginan istrinya itu.
Menurut cerita Pak Opan Safari, Nyimas Pakung di kenal dengan sebutan Ratu Dalem Pakung Wati oleh masyarakat Cirebon. Sunan Gunung Jati mempunyai Sembilan istri, tetapi beliau lebih mencinti Nyimas Pakung Wati, maka dari itu Nyimas Pakung Wati jabatan dengan sebutan Ratu Dalem Pakung Wati, istri Sunan Gunung Jati yang selain Nyimas Pakung Wati adalah istri selir.
Ketika Nyimas Sunan Gunung Jati menikahi Putri Ong Tien, Nyimas Pakung Wati pergi dari Istana, kemudian Nyimas Pakung Wati pergi ke sebuah desa yang disebut dengan Desa Warugede, disitu Nyimas Pakung Wati mendapatkan ketengan, dan di situlah Nyimas Pakung Wati membantu suaminya Sunan Gunung Jati dalam menyebarkan agama Islam.
Sunan Gunung Jati dan para prajuritnya datang ke Desa Warugede, dengan tujuan untuk mengajak Nyimas Pakung Wati untuk kembali ke Istana, kemudian Nyimas Pakung Wati menerima ajakan Sunan Gunung Jati, dan pada akhirnya Nyimas Pakung Wati kembali ke Istana.
Nyimas pakung Wati memiliki kehidupan yang panjang, ketika Sunan Gunung Jati wafat, Pangeran Paserean, Pangeran Dipati Cerbon, kemudian baru Penembahan Ratu, Nyimas Pakung Wati wafat. Nyimas Pakung Wati wafat ketika sedang memadamkan kebaran di Keraton Kesepuhan. Kebaran tersebut bersumber dari unsur ghaib baruan mandi (bangsa siluman), ketika Nyimas Pakung Wati wafat karena peristiwa kebaran tersebut raga dan arwah Nyimas Pakung Wati ikut terbawa, hal tersebut disebut dengan mokshayang artinya ketika Nyimas Pakung Wati wafat bukan hanya arwahnya saja yang ikut pergi tetapi badan Nyimas Pakung Wati pun ikut terbawa.
Sekilas Tentang Astana Pakung Wati
Astana Pakungwati adalah sebuah tempat yang dahulunya dijadikan sebagai tempat tinggal Nyi Mas Prabu Pakungwati Ratna Kuning (putri Tumenggung Cirebon, Pangeran Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana) sebagai tempat singgahan selama melakukan dakwah Islam sekaligus untuk menenangkan diri dan pikirannya karena masalah dalam rumah tangga keluarganya (cemburu dengan kehadiran Puteri Ong Tien Nio sebagai istri ke empat Sunan Gunung Jati). Namun sekarang tempat tersebut dijadikan sebagai kompleks pemakaman bagi beliau dan para Prajurit yang mengawalnya dulu.Astana Pakungwati tersebut berlokasi di desa Warujaya (dahulu bernama Warugede), kecamatan Depok, kabupaten Cirebon.Tempat ini sudah dibangun selama beratus tahun yang lalu, karena tidak ada bukti tertulis mengenai kapan tempat tersebut dibangun, begitu juga masyarakat sekitar yang tidak begitu mengetahui kapan tepatnya tempat tersebut dibangun.
Astana Pakungwati tersebut berbentuk Keraton yang terbuat dari batu bata berwarna merah seperti warna merah pada kompleks Masjid Sang Cipta Rasa di Cirebon Timur. Gaya arsitekturnya mengikuti arsitektur yang berkembang di Keraton- Keraton Cirebon, meskipun ukurannya lebih kecil dari Keraton-Keraton yang ada di Cirebon Timur sana. Hal ini mengindikasikan bahwa kemungkinan pada zaman dahulu tempat tersebut digunakan sebagai tempat tinggal seseorang yang berasal dari Keraton ataupun yang berhubungan dengan Keraton. Dan memang benar seperti namanya, Astana Pakungwati tersebut dibuat oleh Nyi Mas Pakungwati (istri Sunan Gunung Jati) yang masih ada hubungan dengan Keraton di Cirebon Timur sana.
Sekilas mengenai tokoh dibalik adanya Pakungwati
Nyi Mas Prabu Pakungwati Ratna Kuning atau yang biasa dipanggil Nyi Mas Pakungwati adalah istri ke-3 Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Beliau lahir dari seorang ayah yang bernama Pangeran Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana, putra Baduga Sri Maharaja atau Prabu Siliwangi) dan ibunya bernama Nyai Mas Endang Geulis (putri Ki Gedheng Danu Warsih dari Pertapaan Gunung Mara Api), dalam bahasa Cirebon Kuno, nama Pakungwati memiliki arti udang betina, hal itu merujuk pada ciri khas Ciebon pada masa lalu hingga sekarang, yakni udang.
Seandainya dlihat dari silsilah keluarga, antara Nyi Mas Pakungwati dengan Sunan Gunung Jati masih lingkup satu keluarga, yaitu berkedudukan sebagai sepupu. Nyi Mas Pakungwati merupakan putri kesayangan Pangeran Cakrabuana. Beliau lahir dari keluarga terhormat, yakni dari tokoh ternama dan berpengaruh di Cirebon sehingga banyak orang yang mengenalnya.Tetapi bukan hanya karena kelurganya saja yang terhormat, melainkan juga karena sikap dan perilaku beliau yang amat mulia serta beliau merupakan wanita solehah.Beliau seorang penganut agama Islam yang taat bukan dari formalitasnya saja, melainkan juga dari aplikasinya.Beliau juga menjadi keteladanan hidup bagi wanita pada zaman itu, karena hal itulah Sunan Gunung Jati menikahi beliau disamping perintah dari pamannya (Pangeran Cakrabuana).Nyi Mas Pakungwati menikah dengan Sunan Gunung Jati pada tahun 1478 M.
Selama menjadi istri Sunan Gunung Jati, Nyi Mas Pakungwati tidak memiliki keturunan, sehingga tidak ada keturunan beliau di desa yang menjadi lokasi berdirinya Astana Pakungwati tersebut. Keturunan yang sekarang ada di desa Waru tersebut dimungkinkan dari para para Prajurit dan abdi dalem yang bekerja kepada beliau.
Bangunan bangunan atau Situs peninggalan di kompleks Astana Pakungwati, situs atau peninggalan budaya yang ada di kompleks makam Astana Pakungwati meliputi:
- Makam Nyi Mas Pakungwati.
- Makam para Ulama.
- Makam para Prajurit atau Pengawal beliau.
- Makam Ki Raksa Guna (Ki Gede Waru) dan istrinya, yaitu orang yang memiliki desa Waru pertama.
- Makam Ki Gede Depok dan istrinya.
- Makam Pangeran Sangga Buana (pengawal yang diutus dari Banten).
- Makam Lebe Waru (lebe Wayat), yaitu Penghulu pertama dan yang menjadi cikal bakal adanya Penghulu sampai sekarang.
- Makam Ki Suro Baratan.
- Makam para abdi dalem yang mengabdi kepada Nyi Mas Pakungwati.
- Masjid Sang Raksa Sukma
- Watu Pandan Sari, yaitu batu yang pada zaman dahulu digunakan Nyi Mas Pakungwati sebagai tempat duduk ketika menerima tamu di luar Astana.
- Bangunan Paseban Sabda Pangestu, dahulu digunakan sebagai tempat untuk mengadakan pertemuan besar, namun sekarang digunakan untuk acara tahilan.
- Balong atau kolam pemandian Nyi Mas Pakungwati.
- Di luar kompleks pemakaman tersebut digunakan sebagai pemakaman umum bagi masyaraat sekitar.
Selain peninggalan-peninggalan benda atau situs sejarah di atas, masih ada peninggalan sejarah lainnya yaitu adanya 12 keris. Namun sayangnya keris-keris tersebut dicuri oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab dan hanya mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri tanpa memiliki perasaan untuk melestarikan sejarah, di samping kompleks makam Pakungwati terdapat balong atau kolam dengan kedalaman 1-1,5 meter, yang pada zaman dahulu digunakan sebagai tempat pemandian Nyi Mas Pakungwati,namun sayangnya balong atau kolam tersebut sekarang ini sudah kering, konon hanya orang-orang yang imannya kuat dan hatinya suci saja yang mampu melihat kolam tersebut berisai air yang banyak dan penuh.
Selain itu juga terdapat Musholah di dalam kompleks makam tersebut. Musholah itu diberi nama Sang Raksa Sukma. Maksud dari nama tersebut adalah rasa Nyi Mas Pakungwati berada di Gunung Jati, namun sukmanya berada di desa Waru (Astana Pakungwati).
Terdapat silsilah keluarga Nyi Mas Pakungwati hingga ke kakeknya, silsilah tersebut berada di tembok bangunan Paseban Sabda Pangestu Prabu Siliwangi yang dibuat oleh kuncen yang menjaga Astana Pakungwati.Hal tersebut berutujuan, agar orang-orang yang datang untuk berziarah mengetahui silsilah keluarga Nyi Mas Pakungwati yang berasal dari tokoh tersohor dan berpengaruh di wilayah Jawa barat.Selain itu juga dapat mengindikasikan bahwa memang benar, Nyi Mas Pakungwati lahir dari orang-orang terhormat dan di muliakan oleh masyarakat, khususnya masyarakat Cirebon.
Terdapat pula tulisan mengenai nama-nama leluhur Waru yang juga dibuat oleh kuncen Astana Pakungwati. Tujuannya pun hampir sama, agar orang-orang yang berziarah ke Astana Pakungwati mengetahui siapa saja orang-orang yang berjasa dalam pembuatan desa Waru dan penyebara agama Islam di desa tersebut. Sehingga orang yang berziarah dapat memberikan doa khusus kepada tokoh-tokoh tersebut. Karena tanpa tokoh-tokoh tersebut, Islam mungkin tidak akan berkembang ke wilayah-wilayah tersebut.
Peninggalan-peninggalan Nyimas Pakung Wati Di Desa Warujaya
Menurut Ibu Qonitin, terdapat banyak peninggalan-peninggalan dari Nyimas Pakung Wati, contohnya seperti, tombak-tombak milik Nyimas Pakung Wati dan para prajuritnya, selain tombak-tombak, peninggalan Nyimas Pakung Wati yaitu, balong yang berada di luar makam Nyimas Pakung Wati, menurut masyarakat sekitar, konon balong tersebut adalah balong tempat Nyimas Pakung Wati mandi, balong tersebut berbentuk kotak panjang, berbata merah, dan sampai sekarang balong tersebut masih berbentuk balong dan mash terlihat terbuat dari bata berwarna merah. Selain balong yang berada di luar makam Nyimas Pakung Wati, Ibu maemunah selaku kuncen Istana Pakung Wati menyimpan beberapa benda-benda seperti mangkok dan gelas.
Selain itu, masih ada balong yang dinamakan dengan Balong waru, di duga menurut masyarakat local, balong tersebut tempat Nyimas Pakung Wati untuk menenangkan diri atau bertapa, di tempat tersebut ada balong yang berukuran kecil, dan airnya masih bisa digunakan, bahkan air tersebut bisa dijadikan obat oleh masyarakat sekitar. Selain balong, di tempat tersebut, terdapat air pancuran, yang pada zaman dahulu digunakan oleh masyarakat Desa warujaya untuk mencuci baju dan mandi.
Selain balong, terdapat makam, di duga makam tersebut yang di dalamnya, peninggalan-peninggalan Nyimas Pakung Wati. Menurut masyarakat Warujaya, Balong waru adalah salah satu tempat yang di sakralkan oleh masyarakat Desa Warujaya, terdapatnya sumur yang dijadikan obat dan makam yang dikenal sebagai makam yang di dalamnya terdapat peninggalan-peninggalan Nyimas Pakung Wati.






