Sejarah Desa Sitiwinangun | Asal Usul Desa Sitiwinangun | Profil Desa Sitiwinangun | Kabupaten Cirebon |
Sejarah Desa Sitiwinangun Kabupaten Cirebon (Sejarah, Asal Usul dan Profil) Lengkap
Sitiwinangun adalah nama sebuah desa di Kecamatan Jamblang yang terletak 15 Km ke arah barat kota Cirebon. Sitiwinangun berasal dari bahasa jawa yang berarti tanah yang di bentuk. (siti = tanah, wangun = bentuk). Tradisi membuat gerabah sudah dilakukan oleh nenek moyang penduduk Sitiwinangun yang berbudaya agraris sejak jaman dahulu.
Pada tahun 1222 di daerah Kebagusan sudah ada padukuhan namanya padukuhan Kebagusan dan masyarakat Kebagusan pada waktu itu sudah mengenal kerajinan gerabah. Kerajinan gerabah yang ditemukan pada masa kerajaan Majapahit ataupun Singasari memiliki kesamaan dengan gerabah yang dibuat oleh warga Kebagusan. Seiring dengan perkembangan Islam mulai berkembang, pada jaman itu sudah masuk para pendakwa dari Arab salah satunya adalah Syekh Abdurahman yang berasal dari Baghdad beliau mendapat gelar Pangeran Panjunan karena ahli membuat gerabah (anjun). Pangeran Panjunan menyebarkan agama Islam di padukuhan Kebagusan dengan mengadakan pendekatan kultural atau tradisi masyarakat Kebagusan pada waktu itu, maka beliau berdakwah sambil mengajari gerabah atau mengajari cara membuat gerabah agar lebih baik lagi.
Motif-motif gerabah Sitiwinangun sangat kental dengan ajaran agama Islam salah satunya momolo masjid, padasan (tempat menyan), alat-alat untuk upacara tradisi keagamaan. Selain itu motif gerabah Sitiwinangun juga terpengaruh oleh tiga kebudayaan yaitu Islam, Cina, Arab. Berkembang seterusnya ada salah satu cucu keturunan Syekh Syarif melanjutkan yang melanjutkan dakwah beliau di Kebagusan. Dalam masyarakat Sitiwinangun ada satu adat jika seseorang ingin membuat gerabah maka Ia harus mengelilingi makam Ki Jagabaya 3x dengan mengangkat batu dibarengi dengan puasa dan membaca shalawat. Ketika pengrajin ingin membuat gerabah dengan ukuran kecil maka pengrajin akan mengangkat mengambil batu kecil kemudian mengelilingi makam Ki Jagabaya, begitupun sebaliknya tergantung dari ukuran gerabah besar atau kecilnya batu yang diangkat. Namun tradisi ini sudah ditinggalkan masyarakat Desa Sitiwinangun.
Desa Sitiwinangun sudah sejak lama terkenal sebagai sentra kerajinan gerabah meskipun secara nasional popularitasnya masih kalah jika dibandingkan dengan sentra gerabah lainnya. Gerabah Sitiwinangun mengalami masa kejayaan dimana pada masa itu gerabah di jadikan sebagai mas kawin seseorang ketika ingin menikah, tidak hanya berlaku untuk di Sitiwinangun saja melainkan ketika ada warga Sitiwinangun yang menikah dengan desa lain pun gerabah dijadikan sebagai mas kawin. Hal ini membuktikan bahwa ada kepercayaan bahwa gerabah Sitiwinangun memiliki kwalitas yang bagus.
Namun dalam perkembangannya sempat mengalami kondisi surut sampai titik nadir. Bahkan pada satu periode tertentu usaha gerabah Sitiwinangun bisa dikatakan mati suri. Mulai sekitar tahun 80 an tak ada lagi orang yang mau membeli gerabah kecuali gentong untuk memasak. Barulah pada dekade 2000 an, pesanan gerabah mulai datang kembali meminati kerajinan tersebut. 4Bedanya, kalau sebelum tahun 80 an gerabah Sitiwinangun diminati sebagai perabot rumah tangga misalnya untuk memasak, membuat sambal dan semacamnya., pada dekade 2000 an para pemesan gerabah Sitiwinangun lebih melihatnya sebagai barang seni dan pernak-pernik untuk kebutuhan cenderamata, penghias ruangan dan lainnya.






