Quotes A. Warits Rovi : Kumpulan Kata Bijak dari Pemikiran Seorang Penulis

  • Whatsapp
Quotes A. Warits Rovi : Kumpulan Kata Bijak dari Pemikiran Seorang Penulis


Wislah.com : Kamu sedang mencari quotes bijak dari A. Warits Rovi? Kamu datang di tempat yang tepat.

Tahukah kamu, kata bijak dari seorang penulis ini sudah banyak sekali memberikan dampak positif.

Karenanya tidak aneh, jika di sosial media, mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp sampai dengan Tik-Tok, banyak bertebaran Quotes A. Warits Rovi



Tanpa berlama-lama, berikut kumpulan quotes A. Warits Rovi, dari seorang penulis yang sedang kamu cari :

Quotes A. Warits Rovi  

  1. Bunyi derak lirih membangkitkan cerita-cerita silam. Angin pagi silir pelan mengeriap ke telapak tangan.
  2. Dan para tetangga berdatangan dengan ucap sungkawa seraya menderaikan air mata.
  3. Matahari berangsur lenyap dari balik pohon kesambi. Kesunyaan merayap, dingin menyergap.
  4. Burung-burung kecil di dahan pohon angsana tiru lalu lintas kendaraan. Berkaca langit, mencipta alit, mencalit wajah kota dengan kepak sayap yang gesit.
  5. Silau lelampu kendaraan bagai kunang-kunang raksasa memburu angin, cepat, lesat, menuju arah yang jauh.
  6. Tatapannya tajam, memisau setitik bintang yang berkedip nun jauh di cakrawala…
  7. Ada riak keyakinan dalam hatinya bahwa sinden akan membuat orang-orang bahagia.
  8. Kakinya dientak, memandu pinggulnya bergetar indah. Sedang sepasang bola matanya dalam kepungan bebulu halus hitam, terus melirik manja, turuti ke mana tangannya bergoyang.
  9. Suatu siang yang gerah, pohonan yang daun-daunnya mandi debu di tepi jalan kota hanya bergerak pelan.
  10. Di gelanggang tanah lapang moyang segera datang sebelum gong berbunyi memburu mimpi.
  11. Hanya ia hilang ingatan. Ia berjalan dari satu kota ke kota lain, menyusur sunyi dan keramaian dengan tubuh dan pakaian tak terurus.
  12. Kami tertawa di antara cerita-cerita, berseling suapan dan kunyahan dengan gemeretak bunyi yang membuat goyang bibir semakin lincah.
  13. Sepanjang-panjangnya cerita akan tamat di lambung keranda.
  14. Sesekali ia diguncang batuk dan jarinya menggaruk kepala yang dipenuhi jerumbai uban dan kutu.
  15. Ada tangis mengiris senyap senja, angin menyaput dengan wangi kamboja.
  16. Duhai siapa mengira urat rotan adalah akar hujan yang menyelesaikan sembahyang
  17. Sepasang kakinya yang telanjang juga bergerak dan kadang bergeser, menapak dedaun kering dan hamparan rumput.
  18. Silau lelampu kendaraan bagai kunang-kunang raksasa memburu angin, cepat, lesat, menuju arah yang jauh.
  19. Rasupan tulang-tulangnya bergerak. Sendi-sendinya seperti saling menekan, hingga tubuhnya bergoyang-goyang. Dan ia tak bisa mengendalikan tubuhnya yang tiba-tiba menari.
  20. Sedikit-sedikit ia ingat perihal kata hatinya bahwa hidup manusia adalah jagung pipilan dalam gilingan revolusi waktu, hingga semua pasti berubah, bagai biji jagung menghalus lalu menjadi nasi.
  21. Kunang-kunang datang memenuhi telapak tangan mencari peta dari garis-garis yang belah mungkin pada yang berliuk ke arah jari telunjuk takdir tanah madura digambarkan.
  22. Saat menatap wajah perempuan itu, si lelaki bisa menemukan peta masa lalunya.
  23. …ia duduk seorang diri, seolah sedang bercakap langsung dengan Tuhan.
  24. Aku menjalani semua itu dengan hati yang riang, karena ini semesta lain di luar rumah.
  25. Betapa daun-daun yang tanggal sama dengan air matanya, selalu setiap hari.
  26. Di depan rumah, sebatang pohon cemara terdiam bagai penjaga tua kelelahan.
  27. di tengkuk bumi. ambil barang seutas pelengkap sajak ladang kutuk bagi kemarau.
  28. Hanya burung-burung kecil berkejaran, menukik dan bertengger di ranting kemboja sembari menyisir bulu-bulu halusnya yang dijilat warna senja.
  29. Kakuwa bergerak indah, sesekali mengentak saat lehemya berlenggok.
  30. Peristiwa itu sudah menjadi sebuah kenangan indah, dan kenangan indah yang dihidupkan kembali akan menumbuhkan seribu cara pikir yang sehat.

 

Kata Bijak A. Warits Rovi

  1. Pohon-pohon ranggas seraya mengucap amin kepada riuh tepuk tangan penonton melepas daun keringnya sebagai dupa pertama untuk kematian kemarau.
  2. Satu seruputan teh hangat menyisakan kenangan di bibir.
  3. Seekor burung kenari bersiul sambil mematuk buah mentimun dalam sangkar bambu.
  4. Sehelai rambutnya menjuntai di kedua matanya yang bengkak karena tangis dahsyat.
  5. Suaranya terpantul merdu menunggang angin, dilengkapi ritme suara lesapan kembang kemboja yang tanggal bertapak ke tanah.
  6. Angin mulai pelan, saat tepat matahari karam ke balik barisan pohon siwalan.
  7. Ia merasa jiwanya dipindah ke raga lain yang lama tak terurus, kadang ia juga merasa dilempar ke bumi baru.
  8. Ia rela duduk menunggu meski alam kian kelam hanya diterangi sesabit bulan.
  9. Lengannya berayun pelan, seiring jemarinya tiru rekah kembang, meliut-liut bagai jemari perupa menatah pinggang patung.
  10. Perempuan itu tak menjawab. Keduanya bersitatap. Mencari sisa-sisa kenangan melalui wajah masing-masing.
  11. Pikiranku sehat oleh sebab kenangan indah tentang teh itu, bukan karena jampi-jampi.
  12. Pikiranku sehat oleh sebab kenangan indah tentang teh itu, bukan karena jampi-jampi.
  13. Jari-jemarinya lentik berpencar bagai rekahan bunga, berayun, ikuti lengannya yang bergerak halus dan pelan.
  14. Kita duduk setakdzim cagak menyangga tidur usuk berdiskusi tentang alamat-alamat sunyi
  15. Merangkul semua catatan kesindenannya dengan diam dan pejam yang purna.
  16. Sebelum farji belah berpintu di rahim tua aku termangu. hanya tuhan dan aku menyepakati sebuah waktu. sedang ayah dan ibu menjalani kesedihan di kamar kelabu.
  17. Kala itu angin yang menyunggi harum tebu menatah silir lirih di wajah mereka dan bulan terapung mendamba sirip di lautan kabut-kabut tipis..
  18. Kita bersanding sepotong rembulan, malam dan pekat kopi ia singgahi, lalu bermukim dalam puisi.
  19. Aku hanya bisa menatap dengan bola mata orang dungu.
  20. Hanya ia hilang ingatan. Ia berjalan dari satu kota ke kota lain, menyusur sunyi dan keramaian dengan tubuh dan pakaian tak terurus.
  21. Keheningan menyelimuti bumi. Tinggal suara daun jatuh menggubah sajak di hamparan gelap.
  22. Matanya terpejam. Helai-helai rambut legam menjuntai dari selembar kain jilbab yang ia kenakan.
  23. Tegukan teh terakhir menyelami tenggorokan, menghapus wajah beberapa wanita lain yang pernah singgah di hatiku.
  24. …pohon itu sama dengan dirinya; hidup di bumi sekadar pelengkap bagi lagu sunyi.
  25. Dalam sitatap sederhana kau cermin yang abadi dan aku bayangan penuh sunyi

Related posts