Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Tuhan dan Penelitian Tentangnya

Pemikiran Muhammad Iqbal

Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Tuhan | Makalah Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Tuhan | Penelitian Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Tuhan  |

Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Tuhan

Dunia dengan segala isinya, sejak dari gerakan mekanis dari apa yang kita namakan atom materi sampai kepada gerakan pikiran bebas dalam ego manusia, adalah penjelmaan diri (self-revelation) dari ‘Aku Yang Akbar’. Setiap atom tenaga Ilahiat, betapa kecil pun adalah skala wujud (scale of eksistence) adalah suatu ego. Namun ada tingkat-tingkat pernyataan ke-ego- an. Semesta wujud adalah ibarat sebuah lapangan bunyi, dimana terdengar nada yang bertapak-tapak meninggi, nada ke-ego-an, yang akhirnya mencapai tingkat sempurnanya dalam manusia.

Intinya, khudi (ego) adalah sebuah keinginan kreatif yang terarah secara rasional, dalam arti; didalam hidup ada suatu prinsip kesatuan yang bersifat mengatur dimana ia mengarah pada tujuan yang konstruktif dan menjadi dasar dari pusat kehidupan, artinya hidup ini mempunyai tujuan. Dimana, untuk memperoleh tujuan tersebut diperlukan agar ego aktif berusaha menuju Ego tertinggi, yakni inilah tujuan hidup.

Khudi sendiri adalah kausalitas pribadi yang bebas. Ia mengambil bagian dalam kehidupan dan kebebasan Ego mutlak. Aliran kausalitas ini mengalir kedalam khudi dan dari khudi ke alam, sehingga khudi dihidupkan oleh hasil interaksi dengan alam. Namun, khudi sendiri dikendalikan oleh ruh yang kemudian menggiring khudi manusia pada Zat yang membentuk ruh dari manusia itu sendiri (Tuhan). Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa khudi adalah sesuatu yang tak berbentuk (metafisik) dan ada dalam setiap individu dari manusia, sedangkan untuk memperkuat khudi adalah dengan jalan setiap individu dari manusia minimal dapat mematuhi secara kontinyu terhadap hukum-hukum dari Tuhan, kemudian percaya diri dengan senantiasa disiplin dalam menjalani kehidupan, karena telah diberikan hak untuk mengendalikan dirinya sendiri dengan tidak selalu bergantung dengan benda duniawi dan yang terakhir selalu berproses menjadi pribadi yang ideal dalam konsepsi spiritual. Apakah yang dimaksud dengan hubungan Tuhan dengan ego? Tuhan menyatakan diri-Nya bukan dalam dunia yang terindera, tetapi dalam pribadi (ego) terbatas. Karena itu usaha mendekatkan diri kepada-Nya hanya dimungkinkan lewat pribadi, yakni pribadi yang berusaha membentuk dirinya dengan mendekati Allah Swt dan terus menerus secara kontinyu serta rendah diri yang akan membuat seseorang mengakui dia adalah seorang hamba Allah Swt.

Iqbal menemukan keberadaan Tuhan (Khuda) melalui tiga fase. Pada fase pertama (1901- 1908), Tuhan diyakini oleh Iqbal sebagai Keindahan Abadi (Eternal Beauty). Karakteristik pemikiran Iqbal masa tersebut beraliran Platonis. Tampaknya, sosok Iqbal sebagai seorang sastrawan yang menekankan aspek keindahan mengantarkan Iqbal pada konsep Plato ini.

Perubahan filsafat ketuhanan Iqbal pada fase kedua terjadi antara 1908 hingga 1920. Dalam fase ini, Tuhan adalah The Ultimate Ego. Konsep ketuhanan Iqbal pada fase ini muncul berkat pengaruh dari pemikir-pemikir  Barat seperti John McTaggart dan James Ward di Cambridge University dari 1905-1908. Iqbal melompat ke panteisme mistis. Selain itu, selama masa tersebut ia juga berkenalan dengan pemikiran Jalaluddin Rumi yang menjadi kajian disertasinya di Munich University. Pengaruh ketiga orang ini—McTaggart, Ward dan Rumi tampak terlihat jelas mewarnai pemikiran Iqbal selama periode tersebut.

Akan tetapi, sekitar tahun 1908 posisi Iqbal mulai berubah, terutama sejak perkenalannya dengan eksistensialisme Nietzsche dan elan vital-nya Bergson. Kedua filsuf tersebut menjadi pondasi kelahiran filsafat Iqbal tentang manusia dan khudi di kemudian hari. Ego manusia (khudi), selanjutnya, menjadi pondasi dasar pemikiran Iqbal. Bersama dengan itu, konsep ketuhanan panenteisme Iqbal pun lahir. Ia menyatakan bahwa khudi merupakan dasar bagi setiap manusia, di mana ego manusia menempati posisi sentral dengan tetap terhubung dengan Ego Tertinggi, Khuda (Tuhan). Khudi melahirkan kebebasan manusia dan kehendak untuk berkuasa. Pada fase ini, Iqbal menganggap bahwa Tuhan bukan lagi Eternal Beauty, tetapi Tuhan adalah Eternal Will (Kehendak Abadi).

Tahap ketiga, dari tahun 1920 hingga kematian Iqbal pada tahun 1938, menandai masa kematangan pemikiran Iqbal. Ia menggabungkan semua elemen menjadi sistem utuh dengan Tuhan (The Ultimate Ego) menempati posisi penting. Tuhan sebagai Hakikat Mutlak adalah The Ultimate Ego, atau Khuda. Sedangkan manusia adalah ego, atau khudi. Manusia merupakan khalifah Tuhan di muka bumi yang ikut serta mewujudkan kehendak Tuhan. Satu hal yang menarik untuk kita baca, Iqbal tetap mendasarkan konsep ketuhanan panenteisme ini pada alQur’an.

Tuhan atau Khuda digambarkan oleh Iqbal sebagai Ego kreatif. Bagaimana hal tersebut bisa dikonsepkan dengan baik oleh Iqbal? Untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu bagaimana Iqbal bisa sampai pada konsep tersebut. Ia berangkat dari penafsirannya sendiri tentang pengalaman manusia. Iqbal menjadikan pengalaman kesadarannya sebagai titik tolak pemikirannya. Tidak jauh berbeda dari Bergson yang mengilhaminya dengan konsep elan vital, Iqbal juga penganut Cartesian. Menurut Iqbal, Tuhan tidak semata-mata dapat dijelaskan melalui akal dan sains. Tuhan dapat diketahui keberadaan-Nya oleh manusia melalui perasaannya.

Perasaan yang bisa menangkap wujud Tuhan ini melahirkan pengalaman beragama, atau intuisi. Keimanan didasarkan pada pengalaman beragama ini, dan Iqbal menyatakan bahwa inti agama adalah keimanan. Iqbal juga menegaskan bahwa indra, rasio dan intuisi merupakan sumber pengetahuan yang tidak terpisah. Ketiga epistemologi ini tidak lain adalah alat baca untuk realitas yang sama. Dalam pandangan Iqbal, intuisi lebih kokoh dibanding intelek dan pengalaman indra. Keberadaan intuisi bukanlah tanpa elemen kognitif. Iqbal menegaskan bahwa intuisi merupakan salah satu sumber pengetahuan, dan al-Qur’an adalah produk intuisi tersebut.

Iqbal menolak anggapan bahwa alam semesta telah tertutup, masa depan sudah ditetapkan dan rentetan kejadian tak dapat diubah karena telah ditakdirkan. Alasannya, karena Tuhan bukan Maha Tahu yang pasif. Jika sejarah dianggap sama seperti rol film yang diputar secara perlahanlahan untuk mempertontonkan runtutan kejadian yang sudah ditentukan, lanjut Iqbal maka sama seperti kita menganggap bahwa objek pengetahuan Tuhan sama abadinya dengan Tuhan itu sendiri. Iqbal menolak pandangan takdir seperti itu karena menghilangkan kemerdekaan Tuhan. Argumen Iqbal lain, pandangan takdir seperti itu juga sulit membuktikan bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta. Inovasi, kreativitas, imajinasi, novelty dan inisiatif kehilangan maknanya jika pengetahuan Tuhan dianggap sebagai pengetahuan yang pasif karena Tuhan seharusnya merdeka.

Iqbal menegaskan bahwa penciptaan alam semesta oleh Tuhan bukanlah tindakan spesifik dalam sejarah hidup Tuhan. Alam terus berkembang. Jika muncul pandangan yang menyatakan bahwa Tuhan telah selesai menciptakan alam semesta maka cara pandang ini memberikan pemahaman kepada kita seakan-akan struktur alam ini telah selesai diciptakan. Dengan demikian alam semesta seakan-akan tidak membutuhkan Tuhan lagi, dan alam berdiri menjadi sesuatu yang lain, terpisah dari Tuhan. Menurut Iqbal, cara pandang yang tepat adalah dengan melihat penciptaan sebagai kegiatan kreatif yang berkelanjutan. Untuk menggenapkan pemikiran ini Iqbal menyatakan bahwa tindakan mengetahui pada Tuhan adalah sama dengan tindakan penciptaan. Artinya, alam semesta masih terbuka untuk terus berkembang dan kebebasan Tuhan tetap melekat pada Diri-Nya selama berlangsung proses penciptaan.

Iqbal berpendapat bahwa kegiatan penciptaan alam oleh Tuhan tidaklah seperti proses penciptaan pada mesin pabrik di mana hasil penciptaan berdiri secara terpisah dari penciptanya. Proses penciptaan alam oleh Tuhan adalah proses yang berlangsung secara terus menerus dan tidak pernah berhenti. Dalam paham teologi al-Asy’ari dinyatakan bahwa kelanjutan adanya sebuah atom itu tergantung dari penciptaan peristiwaperistiwa secara terus menerus di dalam atom tersebut.18 Meskipun Iqbal membenarkan pandangan al-Asy’ari mengenai penciptaan atom ini, tetapi ia mengubah atomisme Asy’ari ini menjadi paham pluralisme ruhaniah. Ia mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini—termasuk atom—sebenarnya adalah sebuah ego, dan semua ego tidak lain adalah kesadaran Tuhan itu sendiri.

Iqbal meyakini bahwa alam bukan “sesuatu yang lain” di hadapan Tuhan karena kejadian Alam adalah satu fase dari kesadaran Tuhan. Alam juga manusia berada di dalam Tuhan. Tuhan bersifat immanen karena Tuhan memahami seluruh alam semesta, tetapi juga bersifat transenden karena Tuhan tidak identik dengan dunia ciptaan-Nya. Alam semesta, menurut Iqbal, bukanlah ciptaan yang sudah final. Sebaliknya, proses penciptaan oleh Tuhan masih terus berjalan hingga kini. Pemikiran ini ia dasarkan pada al-Qur’an, surah 53:42 yang berbicara tentang gerak dan perubahan kehidupan manusia dan alam semesta. Karena itu, berkat kebebasan yang dimilikinya, manusia membuat garis perjalanan hidupnya sendiri. Takdir seorang manusia berada di tangannya sendiri. Iqbal mengutip al-Qur’an, surah 13:20 untuk mempertegas pandangan tersebut: ” Tidak berubah suatu kaum, hingga ia merubah dirinya sendiri.”

Beberapa Penelitian Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Tuhan

Berikut adalah beberapa penelitian “Pemikiran Muhammad Iqbal Tentang Tuhan ” :

MUHAMMAD IQBAL ( Sejarah dan Pemikiran Teologisnya ), oleh Rosichin Mansur

Berikut adalah kesimpulan dari penelitian yang ditulis oleh Rosichin Mansurdengan judulMUHAMMAD IQBAL ( Sejarah dan Pemikiran Teologisnya ) dalam Jurnal Lentera Vol. 13 No. 1 (2015): Maret

Tokoh muslim Muhammad Iqbal merupakan sosok pemikir multi disiplin. Di dalam dirinya berhimpun kualitas kaliber internasional sebagai seorang sastrawan, negarawan, ahli hukum, pendidik, filosof dan mujtahid. Sebagai pemikir Muslim, Iqbal telah merintis upaya pemikiran ulang terhadap Islam secara liberal dan radikal.

Agama Islam sebagai way of life yang lengkap mengatur kehidupan manusia, ditantang untuk bisa mengantisipasi dan mengarahkan gerak dan perubahan tersebut agar sesuai dengan kehendak-Nya. Oleh sebab itu hukum Islam dihadapkan kepada masalah signifikan, yaitu sanggupkah hukum Islam memberi jawaban yang cermat dan akurat dalam mengantisipasi gerak dan perubahan ini?. Dengan tepat Iqbal menjawab, “bisa, kalau umat Islam memahami hukum Islam seperti cara berfikir ‘Umar Ibn Al Khathtab”.

Reposisi Konsep Ketuhanan: Tanggapan Muhammad Iqbal Dan Said Nursi Atas Perjumpaan Islam Dan Sains, oleh Maftukhin

Berikut adalah kesimpulan dari penelitian yang ditulis oleh Maftukhin dengan judulReposisi Konsep Ketuhanan: Tanggapan Muhammad Iqbal Dan Said Nursi Atas Perjumpaan Islam Dan Sains dalam jurnal DOI: 10.21274/epis.2017.12.1.77-102

Dari uraian di atas dapat disimpulan bahwa kemajuan sains modern pada abad 20 menarik minat dua pemikir Muslim dari dua wilayah Islam yang berbeda, yaitu Muhammad Iqbal dari Anak Benua India dan Said Nursi dari Turki. Kedua pemikir Islam tersebut melakukan integrasi antara sains modern dan Islam. Namun keduanya memiliki perbedaan dalam pendekatan meskipun keduanya sama-sama melakukan integrasi. Jika Iqbal melakukan adopsi dengan bentuk integrasi epistemologis, sedangkan Nursi menggunakan metode integrasi ontologis. 

Related posts