Hadis Tentang Niat, Sanad & Matan, Arti Kosa Kata, Terjemahan, Isi Kandungan dan Asbabul Wurud

Hadis Tentang Pengertian Iman, Sanad & Matan, Arti Kosa Kata, Terjemahan dan Isi Kandungan

Hadis Tentang Niat | Sanad & Matan Hadis Tentang Niat | Arti Kosa Kata Hadis Tentang Niat | Terjemahan Hadis Tentang Niat | Isi Kandungan Hadis Tentang Niat | Asbabul Wurud Hadis Tentang Niat |

Sanad & Matan Hadis Tentang Niat

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Arti Kosa Kata Hadis Tentang Niat

Karena duniaإِلَى دُنْيَاSemua perbuatanإِنَّمَا الْأَعْمَالُ
Yang ingin digapainyaيُصِيبُهَاTergantung niatnyaبِالنِّيَّاتِ
Atau karena seorang perempuanأَوْ إِلَى امْرَأَةٍDan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung)وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ
Yang ingin dinikahinyaيَنْكِحُهَاApa yang diniatkanمَا نَوَى
Maka hijrahnyaفَهِجْرَتُهُBarangsiapa niatفَمَنْ كَانَتْ
Adalah kepada apa dia diniatkanإِلَى مَا هَاجَرَHijrahnyaهِجْرَتُهُ

Terjemahan Hadis Tentang Niat

Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi Abdullah bin Az Zubair dia berkata, Telah menceritakan kepada kami Sufyan yang berkata, bahwa Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id Al Anshari berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ibrahim At Taimi, bahwa dia pernah mendengar Alqamah bin Waqash Al Laitsi berkata; saya pernah mendengar Umar bin Al Khaththab diatas mimbar berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan”

Isi Kandungan Hadis Tentang Niat

Kata innama “bermakna “hanya/pengecualian”, yaitu menetapkan sesuatu yang disebut dan mengingkari selain yang disebut itu. Kata “hanya” terkadang dimaksudkan sebagai pengecualian secara mutlak dan terkadang dimaksudkan sebagai pengecualian yang terbatas. Untuk membedakan antara dua pengertian ini dapat diketahui dari susunan kalimatnya. kata (innama) di awal hadis bertujuan untuk memberikan batasan yang bermakna ‘hanya’. jadi setiap amalan hanya dinilai berdasarkan niat dari awal.

Pertama (Segala amal tergantung niatnya), yang dimaksud dengan amal disini adalah semua amal yang dibenarkan syari’at, sehingga setiap amal yang dibenarkan syari’at tanpa niat maka tidak berarti apa-apa menurut agama islam. Tentang sabda Rasulullah, “segala amal itu tergantung niatnya” ada perbedaan pendapat para ulama tentang maksud kalimat tersebut. Sebagian memahami niat sebagai syarat sehingga amal tidak sah tanpa niat, sebagian yang lain memahami niat sebagai penyempurna sehingga amal itu akan sempurna apabila ada niat. Sehingga niat itu diibaratkan separoh agama Islam, karena itu terdiri dua unsur besar, yaitu lahir dan bathin. Lahirnya adalah amal dan batinnya adalah niat. Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal mengatakan hadis ini adalah sepertiga agama, karena amalan seorang hamba harus memenuhi tiga unsur, yaitu hati, lisan dan gerak tubuh. maka niat adalah amalan hati.

Kedua, kalimat (Dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya) oleh al-Khathabi dijelaskan bahwa kalimat ini menunjukkan pengertian yang berbeda dari sebelumnya. Yaitu menegaskan sah tidaknya amal bergantung pada niatnya. Juga Syaikh Muhyiddin An-Nawawi menerangkan bahwa niat menjadi syarat sahnya amal sehingga dari point kedua ini dapat disimpulkan bahwa seseorang yang meng-qadha shalat tanpa niat maka tidak sah shalatnya.

Ketiga, kalimat “Maka barang siapa berhijrah kepada Allah Swt dan RasulNya, maka hijrahnya kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”. Maksudnya barangsiapa berhijrah dengan niat karena Allah Swt dan Rasul-Nya maka akan mendapat pahala sesuai dengan apa yang ia niatkan dari hijrahnya kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Sebaliknya, jika hijrahnya itu karena tujuan duniawi atau karena wanita, maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa selain dari apa yang ia niatkan tersebut.

Hijrah di zaman Rasulullah adalah berpindah dari mekah ke madinah sebelum fathul makah. Hijrah juga bermakna berpindah atau meninggalkan daerah yang tidak Islam menuju negara islam untuk bisa melaksanakan perintah Allah Swt dengan bebas. dan Hijrah secara umum adalah berpindah dari satu kondisi yang tidak baik kepada yang baik, dan dari kondisi yang baik menuju yang lebih baik. Bila ada orang yang mengatakan ‘tidak ada hijrah setelah Fathu Makkah’, maka yang dimaksud oleh mereka adalah berpindah dari makah ke madinah. dalam hadis ini disebutkan beberapa kemungkinan niat seorang muslim dalam beramal. bila niatnya karena Allah Swt dan rasulnya, maka ia akan sampai kepada tujuannya yaitu surga dan ridha Allah Swt, namun bila niatnya hanya untuk mencari ketenaran dan gemerlapan dunia, atau ia ingin mendapatkan seorang perempuan idamannya, maka ia hanya akan mendapatkan itu saja, bahkan mungkin tidak akan dapat apa-apa.

Asbabul Wurud Hadis Tentang Niat

Sebagaimana Al-Qur’an mempunyai Asbabun nuzul atau alasan mengapa ayat itu turun, maka hadispun punya Asbabul wurud, atau sebab hadis itu datang. Asbabul wurud hadis ini adalah, dulu ada salah sorang sahabat berhijrah ke Madinah karena ingin menikah dengan Ummu Qais. Hingga akhirnya ia digelari Muhajiru Ummu Qais atau orang hijrah karena Ummu Qais. lalu mengingatkan sahabatnya dengan hadis ini.

Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Amal yang dilakukan dengan ikhlas tapi tidak benar, maka tidak akan diterima. Dan jika ia benar tetapi tidak ikhlas, maka amalnya juga tidak diterima. Amal yang ikhlas ialah amal yang dilakukan karena Allah Swt.

Related posts