Hadis Tentang Kemandirian Usaha | Sanad & Matan Hadis Tentang Kemandirian Usaha | Arti Kosa Kata Hadis Tentang Kemandirian Usaha | Terjemahan Hadis Tentang Kemandirian Usaha | Isi Kandungan Hadis Tentang Kemandirian Usaha |
Sanad & Matan Hadis Tentang Kemandirian Usaha
عن المقدام رصي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ما أكل أحد طعاما قط خيرا من أن يأكل من عمل يده وإن نبي الله داود عليه السلام كان يأكل من عمل يده. رواه البخاري
Arti Kosa Kata Hadis Tentang Kemandirian Usaha
| Lebih baik | قط خيرا |
| Dari hasil kerjanya sendiri | من عمل يده |
Terjemahan Hadis Tentang Kemandirian Usaha
Dari Miqdam ra berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang sama sekali kecuali makan dari hasil kerjanya sendiri, sesungguhnya Nabi Dawud as makan dari hasil kerjanya sendiri”. (HR. Bukhari No.1930).
Isi Kandungan Hadis Tentang Kemandirian Usaha
Hadis di atas menerangkan bahwa begitu banyaknya keutamaan dari bekerja mencari nafkah yang halal dan berusaha mencukupi kebutuhan diri dan keluarga dengan usahanya sendiri. Bahkan hal ini termasuk sifat-sifat yang akan kita temui di setiap para Nabi ‘alaihimussalam dan orang-orang yang shaleh. Di hadis yang lain, Nabi SAW, bersabda: “Nabi Zakariya as., adalah seorang tukang kayu” HR. Muslim.
Dalam Kitab “Tahdzibul Kamal” dan “Siyaru a’laamin Nubala” dapat kita jumpai sebuah kisah dari penggalan biografi imam besar ahlus sunnah dari generasi Tabi’ut tabi’in, Imam Abdullah bin Al-Mubarak. Beliau pernah ditanya, “engkau mengekspor barang-barang dagangan dari negeri Khurasan ke Tanah Haram/Mekkah (untuk dijual), bagaimana ini?”. Dengan bijak Abdullah bin al Mubarak menjawab, “Sesungguhnya aku melakukan (semua) itu hanya untuk menjaga mukaku (dari kehinaan meminta-minta), memuliakan kehormatanku (agar tidak menjadi beban bagi orang lain), dan menggunakannya untuk membantuku dalam ketaatan kepada Allah Swt.” Lalu orang yang bertanya tadi, al-Fudhail bin ‘Iyadh, berkata kepadanya, “Wahai Abdullah bin al-Mubarak, alangkah mulianya tujuanmu itu jika semuanya benar-benar terbukti.
Dari hadis di atas, maka dapat kita simpulkan beberapa faidah yang terkandung, di antaranya:
- Kerja keras sifat mulia yang dimiliki oleh para Nabi SAW dan orang-orang yang shaleh mencari nafkah yang halal dengan usaha mereka sendiri, dan ini tidak melalaikan mereka dari amal shaleh lainnya, seperti berdakwah di jalan Allah Swt dan memuntut ilmu agama.
- Usaha yang halal dalam mencari rezki tidak bertentangan dengan sifat zuhud, selama usaha tersebut tidak melalaikan manusia dari mengingat Allah Swt.
- Bekerja dengan usaha yang halal, meskipun dipandang hina oleh manusia, lebih baik dan mulia daripada meminta-minta dan menjadi beban bagi orang lain.
- Mulianya sifat ‘iffah (selalu menjaga kehormatan diri dengan tidak memintaminta) serta tercelanya sifat meminta-minta dan menjadi beban bagi orang lain. Inilah sifat mulia yang ada pada para shahabat Rasulullah Saw.
- Keutamaan berdagang (berniaga) yang halal, dan inilah pekerjaan yang disukai dan dianjurkan oleh Rasulullah Saw dan para shahabatnya.






