Biografi Singkat KH Syarifuddin, Pendidikan, Karya, dan Pemikirannya

Biografi Singkat KH Syarifuddin

Biografi KH Syarifuddin | Biografi Singkat KH Syarifuddin | Profil KH Syarifuddin | Pendidikan | Karya | Pemikiran | Baca Biografi Tokoh Lainnya di Wislah.com

Biografi Singkat KH Syarifuddin: Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

K.H Syarifuddin yang akrab dipanggil dengan Kang Uci dahulu nama aslinya ialah Uci Sanusi yang kemudian berubah menjadi Uci Syarifuddin. Perubahan nama tersebut terjadi setelah Ia melakukan ibadah haji ke Mekkah. Berdasarkan wawancara dengan putranya yakni Kiyai Didin Misbahudin, perubahan nama tersebut berasal dari tradisi bahwa ketika terdapat seseorang yang hendak berangkat haji di sana ia diberi nama oleh Syekh yang ada di Mekkah. Jadi, dulu dari kecil namanya adalah Uci Sanusi. Namun, setelah pulang haji namanya diganti menjadi Uci Syarifuddin.

K.H Syarifuddin lahir di Kuningan Jawa Barat pada hari Jumat bulan Ramadhan tanggal 17 Agustus 1945 yang bertepatan dengan hari lahirnya kemerdekaan Republik Indonesia. K.H Syarifuddin sejak kecil dibesarkan di bawah asuhan ayahanda dan ibundanya yang bernama K.H Muhammad Kholil dan Nyai Muthmainnah di Desa Lengkong Kecamatan Garawangi Kabupaten Kuningan. Ia adalah anak ke tiga dari empat bersaudara. Artinya ia mempunyai dua kakak dan satu adik. Kakak yang pertama bernama Nyai Uhat (Ciawi-Kuningan) dan kakak yang ke dua bernama K.H Uung Abdus Syukur (ponpes Cihideng-Kuningan), sedangkan adiknya bernama K.H Harun AL-Rasyid. Namun, dalam buku Biografi dan Silsilah (mata rantai) Keturunan Mbah Toyyibuddin K.H Syarifuddin adalah anak ke empat dari lima bersaudara di mana ia memiliki tiga kakak dan satu adik. Kakak pertama yaitu Nyai Engkun (Pangkalan-Kuningan), kakak yang kedua adalah Nyai Uhat (Cilombang-Ciawigebang-Kuningan), dan kakak ketiga yaitu K.H Uung Abdus Syukur (Ponpes Cihideng-Kuningan). Sedangkan adiknya bernama K.H Harun Ar-Rasyid.

K.H Syarifuddin menikah pada tahun 1965 tepatnya pada usia 20 tahun. Dalam perjalanan hidupnya ia pernah menikah empat kali. Dari istri yang pertama yakni Nyai Ruqoyah, ia dikaruniai satu putri. Dari istri yang ke-dua yakni Nyai Aisyah, dikaruniai satu putri. Dari istri yang ke tiga yakni Nyai Mastiah, K.H Syarifuddin dikaruniai empat orang anak. Terakhir, dari pernikahan yang ke empat dengan Nyai Hj. Maesaroh, K.H. Syarifuddin dikaruniai sepuluh anak. Ke empat istri K.H Syarifuddin semuanya sudah tiada, kini hanya tinggal anak dan cucunya baik yang laki-laki maupun perempuan kebanyakan telah berkiprah di dunia pesantren.


Pada usia 19 tahun K.H Syarifuddin menjadi harapan ayahandanya untuk meneruskan pondok pesantren yang telah dirintis oleh ayahnya karena ayah tercinta sudah sepuh dan sering sakit. Di usia 20 tahun ia mulai berkiprah mengembangkan pondok pesantren bersama adiknya K.H Harun Al-Rasyid. Dengan ketekunan dan keuletannya pondok pesantren berkembang dengan sangat pesat. Hal ini dapat dikatakan bahwa ketika masa keduanya Pondok Pesantren Raudhlatut Thalibin mencapai puncaknya karena pada masa keduanya pondok pesantren mengalami pekembangan yang signifikan. Hal ini tentunya tidak lain adalah hasil dari jerih payahnya K.H. Syarifuddin bersama adiknya K.H Harun Al-Rasyid yang mencoba mengembangkan pesantren sedemikian rupa.

K.H Syarifuddin adalah seorang yang sangat disiplin, tegas, dan dekat kepada santri. Ia juga dikenal sebagai sosok kiyai yang sabar dalam mendidik para santrinya. Selain itu, ia juga memiliki kelebihan dari berbagai segi seperti cara mengajar, keilmuannya, akhlaknya, dan juga kharismanya. Berdasarkan dari data yang penulis dapatkan bahwa K.H Syarifuddin meskipun sedang sakit ia tetap mengajar dan mengaji. Hal ini menunjukan bahwa K.H Syarifuddin adalah sosok yang sangat bertanggung jawab yang selalu mementingkan pesantren dan anak didiknya (santri). Inilah yang kemudian menyebabkan banyaknya santri yang datang atau pun orang tua yang menitipkan anak-anaknya ke pesantren ini dengan tujuan untuk belajar ilmu agama.

Baca Juga :   Biografi Singkat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) : Profil, Pendidikan, Karya, Politik dan Pemikiran

K.H Syarifuddin di samping sebagai pemimpin pondok pesantren, juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Di antaranya dalam organisasi Nahdlatul Ulama Kabupaten Kuningan ia pernah menjadi ketua Mustasyar Nahdlatul Ulama pada tahun 1998-2003. Kemudian, dalam bidang politik ia pernah berkecimpung di partai politik PPP dan juga partai politik PKB. Di PPP ia pernah bergelut di majelis pertimbangan partai pada tahun 1985. Ketika partai politik PKB muncul ia pindah ke PKB, di mana ia pernah menjadi ketua Dewan Syuro partai PKB dan Deklarator partai politik PKB Kabupaten Kuningan. Namun, hanya satu periode kemudian ia mengundurkan diri. Ia masih aktif di NU dan terakhir menjabat sebagai Mustasyar Nahdlatul Ulama Kabupaten Kuningan Tahun 1998-2003.

Tahun 2003 menjadi akhir dari aktivitasnya baik dalam bidang politik maupun dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Hal ini dikarenakan ia memutuskan untuk lebih berkonsentrasi dalam mengurus pondok pesantren. Ini menunjukan bahwa meskipun aktivitas di luar pesantren sangat banyak, ia tetap memperhatikan putra didiknya (santri) dan mementingkan pesantren tanpa mengenal lelah.


Silsilah K.H Syarifuddin.

K.H Syarifuddin terlahir dari keluarga yang bernasab mulia. Nasabnya terhubung pada Syekh Syarif Hidayatullah yang biasa dikenal dengan nama Syekh Sunan Gunung Djati. Dari jalur ayahnya, K.H Muhammad Kholil nasabnya tersambung kepada K.H Thoyibbuddin. yang masyhur dengan sebutan Mbah Thoyibbudin di daerah Pangkalan Kabupaten Kuningan Jawa Barat. K.H Thoyibbudin sendiri merupakan adik misan dari istrinya K.H Hasan Maolani yang dikenal dengan sebutan Eyang Maolani atau Eyang Menado.

Dari garis keturunan ibunya K.H. Syarifuddin adalah putra dari Nyai Muthmainnah sedangkan Nyai Muthmainnah sendiri merupakan putra dari Eyang Idrus. Eyang Idrus adalah putra dari Eyang Absori, Eyang Absori adalah putra dari Eyang Maolani atau Eyang Menado dan Eyang Maolani garis keturunannya bersambung kepada Syekh Syarif Hidayatullah. Ia adalah keturunan ke 12 dari Syekh Syarif Hidayatullah. Jadi, berdasarkan wawancara dengan Kiyai Didin Misbahudin bahwa dari kedua orang tuanya, garis keturunan K.H. Sysrifuddin bersambung kepada Syekh Syarif Hidayatullah. Namun, apabila dilihat dari Eyang Maolani atau Eyang Menado K.H Syarifuddin adalah cucu ke empat.

Melihat silsilah K.H Syarifuddin, mereka adalah orang yang berjasa dalam menyebarkan agama Islam, seperti K.H Hasan Maolani atau Eyang Menado dan Mbah Thoyibbudin dan Syekh Syarif Hidayatullah. Oleh karena itu, tidak dapat dipungkiri bahwa K.H Syarifuddin memang berasal dari keluarga yang bernasab mulia.

Riwayat Pendidikan K.H Syarifuddin.

Manusia ketika lahir ke dunia ia tak berdaya. Ia juga tidak dilengkapi insting yang sempurna. Masa penyesuaian untuk belajar memerlukan waktu yang cukup lama, karena kemampuannya masih terbatas. Oleh karenanya, manusia perlu bantuan, perlu perlindungan, perlu perawatan dan juga perlu pendidikan. Dengan demikian, hakekat manusia dalam hubungannya dengan pendidikan ialah manusia sebagai makhluk yang perlu untuk dididik dan mendidik. Manusia sebagai makhluk yang dapat dididik dan mendidik. Oleh karena itu, pendidikan adalah upaya untuk melakukan proses humanisasi.


Begitu pun K.H Syarifuddin sejak kecil mendapat pendidikan dari orang tuanya yakni belajar kepada ayah dan ibunya terutama dalam pendidikan ilmu agama. Menginjak usia remaja, orang tua K.H Syarifuddin mengirimkannya ke beberapa pesantren untuk belajar dan memperdalam ilmu agama. Akan tetapi mengenai riwayat pendidikan K.H Syarifuddin terdapat beberapa versi.

Baca Juga :   Sejarah Desa Tenajar Kabupaten Indramayu (Sejarah, Asal Usul dan Profil)

Versi yang pertama menyebutkan bahwa Pada usia 13 tahun K.H Syarifuddin menimba ilmu di Pondok Pesantren yang diasuh oleh K.H Sanusi yang berada di Ciwaringin. Ia menuntut ilmu di Ciwaringin selama kurang lebih tiga tahun. Setelah menuntut ilmu di Ciwaringin, ia melanjutkan studinya ke pondok pesantren yang ada di Baribis daerah Majalengka selama satu tahun, kemudian ia melanjutkan kembali studinya ke pesantren Kiyai Syafi’i di daerah Kadipaten Majalengka, di sana ia menimba ilmu selama dua tahun. Sebelum ia kembali ke rumah, K.H Syarifuddin masih menyempatkan diri untuk tabaruk ke pesantren-pesantren lainnya, baik yang ada di wilayah Pasundan maupun Jawa.

Berbeda halnya dengan versi yang ke dua yang mengatakan bahwa, pada usia 14 tahun K.H Syarifuddin menimba ilmu di pesantren milik kakaknya yang berada di Cihideung Hilir Kabupaten Kuningan. Ia menimba ilmu di pondok kakaknya selama tiga tahun tepatnya hingga ia berusia 17 tahun, setelah menimba ilmu di pondok peantren milik kakaknya, ia melanjutkannya ke pondok pesantren Kiyai Syafi’i di mana ia hanya belajar selama satu tahun. Kemudian ia melanjutkan kembali studinya ke pondok pesantren yang diasuh oleh K.H Sanusi yang ada di Ciwaringin. Berdasarkan wawancara dengan kiyai Didin Misbahudin, K.H Syarifuddin mondok di Ciwaringin pada usia 18 sampai 20 tahun artinya ia mondok di Ciwaringin selama dua tahun. Namun meskipun hanya dengan waktu yang singkat, di pondok ini ia mendapat kepercayaan dari gurunya yakni K.H Sanusi untuk mengajarkan ilmu alat kepada santri-santri yang lain. Hal ini dikarenakan sejak kecil ia sudah belajar kepada orang tuanya terutama dalam hal ilmu agama dan ia berbakat dalam ilmu alatnya. Sehingga, dengan kecerdasan yang dimilikinya ia mendapat kepercayaan dari gurunya untuk menjadi mu’allim, bahkan gurunya mengharuskan para santrinya untuk mengaji kepada K.H Syarifuddin terebih dahulu sebelum kepada gurunya.

Dengan demikian, dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa ia menjadi tangan kanan gurunya hingga nama pesantren yang ia pimpin yakni “Raudhlatut Thalibin” adalah nama pemberian dari gurunya ketika ia menimba ilmu di sana. Pada usia 20 tahun K.H Syarifuddin mukim dan mulai berkiprah meneruskan pondok pesantren yang telah dirintis oleh ayahnya. Dengan bekal ilmu yang telah didapat ketika belajar di beberapa pondok pesantren akhirnya ia dapat mengharumkan pondok pesantren yang telah diamanahkan oleh ayahnya, sehingga pondok pesantren menjadi berkembang dan dikenal oleh masyarakat luas.

Wafatnya K.H Syarifuddin.

Pada hari Sabtu tanggal 13 Jumadil Awal 1436 H/10 Juni 2006 M. K.H Syarifuddin berpulang ke Rahmatullah. Hari itu adalah hari berduka khususnya bagi keluarga dan para santri, serta umumnya bagi warga masyarakat Desa Lengkong Kecamatan Garawangi Kabupaten Kuningan. Ia meninggal karena menderita penyakit diabetes. Dengan wafatnya K.H Syarifuddin, keluarga, para santri dan masyarakat Desa Lengkong merasa kehilangan. Hal itu, dikarenakan semasa hidupnya ia adalah sosok yang sangat perduli dan sabar baik kepada keluarga, para santri, dan masyarakat Desa Lengkong.

Baca Juga :   Sejarah Singkat Kota Makassar (Sejarah dan Profil)

Keperdulian K.H Syarifuddin terhadap masyarakat ini terlihat dari aktivitasnya. Sepanjang hidupnya ia sangat perduli terhadap lingkungan di sekitarnya terutama dalam hal pembangunan-pembangunan untuk sarana ibadah atau pun sarana umum. Keperduliannya terhadap bangunan-bangunan yang digunakan untuk beribadah ini terlihat pada tahun 1985-an ketika Mesjid Agung Karomat direhab total dengan diperlebar menjadi dua lantai dengan inisiator dari para tokoh-tokoh Desa Lengkong untuk memperluas Mesjid Lengkong dan K.H Syarifuddin menjadi ketua panitia pembangunan. Pada Tahun 1990-an mesjid dibangun lagi menjadi tiga lantai hingga sakarang ini.

Selain perduli pada pembanguan-pembangunan untuk beribadah, berdasarkan wawancara kepada Kiyai Didin Misbahudin bahwasanya K.H Syarifuddin ketika melihat jalan yang jelek ia selalu mendatangi kepala desa untuk konsultasi. Hal ini menjukan bahwa ia adalah sosok yang juga ramah lingkungan, sosok yang perduli terhadap lingkungan sekitar.

Melihat sosok K.H Syarifuddin yang semasa hidupnya banyak memberikan kontribusi bagi pondok dan juga masyarakat sekitar. Ini membuat semuanya merasakan kehilangan, sehingga ketika ia wafat ribuan orang menyaksikan dan ikut menghantarkannya kepada persinggahan terakhirnya. Bahkan selama empat puluh hari empat puluh malam maqbarahnya K.H Syarifuddin tidak pernah sepi dari orang-orang yang berziarah.

Karya-karya K.H Syarifuddin.

Semasa hidupnya K.H Syarifuddin banyak memberikan kontribusi berupa karya-karya ilmiah. Karya tersebut tentunya adalah tulisan tangannya sendiri seperti terjemahan Al-Jurmiyah, terjemah Uqudulujain mengenai hak suami istri, terjemah aqoid 50 seperti wujud, qidam, baqo dan seterusnya yang kemudian dijabarkan atau dijelaskan. Dan banyak juga, karyanya mengenai ilmu-ilmu yang lainnya seperti Ilmu Tafsir, Ilmu Shorof, Ilmu Bayan, Ilmu Retorika dan lainnya. Adapun kitab salinan karya K.H Syarifuddin yang mashur di antaranya adalah :

  1. Wadhifatul Yaumiyah
  2. Matan Al-Jurmiyah
  3. AL-Jawahirul Kalamiyah Fi Tarjamah Al-Jurmiyah
  4. Qotrotul Khorif Fi Qowa’id ‘ilal ‘Ilmu At-Tasrif
  5. Taqrirotul Bayan Fi Ilmil Bayan
  6. Khomsina A’qo’id
  7. Qowa’idul I‘lal
  8. Qotrrorud Dlo’if
  9. Dan lainnya.

Selain itu, kitab yang diampu oleh K.H Syarifuddin yaitu kitab mengenai ilmu fiqih, ilmu alat, ilmu tauhid dan ilmu lainnya, akan tetapi yang disampaikan kepada santrinya lebih kepada ilmu alatnya. Dikatakan demikian karena menurutnya apabila sudah mengusai Ilmu alat maka yang lain pun akan mengikuti ia akan mampu membaca kitab apapun baik itu kitab mengenai ilmu fiqih, tauhid dan ilmu lainnya. Di antara kitab yang diampu oleh K.H Syarifuddin di antaranya ialah Safinah, Riyadhul Badi’ah, Fathul qarib, Jurmiyah, Imriti, Alfiyah, Tijan Ad-Daruri, Kifayatul Awam, Ummul Barohin, Tafsir jalalin, Balagoh, Uqudul Juman, Sulam Munawroq, Ilmu Bayan, Tafsiran Jombang, dan lainnya. Kitab-kitab tersebut tentunya diajarkan kepada santri terutama ilmu alat, ilmu tauhid dan ilmu fiqih.


Kitab-kitab salinan karya K.H Syarifuddin hingga sekarang masih diajarkan di Pondok Pesantren Raudhlatut Thalibin Desa Lengkong Kabupaten Kuningan. Sehingga, meskipun ia sudah tiada akan tetapi jasanya masih tetap hidup bersama santri Raudhlatut Thalibin.

Related posts