Biografi Singkat KH. M. Sya’roni Ahmadi | Profil KH. M. Sya’roni Ahmadi | Pendidikan | Karya | Pemikiran |
Biografi Singkat KH. M. Sya’roni Ahmadi: Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran
KH. M. Sya‟roni Ahmadi lahir di Kabupaten Kudus pada waktu perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia, tepatnya beliau lahir ke dunia pada tanggal 17 Agustus 1931. Kyai Sya‟roni lahir dari pasangan Kyai Ahmadi dan Nyai Hj. Masnifah yang mempunyai delapan anak; Hj. Zuhairoh, Hj. Zulaifa, Hj. Zuhaida, Hj. Zuhaila, Hj. Zufariyah Noor, HM. Yusrul Hana, HM. Yusrul Falah dan Hj. Manunal Ahna.
Pengalaman Pendididkan dan Keagamaan
Kyai Sya‟roni adalah lulusan sekolah Ma‟ahid yang lama, ketika itu Ma‟ahid masih berjumlah 3 kelas. Di sekolah tersebut beliau belajar pada pagi hari, kalau siangnya menuntut ilmu di Muawanatul Muslimin. Dalam masa kecilnya, beliau tergolong anak yang mendapatkan banyak ujian, betapa tidak saat berumur 9 tahun ibunya meninggal dunia, kemudian pada saat berumur 13 tahun ayahnya menyusul sehingga beliau menjadi yatim piatu.
Di karenakan keadaan yang seperti itu beliau memutuskan untuk bekerja di Pasar Kliwon Kudus untuk memenuhi kebutuhan hidup. Setelah setahun lamanya merenung dan berfikir, beliau berfikir mau jadi apa nanti kalau begini terus? Sehingga beliau memutuskan untuk mengaji dan menghafal Al-Qur‟an di Pondoknya Kyai Arwani. Dalam mengaji beberapa kitab beliau berguru kepada Mbah Kyai Turaichan.Beliau mengaji dengan Kyai Turaichan kurang lebih sampai berumur 26 tahun, tempatnya dirumah beliau.Namun pada tahun 1955 Kyai Turaichan diangkat menjadi anggota konstituante oleh pemerintah di Jakarta atau saat in bisa dikatakan MPR, sehingga pengajian beliau pun berhenti.
Pendidikan formalnya, beliau dilalui dari madrasah Ma‟ahid (saat dipegang KH. Muchid dan masih beraliran ahlus sunnah wal jama‟ah annahdliyyah) dan mengaji dengan KH. R. Asnawi, KH. Arwani Amin, KH. Turaichan Adjhuri, KH. Turtmudzi, KH. Ma‟ruf Asnawi dan lain-lain.Ia menekuni kitab kuning mulai usia 14 tahun hingga umur 26 tahun. Setelah itu beliau pun tetap melanjutkan pengembaraan intelektualnya di kota Kudus sendiri, sampai pada sekitar usia 30 an beliau menikah.
Di Kabupaten Kudus figur KH. M. Sya‟roni Ahmadi di kenal sebagai tokoh yang memberikan banyak pencerahan bagi masyarakat dari semua lapisan elemen masyarakat, mulai tingkat-anak, remaja, dewasa dan tua tua, hal itu karena dalam usianya yang sudah mendekati 90 tahun beliau tetap mengajar secara rutin setiap satu pekan tiga kali, yakni dua kali di rumah beliau sendiri setiap malam senin dan malam kamis, tepatnya di Pagongan, Kajeksan, Kota, Kudus, serta satu kali di masjid Menara Kudus.
Di Kudus, Kyai Sya‟roni telah memberikan banyak hal. Tradisi santri yang sekarang ini lekat dengan Masyarakat Kudus rasanya tak bisa dilepaskan dari jasa beliau.setiap pengajiannya, Kyai Sya‟roni juga mampu men-setting iklim toleransi antara beberapa kelompok yang ada, sebut saja kaum Nahdliyyin dan Muhammadiyah.
Di sisi lain beliau juga aktif dalam banyak organisasi, di antaranya ikut terlibat dalam struktural pengurus di Jam‟iyyah Hujjaj Kudus, Yayasan Kesehatan Islam Kudus, kemudian beliau juga tercatat sebagai Nadhir Madrasah Qudsiyyah Kudus, dan sampai sekarang beliau juga masih menjabat menjadi salah satu mustasyar PBNU.
Karya dan Peninggalan
Kyai yang oleh santrinya disapa Mbah Roni ini, bisa dikategorikan menjadi kyai yang multi talent. Karena keilmuan yang beliau kuasai. Kyai Sya‟roni merupakan sosok yang bukan hanya pandai membaca kitab dan berpidato, namun beliau juga tergolong produktif dalam berkarya. Tercatat beliau kerap menulis, men-syarah dan men-terjemah beberapa kitab yang digunakan untuk mengajar. Kitab-kitab tersebut banyak dikonsumsi oleh Madrasah-Madrasah di kota Kudus. Adapun karya-karya tersebut adalah
- Al-Faraid al-Saniyah
Kitab ini banyak mengupas tentang doktrin ahlusunnah wal jama‟ah.Penyusunan kitab ini konon diilhami oleh kitab Bariqat alMuhammadiyah ‘ala Tariqat al-Ahmadiyah milik KH. Muhammadun Pondowan, Tayu, Pati yang saat itu rajin berpidato dan mengisi pengajian untuk menolak gerakan Muhammadiyah di kota Kudus. Kyai Sya‟roni menulis kitab ini selama kurang lebih dua tahun.
- Faidl al-Asany
Kitab ini terbagi ke dalam tiga juz dan banyak membahas qira‟at sab‟ah dari segi teoritis. Kitab ini merupakan salah satu syarah dari nadzm Syatibiyyah yang di karang oleh Abu al-Qasim ibnu Firruh al-Andalusi yang berjumlah 1173 bait.
Oleh karena banyaknya nadzam yang di syarahi, sebab itu pula kitab ini di bagi menjadi 3 jilid kitab, yang pada kitab jilid 1 itu membahas tentang pengenalan ilmu qira‟at dan sedikit kaidah usuli (kaidah umum), kemudian pada jilid ke dua melanjutkan tentang kaidah usuli dan pada jilid ketiga kemudian pembahasan di fokuskan dalam kajian kaidah farsyi (kaidah khusus).
- Al-Tashrih al-Yasir fi ‘ilmi al-Tafsir
Kitab ini merupakan sebuah kitab yang menjelaskan tentang hal-hal mendasar dalam penafsiran al-Qur‟an mulai dari pembacaan, lafal-lafalnya, arti-arti yang berhubungan dengan hukum dan sebagainya. Kitab setebal 79 halaman ini ditulis pada tahun 1972 M/1392 H. Untuk lebih jelasnya nantinya akan di paparkan lebih detail dalam bab 4 skripsi ini.
- Tarjamah Tashil at-Turuqat
Kitab ini ialah kitab terjamahan dari nadzm Waraqat yang mengkaji tentang Ushul Fiqih. Secara ukuran ini tidaklah begitu tebal, akan tetapi setidaknya kitab ini dapat sebagai bahan pondasi dasar bagi para calon fuqaha‟ untuk menyelami dunia Ushul Fiqih.
Secara ringkasnya kitab ini banyak mengupas tentang lafadz ‘amm dan khas, mujmal dan mubayyan, ijma’, qiyas dan sebagainya. Kitab ini disusun pada hari ahad siang tanggal 29 Juni 1986 M/21 Syawal 1406 H
- Qira’ah al-Ashriyyah
Kitab ini terdiri dari tiga juz. Penyusunan kitab ini dimaksudkan, sebagaimana penuturan Kyai Sya‟roni, untuk memudahkan para santri atau para siswa dalam mempelajari kitab kuning, hal ini di karenakan dalam kontenya kitab ini membahas tentang lafadz-lafadz bahasa Arab secara mendasar.
Selain kitab tersebut masih banyak lagi karya-karya Kyai Sya’roni yang sudah beredar di masyarakat secara umum.






