Biografi Immanuel Kant | Biografi Singkat Immanuel Kant | Profil Immanuel Kant | Pendidikan | Karya | Pemikiran | Baca Biografi Tokoh Lainnya di Wislah.com |
Biografi Singkat Immanuel Kant : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran
Immanuel Kant merupakan filsuf modern yang cukup menggelegar. Ia lahir di Konigsberg, Prusia Timur, Jerman. Ia dilahirkan pada tanggal 22 April 1724. Pemikiran dan karya-karyanya membawa revolusi yang begitu kuat hingga saat ini.
Pada saat Kant dilahirkan, Prusia Timur sedang memulihkan diri dari kehancuran yang disebabkan oleh perang dan wabah penyakit. Semua bencana itu telah mengurangi jumlah penduduk di sana hingga tinggal kurang dari separuhnya. Kant besar ditengah-tengah kemiskinan. Dia adalah anak keempat dalam keluarganya. Kant memiliki lima saudara perempuan dan satu orang saudara laki-laki. Ayah Kant yang berdarah Skotlandia itu adalah seorang tukang potong tali kulit yang cekatan. Satu kali dengan jenaka ia mengatakan “Kau tahu nak, aku tak pernah bisa mempertemukan kedua ujung tali ini”.
Namun demikian, sejak awal hidupnya, pengaruh yang paling besar bagi Kant adalah ibunya. Frau Kant adalah seorang perempuan Jerman yang tidak mendapatkan pendidikan formal, namun memiliki kecerdasan alamiah yang luar biasa. Kecerdasan inilah yang turun dalam diri Immanuel Kant atau Manelchen (Manny Kecil), ibunya biasa memanggil. Ibunya biasa mengajak anak lelakinya itu berjalan-jalan di wilayah perkampungan dan memberitahukan berbagai nama tanaman dan bunga padanya. Di malam hari, si ibu mengajak anaknya itu memandangi langit, menyebutkan nama bintang- bintang beserta konstelasinya. Dia adalah seorang perempuan saleh, dan sikapnya yang keras namun penuh dengan cinta itu telah berhasil mengasah karakter moral anaknya. Pengaruh yang begitu kuat atas fakta dan kewajiban moral ini tertanam sangat mengakar di sepanjang hidup Kant, hingga tampak begitu jelas di dalam filsafatnya. Kata-kata Kant yang paling terkenal, yang dinyatakan lebih dari lima puluh tahun kemudian, sangatlah berkaitan dengan masa kecil Kant bersama ibunya, “Langit yang dipenuhi cahaya bintang di atas sana dan hukum moral yang ada dalam diri kita, akan mengisi pikiran kita dengan kekaguman dan keterpesonaan yang selalu baru dan semakin baik, bila kita mau lebih sering dan terus-menerus merenunginya”.
Kant dibesarkan dalam suasana Pietist yang ketat, dan sejak usia delapan tahun hingga enam belas tahun ia belajar di sekolah Pietist lokal. Di sinilah kecerdasannya yang luar biasa dan kehausannya untuk terus-menerus belajar mulai terganggu akibat terlalu banyaknya nasihat-nasihat religius yang ia dengar. Kebenciannya atas ajaran resmi agama tetap tinggal dalam dirinya sampai akhir hidupnya (saat ia dewasa, Kant tidak pernah datang ke gereja). Meskipun demikian, banyak sekali ajaran Pietist yang tetap mewarnai hidup Kant, terutama yang berkaitan cara hidup sederhana yang berdasarkan prinsip moral yang ketat.
Pada usia 18 tahun Kant memasuki Universitas Konigsberd sebagai mahasiswa teologi. Pada mulanya Kant mendapatkan bantuan keuangan dari gereja Pietist lokal untuk kuliahnya, tetapi ia juga berusaha untuk membiayainya sendiri dengan memberikan les kepada teman-teman kuliahnya yang agak ketinggalan. Dengan segera Kant menjadi sangat bosan pada teologi dan mulai menunjukkan minatnya yang besar pada matematika dan fisika.
Pada tahun 1746, ketika Kant berusia 22 tahun, ayahnya meninggal dunia. Kant bersama lima orang adik perempuannya ditinggalkan dalam keadaan miskin. Adik perempuannya yang terkecil dipungut anak oleh sebuah keluarga Pietist, sedangkan adik-adiknya yang lain bekerja sebagai pelayan. Kant melamar bekerja di sebuah sekolah lokal, tapi lamarannya ditolak, hingga ia akhirnya terpaksa meninggalkan bangku kuliah sebelum sempat meraih gelar sarjana. Selama sembilan tahun berikutnya, Kant membiayai dirinya sendiri dengan memberikan les pada keluarga-keluarga kaya di sekitar wilayah pedesaan.
Ketika keluarga-keluarga kaya tersebut pergi ke pedesaan untuk berlibur pada musim panas, Kant diajak serta untuk menemani mereka. Kadang-kadang perjalanan ke tempat berlibur tersebut bisa berjarak puluhan mil dari Konigsberg. Perjalanan ini merupakan perjalanan terpanjang yang pernah ditempuh Kant sepanjang hidupnya.
Pada tahun 1755, ketika berusia 31 tahun, Kant berhasil meraih gelar sarjana dari Universitas Konigsberg berkat kebaikan hati seorang dermawan Pietist. Di usia tersebut bisa dikatakan terlambat untuk mendapatkan gelar kesarjanaan; dan seperti halnya yang akan kita lihat, Kant memang termasuk filsuf yang perkembangannya terlambat.
Setelah mendapatkan gelarnya, Kant memperoleh jabatan di universitas sebagai seorang privatdozent (dosen yunior). Jabatan ini dipegangnya selama lima belas tahun; sebuah jabatan akademis yang tidak mengenal bayaran yang pantas. Kant memberikan kuliah dalam bidang matemtika dan fisika, serta menerbitkan sejumlah risalah dalam berbagai persoalan ilmu pengetahuan. Di antara banyaknya bidang pengetahuan yang menjadi pusat perhatiannya adalah gunung, kodrat angin, antropologi, penyebab gempa bumi, api, usia bumi, bahkan juga planet-planet (yang semuanya diramalkannya pada suatu hari akan bisa dihuni, dan planet yang letaknya paling jauh dengan matahari akan mengembangkan spesies yang paling cerdas).
Tubuh Kant pendek, hingga ketika berbicara dibalik mimbar hanya kepalanya yang lebar dan berwig yang kelihatan di mata para pendengarnya. Tetapi, kepala yang sedang bicara di atas mimbar itu mengeluarkan berbagai gagasan, kebijaksanaan, dan pengetahuan yang mengesankan. Kuliah-kuliah yang diberikan Kant digemari banyak pendengarnya, hingga ia segera menjadi terkenal; dan hal ini didukung pula dengan mengalirnya berbagai risalah Kant tentang berbagai subjek ilmu pengetahuan. Kuliah musim panasnya tentang ilmu geografi selalu menarik banyak sekali peminat dari luar universitas.
Hal ini berlangsung selama lebih dari tiga puluh tahun, yang mengantarkan Kant menjadi guru akademisi pertama dalm bidang geografi. Meskipun Kant tidak pernah melihat gunung sebelumnya, bahkan ia tidak pernah melihat lautan (yang hanya berjarak dua puluh mil dari tempat tinggalnya). Penggambaran yang dilakukan begitu hidup dan cerdas, hingga mampu membuat pendengarnya membayangkan tempat-tempat yang sebelumnya telah dibaca Kant dengan penuh semangat, sambil menghabisakan malam-malam panjang di musim dingin, ketika kabut dari Baltik yang menggigilkan itu menyelimuti dan menggerayangi Konigsberg.
Selain itu, Kant juga mulai memberikan kuliah-kuliah dalam bidang filsafat. Dari caranya berbicara, orang segera melek betapa Kant telah melakukan perjalanan yang begitu jauh melalui wilayah-wilayah etika dan epistimologi jauh melalui wilayah-wilayah etika dan epistimologi yang penuh bahaya, bahkan melampaui Utima Thule (jarak terjauh) logika, hingga memasuki wilayah yng begitu jauh dari peradaban seperti metafisika (bahkan ia harus pula mengisahkan berbagai dongeng yang berhubungan dengan ilmu ini). Sementara itu, risalah-risalah mengenai berbagai hal lain yang lebih bisa diterima seperti peledak, pertahanan militer, dan teori tentang angkasa raya, tetap mengalir lancar dari mata penanya. Walau pun begitu, Kant tetap saja ditolak untuk menjadi profesor di Universitas Konigsberg. Ada dua kali Kant ditolak. Alasan penolakan akademisi di Konigsberg sangatlah angkuh. Dugaan lain mengatakan bahwa banyak profesor di sana yang tidak suka dengan Kant. Apa pun alasannya, Kant sangat menyukai Konigsberg. Kesimpulan ini bisa ditarik dari kenyataan bahwa ia pernah menolak tawaran dari Universitas Berlin untuk menjadi profesor dalam bidang puisi. Pada tahun 1770 kebijakan di Universitas Konigsberg melembek, dan Kant pun dingkat sebagai profesor dalam bidang logika dan metafisika.
Selama sebelas tahun Kant tidak mempublikasikan apa pun, namun ia tetap tekun menggarap filsafatnya. Selama itu pula ia menjalani kehidupan yang betul-betul sangat teratur. Keteratuan inilah yang membuat Kant menjadi sebuah legenda. Seperti yang diungkapkan oleh Heine, “Bangun pagi, minum kopi, menulis, memberikan kuliah, makan malam, jalan-jalan sore adalah kegiatan Kant yang masing-masing mempunyai jadwalnya sendiri. Dengan jaket abu-abu dan tongkat di tangannya, Immanuel Kant muncul dari balik pintu rumahnya dan berjalan ke arah sebuah jalan setapak yang dihiasi pohon- pohon linden (sejenis pohon dari genus Tilia). Inilah yang disebut dengan “The Philosopher’s Walk”, dan semua orang tahu persis bahwa saat itu jarum jam menunjukkan angka setengah empat tepat. Ia selalu menggunakan waktu tersebut untuk berjalan-jalan di musim apa pun. Ketika cuacanya sedang mendung, maka pelayannya yang tua, Lampe, akan tampak berjalan di belakang Kant dengan mengempit payung, sebagai sebuah lambang kebijaksanaan”.
Kant pernah pula mempertimbangkan untuk menikah. Bahkan hingga dua kali. Sayangnya Kant terlalu lama menimbang-nimbang. Saking lamanya pertimbangannya, akhirnya Kant harus gigit jari. Pada kedua peristiwa itu, tepat setelah ia selesai berpikir keras dan memutuskan untuk menikah, kedua calon pasangannya sudah lebih dulu meninggalkannya. Seorang menikah dengan laki-laki lain, sedangkan yang seorang lagi pindah ke kota lain. Kant bukanlah jenis orang yang biasa mengambil keputusan dengan tergesa-gesa. Tidak heran apabila kekagumannya pada gagasan-gagasan romantik Rousseau pun tidak melahirkan teori tersendiri.
Pada tanggal 8 Oktober 1803, Immanuel Kant jatuh sakit untuk pertama kalinya di sepanjang hidupnya. Ia mengalami srok ringan setelah terlalu banyak makan keju Inggris kegemarannya. Setelah empat bulan keadaannya menjadi semakin lemah dan akhirnya ia meninggal dunia pada tanggal 12 februari 1804. Kata-kata terakhir yang diucapkannya adalah Es ist gut (It is good).
Latar Belakang Pemikiran Filosofis Kant
Dalam sejarah filsafat, pemikiran tajam seorang filsuf kerap kali muncul sebagai akibat atau suasana pemikiran filosofis zamannya. Berikut adalah beberapa hal yang melatar belakangi pemikiran filosofis Immanuel Kant.
- Immanuel Kant dan Zaman Pencerahan
Pada abad ke-18 Eropa Barat mengalami suatu zaman baru, yang disebut “zaman pencerahan” (bhs. Jerman: Aufklarung; bhs. Inggris: Enlightenment). Nama ini diberikan pada zaman ini karena manusia mulai mencari cahaya baru di dalam rasionalnya sendiri. Menurut Kant, dengan pencerahan dimaksudkan bahwa orang keluar dari keadaan tidak akil-balik, yang dengannya ia sendiri bersalah. Kesalahan itu terletak dalam keengganan atau ketidakmauan manusia untuk memanfaatkan rasionya; orang lebih suka berputat pada otoritas diluar dirinya (wahyu Ilahi, nasehat orang terkenal, ajaran Gereja atau negara). Berhadapan dengan sikap ini, abad pencerahan memiliki semboyan “Beranilah berpikir sendiri”.
Kepercayaan manusia akan akal budinya sendiri dalam abad ke 18 ini amat dimajukan dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan saat itu. Misalnya, Isaac Newton (1643-1727) yang merpakan orang pertama yang memberi dasar pada fisika klasik dengan karyanya “Ilmu Alam Berdasarkan Prinsip-prinsip Matematisnya”. Sejak saat itu ilmu pengetahuan melaju cepat dan semakin cepat; hampir setiap tahun ditemukan penemuan baru.
Semua gerakan pencerahan mulai berkembang di Inggris. Di sana suasana politik mengizinkan pemikiran bebas, sebab sejak tahun 1693 undang-undang Kerajaan nggris menjamin kebebasan mencetak. Dari Inggris gerakan ini menyebar ke Eropa Daratan. Di Prancis gerakan ini bahkan berjalan amat radikal. Di sini pencerahan secara tidak langsung mempersiapkan jalan bagi meletusnya revolusi Prancis yang ditandai dengan penyerbuan penjara Bastille pada tahun 1789. Berbeda dengan Jerman, di sini pencerahan berjalan dengan lebih tenang, kurang menampakkan pertentangan dengan gereja maupun negara. Di sini pusat pemikirannya lebih tertuju kepada etika dan teologi.
Sebagai seorang filsuf yang hidup pada puncak perkembangan pencerahan Jerman, Kant juga terpengaruh dengan suasana zamannya. Pengaruh itu khususnya nampak dalam epistimologi, teologi, dan etikanya. Layaknya seperti Newton yang berusaha mencari prinsip-prinsip dalam anorganik. Dia pun mencari prinsip-prinsip yang ada dalam tingkah laku dan kecenderungan manusia. Sedangkan Pietisme yang ia kenal sejak zaman kanak-kanak, menampakkan pengaruh ganda pada dirinya. Di satu pihak Kant tidak mau beribadah di gereja, di lain pihak keyakinan kaum Pietis bahwa tingkah laku saleh lebih penting daripada ajaran teologis tampak dalam penghayatan hidup dirinya sehari-hari.
Selanjutnya keyakinan tadi tampak lagi dalam pandangan Kant bahwa Tuhan, kehendak bebas, dan kebakaan jiwa tidak bisa dibuktikan secara teoritis, melainkan harus bisa diterima secara postulat dari budi praktis (yakni sebagai Idea) yang menyangkut kewajiban kita menaati hukum moral.
- Leibniz dan Hume
Gottfriend Wilhelm Leibniz dan David Hume mempunyai pengaruh besar terhadap epistimologi Kant. Ia sendiri yang mengatakan bahwa Hume membangunkannya dari “tidur dogmatisnya”. Laibniz tampil sebagai tokoh penting dari aliran rasionalisme, sedangkan Hume muncul sebagai wakil dari aliran empirisme. Rasionalisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa sumber pengetahuan yang sejati adalah akal budi (rasio). Pengalaman hanya dapat dipakai untuk meneguhkan pengetahuan yang telah di dapatkan akal budi, sedangkan akal budi sendiri tidak memerlukan pengalaman. Akal budi dapat menurunkan kebenaran-kebenaran dari dirinya sendiri, yakni berdasakan azaz-azaz yang pertama dan pasti. Metode kerjanya bersifat deduktif. Sedangkan empirisme berpendapat bahwa pengalamanlah yang menjadi sumber utama pengetahuan, baik pengalaman lahiriah maupun pengalaman batiniah. Akal budi bukan sumber pengetahuan, tetapi ia bertugas untuk mengolah bahan- bahan yang diperoleh dari pengalaman menjadi pengetahuan. Metodenya bersifat induktif.
Seperti halnya Rene Descartes (1596-1650) dan Baruch Spinoza (1632- 1677), Leibniz memulai filsafatnya atas pengertian mengenai “sudstansi”. Akan tetapi berbeda dengan mereka, Leibniz mengatakan bahwa terdapat banyak sekali substansi, jumlahnya tidak terhingga. Tiap substansi dinamainya monade. Monade itu bukanlah atom, melainkan suatu titik yang bersifat murni metafisik, tanpa bentuk dan keluasan spesial. Setiap monade berdiri sendiri dan mewujudkan suatu keseluruhan yang tertutup. Monade- monade tersebut kata menurut Leibniz tidak berjendela, tempat segala sesuatu bisa keluar-masuk. Kendati demikian tiap monade dapat aktif bekerja. Kerjanya bersifat imanen, artinya ia mengungkapkan diri semata- mata di dalam dan oleh dirinya sendir. Kerja di dalam dan oleh dirinya sendiri itu terdiri dari mengamati dan menginginkan.
Ajaran Leibniz mengenai monade ini diterapkannya juga pada ajrn mengenai proses pengetahuan manusia. Menurut Leibniz, pengetahuan manusia mengenai alam semesta sesungguhnya telh ada di dalam dirinya sendiri sebagai bawaan. Pada mulanya pengetahuan ini berbentuk gagasan atau idea yang belum sadar, tetapi kemudian ini dijadikan sadar oleh karya imanen jiwa manusia yang meruapakan sebuah monade inti.
Oleh karena itu, bagi Leibniz pengetahuan manusia itu diperkembangkan lebih lanjut oleh pengalaman. Akan tetapi pengalaman itu sendiri bukanlah sumber pengetahuan, melainkan tingkat perdana pengetahuan akali. Di dalam pengetahuan dalam bentuk pengertian, rasio atau daya berpikir sendirilah yang lebih berusaha untuk menaikkan isi pengetahuan, dari pengalaman hingga menjadi pengetahuan yang jelas dan disadari. Sifat pengetahuan ini adalah umum dan mutlak perlu, justru karena tidak berasal dari pengalaman seseorang. Darisinilah sangat terlihat bahwa Leibniz merupakan penganut aliran rasionalisme.
Sir David Hume adalah filsuf Skotlandia dan penganut aliran empirisme, berbeda dan bertentangan pedapat dengan Leibniz. Hume menolak bahwa manusia memiliki pengetahuan bawaan. Bagi Hume sumber pengetahuan itu adalah pengalaman. Dari pengalaman diperoleh dua hal, yaitu kesan-kesan dan pengertian-pengertian idea-idea. Kesan-kesan adalah apa yang diperoleh secara langsung dari pengalaman, baik pengalaman lahiriah maupun pengalaman batiniah. Yang dimaksud idea adalah apa yang diperoleh secara tidak langsung dari penglaman, lewat refleksi dalam kesadaran. Idea-idea ini kurang jelas dan kurang hidup dibandingkan kesan- kesan. Menurutnya, sebagian besar umat manusia mendasarkan pengetahuannya atas dasar pengertian atau idea. Akibatnya, manusia seringkali ragu-ragu dan merasa tidak pasti sebab sifat dari idea-idea itu kurang jelas. Bagi Hume, kita harus kembali kepada sumber pengetahuan sejati agar keraguan itu hilang. Maksudnya, kita harus mendasarkan pengetahuan kita atas kesan-kesan yang diterima langsung dari pengalaman. Baru dengan demikian kita punya keyakinan yang dapat diandalkan. Keyakinan ini dinamakannya kepercayaan. Kita percaya bahwa di dalam kesan-kesan itu, pngalaman kita bukan lagi hal yang menyesatkan atau salah, melainkan suatu kepastian.
Karya Karya Immanuel Kant
Karya-karya Kant memang terlihat istimewa untuk dapat dipahami. Namun Karya Kant memang terlihat agak sulit untuk dipahami. Namun demikian tidak banyak penulis yang menguraikan dan menulis karya Kant dalam versi bahasa Indonesia yang telah berhasil diterjemahkan.
Adapun beberapa karya Kant yang penting adalah Kritik atas Akal Budi Murni (The Critique of Pure Reason, 1781), yang kemudian di revisi pada tahun 1787; Pengantar Metafisika Masa Depan (Prolegomena toany Future Metaphysics,1783); Pendasaran Metafisika Kesusilaan (Grundlegung zur praktischen Vernunft,1785); Kritik atas Akal Budi Praktis (Kritik der Praktisvhen Vernunt, 1788); Kritik atas Daya Pertimbangan (Kritik der Urteilskraft, 1790); Pembahasan Mengenai Teologi Tuhan (Critique of Judgment, 1790); Agama di dalam Batas Budi Melulu (Die Religion innerhalb den Grenzen der blossen Vernunft, 1793); Menuju Perdamaian Abadi (Zum ewigen Frieden, 1795); Metafisika Kesusilaan (Mataphysik der Sitten, 1797); Dan terakhir Antropologi dalam Sudut Pandang Pragmatis (Anthropologie in pragmatischer Hinsicht, 1797).
Pemikiran Kant dalam Tiga Karya Besarnya
Pada tahun 1781, Kant menerbitkan Critique of Pure Reason (Kritik Atas Rasio Murni) yang secara umum dianggap sebagai karya besarnya. Ia setuju dengan Hume dan para empirisme lain tentang tidak adanya gagasan-gagasan yang sudah ada dari “sananya”; tetapi ia menolak pernyataan Hume bahwa segala pengetahuan berasal dari pengalaman. Kaum empiris berpendapat bahwa semua pengetahuan harus bersesuaian dengan pengalaman, dan dengan cemerlang Kant membalikkan pernyataan ini dengan menyatkan bahwa Semua pengelaman harus bersesuaian dengan pengetahuan.
Bagi Kant ruang dan waktu merupakan sesuatu yang subjektif. Ruang dan waktu itu bisa diibaratkan seperti kaca mata yang tidak bisa berpindah-pindah. Tanpa ruang dan waktu, kita tidak bisa membuat pengalaman kita masuk akal. Tetapi unsur-unsur subjektif yang membantu kita memahami pengalaman bukan hanya ruang dan waktu belaka. Kant menjelaskna adanya berbagai “kategori” yang kita mengerti melalui pengalaman kita tanpa bergantung pada pengalaman. Kategori-kategori ini mencangkup berbagai hal seperti kualitas (quality), kuantitas (quantity) dan hubungan (relation). Semua ini adalah kaca mata yang tidak bisa dipindahkan. Kita tidak bisa memandang dunia dengan cara lain selain menggunakan kategori kualitas, kuantitas tersebut. Meskipun begitu, melalui kaca mata yang tidak bisa digerakkan ini, kita hanya bisa menyaksikan fenomenna dunia kita sama sekali tidak akan mampu mempersoalkan noumena, yakni sesuatu yang merupakan realitas sebenarnya yang mendukung atau membuat munculnya fenomena.
Setelah menerbitkan Critique of Pure Reason-nya, Kant tetap melanjutkan hidupnya yang penuh dengan rutinitas yang membosankan itu. Tentu saja ia masih sempat bersosialisasi, walaupun kegiatan ini jarang ia lakukan. Ia masih menjaga hubungan baik dengan para mahasiswa yang cerdas, juga dengan sejumlah koleganya. Namun, ia tidak pernah benar-benar akrab dengan orang yang ia kenal.
Tujuh tahun setelah menerbitkan karyanya yang berjudul Critique of Pure Reason tersebut, Kant menerbitkan karya lainya yang berjudul Critique of Practical Reason (Kritik Atas Akal Budi Praktis). Lebih pendek dari karya sebelumnya. Di dalam karya ini Kant kembali mempermasalhkan Tuhan yang sebelumnya dianggap tidak bisa dibicarakan karena tidak tergolong dalam kategori-kategori. Buku ini dimaksudkan sebagai bagian etika dari sistem Kant. Di sini Kant tidak lagi mencari dasar-dasar metafisika bagi persepsi, namun mencari dasar-dasar tersebut bagi moralitas. Apa yang Kant cari adalah hukum moral yang fundamental. Kant yakin tentang kemungkinan adanya sebuah hukum dasar, tetapi dia melakukan hal tersebut dengan menyingkirkan sesuatu yang dianggap oleh sebagian orang besar manusia sebagai pertanyaan utama. Dalam hal ini, kebaikan (good) dan kejahatan (evil) bukanlah hal yang dipermasalahkan Kant. Di karya ini Kant juga mengatakan bahwa “Banyak orang cerdas ternyata begitu yakin bahwa kebahagiaan merupakan suatu hukum praktis yang universal”. Bagi Kant, kebagiaan sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan moralitas.
Dia tidaklah berupaya untuk menemukan sejumlah esensi dari seluruh penafsiran yang saling berbeda-beda atas konsep moral yang mendasar ini. Kant menekankan bahwa dirinya mencari “landasan” moralitas dan bukanya moralitas tersebut. Seperti halnya yang terjadi pada penalaran sejati yang ia utarakan sebelumnya, maka dalam penalaran praktis berlaku landasan yang sama: yang diperlukan adalah serangkaian prinsipp apriori semacam kategori.
Pada kenyataannya, akhirnya Kant menyimpulkan bahwa hanya adanya sebuah prinsip tunggal: yakni “imperatif kategoris”-nya atau biasa disebut dengan katagori yang tidak bisa dihindari. Inilah tindakan apriori bagi semua tindakan moral, yakni premis metafisika. Dengan cara yang analog dengan kategori-kategori dalam penalaran sejti, imperatif kategoris ini memberikan kerangka kerja bagi pemikiran etis (penalaran praktis) kita, tanp memberikannya isi moral tertentu. Imperatif kategoris Kant menyatakan: Bertindaklah sesuai dengan sebuah prinsip yang pada saat bersamaan prinsip tersebut Anda kehendaki akan menjadi hukum universal.
Prinsip ini membawa Kant pada suatu keyakinan bahwa kita seyogyanya bertindak sesuai dengan kewajiban-kewajiban kita, bukanya menurut perasaan-perasaan kita. Kant menyatakan bahwa nilai moral dari sesuatu tindakan selayaknya tidak ditentukan menurut akibat-akibat ditimbulkannya. Namun hanya didasarkan pada sejauh mana tindakan itu selaras dengan kewajiban yang melatarbelakanginya.
Sistem etika Kant menggiringnya untuk percaya bahwa kita seharusnya sama sekali tidak boleh berbohong, tidak perduli apapun akibatnya. Ia betul- betul sadar konsekuensi dari argumen ini. Menurut Immanuel berdusta itu memang keliru. “Membohongi seorang pembunuh yang sedang mengejar- ngejar teman yang sedang numpang di rumah Anda adalah kejahatan”.
Apakah kita harus percaya bila saja Kant memiliki seorang teman Yahudi, ia tidak akan segan-segan melaporkannya pada Nazi? Tentu saja tidak, segala sesatu yang kita ketahui tentang karakter Kant hampir pasti menunjukkan bila ia akan melakukan kewajibannya. Kant dengan kecerdasannya akan mengatakan bahwa yang menjadi kewajibannya ialah untuk tidak menyerahkan temannya. Namun pertanyaan tentang jangan pernah berbohong dalam keadaan apapun, memunculkan sebuah cacat yang sangat kelihatan dalam sistem Kant.
Namun demikian, dalam persoalan-persoalan yang lebih serius Kant tetap tidak tergoyahkan. Ia sungguh anti membaca novel. Cerita khayalan ini membuat pikiran menjadi terpecah-pecah dan melemahkan ingatan. Maka sebuah keniscayaan apabila Kant mampu mengingat semua buku-buku yang pernah ia baca. Dalam hal ini Kant mengabaikan fakta bahwa ketika ia membaca novel karya Rousseau Heloise yang ia lakukan tanpa membuat pikirannya meledak amburadul atau memperlemah ingatannya.
Pada tahun 1790, keetika Kant berusia 58 tahun, ia menerbitkan karya spektakulernya yang ketiga dengan judul Critique of Judgment. Walau pun dari judulnya karya tersebut hanya membahas keputusan-keputusan estetis, di dalamnya juga di bahas mengenai teologi. Kant berdalih bahwa keberadaan seni mensyaratkanadanya seniman, dan melalui keindahan dunialah manusia bisa mengenali pencipta yang mulia. Seperti yang telah ia suratkan sebelumnya, manusia mengenali karya-karya Tuhan pada bintang-bintang yang ada di langit maupun dari suara hati kita untuk melakukan kebaikan.
Sama seperti halnya dengan teori persepsi dan teori etikanya, Immanuel Kant Kant berusaha untuk memberikan dasar metafisika bagi teori tentang keputusan estetik. Dia berharap untuk menciptakan suatu prinsip apriori yang membuat pengertian akan keindahan menjadi mungkin. Dalam hal ini Kant kembali membangun fondasi yang rapuh.
Immanuel Kant bersikukuh bahwa biarpun kita tidak dapat membuktikan bahwa dunia mempunyai suatu tujuan, kita harus menganggap seolah-olah mempunyai tujuan. Immanuel Kant sendiri tidak membantah adanya aspek- aspek dunia yang jahat, buruk. Ia beranggapan bahwa jumlah hal-hal yang negatif jauh lebih sedikit ketimbang dengan hal-hal yang menjadi kebalikannya.






