Alam Semesta Sebagai Tanda Kekuaasaan Allah SWT, Surat Al Anbiya Ayat 30, Surat Al A’Raf Ayat 54 dan Nilai (Rangkuman Materi PAI SMP Kelas 7 Bab VI) Kurikulum Merdeka

  • Whatsapp
Alam Semesta Sebagai Tanda Kekuaasaan Allah SWT, Surat Al Anbiya Ayat 30, Surat Al A’Raf Ayat 54 dan Nilai (Rangkuman Materi PAI SMP Kelas 7 Bab VI) Kurikulum Merdeka

Rangkuman Materi PAI SMP Kelas 7 Bab VI | Kurikulum Merdeka | Surat Al Anbiya Ayat 30 | Alam Semesta Sebagai Tanda Kekuaasaan Allah SWT | Surat Al Anbiya Ayat 30 | Bacaan Surat Al A’raf Ayat 54 | Nilai-Nilai yang Dapat Dipetik pada Penciptaan dan Pengaturan Alam Semesta |

Surat Al Anbiya Ayat 30

Bacaan Surat Al Anbiya Ayat 30

اَوَلَمْ يَرَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنٰهُمَاۗ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ

Arti Perkata (Mufrodat) Surat Al Anbiya Ayat 30

dan Kami jadikanوَجَعَلۡنَاmelihatيَرَ
airٱلۡمَآءِkafir/ingkarكَفَرُوٓاْ
yang hidupحَيٍّۚ  berpaduرَتۡقٗا
mereka berimanيُؤۡمِنُونَlalu Kami belah/pisahkan keduanyaفَفَتَقۡنَٰهُمَاۖ

Terjemahan Surat Al Anbiya Ayat 30

Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulunya menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?

Isi Kandungan Surat Al Anbiya Ayat 30

Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang musyrik Mekah tidak memperhatikan alam ini. Peristiwa di dalamnya pun tidak pernah mereka perhatikan. Padahal, peristiwa di alam semesta ini memberikan bukti bahwa Allah Swt itu ada, begitu pula penciptaan, pengaturan, dan kekuasaan-Nya.

Baca Juga :   Download Buku Guru PPKN SMP / MTS Kelas 7, 8, 9 Kurikulum Merdeka


Ayat ini menjelaskan pula bahwa langit dan bumi pada awalnya bersatu. Allah Swt memisahkan keduanya.

Teori sains menjelaskan bahwa persitiwa ini diungkap dalam teori Big Bang. Isi dari teori ini adalah gambaran pecahnya alam semesta dengan dentuman yang dahsyat. Semua peristiwa ini terjadi atas kehendak dan kekuasaan-Nya.

Planet bumi merupakan tempat hidup berbagai makhluk hidup. Ia menjadi bagian dari tata surya yang mengelilingi matahari. Awalnya bumi panas karena perputaran yang terus-menerus, kemudian dalam waktu yang lama menjadi dingin dan berembun. Embun yang muncul seiring waktu menjadi air. Sumber kehidupan berasal dari air tersebut.

Kehidupan berawal dari air, terutama pada air laut. Teori ini menjelaskan bahwa rantai kimia dimulai dari air laut. Penjelasan lain mengemukakan bahwa semua benda hidup khususnya hewan dan manusia berasal dari sperma. Aneka ragam hewan berasal dari air tersebut.

Air menjadi bagian terpenting dalam kehidupan. Tubuh makhluk hidup sebagian besarnya terdiri atas air. Hampir 70% tubuh manusia adalah air. Apabila 20% persediaan air dalam tubuhnya yang tersisa, manusia tidak akan hidup bertahan lama. Tanpa makan, manusia dapat bertahan hidup selama 60 hari. Namun, manusia akan cepat mati apabila dalam waktu 3-10 hari tanpa minum air. Air menjadi bahan utama dalam proses biologis pembentukan darah, limpa, kencing, susu, dan semua organ yang ada pada manusia.

Surat Al A’raf Ayat 54

Bacaan Surat Al A’raf Ayat 54

اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهٗ حَثِيْثًاۙ وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُوْمَ مُسَخَّرٰتٍۢ بِاَمْرِهٖٓ ۙاَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْاَمْرُۗ تَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ




Arti Perkata (Mufrodat) Surat Al A’raf Ayat 54

mengikutinyaيَطۡلُبُهُtelah menciptakanخَلَقَ
dengan cepatحَثِيثٗاlangit(jamak)ٱلسَّمَٰوَٰتِ
dan matahariوَٱلشَّمۡسَdan bumiوَٱلۡأَرۡضَ
dan bulanوَٱلۡقَمَرَenamسِتَّةِ
dan bintangوَٱلنُّجُومَhari/masaأَيَّامٖ
tunduk (menjalani kewajiban)مُسَخَّرَٰتِDia menujuٱسۡتَوَىٰ
penciptaanٱلۡخَلۡقُArasyٱلۡعَرۡشِۖ
dan perintah/pengurusanوَٱلۡأَمۡرُۗDia menutupيُغۡشِي
Maha Suci/Berkahتَبَارَكَmalamٱلَّيۡلَ
semesta alamٱلۡعَٰلَمِينَsiangٱلنَّهَارَ

Terjemahan Surat Al A’raf Ayat 54

Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam.

Baca Juga :   Al-Asmaul Husna (al-‘Alim, al-Khabir, al-Sami’ dan al-Basir), Pengertian dan Prilaku Mengamalkan (Rangkuman Materi PAI SMP Kelas 7 Bab II) Kurikulum Merdeka

Isi Kandungan Surat Al A’raf Ayat 54

Dari ayat-ayat tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Penciptaan bumi yang berasal dari gumpalan-gumpalan yang kelihatan seperti asap adalah dua masa dan penciptaan tanah, bukit-bukit, gunung-gunung serta bermacam-macam tumbuh-tumbuhan dan bintang dalam dua masa pula. Dengan demikian sempurnalah penciptaan bumi dan segala isinya dalam empat masa.
  • Penciptaan langit yang berasal dari gumpalan-gumpalan kabut itu dengan segala isinya dalam dua masa pula. Adapun bagaimana prosesnya kejadian langit dan bumi. Al-Qur’an tidak menjelaskannya secara terperinci dan kewajiban para ahli untuk menyelidikinya dan mengetahui waktu atau masa yang diperlukan untuk masing-masing tahap dari tahap-tahap kejadiannya.

Kemudian setelah selesai penciptaan langit dan bumi, Allah bersemayam di atas Arsy mengurus dan mengatur semua urusan yang berhubungan dengan langit dan bumi sesuai dengan ilmu dan kebijaksanaan-Nya. Tentang bagaimana Allah bersemayam di atas Arsy-Nya dan bagaimana Dia mengatur semesta alam ini tidaklah dapat disamakan atau digambarkan seperti bersemayamnya seorang raja di atas singgasananya karena Allah tidak boleh dimisalkan atau disamakan dengan makhluk-Nya.

Namun hal ini harus dipercayai dan diimani dan hanya Allah sendiri Yang Mengetahui bagaimana hakikatnya. Para sahabat Nabi tidak ada yang merasa ragu dalam hatinya mengenai bersemayam-Nya Allah di atas Arsy. Mereka meyakini hal itu dan beriman kepada-Nya tanpa mengetahui bagaimana gambarannya. Demikianlah Imam Malik berkata ketika ditanyakan kepadanya masalah bersemayamnya Allah di atas Arsy sebagai berikut, “Bersemayamnya Allah adalah suatu hal yang tidak asing lagi, tetapi bagaimana caranya tidak dapat dipikirkan.”

Baca Juga :   Kebinekaan Indonesia, Keragaman Gender, Keragaman Suku, Keragaman Budaya, Keragaman Budaya, Keragaman Agama, Keragaman Ras dan Antar Golongan dan Menjaga Nilai Penting (Rangkuman Materi PPKn SMP/MTS Kelas 7 Bab IV) Kurikulum Merdeka

Kerasulan itu adalah dari Allah dan kewajiban Rasul ialah menyampaikan, maka kewajiban manusia ialah membenarkannya. Demikianlah pendapat dan pendirian ulama-ulama dari dahulu sampai sekarang, maka tidak wajar manusia memberanikan diri untuk menggambarkan bersemayam-Nya Allah di atas Arsy-Nya. Na’im bin Ahmad guru Imam al-Bukhari berkata tantang hal itu, “Orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya adalah kafir, orang yang mengingkari sifat Allah sebagaimana diterangkan-Nya (dalam kitab-Nya) adalah kafir, dan tiadalah dalam sifat Allah yang diterangkan-Nya atau diterangkan Rasul-Nya sesuatu penyerupaan.

Maka barang siapa yang menetapkan hal-hal yang diterima dari hadis yang sahih sesuai dengan keagungan Allah dan meniadakan sifat-sifat kekurangan bagi-Nya, maka sesungguhnya dia telah menempuh jalan yang benar. Selanjutnya Allah menerangkan bahwa Dialah yang menutupi siang dan malam sehingga hilanglah cahaya matahari di permukaan bumi dan hal ini berlaku sangat cepat. Maksudnya malam itu selalu mengejar cahaya matahari telah tertutup terjadilah malam dan di tempat yang belum terkejar oleh malam, matahari tetap meneranginya dan di sana tetaplah siang. Demikianlah seterusnya pergantian siang dengan malam atau pergantian malam dengan siang.

Nilai-Nilai yang Dapat Dipetik pada Penciptaan dan Pengaturan Alam Semesta

  • Kecerdasan intelektual yang diberikan oleh-Nya mengantarkan manusia untuk berfikir dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Kemampuan ini yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.
  • Aspek spiritual mengantarkan pada keyakinan kepada Allah Swt yang menciptakan segala sesuatu dengan teratur.
  • Menguatkan keyakinan bahwa Al-Qur’an memiliki kemukjizatan dalam dasar-dasar teori sains tentang alam semesta.
  • Keteraturan alam semesta menjadi pendorong agar kehidupan manusia harus teratur.
  • Dorongan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.
  • Merawat dan menjaga lingkungan sebagai bagian tak terpisahkan dari ketakwaan.
  • Mendorong manusia untuk bersyukur atas seluruh apa yang diciptakan oleh-Nya.
  • Mendorong manusia untuk cinta tanah air.
  • Manusia terdorong untuk memecahkan permasalahan yang terjadi di lingkungan sekaligus menjadi keutamaan bagi dirinya.
  • Keteraturan alam semesta mendorong manusia untuk mengelola lingkungan dengan berkelanjutan.



Related posts