Tiga Monumen Ibukota

Tiga Monumen Ibukota

Wislahcom | Referensi | : Sekitar dua minggu lalu, saya diwawancara oleh Pustekkom Kemdikbud untuk kegiatan radio edukasi. Temanya adalah seputar monumen atau tugu-tugu di Jakarta, wabil khusus Monumen Selamat Datang, Monumen Pembebasan Irian Barat dan Monumen Dirgantara.

Buat saya, monumen atau tugu-tugu yang dibangun pada era Presiden Sukarno merupakan sebuah permainan simbol dari Sukarno untuk menunjukkan identitas nasional sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Bahwa kita mampu membangun titik titik kota yang baru, meninggalkan titik titik kota tinggalan kolonial.

Hal lain yang cukup penting adalah bahwa dalam pembangunan tugu atau patung tersebut, Bung Karno terkadang menjadi model dari tugu yang kelak akan didirikan.


Ketika ia ingin mendirikan tugu selamat datang di bundaran HI pada 1961 untuk menyambut Asian Games 1962, BK memperagakan model muda-mudi yang sedang menyambut tamu dengan penuh keramahan dan kehangatan. Simbol bangsa yang membawa pesan perdamaian.

Ketika ia ingin mendirikan tugu pembebasan Irian Barat lapangan banteng pada tahun 1962, BK mengangkat kedua tangannya dan memperagakan gerakan memutus tali yang tersambung. Patung yang diresmikan pada 17 Agustus 1963 tersebut adalah simbol dari Irian Barat yang terlepas dari cengkeraman kolonialisme belanda.

Ketika mendirikan tugu pancoran atau monumen dirgantara ditahun 1964, BK juga mencontohkan manusia indonesia yang menjangkau langit. Simbol keunggulan dirgantara Indonesia. Penekanan dari desain patung tersebut berarti bahwa untuk mencapai keperkasaan, bangsa Indonesia mengandalkan sifat-sifat jujur, berani dan bersemangat.


Apa yang diperagakan BK kemudian ditangkap Henk Ngantung dalam sketsanya dan diwujudkan oleh Edhi Sunarso sebagai pematung kesayangan Bung Karno. Dan jadilah ketiga monumen atau tugu pemanis kota jakarta tersebut.

Penentuan lokasi patung adalah juga tidaklah sembarangan, melainkan sebuah bagian dari perencanaan tata kota yang komplit.

Monumen Irian Barat di Lapangan Banteng menyambut tamu yang baru datang dari Bandara Kemayoran.

Monumen Selamat Datang menyambut tamu keluar Bandara Kemayoran ketika memasuki lokasi mereka menginap di Hotel Indonesia serta menuju tempat pertandingan di Senayan.

Monumen Dirgantara tugu pancoran juga dibangun untuk menyambut tamu jauh yang baru turun di bandara Halim Perdanakusuma. Dan letaknya di depan Mabes AURI, menunjukkan bahwa ketika itu Indonesia memiliki kekuatan udara salah satu dari lima besar Asia.

BK dan tugu-tugu tersebut adalah sebuah simbol dari kelahiran era baru. BK simbol manusia pembebas dari kolonialisme, dan tugu-tugu tersebut menandakan titik-titik baru dari perubahan. Dan BK memikul tanggung jawab penuh atas bangunan yang sudah dirancangnya.

Ketika ia dilengserkan pada tahun 1965, pembangunan patung dirgantara pancoran terbengkalai. BK kemudian menjual salah satu mobil kesayangannya dan mengirimkan uang hasil penjualannya kepada Edhi Sunarso untuk memastikan tugu itu kelak akan berdiri.

Pada tanggal 21 Juni 1970, Edhi yang sedang berada di puncak tugu tersebut menyaksikan iring-iringan mobil jenazah yang mengangkut jenazah Presiden Soekarno lewat di bawah tugu tersebut. Seakan Sukarno ingin memastikan tugu itu tetap berdiri untuk terakhir kali.

Dan hingga kini tugu2 warisan Sukarno tetap tegak berdiri, menyambut kemacetan dan keruwetan kota. Terkadang menyaksikan juga exploitation de l’homme par l’homme yang dibenci sang proklamator tercinta.

Related posts