Tanggapan Atas Status FB Cak Sumanto al-Qurtubi tentang Rasulullah

  • Whatsapp
Tanggapan Atas Status FB Cak Sumanto al-Qurtubi tentang Rasulullah

Oleh: Rijal Mumazziq Z, Rektor INAIFAS Jember

Ini uneg-uneg saya soal catatan Cak Sumanto al-Qurtubi di statusnya beberapa hari silam. (link https://www.facebook.com/Bungmanto/posts/10165192535730523). Saya sikapi karena memang rada kebablasan. Dan, alih-alih menjelaskan secara ilmiah, status itu malah menimbulkan masalah.

Soal alasan umat Islam tidak memvisualisakan fisik Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam karikatur, lukisan, dan obyek imajinasi lain sudah dijelaskan oleh para ulama. Mau inggih, silahkan. Emoh juga monggo. Tak ada paksaan. Bagi saya ini wilayah esoterik ajaran Islam. Khashāish. Bisa dikaji dalam wilayah ta’abbudi dan ta’aqquli.

Karakter fisik Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sudah termaktub dalam banyak kitab hadits. Secara elegan, Imam At-Tirmidzi mengumpulkannya dalam As-Syamāil al-Muhammadiyyah. Imam Ibnu Katsir juga menyusunnya dalam Syamāil Ar-Rasul. Itu di antaranya. Kita bisa melampiaskan kerinduan kita kepada beliau dalam berbagai kesaksian para sahabat beliau. Kerinduan ada dalam hati, perasaan, wilayah sublim. Tidak bisa diukur dalam wujud visual empiris. Ini bagi saya, lho ya.

Baca Juga :   Meluruskan Makna Jihad

Setiap ajaran agama memiliki wilayah esoterik dan eksoterik. Keduanya bisa dikaji secara ilmiah, kok. Sebagai umat Islam, saya menghormati ajaran agama lain dalam wilayah esoteriknya. Itu keyakinan mereka. Terserah. Jika ajaran agama lain memperbolehkan makan babi, misalnya, saya tak hendak menggugat ajaran agama saya tentang larangan nyam-nyam daging merah muda yang dalam penuturan konsumennya memang enak (khakhakhakha). Juga tak hendak mencari pembenaran ilmiah soal larangan ini. Selesai!

Para penganut Sikh bisa tersinggung manakala kita memegang janggutnya dengan nada olok-olok, juga melepas turban mereka. Ada wilayah sakral dalam setiap agama yang tidak bisa kita bandingkan satu sama lain, apalagi dalam wujud kalimat-kalimat yang merendahkan. Maulana Ja’far Shadiq alias Sunan Kudus sudah mengajarkan wilayah toleransi ini setengah milenium silam. Ketika beliau melarang para santrinya menyembelih sapi, semata-mata menghormati pemeluk Hindu yang memuliakannya. Ini wilayah Hukum Irsyadi, hukum lokal, yang secara bijak dilaksanakan untuk mencegah dampak yang buruk. Khususnya dalam relasi antar agama. Tindakantik yang sangat cerdas!

Baca Juga :   Pandemi Menyalahkan Rakyat

Ajaran Islam juga melarang homoseksual dan semacamnya. Saya juga tak hendak mengikuti teori-teori sosiologi, psikologi dan seksologi yang membenarkan dan memperbolehkan tindakan ini. Terlalu konyol juga beberapa teks ajaran Islam saya gunakan sebagai keset, ya keset, pembenaran LGBT. Toh, yang saya lihat beberapa pemikir tipikal begini hanya berani melakukan pembongkaran teks dan kritik brutal terhadap teks keagamaan yang sudah “mapan”, tapi tidak berani secara brutal membongkar teori-teori psikologi atau saintis yang positivistik, bahkan dengan gaya bahasa yang sama sinisnya, dengan ketika dia melakukan kritik yang sama terhadap bangunan “teks agama”.

Saya justru tertarik mengamati polah tingkah intelektual semacam ini menggunakan teori Poskolonialisme ala Homi K. Babha, Gayatri Cakravorty Spivak, maupun Franz Fanon. Dahsyat betul! Jika belum cukup, kita kaji menggunakan sudut pandang Orientalisme ala Edward Said. Sikap inferior, minder, membebek yang secara kasat mata tampil dalam sikap dan perilaku serta pola pikir “bangsa terjajah”.

Baca Juga :   Mewaspadai Radikalisme Agama di Tubuh Polri

Kita perlu mendefinisikan ulang kedirian kita. Tanpa perlu menjadi kacung yang bersimpuh luluh di hadapan majikan dan memamahbiak apapun yang disodorkan kepada kita, sembari mengolok-olok sinis ajaran agama. Jika kita bisa memahami keyakinan kultural semacam Sunda Wiwitan, Kejawen, dan agama lokal di Indonesia, mengapa harus menggugat secara kasar secara ekstravagan ajaran agama sendiri.

Singkat kata, belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas, kata Tan Malaka.

Wallahu A’lam Bishshawab

Related posts