Surat An Nisa Ayat 22, Bacaan, Arti Perkata (Mufrodat), Terjemahan, Kandungan, Tafisir dan Asbabun Nuzul

Surat Al Baqarah Ayat 183

Bacaan Surat An Nisa Ayat 22 | Arti Perkata (Mufrodat) Surat An Nisa Ayat 22 | Terjemahan Surat An Nisa Ayat 22 | Isi Kandungan Surat An Nisa Ayat 22 | Tafsir Surat An Nisa Ayat 22  | Asbabun Nuzul Surat An Nisa Ayat 22 |

Bacaan Surat An Nisa Ayat 22

وَلَا تَنْكِحُوْا مَا نَكَحَ اٰبَاۤؤُكُمْ مِّنَ النِّسَاۤءِ اِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً وَّمَقْتًاۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا

Arti Perkata (Mufrodat ) Surat An Nisa Ayat 22

Kecuali (kejadian pada masa) yang telah lampauاِلَّا مَا قَدْ سَلَفَDan janganlah kamu menikahiوَلَا تَنْكِحُوْا
Sungguh, perbuatan itu sangat keji  اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًYang telah dinikahiمَا نَكَحَ
Dan dibenci (oleh Allah) وَّمَقْتًاۗOleh ayahmuاٰبَاۤؤُكُمْ 
Dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh) وَسَاۤءَ سَبِيْلًا Dari perempuan-perempuanمِّنَ النِّسَاۤءِ

Terjemahan Surat An Nisa Ayat 22

Dan janganlah kamu menikahi perempuan-perempuan yang telah dinikahi oleh ayahmu, kecuali (kejadian pada masa) yang telah lampau. Sungguh, perbuatan itu sangat keji dan dibenci (oleh Allah) dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).


Isi Kandungan Surat An Nisa Ayat 22

Setelah menjelaskan etika pergaulan suami istri dalam berumah tangga, maka pada ayat ini Allah menjelaskan etika seseorang terhadap ibu tirinya setelah ayahnya wafat. Dan janganlah kamu melakukan kebiasaan buruk sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Jahiliah, yaitu menikahi perempuan-perempuan yang telah dinikahi oleh ayahmu baik ayah kandung maupun orang tua dari ayah atau ibu, kecuali kebiasaan tersebut dilakukan pada masa yang telah lampau ketika kamu masih dalam keadaan Jahiliah dan belum datang larangan tentang keharamannya. Setelah datangnya larangan itu, tindakan tersebut harus dihentikan. Sungguh, perbuatan menikahi istri-istri ayah (ibu tiri) itu merupakan tindakan buruk, sangat keji, dan dibenci oleh Allah. Dan pernikahan yang sangat tercela seperti itu merupakan seburuk-buruk jalan yang ditempuh untuk menyalurkan hasrat biologis. Apakah pantas bagi orang yang berakal sehat menikahi istri ayahnya setelah sang ayah wafat, padahal ia seperti ibu kandungnya sendiri.


Tafsir Surat An Nisa Ayat 22

Imam Ahmad As-Shawi menjelaskan, mulai Surat An-Nisa ayat 22 ini Al-Qur’an menjelaskan wanita-wanita yang haram dinikahi oleh seorang lelaki (muharramatun nisa’). Penjelasan muharramatun nisa’ dimulai dengan penjelasan tentang keharaman menikahi istri ayah karena sangat memperhatikan kasus ini. Sebab orang-orang Jahiliyah dulu sering mempraktikkannya, dan karena hal itu sangat buruk menurut syariat dan akal sehat, maka Al-Qur’an menjelaskannya secara khusus dalam ayat ini. Terpisah dengan muharramatun nisa’ lainnya yang dijelaskan dalam ayat berikutnya. Menikahi mereka hukumnya haram kecuali pada waktu sebelum turunnya ayat yang mengharamkan ini. (Ahmad bin Muhammad As-Shawi, Hasyiyyatus Shawi ‘ ala Tafsiril Jalalain, [Beirut, Darul Fikr: 1424 H/2004 M], juz I, halaman 281); dan (Muhammad Nawawi Al-Jawi, At-Tafsirul Munîr li Ma’alimit Tanzîl, [Beirut, Darul Fikr: 1425 H/2006 M], juz I, halaman 160).

Baca Juga :   Berapa Bagian Pemilik Qurban?

Asbabun Nuzul Surat An Nisa Ayat 22

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, Al-Faryabi dan At-Thabrani yang bersumber dari Adi bin Tsabit dari seorang Anshar: bahwa Abu Qais bin Al-Aslat seorang Anshar yang saleh meninggal dunia. Anaknya melamar istri Abu Qais (ibu tiri). Berkata wanita itu: “Saya menganggap engkau sebagai anakku, dan engkau termasuk dari kaummu yang saleh”. Maka menghadaplah wanita itu kepada Rasulullah Saw untuk menerangkan halnya. Nabi Saw bersabda: “Pulanglah engkau ke rumahmu”. Maka turunlah ayat tersebut di atas (An-Nisa ayat 22) sebagai larangan mengawini bekas istri bapaknya.



Related posts