Surah An-Nisa Ayat 9 : Bacaan, Terjemah, Mufradat dan Isi Kandungan

  • Whatsapp
Surah An-Nisa Ayat 9 : Bacaan, Terjemah, Mufradat dan Isi Kandungan


Surah An-Nisa Ayat 9 | Bacaan Surah An-Nisa Ayat 9 | Terjemah Surah An-Nisa Ayat 9  | Mufradat Surah An-Nisa Ayat 9 | Isi Kandungan Surah An-Nisa Ayat 9 | Wislahcom | Referensi |

Bacaan Surah An-Nisa Ayat 9

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

Terjemah Surah An-Nisa Ayat 9

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar.



Mufradat Surah An-Nisa Ayat 9

dan hendaklah takutوَلْيَخْشَ
meninggalkanتَرَكُوْا
anak-anakذُرِّيَّةً
yang lemahضِعٰفًا
mereka khawatirخَافُوْا
Perkataan yang benarقَوْلًا سَدِيْدًا

Isi Kandungan Surah An-Nisa Ayat 9

Menurut Ibnu Abbas Ra, ayat ini berkenaan dengan seorang laki-laki yang menjelang ajalnya berwasiat kepada ahli warisnya berupa sesuatu yang menimbulkan mudarat. Kemudian Allah Swt memerintahkan orang-orang di sekitarnya untuk meluruskan wasiat itu dan bertakwa kepada-Nya. Di antara wasiat yang dianjurkan ialah mengenai kadar harta yang diwariskan kepada anak-anak sepeninggalnya agar tidak terlunta-lunta. Dalam maksud yang lebih luas lagi, ayat ini memperingatkan kepada kaum muslimin untuk membekali anak keturunan dengan bekal yang dapat menjamin kehidupan mereka setelah kedua orang tuanya meninggal. Anak-anak yatim yang ditinggalkan ayah dan ibunya jauh lebih rentan masuk ke pergaulan yang salah. Tekanan mental yang dialami menjadi penyebab utama terjadinya peluang tersebut. Maka dari itu, para orang tua telah diperingatkan oleh Allah Swt agar menyiapkan bekal hidup yang tepat dan cukup kepada anak keturunannya.

Selain para orang tua, ayat ini ditujukan kepada para pengasuh anak-anak yatim atau pengelola panti asuhan. Dalam memelihara anak yatim, para pengasuh yang mengemban tanggung jawab berat ini tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan sandang (pakaian), pangan (makanan) dan papan (tempat tinggal) saja. Namun, aspek emosional, spiritual, moral, sosial, dan intelektualnya pun harus diperhatikan. Perlunya upaya dan kerjasama dengan berbagai lembaga, instansi, dan para penggalak organisasi masyarakat mesti dilakukan, sehingga panti asuhan tidak sendiri dalam membekali anak-anak yatim sepeninggal ayah ibu mereka.

Generasi/keturunan yang lemah (ẓurriyyatan ḍi’afan) yang dimaksud ayat tersebut menurut Imam Nawawi ialah lemah ekonomi (memicu kemiskinan), lemah pengetahuan (melahirkan kebodohan), lemah agama (memicu kesesatan), dan lemah akhlaknya (menjadikan orang terhina). Menyiapkan mereka dengan titipan bekal yang mumpuni adalah kewajiban khususnya bagi para orangtua dan masyarakat pada umumnya.



Karena ayat ini ditujukan kepada orang yang sakit atau menjelang sakaratul maut, maka dia harus menyampaikan pesan / wasiat yang mengandung kebaikan dengan ucapan-ucapan yang menyejukkan. Di mana pesan itu akan dikenang dan diingat oleh anak-anak yang ditinggalkan sehingga meninggalkan “bekas” yang berharga untuk mereka.

Related posts