Surah Al-Baqarah Ayat 44-45 : Bacaan, Terjemah, Mufradat dan Isi Kandungan

  • Whatsapp
Surah Al-Baqarah Ayat 44-45 : Bacaan, Terjemah, Mufradat dan Isi Kandungan


Surah Al-Baqarah Ayat 44-45 | Bacaan Surah Al-Baqarah Ayat 44-45 | Terjemah Surah Al-Baqarah Ayat 44-45 | Mufradat Surah Al-Baqarah Ayat 44-45 | Isi Kandungan Surah Al-Baqarah Ayat 44-45 | Wislahcom | Referensi |

Bacaan Surah Al-Baqarah Ayat 44-45

اَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ اَنْفُسَكُمْ وَاَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ



Terjemah Surah Al-Baqarah Ayat 44-45

  • Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?
  • Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.

Mufradat Surah Al-Baqarah Ayat 44-45

mengapa kamu suruhاَتَأْمُرُوْنَ
(mengerjakan) kebaikanبِالْبِرِّ
kamu melupakan diriوَتَنْسَوْنَ
kamu berpikirتَعْقِلُوْنَ
Jadikanlah penolongmuوَاسْتَعِيْنُوْا
sabarبِالصَّبْرِ
sungguh beratلَكَبِيْرَةٌ
orang-orang yang khusyu’الْخٰشِعِيْنَۙ

Isi Kandungan Surah Al-Baqarah Ayat 44-45  

Asbabun nuzul ayat ini ialah saat kaum Bani Israil memerintahkan orang lain (saudaranya) untuk tetap menaati Allah Swt, namun mereka sendiri tidak melakukan hal itu. Menurut Ibnu Abbas, mereka itu adalah orang Yahudi Madinah yang enggan masuk islam, padahal sudah dicantumkan dalam Taurat bahwa Allah akan menyiksa orang yang hanya bisa mengatakan tetapi ia sendiri tidak melakukannya.

Sikap buruk ini sangat dikecam dalam Islam bahkan ajaran tersebut sudah disampaikan oleh para nabi sebelumnya. Rasulullah Saw pun telah memberikan teladan kepada umat manusia untuk berupaya dalam menyelaraskan antara ucapan dan tindakan (ṣiddīq). Tidak banyak memberi komentar terhadap hal-hal yang tidak pernah dilakukannya harus diupayakan sejak dini, mengontrol lisan dari perkataan yang mengada-ada adalah cara tepat dalam menjauhi siksa Allah, sebagaimana kaum Yahudi saat itu.

Secara spesifik, ayat ini juga menjadi pegangan bagi para pendakwah (da’i/muballigh) agar selalu istiqomah menjaga sikap dan ucapannya di manapun berada. Mereka adalah public figure yang ucapan dan perbuatannya menjadi “jaminan” baik atau buruknya citra Islam. Tanggung jawab itu juga ditambah dengan tugas mereka sebagai komando amar makruf nahi munkar sehingga dituntut penuh untuk selalu beramal saleh.



Seorang mukmin hendaknya menjaga stabilitas “voltase” imannya, salah satu yang telah ditetapkan al-Quran ialah meminta pertolongan kepada Allah dengan sabar dan mendirikan salat. Kedua solusi ini telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw dalam sebuah hadisnya bahwa beliau hatinya risau disebabkan suatu masalah, kemudian beliau segera mendirikan salat. Sedangkan perintah sabar ditujukan kepada orang- orang Yahudi yang terhalang keimanannya disebabkan ketamakan dan ingin kedudukan (kekuasaan). Kemudian mereka diperintahkan untuk bersabar dengan puasa, karena puasa dapat melenyapkan keinginan-keinginan itu.

Ibadah salat menjadi solusi jitu untuk mengembalikan ketentraman jiwa. Ia mendidik konsentrasi pikiran dan kelembutan hati secara bersamaan melalui gerakan- gerakan sujud, ruku’, takbir, hingga salam. Ragam gerakan tersebut dapat menstimulan hati untuk kembali tunduk dan merasa hina di hadapan Allah dan melahirkan jiwa-jiwa pasrah serta yakin terhadap pertolongan Allah, juga melenyapkan sifat sombong, dengki, dan putus asa. Sedangkan sabar dapat menguatkan hati dengan menahan ucapan dan tindakan yang dibenci Allah sebab mempercayai rahmat-Nya. Sabar juga mampu menghapus gejolak nafsu yang berlebihan dan akan berdampak buruk bagi keselamatan diri sendiri.

Meminta pertolongan dengan salat dan sabar amat sulit untuk dilakukan, kecuali bagi orang-orang yang hatinya condong untuk menaati Allah dan Rasul-Nya. Bagi mereka yang cenderung kepada maksiat sangat sulit untuk dilakukan, karena lemahnya keyakinan terhadap janji Allah dan siksa-Nya yang pedih. Kecenderungan hati bagi orang-orang yang taat lebih bersikap tenang, tidak gegabah dan berjiwa lapang. Begitu pula sebaliknya, para pelaku maksiat lebih cenderung bersikap hura-hura, gelisah dan tidak terarah.



Related posts