Sunan Gunung Jati : Biografi, Pengembangan Islam dan Sikap Positif

Sunan Gunung Jati : Biografi, Pengembangan Islam dan Sikap Positif

Pernah mendengar tentang Sunan Gunung Jati ? Sunan Gunung Jati merupakan salah satu wali songo  yang menyebarkan islam di tanah Nusantara dengan cara-cara damai, santun, toleran dan dapat menyesuaikan diri dengan adat-adat lokal penduduk Nusantara sehingga ajaran Islam diterima baik oleh masyarakat.

Masih bingung, tentang cerita Sunan Gunung Jati.

Simak penjelasan berikut ini tentang Biografi Sunan Gunung Jati, Peran Sunan Gunung Jati dalam Mengembangkan Islam di Indonesia dan Sikap Positif dalam Pribadi Sunan Sunan Gunung Jati


Biografi Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung jati atau Syarif Hidayatullah, lahir 1448 M. Ia adalah putra Syarif Abdullah bin Ali Nurul Alim, seorang penguasa di Ismailiyah, Mesir. Ibunya bernama Nyai Rara Santang, putri Prabu Siliwangi, Raja Kerajaan Pajajran di Jawa Barat. Silsilah ayahnya tersambung dengan Rasulullah Saw dari jalur Zainal Kabir, keturunan Zainal Abidin bin Imam Husein bin Fatimah, putri Rasulullah Saw.

Sejak remaja, Syarif Hidayatullah tumbuh besar menjadi sosok yang rajin membaca, hingga suatu hari menemukan pesan ayahnya agar ia mempelajari ilmu Rasulullah, namun ilmu tersebut akan didapatkannya setelah ia melakukan perjalanan ke satu arah, dan inilah yang menjadi titik awal pengembaraannya menuntut ilmu. Keinginan untuk memperdalam ilmu agama mengantarkannya berangkat ke Makkah sebagai tujuan utama menimba ilmu, atas izin ibundanya ia berangkat ke Makah, kendati ayahandanya sudah wafat saat masih kecil.

Di Makkah Syarif Hidayatullah berguru kepada Syaik Tajudin al-Qurthubi selama dua tahun. Tak lama kemudian ia berangkat ke Mesir berguru ke pada Syaik Muhammad Athaillah al-Syadzili, ulama bermadzhab Syafi’i, kepadanya Syarif Hidayatullah mempelajari tarekat Syadziliyah.

Saat usianya genap 27 tahun sekitar tahun 1475 M atas arahan dari Syaikh Athaillah, ia disuruh kembali ke Nusantara berguru kepada Syaikh Maulana Ishak di Pasai Aceh untuk mendalami kembali ilmu agama dan taswuf. Pengembaraannya mencari ulama, dilanjutkannya ke Karawang, Jawa Barat menemui Syaikh Bentong, kakek Raden Patah, Raja Kerajaan Demak.

Perjalanan Syarif Hidayatullah menuntut ilmu dilanjutkan ke Kudus kepada seorang ulama bernama Datuk Barul. Setelah lulus ia disarankan menuju Ampel denta menemui Sunan Ampel di Gresik. Di sinilah Sunan Ampel bertemu dengan wali-wali songo lainnya, antara lain: Sunan Giri, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga. Pertemuan ini berujung pada kesepakatan dan tugas dakwah yang dibebankan kepadanya di Cirebon.

Cirebon merupakan daerah pertama di Jawa Barat yang penduduknya beragama Islam. Nama Cirebon muncul setelah Pangeran Cakrabumi bersama Ki Gedheng Alang-Alang membuka perkampungan di daerah Lemah Wungkuk. Desa ini berkembang menjadi kota pelabuhan yang ramai disinggahi pedagang-pedagang asing dari berbagai daerah dan dari luar seperti Cina, Arab, Persia, Mesir, dan India.

Mengawali dakwahnya, Syarif Hidayatullah berperan sebagai guru agama menggantikan Syaikh Datu Kahfi di Gunung Sembung, kemudian melanjutkan dakwahnya ke Banten. Usaha dakwahnya cukup berhasil di dua daerah ini, berada dekat dengan masyarakat pedesaan karena itu dengan mudah mempelajari karakter masyarakat sebelum tampil sebagai penguasa di pusat pemerintahan di Cirebon, Syarif Hidayatullah menikah dengan Nyi Ratu Pakungwati, putri Pangeran Cakrabuana, penguasa Cirebon. Setelah Pangeran Cakrabuana mangkat, kekuasaan atas negeri Cirebon diserahkan kepada menantunya Sunan Gunung Jati.

Selain sebagai ulama yang menguasai ilmu syariat dan taswuf, posisinya sebagai waliyyul amri atau penguasa Cirebon yang secara ekonomi dan politik punya daya tarik terhadap pengembangan Islam di Cirebon, Sunda Kelapa, Banten, dan Jawa Barat. perluasan pengaruhnya ke Banten terjadi ketika ia menikahi adik Adipati Kuwunganten, dan dari keturunannya lahir Sultan-Sultan Banten.

Hubungan budaya dengan Tiongkok terjalin berawal dari hubungan perdagangan dan pernikahannya dengan Ong Tien, menurut legenda, ia putri dari Kaisar cina dari Dinasti Ming yang bernama Hong Gie. Ond Tien lalu diberi gelar Nyi Mas Rara Sumanding. Dari pernikahannya ini dikaruniai seorang putra namun meninggal dunia saat bayi.


Sunan Gunung jati punya pengaruh besar dalam perkembangan Islam di Indonesia. Kedudukan sebagai penguasa Cirebon atau sebagai Raja Pandhita tahun1479, selain juga sebagai pemimpin para wali di Tanah Jawa yang menjadikan penyebaran Islam, khusunya di Jawa Barat lebih cepat meluas dan tersebar di pelosok-pelosok desa. Sunan Gunung Jati wafat tahun 1568 M, umurnya diperkirakan 118 tahun.

Peran Sunan Gunung Jati dalam Mengembangkan Islam di Indonesia

Dalam melakukan dakwah Islam di daerah Jawa, Sunan Gunung Jati punya peran penting dalam mengembangkan agama Islam, yaitu :

Berperan sebagai Ulama dan Umara’ (penguasa) dalam Penyebaran Islam

Usaha dakwah yang dilakukan Sunan Gunung Jati, mula-mula sebagai guru agama dengan membuka pondok dan mengajarkan agama Islam kepada penduduk sekitar. Ia dikenal dengan Maulana Jati. Strategi dakwahnya dilakukan dengan menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh berpengaruh di Cirebon dengan pernikahan. Ia menikah pertama kali dengan Nyai Babadan, putri Ki Gedeng Babadan, yang membuat pengaruhnya meluas dari Gunung Sembung hingga Babadan.

Sebagai ulama ia berperan sebagi pemimin para Wali atau wali qutb. Sunan Gunung Jati diminta memimpin penobatan Sultan Demak II dan Sultan Demak III, meskipun ada Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga, namun Sunan gunung Jati tampil sebagai pemimpin para wali.

Ketika Pangeran Cakrabuana memimpin Cirebon, ia diangkat semenjadi tumenggung dengan gelar Susuhunan Jati dengan wilayah kekuasaan meliputi Pesisir Sunda dan menjadi Panetep Panatagama ( semisal Menteri Agama ).

Pada masa tuanya Pangeran Cakrabuana menyerahkan kekuasaannya kepada Raden Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, tahun 1483 M dalam kepemimpinannya, Ia memperoritaskan pengembangan agama Islam melaului jalan dakwah dengan melakukan hal-hal berikut:

  • Mempelopori pembangunan masjid-masjid jami’ di berbagai daerah bawahan Cirebon sebagai pusat kegiatan keagamaan.
  • Membangun sarana dan prasarana umum.
  • Membangun transportasi darat, laut, dan sungai.
  • Membentuk pasukan Jayabaya.
  • Menjalin hubungan dengan kerajaan Demak dan Banten.

Melakukan Akulturasi Budaya Islam dan Kearifan lokal

Sejumlah peninggalan Sunan Gunung Jati membuktikan kearifannya dalam mengkompromikan budaya Islam dan budaya lainnya. Keraton dijadikan sebagai pusat kesenian dan kebudayaan yang bernuansa agama dengan tidak menghilangkan unsur-unsur Hindu Budha, melainkan dipadukan secara harmonis dengan ajaran Islam sehingga Islam dianut oleh seluruh penduduk bumi Pasundan. Sejumlah benda-benda bersejarah peninggalan Kerajaan Cirebon yang ada di Keraton membuktikan percampuran budaya Jawa, Sunda, Tionghoa, Arab dan Eropa. Hal ini dapat dilihat dari gapura, tugu batu lingga Yoni, piring-piring keramik dari Tionghoa, meja kaca gaya Prancis, dan lain-lain.

Sikap positif dalam Pribadi Sunan Gunung Jati

  1. Merakyat Salah satu pesan Sunan Gunung Jati dalam pepatah-petitihnya atau nasehatnya adalah Insun titip tajug lan fakir miskin (Aku Sunan Gunung Jati titip tajug atau mushalla, dan fakir miskin). Pesan ini menggambarkan hubungan spritual dengan Sang pencipta dan hubungan sosial sesama makhluk. Pesan ini menggambarkan kepekaan nurani Sunan Gunung Jati dengan tidak membedakan status sosial, bergaul di pedesaan dan kalangan kraton menjadikan ia sosok teladan yang selalu dekat dengan rakyat.
  2. Pemimpin Arif dan Bijaksana Sebagai waliyyullah yang punya ketajaman batin dalam melihat persoalan dan masalah, Sunan Gunung Jati adalah sosok yang arif dan bijaksana, mendidik dan melahirkan pemimpin-pemimpin baru dari kearifannya.
  3. Menghargai Nilai-Nilai Kemanusiaan Dalam pesannya Sunan Gunung jati menyampaikan Den welas ing sapapada (hendaklah menyayangi sesama manusia) yang menggambarkan ia adalah sosok yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan, menghargai hak-hak orang lain, dan persaudaraan yang didasari kasih sayang di tengah keberagaman budaya dan etnis.
  4. Santun dan Toleran Sebagai pemimpin agama sekaligus pemimpin kerajaan ia melakukan upaya-upaya untuk menghargai budaya, tradisi yang datang dari luar, dan individu-individu yang berlainan agama. Dari kebijakan politiknya ia menjadikan pelabuhan Muara jati dan talang, dua pelabuhan zaman Kerajaan Cirebon, sebagai pelabuhan yang terbuka untuk semua etnis dan suku bangsa.

 

Sumber: Buku Guru & Buku Siswa SKI Kelas VI MI

 

Related posts