Sejarah Desa Mergayu Kabupaten Tulungagung (Sejarah, Asal Usul dan Profil)

Sejarah Desa Mergayu Kabupaten Tulungagung

Sejarah Desa Mergayu | Asal Usul Desa Mergayu | Profil Desa Mergayu | Kabupaten Tulungagung |

Sejarah Desa Mergayu Kabupaten Tulungagung (Sejarah, Asal Usul dan Profil) Lengkap

Secara turun temurun dan tertulis dalam sejarah Desa Mergayu melalui sumber dari para sesepuh Desa yang terdahulu, tercatat bahwa di masa pendudukan Belanda pada saat perang Diponegoro dari Bagelan (Magelang) memutuskan pergi ke wilayah Jawa bagian Timur untuk mencari permukiman baru. Mereka datang ke wilayah Mergayu pada saat itu, yang konon masih merupakan hutan belantara.

Kelompok pertama adalah Eyang Martokusumo, Eyang Djati, Eyang Damar, Eyang Deling. Mereka membuat peristirahatan di wilayah bagian Barat. Merasa akan tinggal lebih lama di wilayah ini, kelompok pertama berinisiatif membuka hutan untuk dijadikan tanah permukiman baru. Wilayah yang cukup luas dan persiapan alat yang kurang, maka dengan alat seadanya anatara lain sabit, kampak, baji dan sebagainya, mereka membuka hutan dan dijadikan perkampungan, terwyjudlah Dukuh Jati dan Pelem.



Sedangkan kelompok kedua yang bermukim di bagian Timur adalah Eyang Mangundrono, Eyang Glendreh, Eyang Wenang, Eyang Eko Lesono. Kelompok ini juga mempunyai niat yang sama dengan kelompk pertama membuka hutan untuk dijadikan perkampungan, karena salah satu dari mereka mempunyai saudara laki-laki di Sedayu/Suwaru. Maka mereka berkeinginan meminjam peralatan untuk membuka lahan baru. Namun peralatan yang dimaksud digunaka sendiri, karena diilhami rasa tanggung jawab untuk kelangsungan hidup anak dan keturunanya mereka segera bermusyawarah. Dengan alat seadanya kelompok ini bekerjasama membuka hutan belantara. Akhirnya mereka menemukan cara-cara yang sederhana untuk tercapainya tujuan tersebut. Cara tersebut cukup dengan memukulmukulkan ptongan kayu ke pohon dengan melingkar sehingga kulitnya terkelupas dan lama-kelamaan pohon akan mati dan mudah untuk ditumbangkan.

Hasil babatan tersebut terwujudlah Dusun Santren dan Dukuh Bakah. Daerah permukiman yang dibuka dua kelompok ini semakin ramai, menurut kesepakatan bersama dua kelompok daerah tersebut akhirnya diberi nama Desa Meragayu, yang berasal dari kata Hambrek Kayu (robohnya kayu).

Setelah pendudukan Hindia Belanda saat itu, Desa Mergayu terkena proyek pembuatan sungai besar yang dinamakan Parit Raya yang harus membelah Desa Mergayu menjadi dua Dusun yang sampai saat ini dikenal dengan dua wilayah per Dusun :

  1. Sebelah Barat parit raya disebut Dusun Jati (Pelem, Jati, dan Bakah Kulon)
  2. Sebelah Timur parit raya disebut Dusun Bakah ( Megayu, Santren dan Bakah Etan)

Related posts