Pertempuran Kapal Selam: Menengok Karya Sineas India

Pertempuran Kapal Selam

Oleh: Rijal Mumazziq Z, Direktur Penerbit Imtiyaz Surabaya


The Ghazi Attack. Bagi saya, ini adalah salah satu film perang terbaik Bollywood. Bukan pada aspek eksyen dan dar-der-dor ala Bollywood era 1990-an di mana satu magasen M-16 maupun AK-47 bisa dihamburkan untuk memberondong puluhan musuh yang berjejer rapi sebagaimana penampilan Sunny Deol maupun Sunnil Shetty.

“The Ghazi Attack” lebih pada aspek thriller psikologis dengan ketegangan di bawah laut, sebab film yang terisnpirasi dari kejadian nyata ini menyuguhkan adegan pertempuran antara dua kapal selam: Karanj S21 milik AL India melawan kapal selam Ghazi milik Pakistan, pada Nopember 1971 di perairan India.

Ghazi, yang dipakai sebagai judul film, adalah kapal selam terbaik milik Pakistan yang ikut andil dalam peperangan di tahun 1965. Enam tahun setelah peperangan itu, kekuatan Ghazi masih disegani oleh AL India. Ketika ketegangan di teluk Benggali meningkat, di mana eskalasi pemberontakan kaum nasionalis Benggali di Pakistan Timur semakin menguat karena ingin memisahkan diri dari Pakistan Barat, maka Ghazi sengaja dikirim ke teluk Benggali, tujuannya antara lain mengamankan pasokan logistik via laut yang dikirim ke Pakistan Timur (yang kemudian menjadi Bangladesh).

Meski harus memutar melalaui perairan Srilanka, jalur laut dipilih antara lain karena mustahil melalui daratan dan udara India yang sangat luas. Kabar keberangkatan Ghazi ke teluk Benggali sebelumnya sudah dicium intelijen AL India yang langsung mengutus Karanj S21, salah satu kapal selam terbaiknya. Fokusnya mengawasi perairan di teluk Benggali yang sebenarnya tidak jauh dari pangkalan AL mereka di Visakhapatnam (tahu daerah ini nggak? Kalau nggak, berarti nasib kita sama. Hahaha). Karanj S21 dikirim dengan tugas melakukan pengamanan dan kontrol di perairan India. Apabila bertemu dengan kapal selam Ghazi, maka petugasnya dilarang melakukan serangan, kecuali setelah ada perintah dari markas besar, sebab resiko eskalasi peperangannya sangat besar. Selama 18 hari kapal selam bertenaga diesel ini berpatroli di bawah laut dengan waspada.

Sebaliknya, meskipun Ghazi diarahkan untuk memberi bantuak logistik kepada pemerintah Pakistan Timur, namun mereka juga mendapatkan perintah rahasia agar menghancurkan INS Vikrant, kapal induk India yang dijuluki “gajah laut”. Sebelum melaksanakan misi penghancuran INS Vikrant, Ghazli terlebih dulu menembakkan torpedo ke kapal kargo India semata-mata untuk mengalihkan perhatian Karanj S21.

Di sinilah drama dimulai. Kapten kapal selam Karanj S21, Rann Vijay Singh, dikenal sebagai perwira keras kepala dan agresif yang mengidolakan Jenderal George S. Patton, panglima pasukan AS di Perang Dunia I. Baginya, kemenangan harus dicapai dengan membunuh, bukan dengan berkorban. Secara psikologis, dia berbeda karakter dengan Arjun Varma, perwira yang menjadi wakilnya. Rann ingin menghancurkan Ghazi, sedangkan Arjun memilih menunggu komando dari mabes AL India. Sebab, menembak Ghazi yang melanggar batas peraian berarti bisa menyulut perang lebih besar. Karena itu dia memilih menunggu perintah.

Detil-detik ketegangan pertempuran bawah laut semakin meningkat ketika secara tiba-tiba Karanj S21, atas perintah Kapten Rann meluncurkan torpedo yang kemudian dibalas oleh Ghazi. Di momen inilah ketegangan sempurna terjadi, karena di tengah adu taktik, Karanj oleng akibat menyenggol ranjau laut yang disebarkan Ghazi. Resiko kapal selam karam harus dialami oleh para kru sebelum kemudian musibah lain datang: sang kapten tewas. Mental yang mulai turun, keterbatasan logistik, posisi kapal selam yang berada 350 meter di bawah permukaan, mesin yang rusak, hingga baterai kapal selam yang hanya cukup untuk bermanuver naik turun, membuat wakil kapten Arjun Varma memutar otak. Dia pertama kali membangkitkan semangat para kru dengan menyanyikan lagu kebangsaan India (tuh, kan, nasionalisme India selalu tampak dalam film-filmnya!), kemudian memperbaiki kapal selam yang compang-camping sembari menunggu Ghazi yang bermanuver lincah. Lalu, pertempuran sesungguhnya terjadi dan seperti biasa lakon utamalah yang menjadi jawara.
—–
Sebatas pengetahuan saya, film eksyen yang bertema kapal selam sangat jarang. Bisa dibilang, dalam satu dekade, Hollywood hanya melahirkan satu karya bertema pertempuran bawah laut. Sampai saat ini pun, ada beberapa film bertema kapal selam yang saya tonton, antara lain Das Boot, U-571,The Hunt for Red October, Crimson Tide, Below, The Hunter Killer, dan terakhir kali yang saya nikmati, meski kurang bagus, adalah Seaviper, produksi 2012. Semua mengisahkan pertarungan strategi perang, tekanan psikologis awak kapal selam, taktik diplomasi mencegah perang nuklir, hingga menyiasati keterbatasan di tengah laut sembari mempersiapkan diri menyongsong kepahlawanan diri.

Jika Hollywood sangat jarang mengusung film mengenai kapal selam sebagaimana fakta di atas, apalagi Bollywood. Mungkin, The Ghazi Attack adalah film pertama yang menyuguhkan peranan kapal selam dalam “kedaulatan” India. Dari sisi pertempuran yang berdarah-darah, The Ghazi Attack memang tidak seheroik adegan pertempuran bikinan sineas Hollywood dalam Das Boot maupun K-13 dan U-571, juga tidak setegang konflik psikis, alotnya diplomasi, dan rumitnya menyusun taktik dalam Hunt for Red October maupun Crimson Tide dan The Hunter Killer. Namun kali ini, saya angkat topi pada keberanian sineas Bollywood yang bekerjasama dengan industri film Tamil mewujudkan film perang bawah laut pertama dalm industri film mereka.

Bollywood sering mengangkat konflik dua negara Pakistan-India, India-Pakistan dengan Kashmir sebagai titik tumpu konfliknya, maupun teroris Kashmir (apesnya, yang selalu diceritakan sebagai seorang muslim! Hehe). Border (1997), Dil Se (1998), Refugee (2000), Gadar: Ek Prem Katha (2001), Mission Kashmir (2001), Ma Tujhe Salaam (2002), LOC Kargil (2003), Deewar (2004), Ab Tumhare Hawale Watan Sathiyo (2004), Lakshya (2004), Fanaa (2006), Haider (2014), Baby (2015), Phantom (2015), War (2019), Raazi (2019) dan Bharat (2019), namun saya kira baru kali ini mengangkat pertempuran bawah laut dengan menonjolkan supremasi kapal selam.

Lagi pula, biasanya Bollywood lebih suka memfilmkan aksi para prajurit infanteri AD maupun intelijennya, dibandingkan dengan kiprah para prajurit Angkatan Laut. Setidaknya film “The Ghazi Attack” mewakili unsur Angkatan Laut, meskipun sebelumnya sudah ada film “Rustom” yang dibintangi Akshay Kumar, namun titik tumpunya adalah skandal asmara dan pembunuhan yang dilakukan oleh perwira tinggi AL India pada tahun 1950-an.

India dan Pakistan pernah berperang empat kali, 1947, 1965, 1971 dan 1999. Dengan berlatarbelakang permusuhan ini, maka sangat “wajar” apabila para produser Bollywood menjual konflik ini ke arena bioskop. Konflik yang dikemas sedemikian rupa dan disajikan dengan dramatik dengan tujuan komersil, baik dalam kemasan asmara seperti Veer-Zaara (2004), maupun dengan pendekatan simpatik seperti Bajrangi Bhaijaan (2015) dan Peekay (2016)—ketika Sarfaraz digambarkan sebagai pemuda muslim yang terpelajar, baik, dan setia, serta gambaran kedutaan Pakistan yang simpatik dan keren.

WALLAHU A’LAM BISSHAWAB

Baca Juga :   Menjadi Shima


Related posts