Orang Jawa dan Ziarah Kubur

  • Whatsapp
Orang Jawa dan ZIarah Kubur


Oleh: Rijal Mumazziq Z, Pegiat Ziarah Kubur

Agar tidak “kepaten obor“, orang Jawa menyarankan agar menzarahi pusara leluhur: orangtua, kakek, buyut, dan seterusnya. Agar tahu asal dan jatidiri. Bulan perziarahan biasanya digelar pada Sya’ban, atau dalam kalender Jawa disebut Ruwah. Konon, Ruwah berasal dari istilah Arwah, jamaknya Ruh.

Di kampung halaman saya, desa/kec. Jombang Jember, peziarahan menjadi tradisi pada akhir Sya’ban, juga pada akhir Ramadan. Biasanya sehari menjelang Idul Fitri. Ada juga yang melakukannya di awal Syawal. Orang-orang datang ke area pemakaman umum, mendoakan arwah leluhur mereka sekaligus membersihkan pusaranya. Selebihnya, menuntaskan rindu kepada almarhumin.



Rabu kemarin, sore hari, arena pemakaman desa kami penuh peziarah. Sebagian merupakan penduduk desa, sebagian adalah para perantau yang mudik.

Soal pusara alias makam, orang Jawa memang nggak bisa dipisahkan dari perkara ini. Mereka sensitif. Di antara sebab musabab Perang Jawa adalah saat kompeni membangun jalan yang bakal melewati makam leluhur Pangeran Diponegoro. Provokasi terselubung dari kompeni. Jelas ini penghinaan. Demikian pula para korban pembangunan Waduk Kedungombo di tahun 1980-an. Mereka enggan direlokasi karena, di antara alasannya, nggak mau berpisah dengan makam para leluhurnya.

Ke manapun dan di manapun hidup, manakala pulang ke kampung kelahiran, seorang Jawa bisa langsung menziarahi pusara orangtua dan leluhurnya. Semacam terjadi prinsip bumerang: semakin keras dan jauh dilempar, semakin cepat berbalik. Bahkan, di antara yang dicurhatkan para eksil yang berdiaspora di Eropa pasca 1965, adalah kerinduan mereka terhadap keluarga serta makam leluhurnya.



Di kalangan santri, saya kira sama. Makam guru menjadi penanda identitas asal keilmuan dan awal pembentukan karakter. Jadi, jika ada santri lalu hilang identitas kesantriannya, biasanya salah satu faktornya tidak pernah menziarahi pusara guru-gurunya. Ibarat pasir, dia menjauh dari magnet lalu kehilangan daya tarik. Semakin menjauh, semakin melayang kena hempasan angin.

Jadi, kalau tetap ingin berada di poros yang telah digariskan oleh para guru kita, jangan pernah lupa memfatehahi beliau-beliau, dan pilih waktu terbaik menziarahi pusara beliau. Mendekat dengan magnet kita. Mendekat dengan cahaya, biar tidak kepaten obor.

Pola yang sama ada pada peziarahan di makam keluarga kita. Ziarah kubur, selain pengingat mati, juga menjadi sarana penguat ikatan ruhaniah antara dua alam; indrawi dan baka. Pembersihan nisan dan taburan bunga juga menjadi sarana penyubur ingatan dengan masa lampau, penuntas rindu dengan pemilik nama yang jasadnya dipeluk bumi, dan penumbuh nostalgia. Di depan pusara, peziarah bukan hanya merajah doa, tapi juga memilin harapan agar kelak, anak cucunya juga senantiasa mendoakan dirinya saat sudah berkalang tanah.



Related posts