Metamorfosa Nur Khalik Ridwan; Kini, Dulu, dan Esok

Nur Kholik Ridwan

WISLAH.COM: Untuk yang ke sekian kalinya, saya dapat hadiah buku dari sahabat, senior berlapis-lapis, juga guru, Nur Khalik Ridwan, namanya. Kali ini, judulnya, “Suluk dan Tarekat: Jalan Mengenal dan Mendekatkan Diri kepada Allah“, diterbitkan oleh Diva Press, 2019. Kang Nur Khalik atau NKR, panggilan akrabnya, dikenal sebagai seorang aktivis sosial, intelektual NU (bahkan ideolog NU), “murid ideologis” Gus Dur.

Mengenal NKR, saya lupa pastinya kapan. Karena merasa senasib, sesama proletar, membuat saya dekat dan akrab dengannya, hehehe. Kedekatan ini, bagi saya, ternyata membawa malapetaka pena. Bahwa betapa sulit menulis esai-biografi tentang seseorang yang dengannya tak ada jarak.

Sesekali saya coba kirim pesan WA untuk mengkoneksikan batin. Dan seperti biasa, ia tidak fast repons. Jarang buka WA, dan kalau balas pesan, cukup lama menunggu. Saya memakluminya dengan positive thinking. Mungkin ia istirahat atau sedang tenggelam dalam lautan zikir.


Sebab, 3 tahun terakhir ini, NKR sedang mendalami laku spiritual tasawuf. Ia bukan hanya mendalami, dalam arti wawasan pengetahuan tasawuf yang sebenarnya sejak lama dilakukan bersamaan dengan minatnya di bidang studi wacana-gerakan keislaman. Tapi benar-benar sebagai pelaku, salik, pendaki rohani dalam dunia tarekat.

NKR, menjadi murid (baiat) dari tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah-Syatariyah (diamalkan dalam satu tarikat) lewat jalan sanad Mbah Rohani, dari KH. Madhkhan Purwodadi, dari KH. Hasan Anwar Grabag, dari Syekh Ibrahim Brumbung, sampai ke atas bersambung secara mutawatir kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Ia juga menjadi murid tarekat Syatariyah lewat jalan sanad KH. Ahmad Zabidi Giriloyo, dari Mbah Marzuki Giriloyo, dari Mbah Romli Giriloyo, dari Syekh Abdurro’uf Wonokromo, dari Syekh Asy’ari, ke atas juga mutawatir sambung kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Selain itu, ia menjadi murid Ratib al-Haddad dari Kiai Asnawi. Dari KH. Abdul Muhith, dari Mbah Dimyati Banten. Pernah pula menjadi murid Dzikrul Ghafilin, zikir Al-Fatihah, dan shalawat dari Gus Baiquni Purnomo Jember dari KH. Muhammad Farid Wajidi, dari KH. Ahmad Shidiq dan Gus Miek. Ia juga belajar Sedulur Papat Lima Pancer dari Kiai Ghufron, dari KH. Mawardhi Secawan Srono Banyuwangi, salah seorang murid Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dari Banyuwangi.

Berdasarkan pengalaman spiritual seperti itulah, buku Suluk dan Tarekat ini ditulis oleh NKR. Meski di dalamnya hanya memuat dasar-dasar doktrin tasawuf, yang bertitik tolak dari firman Allah, hadis, perkataan ulama, namun ia memberikan penjelasan yang khas sufistik. Uraian NKR, kelahiran Banyuwangi, 15 Maret 1974 ini sekali lagi, tidak semata-mata berdasarkan wawasan pengetahuan tasawuf, tetapi dibarengi oleh pengalaman langsung sebagai pelaku atau pengamal tarekat, baik bercorak akhlaki, maupun falsafi-wujudiyah.

Tentang keutamaan zikir, misalnya. Allah berfirman dalam sebuah hadis qudsi, “Ana jalisun man dzakarani” (Saya duduk bersama orang yang zikir kepada-Ku), dikutip dari kitab “al-Anwar al-Qudsiyah”, karya Imam Abdul Wahab al-Sya’rani. Upaya memahami firman Allah ini, tentu, tidak bisa dipahami secara tekstual, tanpa melibatkan pengetahuan sufistik.

Menurut NKR, dalam hal terbukanya hijab, para ahli makrifat sepakat bahwa futuh di malam hari, itu lebih dekat terjadinya daripada di siang hari. Syarat untuk hal tersebut adalah zikirnya harus dilakukan dengan dua hal, yaitu bi al-adab wa al-hudhur. Syarat hudhur, berarti hadratu al-Haqq, di mana dalam berzikir, orang itu yakin dan mengerti bahwa Allah jalisun bersamanya. Sedangkan bi al-adab, seseorang yang berzikir ada yang harus dilakukan sebelum zikir (taubat yang sebenar-benarnya taubat), ketika zikir (duduk di tempat yang suci, menghadap kiblat, menggunakan pakaian yang bersih dan halal), dan setelah zikir (diam setelah tenang, khusyuk, hudhur al-qalbi) (hlm. 65-68).

Seperti pada karya-karya sebelumnya tentang wacana-gerakan keislaman, yang cukup banyak, wawasan pengetahuan NKR dalam bidang tasawuf juga sangat otoritatif. Sependek yang saya tahu, tulisan tentang tema suluk ini bukan karya perdana, sebab sebelumnya, NKR pernah memberi saya juga buku “Suluk Gus Dur” (2013).


Itulah, intelektualitas NKR hari ini, yang jika ditinjau dari masa lalunya, bagi mereka yang juga mengenal sejak lama, mungkin bertanya-heran, apakah ia (NKR) sedang mengalami metamorfosa pemikiran? “Yo iki jenenge bagian dari dinamika hidup Li”, katanya suatu waktu pernah bilang ke saya.

NKR tidak menyesali pergulatan pemikirannya saat ia pada satu masa sangat kuat dimensi rasionalnya, bahkan berjiwa pemberontak. Kalau saya ingatkan dia pada buku-buku yang super-keren hasil buah pikirannya di masa dulu, seperti “Agama Borjuis dan Islam Proletar: Konstruksi Baru Masyarakat Islam Indonesia” (2002), “Pluralisme Borjuis: Kritik atas Nalar Pluralisme Cak Nur” (2002), “Detik-detik Pembongkaran Agama: Mempopulerkan Agama Kebajikan, Menggagas Pluralisme-Pembebasan” (2003), dan masih banyak lagi, ia justru menimpali dengan tawa terbahak-bahak. “Itu masa lalu”, jawabnya singkat.

Saya merasa tahu banyak tentang NKR, karena memang sebelum kenal langsung mengagumi lewat karya-karyanya. Hal-hal yang agak “privasi” tidak saya tulis di sini.

Buku “Detik-detik Pembongkaran Agama: Mempopulerkan Agama Kebajikan, Menggagas Pluralisme-Pembebasan”, saya baca tamat, ketika semester satu S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tahun 2003. Rasanya, “cenung-cenung” kepala, setengah shock, “gila ini orang (NKR)”, pikir saya waktu itu yang baru lulus dari pesantren.

NKR, di masa lalu, seolah membawa bendera “perang” sebagai representasi kelompok pinggiran, “tertindas”, pokoke hidup proletar!

Pernah dalam sebuah seminar, saya masih ingat, ia jadi pembicara, dipanel dengan pimpinan Laskar Jihad, Jakfar Umar Thalib. Bisa Anda bayangkan, NKR yang jika memerhatikan judul-judul bukunya itu, beradu argumen dengan Jakfar Umar Thalib yang normatif, tekstual. NKR nyaris “ditonjok-bugem” dan dikeroyok oleh pasukan (jamaah) Jakfar Umar Thalib yang juga ikut dalam forum itu, karena merasa pimpinannya disudutkan—untuk tidak mengatakan “kalah” berdebat. Kalau ingat itu, dwuh berat.

Itulah sebabnya, seorang bos penerbit buku di Jogja pernah cerita ke saya, bahwa lantaran menerbitkan buku-buku NKR, ia (termasuk juga penulisnya) hampir dipidanakan oleh ormas tertentu, terutama tema agama borjuis vs agama proletar. Namun karena perubahan situasi sosial-politik, beruntung tidak jadi masuk meja hijau, kata bos penerbit itu sambil menghela nafas lega.

Saat itu, ketika banyak kalangan mengapresiasi pemikiran pluralisme Cak Nur, NKR justru menghantamnya dengan cara mengambil jalan lain, melakukan kritik tajam pada karakter gagasannya yang cenderung elitis, dari hotel ke hotel, layaknya kelompok borjuis. Ia bandingkan dengan Gus Dur, yang mempopulerkan pentingnya menghargai perbedaan dari arus bawah, grass root, kalangan pedesaan, rakyat jelata.

Puncak dari petualangan intelektual NKR di bidang pemikiran Islam ketika menerbitkan buku tentang akar sejarah dan penyebaran ideologi Wahhabi hingga di Indonesia, 3 jilid, tahun 2009. Saya waktu itu berkesempatan meresensinya di Koran Jawa Pos. Lewat buku itu, NKR semakin mapan dan menunjukkan kepakarannya dalam memetakan ideologi kelompok ekstremis (baik ormas Islam, parpol, maupun kasus-kasus terorisme yang terjadi di dalam negeri maupun manca negara) dalam hubugannya dengan Wahhabi.

Lalu, apakah NKR yang sekarang, mengubur pengetahuan-pengetahuan terdahulu itu? Menurut saya tidak. Tapi dengan mendalami tasawuf, ia justru menyempurnakan pengetahuannya. Pengalaman intelektual terdahulu, sementara “disembunyikan”, namun dapat diutarakan kembali (recall), bergantung pada konteks, forum, dan lawan bicara.

NKR yang kini, dulu, dan esok akan berkelindan. Petualangan intelektualnya, mengingatkan pada Imam al-Ghazali, yang mungkin, sadar atau tidak, NKR sekarang mengalami transisi berada di jalur itu. Al-Ghazali mengabadikan fase pemikirannya lewat karya “al-Munqid min al-Dhalal”, sementara NKR sempat cerita ke saya, akan menerbitkan buku-buku, selain judul lama yang akan terbit ulang, juga buku-buku tema tasawuf yang sebentar lagi naik cetak, mungkin dalam jumlah cukup banyak.

NKR memang dikenal sangat produktif menulis. Di masa lalu, ia bisa menulis sampai 10 halaman perhari, namun untuk saat ini, karena faktor usia dan titik jenuh, meski ia tetap menulis setiap hari sebagai laku spiritual, tidak sekuat dulu. Dan saya belajar dari semangat menulisnya itu.

Selamat, dan sukses Kang NKR!

(Ali Usman, Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

*Tulisan ini saya persembahkan, bukan hanya kepada NKR, tapi juga untuk mereka yang mengenalnya, baik langsung maupun tidak langsung.

Related posts