Membaca Psikologi Penyebar Teror

  • Whatsapp
Membaca Psikologi Penyebar Teror

WISLAH.COM: Hampir semua orang berasumsi bahwa para pelaku terorisme merupakan individu yang secara psikologis bermasalah atau penyandang sakit jiwa, penderita gangguan kepribadian, pribadi yang sadis, atau sebagaimana pendapat literatur Barat yang menganggap akibat libido seksual yang tidak tersalurkan. Pandangan tersebut rupanya terbantahkan.

Sebuah riset yang dilakukan oleh Sarlito Wirawan Sarwono beserta tim terhadap para pelaku Bom Bali I dan sejumlah pelaku teror lain di di Tanah Air mengungkapkan bahwa para pelaku teror tersebut merupakan orang-orang biasa, bahkan beberapa diantaranya tergolong cerdas, hanya saja memiliki ideologi yang menganggap dirinya paling benar dan ideologi lain salah serta merusak sehingga dengan demikian harus diperangi.

Kondisi Kognitif Teroris

Secara kognitif, para pelaku teror cenderung dangkal dan dengan struktur berpikir yang sederhana. Sebagian besar mereka memiliki pendidikan yang sangat terbatas dan hampir tak ada pengalaman di luar komunitasnya sehingga bersikap eksklusif. Bahkan, pelaku yang terdidik sekalipun, tidak menunjukkan tanda-tanda memiliki pikiran yang luas. Tipikal semacam inilah yang paling mudah dan rentan terkena virus radikalisme.

Baca Juga :   Hasil Riset: Puasa dapat Mengatasi Penuaan Dini

Beberapa di antara mereka mempercayai bahwa dengan memperbaiki masyarakat melalui jihad, akan meningkatkan taraf hidup mereka sendiri yang artinya mendapat keuntungan lebih besar di masa depan. Bagi para pelaku, Islam bukanlah semata-mata sebagai agama, namun juga ideologi. Terlepas dari adanya agama lain di Indonesia, negara ini harus diatur secara syariah.

Menariknya, di balik motif yang jelas dan terungkap secara verbal tersebut terdapat pula beberapa motif implisit, seperti kebutuhan atas identitas diri, kebutuhan untuk diakui, dan kebutuhan atas harga diri. Hal ini tidaklah mengherankan, mengingat pelaku teror mayoritas berasal dari kelas ekonomi menengah ke bawah tanpa pekerjaan permanen.

Untuk merekrut anggota baru, kelompok teroris menggunakan pendekatan yang berbeda. Intinya adalah menyasar pada krisis identitas. Melalui kerabat, teman ataupun guru, organisasi ini menawarkan informasi religius yang dibutuhkan oleh calon anggotanya, atau komitmen untuk terlibat langsung dalam upaya membela agama dan kesempatan membalas dendam atas kekejaman orang kafir.

Baca Juga :   Agama Terorisme

Pada sosok seprti Imam Samudra, Ali Ghufron, Amrozi, dan Ali Imron, semuanya memiliki rasa dan perasaan yang sama tentang ketidakadilan yang sedang terjadi menimpa umat Islam saat ini serta ketidakberdayaan untuk melawan, sehingga teror menjadi pilihan. Hanya Ali Imron yang kemudian merasa bahwa apa yang telah dilakukannya adalah salah, dan menyesal.

Rekrutmen Kaum Muda

Di sisi lain, perkembangan yang terjadi belakangan ini semakin membuat kita miris mengingat pelaku teror saat ini sudah semakin menyebar di luar “jalur tradisional”, yang selama ini tersimpan dalam file polisi. Peristiwa teror penembakan Polisi di Solo dan ledakan bom di Depok 8 September 2012 lalu, yang nota bene dilakukan anak-anak muda  memperkuat kekhawatiran tersebut.

Baca Juga :   Aneka Gaya Teroris di Media

Anak remaja yang masih awam pemahaman agama serta secara psikologis tengah mencari identitas diri, nampaknya menjadi sasaran empuk bagi para propagandis ideologi keras ini. Infiltrasi terhadap sekolah dan Perguruan Tinggi pun dilakukan dengan memanfaatkan simbol, sentimen, dan baju Islam untuk melakukan cuci otak (brainwash) untuk tujuan yang justru merusak agama itu sendiri.

Kondisi di atas, tentu sangat mengkhawatirkan dan berbahaya bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara yang telah terbangun secara damai. Peristiwa penembakan Mabes Polri oleh seorang gadis berusia 25 tahun berinisial ZA, memperkuat temuan bahwa jejaring teror tetap aktif dan menargetkan kalangan muda dari Generasi Z sebagai penerus ideologi teror tersebut.

 

Related posts