Hasil Riset: Maung dalam Mitologi Masyarakat Pasundan

  • Whatsapp
Maung dalam Mitos Masyarakat Pasundan

WISLAHCOM: Keberadaan binatang mitologis dalam peradaban manusia, akan kita temukan diberbagai belahan dunia. Jika masyarakat China memiliki legenda mengenai naga, maka masyarakat Nusantara akan dengan mudah kita temukan mitos dan legenda mengenai harimau yang tersebar mulai dari pulau Sumatera, Jawa hingga Bali.

Kawasan Sumatera Utara, khususnya Simalungun, terdapat legenda manusia harimau Begu Salih–Salihen. Selain itu, ada pula sebutan sakral “opung” untuk harimau di wilayah tersebut. Di Sumatera Barat terdapat mitos tentang manusia harimau (inyiak) di Lembah Harau. Masyarakat Bengkulu memiliki kepercayaan tentang 7 manusia harimau.



Mitos soal harimau juga terdapat di Pulau Jawa, dimana di Jawa Barat (Sunda) harimau (maung) erat kaitannya dengan mitos Prabu Siliwangi. Selanjutnya, pesebaran mitos harimau berlanjut ke Kediri & Banyuwangi dengan adanya mitos macan putih.



Hasil riset Budi Gustaman dan Hilman Fauzia Khoeruman dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran, hampir di seluruh kawasan Tatar Sunda, keberadaan maung dipercaya masyarakat sebagai jelmaan raja (terbesar) Sunda, Prabu Siliwangi. Penjelmaan ini tidak lepas dari kisah perseteruan Prabu Siliwangi dengan anaknya, Prabu Kean Santang yang berusaha meng-Islam-kan sang ayah.

Prabu Siliwangi dan para pengikutnya yang dikejar Kean Santang, terdesak hingga di Hutan Sancang, Garut Selatan. Di tempat tersebut, menurut Wessing (1993), Prabu Siliwangi diyakini berubah menjadi seekor harimau putih dan pengikutnya menjadi harimau Sancang.

Keterkaitan antara mitologi maung dengan Prabu Siliwangi dapat ditemukan di semua tempat di Jawa Barat, bahkan dari Banten hingga Cirebon. Selain di Hutan Sancang Garut, menurut riset Budi Gustaman dan Hilman Fauzia Khoeruman, gaung mitos maung Prabu Siliwangi muncul pula di Gunung Salak, Gunung Gede, dan wilayah Surade (Sukabumi). Di Surade, terdapat tradisi lisan yang dikenal dengan Carita Maung Pajajaran. Ada tiga versi Carita Maung Siliwangi yang berkembang di Kecamatan Surade. Pertama, bercerita tentang pengkhianatan sekaligus balas dendam yang dilakukan oeleh seorang manteri bernama Jaya Antea terhadap Prabu Siliwangi. Hal tersebut dilatarbelakangi tindakan Prabu Siliwangi yang merebut kekasih Jaya Antea. Jaya Antea terus mengejar Prabu Siliwangi beserta pasukannya hingga ke Tegal Buleud. Jaya Antea pada akhirnya gagal membalas dendam karena Prabu Siliwangi menghilang, sedangkan para pasukannya berubah menjadi harimau atau maung.

Versi kedua berkisah tentang pengejaran yang dilakukan Kean Santang terhadap Prabu Siliwangi beserta pasukannya untuk di-Islam-kan. Prabu Siliwangi akhirnya menghilang, tetapi pimpinan pasukannya bernama Sanggabuana berubah menjadi harimau di wilayah Pasir Ucing Surade. Sementara itu, Carita Maung Pajajaran versi ketiga, menurut Amanah (2014) sama persis dengan Wawacan Perbu Kean Santang yang mengisahkan menghilangnya Prabu Siliwangi dan prajuritnya berubah menjadi harimau.

Mitos manusia harimau pun dipercayai oleh masyarakat Panjalu, Ciamis. Dalam tradisi lisan Carita Maung Panjalu, dikisahkan dua orang anak kembar cucu Prabu Siliwangi bernama Bombang Larang dan Bombang Kencana yang melanggar titah gurunya, kakek Garahang, yakni dengan mandi di kolam atau mata air jernih yang berisi banyak ikan. Saat Kakek Garahang meninggalkan rumah, keduanya melanggar pantangan tersebut. Mereka pun berubah menjadi harimau dan berjanji akan menjaga mata air dan menjaga alam dari para perusak.

  
Sakralisasi harimau pun kerap muncul di beberapa tempat keramat yang biasanya dijadikan tempat pesugihan. Terkait hal ini, Dr. K.A.H. Hidding menulis dalam buku Gebruiken en Goddienst der Soendaneezen (1935) bahwa orang Sunda kerap mencari wangsit di beberapa tempat seperti kuburan, dengan bantuan dukun atau kuncen. Wangsit selalu datang lewat mimpi. “Biasanya orang melihat hampir tertidur, mula-mula seekor ular atau harimau, yang merupakan pembawa jawaban dan sekaligus penguji kebenaran mimpi”. Pendapat Hidding tersebut sesuai dengan kepercayaan masyarakat sekarang terkait adanya istilah “ngamaung” untuk menunjukkan pesugihan pada maung atau harimau.



Tidak diketahui makna mitos-mitos tersebut. Namun demikian, mitos tersebut merepresentasikan adanya kesan pengagungan dan ketakutan terhadap harimau. Selain itu, hal tersebut memberi indikasi bahwa penerkaman manusia oleh harimau merupakan peristiwa yang sering terjadi. Sakralisasi merujuk pula pada beberapa tempat keramat yang dipercayai dihuni harimau jadi-jadian. Bahkan, di beberapa tempat terdapat pantangan menyebut kata “maung”. Husein Djajadiningrat dalam buku De Magische Achterground van de Maleische Pantoen (1933) menjelaskan: “di daerah yang kaya harimau di Banten Selatan, orang tidak dapat bicara tentang maung, orang harus mengatakan meong, yaitu kucing”.

Secara harfiah, penyebutan maung bersinonim dengan penyebutan meong, harimau dan macan. Kata “maung” sendiri banyak disebutkan dalam sumber-sumber kolonial untuk menyebutkan harimau (dalam bahasa Sunda). Dalam Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie, disebutkan beberapa perbedaan penyebutan harimau atau macan di beberapa wilayah di Hindia Belanda. Harimau sendiri merupakan sebutan dalam bahasa Melayu (harimau, rimau). Istilah matjan sendiri merupakan sinonim dari penyebutan harimau.

Dalam bahasa Sunda, harimau atau macan (Felis tigris) disebut dengan istilah meong atau mauoeng, sebagai suatu tiruan bunyi. Harimau yang lebih besar dibedakan menjadi meong-lakbok, meong-Gede, dan meong-santjang. Jenis harimau ini umumnya merujuk pada harimau belang dan besar (koningstijger). Sementara itu, harimau yang lebih kecil (jenis panter, Felis pardus) disebut meongmalangbong, meong-toetoel, meong-koembang, dan meong-kroet.  Actor pembeda dari jenis harimau tersebut ialah ukuran tubuh dan warna kulit yang berbeda dengan jenis harimau besar.

Munculnya mitos-mitos tersebut tidak bisa dilepaskan dari “keakraban” masyarakat terhadap sosok harimau. Sejatinya, kondisi ekologis wilayah-wilayah tersebut (termasuk Tatar Sunda) merupakan habitat harimau. Peter Boomgaard menyebutkan bahwa wilayah-wilayah yang disebutkan di atas termasuk ke dalam tiger-nest (sarang harimau). Di Jawa, tiger nest mencakup hutan-hutan di Keresidenan Banten, Priangan, hutan Waleri (antara Pekalongan dan Semarang), wilayah Easthook (Kereseidenan Pasuruan, Probolinggo, Besuki, dan Banyuwangi), wilayah Klakah (di antara Probolinggo & Lumajang), pedalaman Ngawi dan Madiun, hutan Blitar, serta hutan wilayah Baluran.

Sebagai bagian dari wilayah Tatar Sunda, Banten dan Priangan merupakan wilayah yang sering disebut dalam arsip kolonial sebagai wilayah yang menyumbang banyak kasus pemangsaan oleh harimau. Menurut data Koloniaal Verslag 1870, di wilayah Tatar Sunda (mengacu pada wilayah Banten, Krawang, Priangan, dan Cirebon) ada sekitar 58 orang mati karena diterkam harimau pada 1896. Rinciannya: Banten 7 kasus, Karawang 2 kasus, Priangan 48 kasus, dan Cirebon 1 kasus. Priangan menunjukkan angka paling tinggi diantara kasus di wilayah lain di Jawa (di Sumatera wilayah yang paling tinggi ialah Palembang dengan 111 kasus serta total kasus penerkaman ialah 289 kasus di Hindia Belanda). Data tersebut merupakan laporan yang diajukan kepada pemerintah perihal kasus-kasus yang berkaitan dengan kecelakan (kehilangan nyawa).

Peter Boomgaard (2001) menyebutkan bahwa pada pertengahan abad ke-19 terjadi wabah harimau. Wabah ini merupakan fenomena yang terjadi di hampirsemuawilayah di Pulau Jawa, mulaidariBanten, Priangan, Krawang, Cirebon, Jepara, Kediri, Pasuruan, Probolinggo, danBanyuwangi. Wabah ini dimulai dari Karesidenan Priangan pada 1855 yang mencapai angka 147 korban jiwa (kira-kira setengah dari total korban di Jawa).

Secara umum, wilayah Tatar Sunda merupakan habitat maung atau harimau di masa lalu. Namun, keberadaan maung tidak diwariskan secara fsik seiring (dugaan) punahnya jenis harimau Jawa (Panthera tigris sondaica). Pernyataan yang menyebutkan bahwa maung adalah identitas binatang Sunda akan terus dipertanyakan. Meski demikian, menurut Budi Gustaman dan Hilman Fauzia Khoeruman, glorifkasi tentang maung sebagai simbol semangat dan keberanian orang Sunda akan terus hidup seiring dengan pewarisan mentalitas tentang kisah maung di masa lalu.



Related posts