Kolaborasi dan Kerja Sama Lintas Budaya (Rangkuman Materi PPKN Kelas 12 SMA Kurikulum Merdeka)

Perkalian dan Pembagian Bilangan Desimal, Contoh dan Cara Menghitungnya (Rangkuman Materi Matematika SD/MI Kelas 4 Bab 16) Kurikulum Merdeka

Kolaborasi dan Kerja Sama Lintas Budaya | Rangkuman Materi PPKN Kelas 12 | Bab 3 | SMA | Kurikulum Merdeka | Wislah Indonesia |

Kolaborasi dan Kerja Sama Lintas Budaya

Membangun Dialog dan Kolaborasi Budaya

Penghormatan terhadap kebudayaan bangsa lain merupakan sikap adiluhung yang penting bagi semua orang. Menghormati kebudayaan lain berarti mengakui nilai-nilai yang diyakini dan menjadi panduan hidup serta norma penduduknya dalam setiap tradisi.

Menghormati dan menerima keberagaman adalah prasyarat untuk hidup bersama. Meskipun terdapat perbedaan di antara elemen-elemen yang tumbuh dalam satu ruang, hal tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menafikan satu sama lain.


Di tengah masyarakat global yang penuh pluralitas, dialog harus menjadi inti dari aktivitas promosi dan kolaborasi antarbudaya. Dialog menjadi jembatan penghubung bagi elemen-elemen yang berbeda. Promosi kolaborasi hanya dapat dilakukan jika sikap menghormati dan mengakui dihubungkan dengan dialog.

Prinsip yang diusulkan oleh Swidler dan Mojzes disebut sebagai dialog mendalam atau “deep-dialogue”. Ini berarti mengelola keberagaman dengan menggunakan manajemen dialog yang mendalam. Proses yang berkelanjutan menjadi karakter dari dialog, yang juga dikenal sebagai prinsip kontinum.


Pada tahap awal di “kampung dunia”, setiap peradaban berdiri sendiri tanpa bergerak. Tidak ada perjumpaan antar kelompok dan terkadang terlihat saling berhadap-hadapan, yang disebut sebagai “destructive dialogue”.

Kemudian, ada tahap “disinterested dialogue”. Semua elemen tidak lagi bermusuhan dan berupaya menerapkan toleransi satu sama lain, meskipun mereka tetap memiliki pandangan masing-masing.

Selanjutnya, tahap “dialogical dialogue” ditandai dengan kemauan untuk tidak hanya mengakui eksistensi yang lain, tetapi juga belajar dari perbedaan tersebut. Meskipun pandangan mereka tidak berubah, mereka mau belajar dari keberbedaan.

Tahap terakhir adalah “deep-dialogue”. Masa ini melibatkan transformasi dari setiap perbedaan, bukan hanya memahami, mentoleransi, atau belajar dari peradaban yang berbeda.

Prasyarat dialog adalah kesetaraan semua partisipan. Tidak boleh ada yang merasa lebih tinggi dari yang lain, semuanya berada dalam posisi yang sama dan memiliki hak yang setara.

Dialog adalah cara lain dari kolaborasi, dan tanpa dialog, kolaborasi lintas budaya menjadi sulit dilakukan. Setelah proses kolaborasi dilakukan, promosi bisa ditunjukkan dengan berbagai cara.

Related posts