Imam Ahmad bin Hanbal : Biografi dan Keteladanan

  • Whatsapp
Imam Ahmad bin Hanbal : Biografi dan Keteladanan

Wislahcom | Referensi | : Mayoritas masyarakat muslim di Indonesia merupakan muslim yang bermaẓhab Syafi’i. Akan tetapi tidak jarang muslim yang tidak mengikuti Maẓhab Imam Syafi’i. Hal tersebut merupakan pilihan masing-masing dan kita harus bersikap saling menghargai atas perbedaan tersebut. Contohnya adalah qunut pada waktu shubuh yang berhukum sunnah untuk Maẓhab Imam Syafi’i. Bagi imam lainnya qunut tidaklah perlu dilakukan.

Dalam menanggapi perbedaan di atas, beberapa imam maẓhab telah memberikan contoh kepada kita. Seperti sikap menghargai dari Imam Malik meskipun muridnya Imam Syafi’i memiliki perbedaan pandangan terhadapnya. Adapun bab ini akan menjelaskam empat tokoh imam maẓhab yang terkenal yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal.



Simak penjelasan singkat tentang : Biografi Imam Ahmad bin Hanbal Keteladanan Imam Ahmad bin Hambal



Biografi Imam Ahmad bin Hanbal

Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal atau Ahmad bin Hanbal lahir di Baghdad, pada bulan Rabiul Awal tahun 164 H. Saat masih kanak-kanak, Imam Ahmad bin Hanbal telah ditinggal wafat oleh ayahnya yang gugur dalam pertempuran melawan Bizantium. Sedangkan kakeknya, Hanbal, adalah seorang gubernur pada masa Dinasti Umayyah.

Imam Ahmad menghafal al-Qur`an di usia belia dan mulai mengumpulkan hadis dan mendalami fikih sejak umur 15 tahun. Sampai umur 19 tahun, beliau mencari ilmu di Baghdad. Setelah belajar di Baghdad, beliau berkelana ke banyak daerah, seperti Kufah, Basrah, Makkah, Madinah, Yaman dan Syam, guna berguru kepada ulama terkemuka setempat.

Beliau pernah belajar kepada Abu Yusuf, salah satu murid Imam Abu Hanifah, kemudian Abdurazzaq, salah satu generasi pemula penyusun kitab hadis, serta Imam Syafi’i.



Ketika Imam Syafi’i tinggal di Baghdad, Imam Ahmad rajin mengikuti halaqahnya. Kedalaman ilmu fikih dan hadis menjadikannya unggul di majelis Imam Syafi’i. Imam Ahmad juga berjumpa dengan Imam Syafii di dataran Hijaz dan Irak.

Imam Syafi’i memuji sosok Imam Ahmad dengan mengatakan, “Aku keluar dari Irak, dan tiada kutemui orang yang lebih mumpuni ilmunya dan zuhud dibandingkan Ahmad bin Hanbal”.

Imam Ahmad bin Hanbal baru menikah pada usia 40 tahun karena kecintaan dan kegigihan beliau terhadap ilmu. Dan Imam Ahmad baru mendirikan majelis di kota Baghdad setelah wafatnya Imam Syafi’i. Imam Ahmad wafat setelah menderita sakit selama 10 hari, dan meninggal pada siang hari tanggal 22 Rabiul Awal tahun 241 H / 855 M.

Keteladanan Imam Ahmad bin Hambal

Imam Ahmad bin Hambal dikenal sebagai pemuda yang cerdas dan gigih dalam menuntut ilmu. Pernah ada seseorang yang mempertanyakan kegigihannya itu. Ia berkata, “Sampai kapan engkau terus mencari ilmu pengetahuan? Padahal, engkau kini telah mencapai kedudukan mulia di antara pencari ilmu.”

Kemudian beliau menjawab pertanyaan tersebut dengan singkat, “Aku akan membawa dawat tinta ini hingga ke liang lahat.” Pernyataan tersebut mempertegas kegigihannya di dalam mencari ilmu. Artinya, ia tidak akan berhenti mencari ilmu hingga ajal menemuinya.

Pada peristiwa lain ada seseorang datang kepada Imam Ahmad bin Hambal, ia bertanya, “Beritakan kepada kami amalan apakah yang paling utama?”. Beliau menjawab, “ Menuntut Ilmu.” Orang tersebut bertanya kembali, “Bagi siapa?”. Beliau menjawab, “Bagi orang yang benar niatnya.” Sekali lagi orang itu bertanya, “Apa saja yang bisa membenarkan niat itu?” Beliau menjawab, “Dengan meniatkan dirinya agar bisa bertawadhu dan menghilangkan kebodohan darinya.” Selain itu beliau juga menambahkan, “Manusia sangat membutuhkan ilmu daripada kebutuhan makanan dan minuman, sebab makanan dan minuman dibutuhkan sekali dalam sehari atau lebih. Adapun ilmu, ia dibutuhkan sepanjang masa.”



Related posts