Gereja Manusia

  • Whatsapp
Gereja Manusia

Oleh: Iskak Wijaya, Penulis, Tinggal di Jakarta

Pernah, malam itu saya dan Yi Hisyam Zamroni – atas undangan Mas Pendeta Danang Kristiawan – hadir dan masuk di ruang aula dalam Gereja Injili Tanah Jawa (GITJ) di Jepara.

Meski judul temanya adalah “Yesus dan Kekristenan dalam Perspektif Islam”, kami tidak membahas hal itu dari sudut pandang akidah atau teologi, karena kami bukan teolog dan ahli ilmu kalam (mutakalimun); pun juga tidak mengelaborasi ayat-ayat kitab suci, karena kami bukan ahli tafsir (mufasir).

Kami lebih saling curhat dan berdialog tentang aspek sosial-budaya: isu ucapan “Selamat Hari Natal“, kasus pengadilan seorang ibu yang protes karena TOA, pendirian gereja yang bermasalah, dan soal-soal yang mestinya sudah dilampaui tetapi ternyata tetap abadi dan diabadikan seperti itu.

Baca Juga :   Ramadhan: Bulan al-Quran dan Kemanusiaan

Kami bertukar gagasan tentang kerukunan dan perdamaian. Tentang ke-Indonesia-an, perihal ke-Jawa-an, mengenai Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, serta negara yang menjamin kemerdekaan kebebasan beragama. Termasuk sejarah persahabatan antara Kristen – Muslim di masa lalu.

Tapi bagi banyak orang, sejarah adalah luka dan bahkan menyinggung perasaan.

Nabi Muhammad SAW menyuruh sebagian Muslimin untuk menyelamatkan hidupnya yang ditekan oleh warga Mekah, hijrah ke kerajaan Kristen di Abisinia yang diyakini Nabi SAW pasti akan melindungi mereka. Dan Raja Najasyi memang melindungi kaum Muslimin di sana. Peristiwa itu merupakan hijrah kaum Muslimin yang pertama.

Pernah juga, Nabi SAW mengizinkan 60-an orang Kristen dari suku Najran untuk melakukan kebaktian di Masjid Nabawi. Ketika para sahabat berusaha untuk melarang mereka, Nabi SAW mengatakan: “Da’ûhum.” – “Biarkanlah mereka.”

Baca Juga :   Orang Jawa dan Ziarah Kubur

Saat ini, di Gereja Kordoba Spanyol – yang awal mulanya adalah gereja, kemudian diubah menjadi masjid, dan berubah lagi menjadi gereja – selalu dikumandangkan adzan setiap waktu salat tiba. Kegiatan peribadatan gereja pun berhenti sejenak. Selepas adzan, peribadatan Kristiani pun dilanjutkan. Tak ada yang tersinggung tak ada yang sakit hati.

Suasana jiwa batin saya di gereja, sama halnya ketika di candi. Batin saya terasa lembut saat ke Candi Mendut. Tak ada dendam yang mendebur saat ke Candi Borobudur. Tak cemas iman berantakan saat ke Candi Prambanan.

Begitu juga tak takut kerasukan setan saat di Klenteng Kwan Sing Bio Tuban. Maupun gemetar kesurupan saat di Klenteng Hian Thian Siang Tee Welahan.

Saya ingat ujaran Imam Ali:

“Dia yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan.”

Baca Juga :   Mengapa Jamaah Shalat Ied Lebih Banyak dari Shalat Lima Waktu?

Saya juga ingat ujaran Hans Kung:

“Tak ada damai antarbangsa tanpa damai antaragama. Tak ada damai antaragama tanpa dialog antaragama.”

Malam itu – Senin malam 4 November 2019 – saya keluar dari gereja dengan damai. Tak ada cemas dan kuatir. Iman dan Tauhid saya sama sekali tak bergeser, tak berkurang, menipis, apalagi berubah. Saya juga makin yakin, tak perlu ada sumpah serapah, caci maki, dan penghinaan antariman dan antaragama.

Dada rasanya lebih lapang dan lega. Saya bisa lebih erat bergandeng tangan dengan saudara-saudara Kristiani dan saudara-saudara agama lainnya.

Saya bukan ustadz. Apalagi Kiyai atau Wali. Saya debu kotor yang hanya berani berwasilah di bawah sandalnya Sang Mustafa.

أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله

Related posts