Biografi Singkat Syaikh Ahmad Khatib Sambas : Profil, Pendidikan, Karya, dan Pemikiran

  • Whatsapp
Biografi Singkat Syaikh Ahmad Khatib Sambas: Profil, Pendidikan, Karya, dan Pemikiran


Biografi Singkat Syaikh Ahmad Khatib Sambas | Profil Syaikh Ahmad Khatib Sambas | Pendidikan Syaikh Ahmad Khatib Sambas | Karya Syaikh Ahmad Khatib Sambas | Pemikiran Syaikh Ahmad Khatib Sambas | Wislahcom | Referensi |

Profil Syaikh Ahmad Khatib Sambas

Nama lengkapnya adalah Syaikh Muhammah Khatib bin Abdul Ghaffar As-Sambasi Al-Jawi. Ia lahir di Kampung Asam, Sambas, Kalimantan Barat. Ahmad Khatib Sambas adalah tokoh sufi asli Indonesia yang mendirikan tarekat Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah. Ia lahir pada tahun 1217 H (1802 M). Setelah menyelesaikan pendidikan agama di tingkat dasar di kota asalnya, ia pergi ke Mekah untuk melanjutkan studi dan menetap di sana hingga wafat pada tahun 1289 H (1872 M). Bidang studi yang dipelajarinya mencakup berbagai ilmu pengetahuan Islam, termasuk tasawuf. Di mana pencapaian spiritualnya menjadikannya terhormat pada zamannya dan berpengaruh di seluruh Indonesia.

Sejak kecil Ahmad Khatib diasuh oleh pamannya, yang terkenal sangat ‘alim (orang yang berilmu terutama dalam hal agama Islam) dan wara’ (orang yang sangat patuh dan taat kepada Allah) di wilayah Kesultanan Sambas. Ahmad Khatib menghabiskan masa remajanya untuk mempelajari ilmu-ilmu agama, ia berguru dari satu guru ke guru lainnya di wilayah Kesultanan Sambas. Salah satu gurunya yang terkenal di wilayah tersebut adalah, H. Nuruddin Musthafa, imam masjid Jami’ Kesultanan Sambas.



Karena sejak remaja sudah mulai terlihat keistimewaan penguasaan ilmu-ilmu agamanya, Ahmad Khatib Sambas kemudian dikirim oleh kedua orang tuanya ke Makkah guna untuk menunaikan ibadah haji dan juga untuk memperdalam ilmu-ilmu pengetahuannya. Pada saat itu Ahmad Khatib Sambas baru berusia 19 tahun, di Makkah ia banyak belajar mengenai ilmu-ilmu agama, sufisme dan lain sebagainya. Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan sekertaris kesultanan Sambas, memang benar ada nama Syaikh Ahmad Khatib Sambas sebagai tokoh dan ulama yang berasal dari Sambas.

Pihak kesultanan juga mengatakan bahwa, generasi atau keturunan Syaikh Ahmad Khatib Sambas tinggal di wiliayah Kalimantan Barat. Dan keberadaan keturunan Syaikh Ahmad Khatib Sambas jarang di ekspose oleh dunia luar, karena dengan alasan bahwa mereka tidak mampu untuk meneruskan kiprah Syaikh Ahmad Khatib Sambas. Keluarga atau keturunan Syaikh Ahmad Khatib Sambas sendiri, susah untuk ditemui. Peneliti sendiri yang pada waktu itu berusaha untuk menemui, kesulitan sekali karena keturunan Syaikh Ahmad Sambas tersebar di berbagai wilayah pesisir Kalimantan Barat.

Ketika awal Ahmad Khatib mencoba belajar Halaqah (lingkaran yang menggambarkan sekelompok kecil muslim yang berjumpa di waktu yang telah ditetapkan mempelajari dan mendalami ajaran Islam) yang ada di Masjidil al-Haram, para guru yang ada disana menolaknya. Dengan alasan beliau dianggap tidak mampu mengikuti pelajaran, betapa kecewanya beliau mendapatkan perlakuan seperti itu. Peristiwa itu dilihat oleh Syaikh Daud bin Abdullah al-Fatani (w sekitar 1843 M), yang kemudian membawa Ahmad Khatib untuk tinggal dan belajar bersamanya. Sungguh luar biasa, Syaikh Daud melihat kemampuan Ahmad Khatib Sambas yang luar biasa ia begitu amat cerdas. Setelah berguru dan belajar dengan Syaikh Daud bin Abdullah al-Fatani, kemudian ia melanjutkan belajar kepada Syekh Syamsuddin.



Syekh Syamsuddin adalah seorang ulama besar dalam golongan tarekat Qadiriyah, keikhalasan dan kecerdasan serta ketawadhuanya membuat Ahmad Khatib diangkat menjadi Mursyid Kamil (pemimpin tertinggi dalam suatu ajaran tarekat) atau mendapatkan posisi tertinggi dalam Tarekat ini menggantikan Syekh Syamsuddin. Hourgonje mengakui bahwa Ahmad Khatib adalah ulama yang handal, unggul dalam tiap-tiap cabang ilmu pengetahuan Islam dan ia dikenal secara baik di Indonesia sebagai pendiri tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah. Dimana Tarekat ini sebagai sarana dalam penyebaran agama Islam di seluruh Indonesia dan dunia Melayu di paruh abad kedua abad ke-19.

Sedangkan, yang membahas mengenai masa hidup Syaikh Ahmad Khatib Sambas. Setidaknya terdapat dua buah kitab yang menceritakan masa hidup Ahmad Khatib Sambas, yang ditulis dalam bahasa arab oleh orang arab. Kitab yang pertama, Siyar wa Tarajim karya Umar Abdul Jabbar. Kitab kedua, Al-Mukhtashar min Kitab Nasyrin Naur waz Zahar karya Abdullah Mirdad Abul Khair yang diringkaskan oleh Muhammad Sa’id al-‘Amudi dan Ahmad Ali. Dalam dua kitab ini membahas mengenai ulama-ulama Makkah, termasuk didalamnya Syaikh Ahmad Khatib Sambas.

Sedikit catatan, Ahmad Khatib Sambas sejak kepergiannya ke tanah suci Makkah ia tidak pernah kembali lagi ke Indonesia. Ia menikah dan menetap di sana hingga akhir hayatnya (tahun 1875 M). Ahmad Khatib menikah dengan seorang wanita Arab keturunan Melayu, dari penikahannya ini dikaruniai tiga orang anak putra dan putri. Yahya, Siti Khadijah dan Abdul Gaffar. Dari tiga orang anak Syaikh Ahmad Khatib Sambas ini kemudian mempunyai keturunan dan beranak cucu, hingga diantara keturuan beliau itu sekarang banyak tinggal di Singkawang, Kalimantan Barat. Sedangkan, mereka yang tinggal di Singkawang diperkirakan keturuan kelima dan keenam.



Pendidikan Syaikh Ahmad Khatib Sambas

Ketika usia Ahmad Khatib 19 tahun/1820 M, ia menuju tanah suci Makkah disamping menunaikan ibadah haji juga untuk menuntut ilmu agama dan menetap selama quartal kedua pada abad 21. Dalam hal melanjutkan pendidikan agamanya di tanah suci, Ahmad Khatib mengalami banyak kendala dalam menempuh pendidikannya. Di Makkah beliau belajar ilmu-ilmu Islam termasuk ilmu tasawuf, dan mencapai posisi tertinggi diantara teman-teman sejawatnya. Dan kemudian menjadi tokoh yang sangat berpengaruh di seluruh Indonesia.

Diantara guru Ahmad Khatib Sambas adalah Syaikh Daud bin Abd Allah al-Fatani (wafat sekitat 1843), seorang alim besar dan juga tinggal di Makkah, yaitu Syaikh Syam al-Din, Syaikh Abd al-Arsyad al-Banjari (wafat 1812). Dari semua murid-murid Syaikh al-Din, Ahmad Khatib mencapai tingkat tertinggi dan kemudian ditunjuk sebagai Syaikh Mursyid Kamil Mukammil.

Guru yang lain adalah Syaikh Muhammad Rays, seorang mufti Syafi’i. Syaikh ‘Umar bin Abd al-Karim bin Abd al-Rasul al-Attar, seorang mufti Syafi’i lainnya (w 1833). Dan Syaikh Abd al-Hafizh Ajami’ (w 1819). Beliau juga menghadiri kuliah-kuliah yang di berikan oleh Syaikh Bishri al-Jabati, seorang mufti Maliki. Lalu Sayyid Ahmad al-Marzuqi, seorang mufti Hanafi. Sayyid Abd Allah bin Muhammad al-Mirghani (w 1856), dan Utsman bin Hasan al-Dimyathi (w 1849).

Dari informasi ini dapat diketahui bahwa Ahmad Khatib telah belajar fikih dengan padat, belajar tiga dari empat mazhab fikih terkemuka. Kebetulan al-Attar, al-Ajami’ dan al-Rays adalah terdaftar sebagai guru teman semasa beliau di Makkah yaitu Muhammad bin Ali al-Sanusi (w 1859). Pendiri tarekat Sanusiyah dan Muhammad Utsman al-Mirghani, pendiri tarekat Khatmiyah.

Karya Syaikh Ahmad Khatib Sambas

Menurut Zamakhsyari Dhofier, Syaikh Ahmad Khatib Sambas banyak melahirkan ulama-ulama di tanah Jawa. Yang kemudian menyebarkan ajaran Islam di Indonesia dan Malaysia.   Syaikh Ahmad Khatib Sambas adalah pendiri tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah, yaitu penggabungan antara dua tarekat yaitu tarekat Qadiriyah dan tarekat Naqsabandiyah.

Syaikh Ahmad Khatib Sambas sendiri adalah seorang mursyid (seorang guru agama) tarekat Qadiriyah, di sisi lain beliau juga adalah mursyid tarekat Naqsabandiyah. Namun, Ahmad Khatib hanya menyebutkan sanadnya (rentetan rawi yang sampai kepada Nabi Muhammad SAW) dari tarekat Qadiriyah.  Sampai sekarang belum diketahui, dari sanad mana beliau menerima bai’at (pengakatan secara resmi) tarekat Naqsabandiyah.

Sebagai seorang mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang terkenal ‘alim dan ‘arif (orang yang bijaksana, cerdik dan pandai), Syaikh Ahmad Khatib Sambas memiliki otoritas tersendiri untuk membuat modifikasi terhadap tarekat yang dipimpinnya. Dalam tarekat Qadiriyah memang ada kebebasan untuk melakukan hal itu, bagi yang telah mencapai derajat mursyid. Syaikh Ahmad Khatib Sambas mengajarkan tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah hanya kepada murid-muridnya yang berasal dari Indonesia.

Penggabungan inti ajaran kedua tarekat ini dimungkinkan atas dasar pertimbangan logis dan strategis, bahwa kedua ajaran inti itu bersifat saling melengkapi. Tarekat Qadiriyah sendiri menekankan ajarannya pada Dzikir jahr nafi isbat (dzikir yang diterapkan dalam tarekat Qadiriyah, yang dilakukan dengan bersuara), sedangkan tarekat Naqsabandiyah menekankan ajarannya pada Dzikir sir ismu dzat (dzikir yang diterapkan dalam tarekat Naqsyabandiyah, yang dilakukan dengan tidak dengan bersuara). Dari penggabungan dua tarekat ini diharapkan para muridnya dapat mencapai derajat kesufian yang lebih tinggi, dengan cara yang lebih efektif dan efisien. 

Syaikh Ahmad Khatib Sambas memiliki banyak murid (orang yang sedang berguru) yang tersebar di seluruh kawasan Nusantara dan beberapa orang khalifah (wakil atau pengganti dalam urusan agama, jika dalam negara adalah gelar yang diberikan pada negara yang menjalankan syariat atau hukum Islam). Untuk menyebarluaskan ajaran tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah di Nusantara, sehingga menjadi besar seperti saat ini. Syaikh Ahmad Khatib Sambas tidak menulis sebuah kitab pun, namun kedua muridnya yang setia merekam ajaran-ajarannya dalam risalah pendek bahasa Melayu. Yang dengan jelas, menjelaskan teknik-teknik dari tarekat ini.

Pemikiran Syaikh Ahmad Khatib Sambas

Menurut Naguib Al-Attas, Khatib Sambas adalah seorang syaikh dari tarekat, yaitu Qadiriyyah dan Naqsyabandiyyah. Ia tidak mengajarkan kedua tarekat ersebut secara terpisah tetapi mengombinasikan keduanya. Tarekat kombinasinya ini merupakan tarekat yang baru, berbeda dengan tarekat aslinya.

Hurgronje juga mengakui bahwa Khatib Sambas adalah ulama yang andal dan unggul di dalam setiap cabang pengetahuan Islam. Kunci dari penyebaran tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah adalah karya Khatib Sambas yang berjudul Fath Al-‘Arifin, karyanya yang paling termahsyur dan paling diutamakan. Fath Al-‘Arifin menjelaskan tentang unsurunsur dasar doktrin sufi sebagai janji setia (baiat), mengingat Tuhan (zikir), kewaspadaan (muraqabbah), dan rantai spiritual (silsilah).

Khatib Sambas dipandang sebagai orang yang telah memformulasikan pokok-pokok ajaran tarekat Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah. Beberapa ajaran yang dikembangkan bertalian langsung dengan metode mendekatkan diri kepada Allah. Ajaran-ajaran tersebut, yaitu tentang kesempurnaan suluk, adab, dzikir, dan muraqabbah.

  • Kesempurnaan suluk. Kesempurnaan ini berada dalam tiga dimensi, yaitu iman, Islam, dan ihsan. Ketiga term tersebut biasa dikemas dalam ajaran yang termahsyur yaitu syari’at, thariqat, dan haqiqat.
  • Adab para murid. Secara garis besar, adab yang dipraktikkan ada empat, yaitu adab kepada Allah dan Rasul-Nya, adab kepada syaikh, adab kepada ikhwan, dan adab kepada diri sendiri.
  • Dzikir. Dzikir dalam tarekat adalah aktivitas lidah, baik lidah fisik maupun lidah batin untuk menyebut dan mengingat nama Allah, baik berupa jumlah (kalimat) maupun isim mufrad (kata tunggal).
  • Muraqabbah. Dalam tasawuf, istilah ini berarti kontemplasi kesadaran seorang hamba yang secara terus menerus diawasi Allah di setiap keadaan. Muraqabbah dilaksanakan dalam rangka latihan psikis untuk dapat menerima limpahan karunia dari Allah, sehingga menjadi mukmin yang sesungguhnya.

Related posts