Biografi Singkat Said Nursi : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

  • Whatsapp
Biografi Singkat Said Nursi : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran


Biografi Said Nursi | Biografi Singkat Said Nursi | Profil Said Nursi | Badiuzzaman | Riwayat Pendidikan Said Nursi | Karya Said Nursi | Pemikiran Said Nursi | Wislahcom | Referensi |

Profil Said Nursi

Said Nursi lahir pada tahun 1877 M, di sebuah desa bernama Nurs di sebelah Anatoli Timur. Ayahnya bernama Mirza, seorang sufi yang sangat wira’i dan diteladani sebagai seorang yang tidak pernah memakan barang haram dan hanya memberi makan anak-anaknya dengan yang halal saja. Begitu juga dengan ibunya, Nuriye seorang wanita yang saleha. Ia pernah berkata bahwa dirinya hanya menyusui anak-anaknya dalam keadaan suci dan berwudhu.

Menurut Muhammad Mojlum Khan dalam 100 Muslim Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah (2008), sejak kecil, Said Nursi tertarik kepada sufisme dan ajaran-ajaran pendiri tarekat Qadiriyyah yang berpengaruh, Abdul Qadir al-Jilani. Hubungan spiritual dan kasih sayangnya terhadap Syeikh al-Jilani terus menumbuh dari hari ke hari. Dia mengklaim telah “dibimbing” oleh syekh sufi yang mulia ini, tatkala melakoni masa-masa paling bergolak dalam kehidupannya.



Abdullah, abang Said Nursi, kemudian memotivasinya untuk memasuki sekolah di desanya ketika Nursi berusia 9. Diberkati ingatan kuat dan otak yang tajam, dia berhasil menghafal al-Quran tanpa harus bersusah-payah. Setelah meraih gelar diploma dalam ilmu-ilmu keislaman pada usia 14, Said Nursi mempertimbangkan untuk meninggalkan pendidikan formal. Setelah itu, dia mengaku bermimpi bertemu Nabi Muhammad, yang mendorongnya untuk kembali melanjutkan studi.

Said Nursi menguasai ilmu-ilmu keislaman tradisional di bawah bimbingan para ulama terkemuka, seperti Syekh Mehmed Celali dan Syekh Mehmed Emin Efendi. Setelah lulus sebagai sarjana Islam, Said Nursi pindah ke dekat Siirt. Di sanalah seorang ulama terkemuka bernama Syekh Fetullah Efendi menjulukinya ‘Bediuzzaman’ (keajaiban zaman), karena keluasan ilmu dan pengetahuannya. Ketika popularitasnya menyebar ke penjuru Siirt, para ulama lokal dikabarkan menjadi sangat iri kepada Said Nursi .

Setelah menguasai ilmu-ilmu keislaman tradisional, Said Nursi mengejar pendidikan lanjutan dalam bidang filsafat, mistisisme, sejarah, matematika, dan fisika. Pendekatan terhadap ilmu pengetahuan modern membuka cakrawala intelektualnya atas bahaya pemikiran sekuler Barat.



Hal ihwal itu mendorong Said Nursi untuk tidak hanya menentang pembagian sistem pendidikan Turki, tetapi juga mengimbau para pemimpin politik dan religius Turki untuk mereformasi kurikulum pendidikan agama. Dengan begitu, sebuah generasi ulama baru dapat dididik untuk menghadapi pelbagai tantangan yang dimunculkan oleh filsafat dan ideologi Barat-sistem berpikir yang, menurut Said Nursi, tidak mengenal Tuhan .

Selama periode ini, dia aktif terlibat dalam urusan sosial-politik Kekhalifahan Turki Usmani. Sukran Vahide meneroka dengan cerkas-puitis dalam Islam in Modern Turkey: An Intellectual Biography of Bediuzzaman Said Nursi (2005) bahwa Said Nursi ikut serta dalam perang melawan Rusia di garis depan Kaukasia. Tertangkap oleh pasukan Rusia, Said Nursi menghabiskan waktu selama dua tahun sebagai tawanan perang di Rusia. Pada 1918, Said Nursi berhasil meloloskan diri dan kembali ke Istanbul lewat Wina. Di pinggiran kota Istanbul, dia berziarah ke makam Abu Ayub al-Anshari, salah seorang sahabat Rasulullah.

Pengasingan spiritual di dekat makam Abu Ayub mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Said Nursi kemudian melakukan sebuah studi mendetail atas Alquran, Futuh al-Ghaib (Menyingkap Alam Gaib) karya Syekh Abdul Qadir al-Jilani, dan Maktubat (Surat-surat) karangan Imam Rabbani Syekh Ahmad Sirhindi. Sesudah itu, Alquran menjadi sumber utama bimbingan dan pencerahan spiritual baginya.



Pendidikan Said Nursi

Semasa mudanya, di usia sekitar sembilan tahun, Said Nursi mulai belajar Al-Qur’an dengan kakaknya, Abdullah. Untuk mengembangkan dan meningkatkan ilmu, pertama kalinya mereka pergi ke Madrasah Muhammad Afandi di desa Tag dekat Isparta yang pada saat itu ia menjadi kepala sekolahnya. Pemilik Madrasah tersebut Syaikh Abdurahman Tagi sangat menyenangi murid-muridnya yang berasal dari Nurs. Ia pernah berkata bahwa salah satu dari muridnya kelak menjadikan Islam bangkit kembali. Namun, Said Nursi tidak lama di madrasah itu karena sering berkelahi dan merasa tidak cocok dengan guru dan murid-murid lainnya.

Sekitar tahun 1888, dengan penuh semangat ia berangkat ke sekolah Syaikh Emin Efandi di Bitlis. Tetapi, Syaikh Emin pada saat itu sedang sakit sehingga tidak dapat mengajar kemudian menyuruh murid yang lain untuk membatalkannya, hal tersebut ditolak oleh Said Nursi. Akhirnya pindah ke Madrasah Mir Hasan Wali di Mukus yang pada saat itu Abdülkerim menjadi kepala sekolahnya. Namun, di sana hanya bertahan beberapa hari, kemudian pergi ke Vaston dekan Van. Setelah satu bulan di sana, ia bersama temannya Muhammad pergi menuju Beyazid. Di sinilah Said Nursi mempelajari ilmu-ilmu agama dasar karena sebelumnya, ia telah mempelajari buku-buku tata bahasa dan sintaksis Arab sampai buku yang berjudul Hall al-Muaqqad, yang merupakan tingkat menengah dan sepadan dengan karya yang terkenal yang berjudul Izrar al-Asrar.” Pada saat usianya sekitar 18 tahun, ia mengkonsenterasikan diri dalam pengkajian ilmu-ilmu agama dan ilmu logika.

Di sekolah tersebut, ia mendapat bimbingan dari Syaikh Muhammad Jalali. Said Nursi menunjukkan kesungguhannya dengan mempelajari dan membaca buku yang tebalnya sekitar dua ratus halaman lebih setiap harinya meskipun terkadang bahasanya sulit dimengerti. Selama itu pula ia terputus pada dunia luar karena keinginannya untuk fokus dalam mempelajari ilmu agama.

Setelah tiga bulan berlalu, ia mendapatkan ijazah diploma dari Syaikh Muhammad Jalali. Sekitar tahun 1889 ia berangkat ke Bitlis untuk mengikuti pelajaran yang  disampaikan oleh Syaikh Muhammad Amin, kemudian ia melanjutkan ke Sirvan, di mana kakanya, Abdullah mengajar. Selanjutnya dari kota itu ia melanjutkan ke Siirt mana kakanya, Abdullah mengajar. Selanjutnya dari kota itu ia melanjutkan ke Siirt

untuk menemui seorang ulama yang terkenal bernama Fethullah Efendi. Ia menguji Said Nursi dengan menanyakan mengenai kitab yang berjudul Al-Jami’. Kata Nursi dapat mengingat dan menguasai dengan baik kitab tersebut. Selain itu, Fethullah Efendi juga menguji buku yang berjudul al-Maqamat al-Haririyah kepada Said Nursi. Ia menghafal satu halaman, kemudian mengulanginya tanpa membaca. Hal tersebut membuat Fethullah Efendi kagum. Atas prestasinya, ia memberikan sebutan Bediuzzaman bagi Said Nursi yang berarti Keajaiban Zaman. Ketika Said Nursi berada di sana, ia juga meanfaatkan waktunya untuk menghafalkan buku yang berjudul Jam’ul Jawami (kitab mengenai ilmu fiqih) karya Ibn as-Subki setiap hari selama seminggu.

Kehebatan dan kecerdasan yang dimiliki Said Nursi telah menyebar di kota Siirt, membuat ulama di kawasan itu berkumpul dan mengundang Said Nursi untuk mengajaknya berdebat dan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Said Nursi menerima undangan tersebut dan ia berhasil menjawab segala pertanyaan yang diajukan kepadanya. Hal tersebut membuat orang-orang yang melihat kagum dan nama Said Nursi menjadi terkenal, sehingga ia dijuluki Said-i Meshur atau Said yang terkenal.

Said Nursi juga tergolong orang yang unik, hal ini dapat terlihat dari cara berpakaian, ia membawa sebuah belati besar, pistol di pinggangnya, selempang tersandang melintang di dadanya, celana gombrong, syal yang melingkari topi kerucut di kepalanya, dan sepatu bot di kakinya, cara berpakaiannya ini sering menjadi sasaran komentar bagi orang yang melihatnya. Ia lebih mirip tentara atau pejabat tinggi daripada seorang ulama dan ia tidak menginginkan berbusana mewah.

Pada tahun 1892 M, Said Nursi pergi menuju Mardin untuk melakukan perdebatan dengan ulama di Masjid raya kota tersebut. Di sana ia tinggal di rumah Syaikh Eyup Ensari dan mengajar di Masjid Sahide. Di kota inilah, pertama kalinya ia peduli dengan dunia politik serta perjuangan demi kebebasan dan pemerintahan konstitusional yang sedang diupayakan oleh Usmani Muda sejak tahun 1860-an.¹8 Keberadaanya di kota Mardin membuat walikota, Nadir Bek mengusirnya karena dianggap berbahaya dan pembuat kekacauan di kota tersebut. Oleh karena itu, ia kembali ke kota Bitlis.

Di kota Bitlis, Said Nursi tinggal di rumah walikota, Omar Pasya. Selama tinggal di sana, ia berkesempatan untuk mempelajari dan menelaah sejumlah kitab kalam, mantiq (logika), nahwu, tafsir, hadis, dan fiqih. Lebih dari Delapan puluh kitab telah dihafalnya. Terakhir kali ia diajarkan oleh seseorang Syaikh Naqsyabandii yang bernama Syaikh Muhammad Kufrevi.

Karya Said Nursi

Karya Badiuzzaman Said Nursi yang menjadi masterpiece atas karya-karyanya adalah Risalah Nur. Dalam kitab ini, Said Nursi banyak menyingggung tentang moralitas yang merupakan platform pemikiran Said Nursi, karena Said Nursi hidup ketika materalisme dan komunisme sedang menggelora dengan dekadensi moral yang melanda dunia, sedangkan disisi lain ilmu pengetahuan dan teknologi sedang menemukan syurganya. Said Nursi menghendaki pendekatan dalam pendidikan Islam dengan menggabungkan dua sayap keilmuan itu secara integral, di mana sebelumnya kedua aliran ilmu itu terpisah.

Dalam kitabnya Risalah Nur, Said Nursi membawa para pembaca memahami hakikat Islam dan ilmu, beliau merangkainya dengan begitu indah. Menjadikan Ilmu pengetahuan sebagai gerbang untuk seorang Muslim lebih memaknai keimanannya kepada Allah. Sebagai contoh kutipan Said Nursi dalam Risalah Nur yang berjudul Dari Cermin ke-Esaan Allah :

“lihatlah keteraturan dan keseimbangan di langit dan ketahuilah betapa berkuasa dan bijaksananya Sang Pencipta. Ketika engkau melihat seseorang memutarbalikkan banyak sekali benda dengan keseimbangan khusus yang sempurna untuk beberapa tujuan bijaksana, engkau bisa menebak betapa bijaksana, berkuasa, dan mahirnya orang itu. Begitu pula, bersama bintang-bintang mereka yang berukuran besar dan berkecepatan tinggi, langit yang begitu luas telah melaksanakan tugas-tugas mereka selama jutaan tahun sesuai dengan ukuran yang tepat dan dengan keseimbangan sensitif yang akurat. Mereka tidak pernah melanggar larangan, dan tidak pernah menyebabkan kerusakan sedikitpun. Ini menunjukan kepada mata yang penuh perhatian tentang betapa sensitif dan akuratnya takaran itu yang dengannya Sang Pencipta Yang Agung menjalankan Kekuasaan-Nya”

Mereka yang memahami intipati iman melalui Risalah Nur mencapai tahap keimanan yang kental sehingga mampu menunjukan keberanian dan keperwiraan Islam yang hebat. Badiuzzaman, yang mewakili roh Risalah Nur sendiri telah menjadi pemimpin bagi ratusan ribu pelajar dan kini telah mencapai jutaan pelajar yang menghayati karya tersebut. Beliau menjadi contoh kepada orang-orang Islam lain di Turki ketika itu. Beliaulah penyokong mereka di hari-hari yang penuh bahaya, seumpama seorang ketua tentara yang memberi arahan kepada tentaranya melalui keberanian dan kewibawaannya sendiri. Dengan ini, mereka pun berjaya menghilangkan ketakutan dari hati. Said Nursi telah membawa harapan dari kelegaan dan menyelamatkan orang-orang Islam daripada cemas dan kecewa.

Pemikiran Said Nursi

Dalam karya-karyanya, ketika membahas tasawuf, Nursi tidak pernah mendefinisikan pengertian tasawuf secara etimologis. Ia hanya menguraikan makna tasawuf secara umum melalui pandangannya sendiri. Dalam pandangan Nursi, secara umum tasawuf merupakan perjalanan batiniah (inner journeying) melalui penyucian kalbu dari segala bentuk penyakit hati, seperti egois, takabur, dan lainnya untuk mencapai hakikat kebenaran atau Tuhan.

Dalam pandangan Nursi, tasawuf yang berupa perjalanan batiniah menuju Tuhan sejatinya sudah terangkum dalam syariah. Nursi tidak memaknai syariah sebagai produk ulama klasik yang termaktub dalam hukum-hukum fiqih, melainkan sebagai kumpulan prinsip-prinsip, perintah, dan larangan Ilahi yang berasal dari Tuhan dan ditujukan secara langsung kepada umat manusia melalui nabi. Dengan pengertian syariah secara demikian, Nursi menganggap bahwa segala bentuk perjalanan spiritual dalam tasawuf atau tarekat masih berada dalam lingkaran syariah.

Bagi Nursi, syariah bukan hanya dimensi eksternal dari Islam, sedangkan tarekat bagian dalamnya, dan hakikat merupakan inti atau esensinya. Syariah justru berkembang dalam berbagai tingkatan sesuai dengan tingkatan manusia yang berbeda-beda, yaitu untuk setiap tingkatan terdapat perbedaan tingkat keterkaitan pemahaman dan pelaksanaan syariah. Semakin baik atau semakin meningkat seseorang dalam memahami, melaksanakan, dan mengenyam syariah, maka semakin meningkat derajatnya sebagai seorang muslim.

Dengan alasan inilah Nursi tidak sepakat jika menganggap pemahaman dan pelaksanaan orang awam sebagai syariah, dan tingkatan syariah yang dijalankan orangorang saleh sebagai tarekat dan hakikat. Tarekat pada dasarnya adalah nama sebuah disiplin syariah dengan cara yang lebih baik, dan syariah memiliki banyak sekali tingkatan pemahaman dan pelaksanaan sesuai dengan perbedaan tingkat manusia.

Oleh karena itu, Nursi mengakui bahwa ada banyak jalan spiritual dalam mendekat kepada Tuhan yang didapatkan dari Alquran. Pada titik inilah, Nursi mengkonstruksi jalanjalan spiritual menuju Tuhan yang ditimbanya secara langsung dari Alquran sehingga menghasilkan empat langkah yaitu pengakuan atas ketidakberdayaan diri, kefakiran, kasih sayang, dan refleksi.

Related posts