Biografi Singkat Muhammad Abduh : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

  • Whatsapp
Biografi Singkat Muhammad Abduh : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran


Biografi Singkat Muhammad Abduh | Profil Muhammad Abduh | Pendidikan Muhammad Abduh | Karya Muhammad Abduh | Pemikiran Muhammad Abduh | Wislahcom | Referensi |

Profil Muhammad Abduh

Muhammad Abduh atau Abduh (1849 – 11 Juli 1905) adalah seorang teolog Muslim, Mufti Mesir, pembaharu liberal, pendiri Modernisme Islam dan seorang tokoh penting dalam teologi dan filsafat yang menghasilkan Islamisme modern. Nama lengkap beliau adalah Muhammad Abduh Ibn Hasan Khair Allah, dilahirkan pada tahun 1849 M di Mahallat al-Nasr daerah kawasan Sibrakhait Provinsi al-Bukhairoh Mesir.

Ayahnya Hasan Khairullah berasal dari Turki. Ibunya bernama Junainah berasal dari bangsa Arab yang silsilahnya sampai ke suku bangsa yang sama dengan Umar bin Khattab. Kelahiran Muhammad Abduh diiringi dengan kekacauan yang terjadi di Mesir. Pada waktu itu, penguasa Muhammad Ali mengumpulkan pajak dari penduduk desa dengan jumlah yang sangat memberatkan. Akibatnya penduduk yang kebanyakan petani itu kemudian selalu berpindah-pindah tempat untuk menghindari beban-beban berat yang dipikulkan atas diri mereka itu. Orang tua Muhammad Abduh juga demikian. Ia selalu pindah dari satu tempat ketempat lainnya. Itu dilakukannya selama setahun lebih. Setelah itu barulah ia menetap di Desa Mahallat al-Nasr. Di desa ini ia membeli sebidang tanah.



Syeikh Muhammad Abduh dibesarkan dalam lingkungan keluarga petani di kampung halamannya. Ketika saudara-saudaranya ikut turut membantu ayahnya dalam mengelola lahan pertanian maka Abduh ditugaskan untuk menuntut ilmu pengetahuan diluar kampung halamannya setelah belajar membaca dan menulis di rumahnya. Ayahnya mengirimkan Abduh kesuatu tempat pendidikan pengafalan al-Qur’an untuk menimba ilmu pengetahuan dan ia mampu menyelesaikan hafalalannya sampai 30 juz setelah dua tahun berlalu ketika usianya baru berumur 12 tahun.

Muhammad Abduh dibesarkan dalam asuhan keluarga yang tidak ada hubungannya dengan dunia pendidikan sekolah, tetapi mempunyai jiwa keagamaan yang teguh. Proses pendidikannya dimulai dengan belajar al-Qur’an kepada seorang guru agama di Masjid Thantha untuk belajar bahasa Arab dan ilmu-ilmu agama dari Syekh Ahmad tahun 18624. Dalam pendidikannya ia mampu mengenal dan mengusai ilmu yang diajarkan tentang al-Qur’an sampai pasih. Semua segi ilmu al-Qur’an ia lahap, sehingga sewaktu melanjutkan pendidikannya ia mengkritik cara pengajaraan.

Disaat belajar ia merasa bahwa metode yang dipakai kurang menarik dan ia berguru kepada guru yang lainnya. Pada lembaga pendidikan khususnya di Masjid Ahmadi ia mengikuti proses pendidikan yang dia nilai kurang memuaskan. Karena timbulnya perasaan dan kritik demikian akibat metode pengajaran yang diterapkan di sekolah tersebut mementingkan hafalan tanpa pengertian. Muhammad Abduh sebagai seorang yang kritis merasakan tidak efektifnya metodenya yang demikian, sehingga ia memutuskan untuk kembali kekampung halamannya ke Mahallat Nashr. Sekembalinya ke daerah asalnya, ia membantu ayahnya bertani dan kemudian ia menikah dalam usia 16 tahun.



Walaupun Abduh sudah menikah, ayahnya selalu memaksanya untuk melanjutkan studinya maka Abduh akhirnya melarikan diri ke Syibral Khit yang mana di desa ini banyak yang tinggal dari keluarga ayahnya. Dan disinilah dia bertemu dengan Syeikh Darwisy Khidr, salah seorang pamannya sendiri yang mempunyai pengetahuan mengenai al-Qur’an dan penganut thariqah asy-Syadziliah.

Setelah ia menikah, melalui nasehat pamannya ia kembali meneruskan pendidikannya. Pertemuannya dengan guru-guru yang baru ia kenal membuatnya senang. Setelah ia menyelesaikan studinya di Thantha beliau melanjutkannya ke al-Azhar, yakni di pada Februari 1866. Setelah ia masuk ke Universitas al-Azhar ia hanya mendapatkan pengajaran agama; dan memang ketika itu al-Azhar, seperti yang dikatakan Syekh Darwisy, tidak memberikan mata pelajaran yang lain selain ilmu-ilmu agama. Di Universitas ini pun ia menemukan metode pengajaran yang sama dengan yang ditemukannya di Thanta. Hal ini membuat ia kembali merasakan kekecewaan terhadap metode pengajaran yang ada. Ia menuliskan kekesalannya pada tulisannya, dengan mengatakan metode pengajaran yang verbalis itu telah merusak akal dan daya nalarnya.

Sekembalinya ke Thanta pada 1865, dan di tahun selanjutnya ia pergi ke Kairo dan hidup sebagai seorang sufi. Rasa kekecewaan inilah mungkin yang menjadikan ia ingin mempelajari dunia mistik dan hidup sebagai seorang sufi tetapi kehidupan itu ditinggalkannya karena anjuran pamannya. Belajar di al-Azhar merupakan suatu pengalaman yang berharga bagi Abduh, sebab tahun 1872 ia berkenalan dengan Jamaluddin al-Afghani (1839- 1897 M)9 , untuk menjadi muridnya yang sangat setia. Abduh sangat tertarik dengan gurunya karena ilmunya yang dalam dan pola fikirnya yang maju. Oleh karena itu disamping belajar di al-Azhar ia tetap bersama jamaluddin al-Afghani saling berdiskusi tentang berbagai masalah.



Setiap kali al-Afghani berdiskusi dengan Abduh dan teman-temannya selalu meniupkan pembaharuan dan semangat berbakti kepada masyarakat dan berjihad memutuskan rantai kekolotan dan cara berfikir yang fanatik dan merubahnya dengan pola fikir yang lebih maju. Pemerintah pendudukan yang telah berpengalaman pahit dengan pemberontakan nasional 1857 itu takut pada ide-ide yang progresif revolusioner, dan segera ia diberangkatkan dengan kapal pemerintah ke Suez. Setelah itu ia pun berangkat ke Kairo, lalu ia sampai ke Universitas al-Azhar dan bertemu dengan para ilmuan yang tingkat kesarjanaannya yang lebih tinggi dan juga para mahasiswa al-Azhar.

Diantara gagasan-gagasan progresifnya yang sangat membekas dikalangan cendikiawan Mesir terlihat pada diri Muhammad Abduh. Pertemuannya dengan Jamaluddin merupakan kesempatan terbaik untuk berguru, dan ia mendapatkan ilmu sekaligus mewarisi ide-ide gurunya. Dari Jamaluddin ia mendapatkan imu pengetahuan, diantaranya filsafat, ilmu kalam dan ilmu pasti.

Ia merasa sedikit lebih paham dan mengerti akan ilmu-ilmu yang didapatkannya dari gurunya yang baru ini, barangkali metode yang diterapkan Jamaluddin yang menyebabkan ia lebih puas. Dari Jamaluddin tidak saja ditemukan metode pengajaran yang telah lama dicarinya, dan seperti yang dikatakannya Jamaluddin telah melepaskannya dari kegoncangan jiwa yang dialaminya. Agaknya inilah yang meneyebabkan Abduh mengikuti setiap kuliah- kuliah yang diberikan oleh gurunya.

Selama masa hidupnya Abduh sangat membenci dan menentang sikap Taklid yang terjadi pada umat Islam saat itu. Hal ini ia rasakan semenjak memasuki Universitas al-Azhar, dimana ia mendapati dua golongan dalam sudut pemahaman yang berbeda diantaranya : kaum mayoritas yang penuh dengan Taklid dan hanya mengajarkan kepada para siswanya pendapat-pendapat ulama terdahulu dan sekedar dihafal. Sementara kaum minoritas adalah mereka yang suka akan pembaharuan Islam yang mengarah kepada penalaran dan pengembangan rasa.

Metode pengajaran yang diterapkan Jamaluddin dinamakan dengan metode praktis (Amaliyyah) yang mengutamakan pemberian pengertian dengan cara diskusi. Metode itulah tampaknya yang diterapkan Abduh setelah ia menjadi pengajar. Selain pengetahuan teoritis, Jamaluddin al-Afghani juga mengajarkan kepadanya pengetahuan praktis, seprti berpidato, menulis artikel dan lain sebagainya.

Kegiatan yang demikan tidak hanya membawanya untuk tampil didepan publik, tetapi juga secara langsung mendidiknya untuk jeli melihat situasi sosial politik di negerinya.Meskipun Abduh aktif mencari ilmu pengetahuan diluar al-Azhar, akan tetapi ia tidak lantas melupakan tugasnya sebagai mahasiswa. Pada tahun 1877 iaberhasil menyelesaikan studinya dengan mendapatkan gelar ‘amin dan berhak mengajar di Universitas tersebut . Muhammad Abduh wafat pada tahun 1905 di Ramleh Iskandariah yaitu dalam perjalanan mengunjungi negara-negara Islam. Ia dimakamkan di Mesir setelah di solatkan di Masjid al-Azhar.

Pendidikan Muhammad Abduh

Muhammad Abduh dalam menjalankan pendidikannya berawal dari didikan orang tuanya sejak kecil. Ayahnya mendidik tentang ilmu agama, belajar membaca dan menulis, serta hafalan Al-Quran kepada seorang hafiz, sehingga selama 2 tahun Muhammad Abduh bisa hafal Al-Quran.

  • Sekolah Di Thanta Merasa tidak cukup belajar kepada orang tuanya. Muhammad Abduh melanjutkan pendidikannya di Thanta pada usia 19 tahun. Sebuah lembaga pendidikan di masjid Al-Mahdi. Di Thanta ia mendapatkaan pendidikan yang diajarkan oleh gurunya, tapi ilmu yang didapat dirasa kurang puas, karena di sekolah Thanta lebih ke arah hafalan tanpa pengertian, seperti nahwu dan fiqih, para guru yang mengajar di sekolah Thanta seakan-akan tidak peduli akan hal itu. Metode seperti di atas tidak disukai oleh Muhammad Abduh, sehingga pada akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya ke Mahallat Nasr, dan ia memutuskan tidak mau belajar lagi. Sepulang dari Thanta pada usia 20 tahun, Muhammad Abduh menikah, dan di hari ke 40 setelah menikah, ia disuruh oleh orang tuanya untuk kembali ke Thanta. Dengan terpaksa akhirnya Muhammad Abduh menuruti kemauan orang tuanya. Dalam perjalanannya ia berbelok arah ke daerah Kanisah Urin, tempat Syekh Darwisy Khadr. Di sana ia mendapatkan dorongan untuk kembali belajar dan membaca buku, tapi dari Muhammad Abduh sendiri sudah tidak mau lagi. Dengan sabar Syekh darwisy membujuknya, akhirnya Muhammad Abduh mau belajar dan membaca buku beberapa baris. Buku yang dibaca Muhammad Abduh kemudian Syekh Darwisy menjelaskan penjelasan mengenai isi buku tersebut, tentang arti dan maksudnya, Ia mulai paham dengan apa yang dibacanya. Pada bulan Oktober 1856 M. Ia kembali ke Thanta dan melanjutkan pendidikannya selama 6 bulan, setelah selesai dari Thanta ia menuju ke pendidikan yang lebih tinggi yaitu di Al-Azhar.
  • Belajar di Al-Azhar Setelah selesai dari sekolah Thanta. Ia melanjutkan ke perguruan tinggi di Al-Azhar pada tahun 1866 M. Al-Azhar pada waktu itu masih dalam keadaan mundur dan jumud, karena belum dapat menerima pembaharuan terutama yang dibawa oleh Tahtawi. Metode yang di gunakan Al-Azhar masih sama dengan masjid Al-Mahdi yakni, menggunakan metode hafalan. Kurikulum yang digunakakan di Al-Azhar hanya mencakup ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab.

Menurut Muhammad Amin, kondisi Al-Azhar ketika itu menganggap bahwa segala sesuatu yang berlainan dengan kebiasaan merupakan suatu kekafiran. Membaca buku-buku geografi, ilmu alam atau filsafat adalah haram. Bahkan lebih dari itu, memakai sepatu pun dianggap merupakan sesuatu yang bid‟ah dan bertentangan dengan ajaran agama Islam yang sebenarnya.

Al-Azhar pada abad kesembilan belas mengharamkankan mempelajari imu pengetahuan modern, berbeda pada masa dinasti Fatimiyyah, pada masa ini ilmu modern di pelajari, sehingga pada waktu itu Al-Azhar maju dengan ilmu pengetahuannya. Dengan Hasan Thawil Muhammad Abduh belajar tentang ilmu filsafat, ilmu ukur, soal-soal dunia dan politik, tapi itu semua didapatkan kurang memuaskan. Metode yang digunakan di Al-Azhar membuatnya kecewa. Dalam salah satu tulisannya ia menuliskan rasa kecewanya, dengan menyatakan bahwa metode pengajaran yang verbalis telah merusak akal dan daya nalarnya.

Pada tahun 1871 M. Muhammad Abduh bertemu dengan Sayyid Jamaluddin Al-Afghani yang datang ke Mesir, dari Jamaluddin ia mendapatkan ilmu pengetahuan yakni, ilmu falsafah, ilmu kalam dan ilmu pasti. Metode yang digunakan Jamaluddin adalah menggunakan metode praktis (maliyyah), yang mengguanakan motode pengertian dengan cara berdiskusi, selain itu ia juga mendapatkan ilmu tentang berpidato, menulis artikel dan lain sebagainya, membuatnya tampil di depan publik, ia juga melihat secara langsung keadaan situasi sosial politik di negaranya walaupun ia belajar bersasma guru barunya Jamaluddin Al-Afghani, ia tidak melupakan tugasnya sebagai seorang mahasiswa di Al-Azhar, sehingga ia mendapatkan gelar Alim pada tahun 1877 M.

Sebagai mahasiswa di Al-Azhar, Muhammad Abduh sering mendapat perbedaan pendapat dengan para dosen Al-Azhar yang kurang sesuai dengan pemikirannya. Dan perbedaan pendapat pun masih berlanjut sampai mencapai puncaknya yaitu, ujian munaqasyah akhir kuliahnya. Sebagaian dosen Al-Azhar merasa tidak suka dengan Muhammad Abduh, bahkan mempunyai pikiran buruk terhadapnya, dengan tidak akan meluluskan ujian terakhirnya. Tetapi dikalangan dosen Al-Azhar masih ada yang mempunyai pemikiran yang adil terhadap Muhammad Abduh, dan mereka berpendapat bahwa, Muhammad Abduh berhak mendapat nilai nomor satu atau disebut juga cumlaude, karena pertanyaan yang diberikan dosen untuk Muhamad Abduh dijawab dengan amat luas dan secara ilmia yang mengagumkan.

Karena itu pendapat para dosen Al-Azhar terpecah dua. Syekh Alisy dan kawan-kawannya yang kurang sependapat dengan dosen lainnya mengatakan bahwa, “Muhammad Abduh tidak lulus”, karena pahamnya yang maju dan cara berpikirnya yang modern dapat membahayakan Al-Azhar. Syekh Muhmmad al-Abbasi al-Mahdi sebagai rektor Al-Azhar, akhirnya turun tangan untuk menentramkan suasana di Al-Azhar. Beliau yang ikut menyaksikan munaqasyah dengan berat hati mengatakan bahwa, Muhammad Abduh lulus memperoleh syahadah dengan derajat kedua, setelah salah satu dosen penguji mengajukan usulan dengan jalan tengah. Jawaban yang dilontarkan Muhammad Abduh membuat kagum rektor Al-Azhar, karena beliau tidak pernah melihat seseorang yang secerdas dan seteguh Muhmmad Abduh, sehingga ia berhak mencapai derajat pertama (ad-Darajatul Ula).

Setelah terjun ke masyarakat, Muhammad Abduh semakin terkenal dan makin masyhur di dunia melampaui batas negerinya sendiri. Hal tersebut memaksa Al-Azhar untuk meninjau kembali keputusannya yang tidak adil dan tidak tepat duapuluh enam lalu waktu itu. Duapuluh enam tahun kemudian (1904 M) rektor Al-Azhar dijabat oleh Syekh Ali al-Bablawi. Ditetapkanlah, bahwa Muhammad Abduh harus diberikan haknya yang sebenarnya, yaitu nilai tertinggi yang berupa cam laude. Sebenarnya penghargaan ini tidak diperlukan lagi, karena sebelumnya Muhammad Abduh menjadi mahasiswa yang termasyhur di seluruh dunia.

Karya Muhammad Abduh

Sebenarnya abduh tidak terlalu sering menuangkan dan merangkai pemikiran-pemikirannya dalam buku. Namun, Muhammad Abduh lebih sering menyampaikan gagasanya melalui pidato-pidatonya. Hal tersebut dapat dimaklumi karena waktu yang ia miliki habis terpakai untuk mengajar ketimbang untuk menulis. Abduh pernah mengajar di Al-Azhar, Masjid Raya Beirut, Masjid Raya Al-Basyarah, Dar Al-Ulum, dan lain sebagianya.

Menurut Muhammad Abduh, pemikiran yang disampaikan lewat ucapan lebih menyentuh hati sanubari pendengar, ketimbang menerangkan dalam bentuk tulisan. Namun, tidak berarti karya-karya intelektual Muhammad Abduh yang dituangkan dalam bentuk tulisan tidak ada. Pengalamnnya dalam dunia jurnalis cukup membuat abduh memberikan perhatian dalam menulis. Hal tersebut dapat kita jumpai dalam karya-karyana yang dapat kita kelompokkan sebagai berikut :

  • Karya dalam bentuk tulisan di surat kabar dan majalah, seperti yang terdapat pada al-Ahram, al-Waqa’i, al-Misriyah, Samrat al-Funun, dan alMu’ayyad serta al-Manar, di bawah pimpinan Muhammad Rasyid Ridha.
  • Karya dalam bentuk komentar dan buku dalam berbagai bidang seperti :
    • Risalat al-Waridah, Kairo 1874 (Tentang Tasawuf dan Mistik).
    • Hasyiyah ‘ala ad-Dawani li al-‘Aqa’id al-Adudiyah (Cairo 1876-1904).
    • Risalah ar-Rad ‘ala ad-Dahriyin (sebuah salinan Jamaluddin AlAfgani untuk menyerang histories materialisme, terbit di Beirut 1886, dan di Mesir tahun 1895).
    • Syarh Nahj al-Balaghah (uraian karangan Saidina Ali, khalifah IV, terbit di Beirut 1885).
    • Syarh Maqamat Badi’ az-Zaman al-Hamdani, Beirut 1889.
    • Risalah at-Tauhid, Cairo 1897.
    • Syarh Kitab al-Basr al-Nasriyah fi al- ‘Ilmi wa al-Mantiq (tentang pengetahuan dan logika, Cairo 1897).

Pemikiran  Muhammad Abduh

Ada tiga objek pokok yang menjadi sasaran pembaharuan Abduh. Pertama pembaruan dalam bidang agama, peran akal dan pembebasan dari taklid buta. Kedua pembaruan dalam bidang politik. Ketiga pembaruan dalam bidang pendidikan.

  • Rasionalitas Muhammad Abduh Muhammad Abduh sangat terpengaruh oleh pemikiran Jamaluddin Al-Afghani. Muhammad Abduh dikenal sebagai tokoh rasional dalam memperoleh iman sejati. Menurutnya, iman tidak sempurna jika tidak didasarkan atas akal. Iman harus berdasarkan keyakinan kepada Tuhan, ilmu serta kemahakuasaan-Nya dan pada Rasul. Sehingga kedudukan akal sangat penting dalam memahami semua hal.

Menurut Abduh, pembaharuan agama berarti membebaskan akal fikiran dari ikatan taklid, memahami agama lewat pemahaman kaum salaf umat ini sebelum munculnya perselisihan, kembali kepada sumber-sumber utama dan asli dalam memperoleh pengetahuan (agama) sambil meletakkannya dalam timbangan akal sebagai karunia Allah bagi manusia agar mereka tidak tergelincir dan tersesat. Akal juga merupakan kesempurnaan hikmah Allah dalam memelihara aturan alam insani. Dalam hal ini akal merupakan teman seiring ilmu, pendorong untuk menyingkap rahasia-rahasia semesta (al-kaun), penyeru untuk menghormati hakikat-hakikat sejati, dan salah satu sarana terbaik untuk mendidik jiwa dan meluruskan amal perbuatan.

Pernyataan di atas memberi gambaran jelas tentang bagaimana Abduh sangat menghormati akal, posisi serta kemampuannya dalam mencari, meneliti, dan menemukan hakikat-hakikat semesta dan kehidupannya. Ini sama sekali tidak mengimplikasikan makna bahwa agama dalam pemikiran Muhammad Abduh menempati posisi di bawah akal. Ia justru menjadikan agama sebagai sumber pertama dan asasi bagi segenap aktifitas manusia.

Tentang kedudukan akal dalam peta pemikiran pembaharuan agama Muhammad Abduh dapat dilihat dalam beberapa poin penting di bawah ini :

  • Muhammad Abduh sangat meninggikan kedudukan akal dalam menafsirkan al-Qur`an. Dalam hal ini Muhammad Abduh menekankan pentingnya meningalkan beberapa sisi pandangan para mufasir terdahulu bagi orang-orang yang hendak menafsirkan al-Qur`an dengan penafsiran modern. Para penafsir kontemporer hanya perlu membekali diri dengan perangkat kebahasaan, beberapa asbab nuzul, sirah Nabi dan pengetahuan sejarah manusia, kehidupan semesta dan bangsa-bangsa yang disebutkan al-Qur`an. Bagi Muhammad Abduh, pendapat para mufasir klasik terikat dengan tingkat kemampuan akal dan derajat ilmu yang mereka capai, dan berlaku hanya bagi kelompok sosial dan lingkungan budaya mereka saat itu. Dengan sendirinya maka akal nalar kita dewasa ini tidak boleh terpaku dengan apa yang mereka capai, dan hasil olah pikir kita semestinya tidak sama dengan hasil olah pikir mereka. Dengan sendirinya pula taklid kepada ulama lama tidak perlu dipertahankan bahkan mesti diperangi karena taklid inilah yang membuat umat Islam berada dalam kemunduran. Muhammad Abduh percaya akan kekuatan akal, maka ia berpendapat bahwa pintu ijtihad perlu dibuka dan taklid perlu diberantas.
  • Menurutnya akal mempunyai kedudukan yang tinggi dibanding dengan kekuatan-kekuatan lain yang dimiliki manusia, Muhammad Abduh berkata : “Akal merupakan kekuatan manusia yang paling utama, bahkan ia merupakan kekuatan bagi segenap kekuatan manusia dan pilarnya. Alam semesta merupakan lembaran dan buku yang harus dibaca dan diteliti oleh akal, dan semua hasil bacaannya merupakan petunjuk menuju-Nya juga merupakan jalan untuk bisa sampai kepada-Nya.” Ketiga, Muhammad Abduh membedakan antara teks al-Qur`an dan teks-teks selainnya. Bagi Muhammad Abduh, teks-teks non al-Qur`an tidak memiliki kelebihan selain sebagai argumen dan data klasik semata. Ini dikarenakan kita tidak memiliki informasi yang cukup dan orisinil tentang sanad (untaian para pembawa riwayat) yang menyampaikan berita-berita kepada kita. Oleh karena itu, kita tidak bisa menjadikannya sebagai hujjah yang bisa mengalahkan argumen akal yang merupakan kekuatan manusia paling tinggi.
  • Politik dan Pemerintahan Muhammad Abduh

Dalam bidang politik, Muhammad Abduh sesungguhnya lebih menekankan kebebasan dalam menentukan, termasuk apakah negara berbentuk khalifah atau berbentuk negara dengan demokratisasi seperti yang telah terjadi di dunia Barat. Dengan sikap tersebut bukan berarti Abduh mengadopsi secara mentah sistem kedua model negara di atas. Karena jika hal tersebut terjadi menurut Abduh, maka sesungguhnya kaum muslimin keluar-masuk taqlid. Padahal taqlid merupakan berhala yang coba dihindari Abduh.

Kemudian yang terpenting bagi Abduh seperti yang dikemukakan oleh Abdul Athi adalah, memberikan kebebasan politik dan kebebasan berorganisasi kepada umat. Kebebasan inilah yang kemudian disebut Abduh sebagai kebebasan Insyaniah dalam menetapkan pilihannya. Sehingga, kebebasan tersebut diharapkan manusia dapat melakukan dengan penuh kesadaran, sehingga apa yang diharapkannya dapat digapai.

Kesadaran yang demikian akan hadir tentunya setelah reformulasi Islam atau mampu bangkit dan keluar dari kungkungan dogmadogma agama. Mengenai kepemimpinan, Muhammad Abduh tidak jauh berbeda dengan pemikir lainnya, sebab kepemimpinan merupakan faktor kunci dalam dinamika kehidupan. Jangankan dalam suatu masyarakat yang besar seperti negara, dalam sekelompok masyarakat terkecil atau bahkan pada setiap pribadi, kepemimpinan menjadi keniscayaan bagi Abduh.

Mengenai kekuasaan, Muhammad Abduh memandang perlu ada pembatasan dengan sebuah konstitusi yang jelas, sebab tanpa konstitusi menurut Abduh akan terjadi kesewenang-wenangan. Untuk itu Abduh mengajukan prinsip musyawarah yang dipandang dapat mewujudkan kehidupan yang demokratis. Kemudian dalam urusan pemerintahan serta institusi-institusi terkait, Abduh berpendapat bahwa, perlu adanya perwujudan desentralasasi dan pemberian kebebasan dalam setiap institusi pemerintahan secara administratif.

Abduh juga mengajukan bentuk pemerintahan yang sama seperti: Tasyri’iyah (legeslatif), Tanfidhiyah (eksekutif), serta Qadha’iyah (yudikatif). Walaupun lembaga-lembaga tersebut terpisah dan masing-masing memiliki otoritas tetapi, menurut Abduh satu dengan yang lain disyaratkan untuk saling bekerjasama dan saling membantu.

  • Pembaruan Pendidikan Muhamad Abduh

Munculnya ide-ide pendidikan Muhammad Abduh tampaknya lebih dilatar belakangi oleh faktor situasi, yaitu situasi sosial keagamaan dan situasi pendidikan yang ada pada saat itu. Yang dimaksud dengan situasi sosial keagamaan dalam hal ini adalah sikap yang umumnya diambil oleh umat Islam di Mesir dalam memahami dan melaksanakan ajaran agama dalam kehidupan mereka sehari- hari. Sikap tersebut tampaknya tidak jauh berbeda dari apa yang dialami umat Islam di bagian dunia Islam lainnya. Pemikiran yang statis, taqlid, bid’ah, dan khurafat yang menjadi ciri dunia Islam saat itu, yang juga berkembang di Mesir. Muhammad Abduh memandang pemikiran yang jumud itu telah merambat dalam berbagai bidang, bahasa, syari’ah, akidah dan sistem masyarakat.

Menurut Abduh, Tujuan pendidikan adalah “mendidik akal dan jiwa dan menyampaikannya kepada batas-batas kemungkinan seorang mencapai kebahagian hidup dunia dan akhirat”. Muhammad Abduh menitik beratkan pembaruannya di bidang pendidikan. Hal ini sejalan dengan tujuan hidupnya yaitu :

  • Membebaskan pemikiran dari belenggu taklid dan memahami ajaran agama sesuai dengan jalan yang ditempuh ulama zaman klasik (salaf), yaitu zaman sebelum timbulnya perbedaan faham, yaitu dengan kembali kepada sumber-sumber utamanya. Kedua, Memperbaiki bahasa Arab yang dipakai, baik oleh instansi pemerintah maupun surat-surat kabar dan masyarakat pada umumnya, dalam surat menyurat mereka.

Menurut Muhammad Abduh, salah satu sebab keterbelakangan umat Islam yang amat memprihatinkan ini adalah hilangnya tradisi intelektual, yang intinya adalah kebebasan berpikir. Menurutnya, bidang pendidikan dan keilmuan lebih menentukan ketimbang bidang politik. Karena itu, Muhammad Abduh kemudian memilih mencurahkan perhatiannya kepada usaha reformasi intelektual dan pendidikan, berpisah dengan al-Afghani dalam hal strategi.

Menurutnya, upaya pembaruan dimulai dengan membangun sistem pendidikan yang kritis dengan metode yang modern. Melalui sistem pendidikan diharapkan terjadi perubahan pola pikir keagamaan bangsa Mesir yang rigid menjadi cair.

Dalam pandangan Muhammad Abduh, kekalahan serta ketertinggalan Mesir terhadap Eropa penjajah disebabkan karena ketidak-mampuan orang-orang Mesir untuk keluar dari jerat dogmatisme yang itu diperkuat oleh pendidikan Mesir yang konvensional (metode hafalan). Lemahnya penguasaan terhadap bahasa Arab juga menjadi faktor lain sehingga orang-orang Mesir tidak memiliki cukup alat guna mengkaji ulang kitab-kitab yang ditulis oleh para cendikiawan muslim pendahulunya. inilah yang menjadi salah-satu faktor kekakuan orang-orang Mesir dalam berfikir.

Akibatnya, orang-orang Mesir kemudian terlalu asyik dengan cara-cara berfikir yang berlandaskan warisan kebudayan berfikir klasik (taqlid), sehingga tidak memiliki kreatifitas yang inovatif dalam melahirkan pandangan-pandangan baru untuk kemaslahatannya, lebih-lebih menghadapi zaman yang selalu menuntut perubahan. Hal tersebut sangat berbeda dengan sistem pendidikan modern yang diterapkan oleh Eropa yang hakikatnya adalah pendidikan Islam itu sendiri. Usaha reformasi pendidikan Muhammad Abduh pertama kali ia tawarkan pada Universitas Al-Azhar.

Pada tahun 1896 Muhammad Abduh mengajukan agar Al-Azhar membuka fakultas kedokteran dan farmasi. Ia menegaskan pentingnya kesehatan dan bahwasanya ia perlu didukung dengan lingkungan yang sehat. Gaji para guru pun ditingkatkan dan diperoleh secara reguler setelah sebelumnya diperoleh secara tidak menentu bahkan terkadang tidak diperoleh sama sekali. Hasilnya pun terlihat, para mahasiswa mulai semangat masuk kuliah dan mengikuti ujian. Reformasi Al-Azhar juga dilakukan dalam hal penambahan materi-materi kuliah seperti ilmu hitung, aljabar, sejarah, geografi, Logika (mantiq) filsafat dan ilmuilmu umum lainnya akhirnya mendapat tempat di Al-Azhar.

Related posts