Biografi Singkat KH. Yahya Masduqi : Profil, Pendidikan, Organisasi, Politik dan Pendidik

  • Whatsapp
Biografi Singkat KH. Yahya Masduqi : Profil, Pendidikan, Organisasi, Politik dan Pendidik


Biografi Singkat KH Yahya Masduki | Profil KH Yahya Masduki | Pendidikan KH Yahya Masduki | Organisasi KH Yahya Masduki | Politik KH Yahya Masduki | KH Yahya Masduki Sebagai Pendidik |

Wislahcom | Referensi | : KH. Yahya Masduqi merupakan sosok ulama kharismatik yang harus kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. mengapa demikian? Karena KH. Yahya Masduki memiliki perhatian dan komitmen terhadap upaya dan membangun, meningkatkan, dan mengembangkan pendidikan agama Islam sebagai bagian integral dari sistem pendidikan yang diperuntukkan khususnya bagi kalangan santri yang berada di pesantren Babakan Ciwaringin.

Bagaimana Biografi singkat KH. Yahya Masduki?



Simak penjelasan singkat tentang : Profil KH. Yahya Masduki, Pendidikan KH. Yahya Masduki, Organisasi dan Politik KH. Yahya Masduki dan KH. Yahya Masduki Menjadi Seorang Pendidik.

Profil KH. Yahya Masduki

KH. Yahya Masduqi lahir pada tanggal 12 Juli 1947 di desa Babakan, tepatnya Babakan Selatan, Ciwaringin Cirebon. Selang beberapa waktu setelah kelahiranya, Allah SWT memanggil seorang tokoh besar bangsa Indonesia yaitu
Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, yang merupakan pendiri organisasi keagamaan terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama yang juga guru dari sang ayah, KH. Masduqi Ali. KH. Yahya Masduqi anak pertama dari lima bersaudara (Hj. Himayah Masduqi, Hj. Hamidah Masduqi, Hj. Maghfuroh Masduqi, KH. Soleh Sadad) dari pasangan KH. Masduqi Ali dan Ny Hj. Munjiah.

Pendidikan KH. Yahya Masduki

Lazimnya tradisi pesantren, Kang Yahya mendapatkan bimbingan ilmu agama langsung dari sang ayahnya, yaitu KH. Masduqi Ali sebagai guru pertamanya. Selanutnya Kang Yahya kecil menempuh pendidikan formal disebuah lembaga pendidikan Sekolah Rakyat (SR) yang saat itu dalam satu kecamatan hanya ada satu lembaga pendidikan sekolah, tepatnya di desa Budur. Selain sekolah formal di SR, ia juga sekolah membekali diri dengan pengetahuan agama di Madrasah Al-Hikamus Salafiyah Babakan Ciwaringin (MHS), sampai jenjang pendidikan Madrasah Tsanawiyah.



Setelah tamat Sekolah Rakyat (SR) pada tahun 1959, dan Tsanawiyah di Madrasah Al-Hikamus Salafiyah (MHS) tepatnya pada tahun 1966, beliau berangkat ke pesantren dengan membawa satu tujuan yaitu mengaji dan
menambah ilmu pengetahuan. Kang Yahya berangkat ke pesantren dengan dihantar oleh KH. Syarif Muhammad (abah Muh) yang waktu itu menjadi santri ayahnya. Pesantren yang dituju adalah Tebu Ireng Jombang, satu pilihan dengan tujuan untuk meneruskan perjuangan ayahnya, yaitu berguru dan khidmah kepada keluarga Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.

Di pesantren aktifitas beliau lebih banyak dihabiskan untuk mengabdikan diri pada kyai, kang Yahya tidak sungkan menggembala kambing dan memelihara hewan ternak milik kyai dan menyiapkan segala kebutuhan kyai. Tercatat diantara guru-gurunya adalah KH. Abdul Wahid Hasyim, KH. Idris Kamali, KH. Syamsuri Baedlowi, KH. Shobari dan Syekh Yasin Isa Al-Fadani. Selain itu beliau juga mengaji dan berguru kepada KH. Yusuf Hasyim, KH. Syamsun Hamam, dan KH. Abdullah Abbas.

Ketika berada di pesantren ia juga dekat dengan Gus Dur, anak dari gurunya yaitu KH. Abdul Wahid Hasyim. Bahkan setiap saat kang Yahya selalu menyiapkan segala keperluan Gus Dur dan keduanya menjadi akrab. Dengan kedekatan mereka berdua semasa di pesantren Tebu Ireng Jombang, maka ketika kang Yahya memerlukan Gus Dur untuk menghadiri setiap kegiatan yang ada di Pondok Pesantren Miftahul Muta’alimin Babakan Ciwaringin Gus Dur menyempatkan waktu untuk menghadirinya.



Organisasi dan Politik KH. Yahya Masduki

Dalam urusan politik, kyai dan ulama lebih mengedepankan pendekatan “politik kemaslahatan” ketimbang politik praktis. Ulama atau Kyai memiliki caranya sendiri sehingga sering berseberangan bahkan berbenturan dengan status quo yang lebih menghendaki kemapanan dan alergi terhadap perubahan.

Kang Yahya aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dan melakukan berbagai perubahan. Ia sering mengadakan pertemuan antara kyai, baik dalam skala kabupaten Cirebon ataupun sewilayah III Cirebon, dengan mendatangkan pembicara dari pusat. Pada tahun 1999, pasca-lengsernya presiden Soeharto dan memasuki era Reformasi dengan sistem politik multipartai, ia merupakan salah satu penggagas diadakannya pertemuan kyai dan ulama se-Wilayah III Cirebon di pondok pesantren Miftahul Muta’alimin.

Pertemuan itu menindak lanjuti gagasan Gus Dur dan pertemuan kyai-kyai di Jawa Timur tentang dimunculkannya partai politik yang akan menjadi wadah aspirasi politiknya warga NU.

Saat itu nama yang muncul untuk nama partai politik itu adalah Partai Kebangkitan Umat (PKU), yang kemudian berganti menjadi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Walaupun tidak terlibat langsung, kang Yahya terus aktif mendorong majunya PKB. Terbukti beliau melakukan konsolidasi pada para ulama dan kyai di pedesaan dan dalam karir politiknya KH.Yahya Masduqi pernah menjadi Ketua Dewan Syuro DPC PKB Kabupaten Cirebon. Cukup banyak konstribusi beliau utuk kemajuan PKB. Konsep beliau adalah “Bagaimana PKB ini maju dan berkembang di massa yang akan datang, bagaimana agar PKB dapat dicintai masyarakat, dan didukung oleh para kyai, sehingga PKB betul-betul representasi dari politik dan peran serta kyai didalam membangun umatnya”.

Karir berorganisasi beliau tidak hanya diakui diwilayah III Cirebon saja, tetapi juga di wilayah Jawa Barat. Kang Yahya dipercaya untuk menjabat Wakil Rois Syuriah PWNU Jawa Barat pada tahun 2001-2006. Kepeduliannya terhadap organisasi didorong oleh kecintaan serta dedikasi terhadap Nahdlatul Ulama.

KH. Yahya Masduki Menjadi Seorang Pendidik

Sekembalinya dari pesantren, beliau tidak langsung aktif mengajar. Tetapi sebagaimana umumnya anak seorang kyai, ia terlebih dahulu diberikan kebebasan dalam menentukan pilihan yang sesuai dengan minat dan keinginannya. Namun tak beberpa lama kemudian beliau disuruh untuk mengajar di Madrasah Al-Hikamus Salaffiyah (MHS). Saat mengajar di MHS kang Yahya memegang pelajaran Nahwu dengan materi kitab Alfiyah. Ketika mengajar beliau selalu mendasarkan kepada materi yang telah dihafalnya, selain itu pula KH.Yahya Masduqi sangat menekankan kedisiplinan.

Metode pembelajaran yang KH.Yahya Masduqi terapkan itu sebagaimana ciri pendidikan di Jawa Timur. Yakni lebih menekankan sistem hafalan, beliau juga menerapkan sistem itu untuk setiap pelajarannya.

Selain di pesantren, Kang Yahya juga mengabdikan sebagian hidupnya umat secara luas. Hampir setiap malam beliau keliling di desa-desa, sekitar Pesantren Babakan Ciwaringin untuk menjumpai masyarakat. Beliau tidak hanya dekat dengan masyarakat pesantren, beliau juga dekat dengan tokoh agama lain di Cirebon, anak-anak muda NU, Ahmadiyah, dan aktivis LSM.

Sedangkan dalam aktivitas kehidupan bermasyarakat, KH. Yahya Masduqi, mengadakan pengajian rutinan bersama tokoh-tokoh masyarakat, baik bertempat di pesantren ataupun di kampung-kampung. Pengajian tersebut dikenal dengan nama “pengajian reboan”, karena pengajian ini dilakukan pada hari rabu dalam setiap minggunya. Pengajian ini lebih mengarahkan kepada pembahasan kitab Tafsir Munir yang membacakannya tidak hanya beliau, tetapi ada dua sahabatnya juga yaitu KH. Bulqin Mujmal dan KH. Muthih.

Sumber : Jurnal Masile

Related posts