Biografi Singkat Imam Maraghi : Profil, Pendidikan, Karya dan pemikiran

  • Whatsapp
Biografi Singkat Imam Maraghi : Profil, Pendidikan, Karya dan pemikiran


Biografi Singkat Imam Maraghi | Profil Imam Maraghi | Pendidikan Imam Maraghi | Karya Imam Maraghi | Pemikiran Imam Maraghi | Wislahcom | Referensi |

Profil Imam Maraghi

Nama lengkapnya adalah Ahmad Mustafa bin Muhammad bin Abdul Mun’im al-Maraghi. Kadang-kadang nama tersebut diperpanjang dengan kata Beik, sehingga menjadi Ahmad Mustafa al-Maraghi Beik. Ia berasal dari keluarga yang sangat tekun dalam mengabdikan diri kepada ilmu pengetahuan dan peradilan secara turun-temurun, sehingga keluarga mereka dikenal sebagai keluarga hakim.

Al-Maraghi lahir di kota Maraghah, sebuah kota kabupaten di tepi barat sungai Nil sekitar 70 km di sebelah selatan kota Kairo, pada tahun 1300 H/1883 M. Nama Kota kelahirannya inilah yang kemudian melekat dan menjadi nisbah (nama belakang) bagi dirinya, bukan keluarganya. Ini berarti nama al-Maraghi bukan monopoli bagi dirinya dan keluarganya.



Ia mempunyai 7 orang saudara. Lima di antaranya laki-laki, yaitu Muhammad Mustafa al-Maraghi (pernah menjadi Grand Syekh Al-Azhar), Abdul Aziz al-Maraghi, Abdullah Mustafa al-Maraghi, dan Abdul Wafa’ Mustafa al-Maraghi. Hal ini perlu diperjelas sebab seringkali terjadi disalah kaprah tentang siapa sebenarnya penulis Tafsir al-Maraghi di antara kelima putra Mustahafa itu. Kesalah-kaprahan ini terjadi karena Muhammad Mustafa al-Maraghi (kakaknya) juga terkenal sebagai seorang mufassir. Sebagai mufassir, Muhammad Mustafa juga melahirkan sejumlah karya tafsir, hanya saja ia tidak meninggalkan karya tafsir Al-Qur’an secara menyeluruh.

Ia hanya berhasil menulis tafsir beberapa bagian Al-Qur’an, seperti surah al-Hujurat dan lain-lain. Dengan demikian, jelaslah yang dimaksud di sini sebagai penulis Tafsir al-Maraghi adalah Ahmad Mustafa al-Maraghi, adik kandung dari Muhammad Mustafa al-Maraghi. Masa kanak-kanaknya dilalui dalam lingkungan keluarga yang religius.

Pendidikan dasarnya Ia tempuh pada sebuah Madrasah di desanya, tempat di mana Ia Mempelajari Al-Qur’an, memperbaiki bacaan, dan menghafal ayat-ayatnya, sehingga sebelum usia 13 tahun Ia sudah menghafal seluruh ayat AlQur’an. Di samping itu, Ia juga mempelajari ilmu tajwid dan dasar-dasar ilmu agama yang lain. Setelah menamatkan pendidikan dasarnya tahun 1314 H./1897 M, atas persetujuan orang tuanya, al-Maraghi melanjutkan pendidikannya ke Universitas al-Azhar di Kairo.



Ia juga mengikuti kuliah di Universitas Darul Ulum Kairo. Dengan kesibukannya di dua perguruan tinggi ini, al-Maraghi dapat disebut sebagai orang yang ulet, sebab keduanya berhasil diselesaikan pada saat yang sama, tahun 1909 M. Di kedua Universitas tersebut, al-Maraghi mendapatkan bimbingan langsung dari tokoh-tokoh ternama dan ahli di bidangnya masing-masing pada waktu itu. Seperti, Syekh Muhammad Abduh, Syekh Muhammad Bukhait alMuthi’i, Ahmad Rifa’i al-Fayumi, dan lain-lain. Merekalah antara lain yang menjadi narasumber bagi al-Maraghi, sehingga Ia tumbuh menjadi sosok intelektual muslim yang menguasai hampir seluruh cabang ilmu agama.

Pendidikan Imam Maraghi

Ketika al-Maraghi lahir, situasi politik sosial dan intelektual di Mesir sedang mengalami perubahan, sebab pada masa itu nasionalisme “Mesir untuk orang Mesir” sedang menampakkan peranannya baik dalam usaha membebaskan diri dari kesultanan Utsmaniyah maupun penjajahan Inggris. Oleh karena itu, ketika ia lulus dari sekolah menengah di kampungnya, orang tuanya menyuruhnya untuk melanjutkan pendidikan di Universitas al-Azhar.

Semasa belajar di al-Azhar beliau amat menekuni ilmu bahasa Arab, Tafsir, Hadis, Fiqih, Akhlak, ilmu Falak dan juga ilmu yang lain. Inilah barangkali yang menyebabkan beliau menjadi salah seorang murid yang cemerlang dalam pelajrannya yang akhirnya beliau terpilih sebagai alumnus terbaik pada tahun 1904 M.



Di antara guru-gurunya adalah Syaikh Muhammad Abduh, Syaikh Muhammad Hasan al-Adwi, dan Syaikh Rifa’i al-Fayumi. Pada masa selanjutnya al-Maraghi semakin mapan, baik sebagai birokrat, maupun sebagai intelektual muslim. Beliau pernah menjabat sebagai Qadhi di Sudan hingga tahun 1919, kemudian beliau diangkat sebagi ketua tinggi Mahkamah Syari’ah pada tahun 1920. Pada tahun 1928 beliau diangkat pula sebagai Rektor di Universitas al-Azhar sebanyak dua kali yaitu pertama pada Mei 1928, dan yang keduanya pada bulan April 1935.

Sewaktu memimpin al-Azhar beliau berusaha untuk melanjutkan usaha gurunya untuk melakukan pembaharuan terutama dalam mengubah pola pikir umat Islam yang ketika itu menjadi umat yang terbaik dan bersikap terbuka dalam masalah pendidikan. Namun aqpa yang telah direncanakan itu mendapat tantangan yang amat kuat terutama oleh pihak ulama tradisional. Oleh karena itu, Beliau akhirnya meletakkan jabatan tersebut.

Beliau meninggal dunia pada tanggal 9Juli 1952 M/ 1371 H di tempat kediamannya di Jalan Zulfikar Basya no. 37 dan dikuburkan di pemakaman keluarganya di Hilwan, kira-kira 25 KM di sebelah selatan kota Kairo. Ia wafat pada usia 69 tahun dan kemudian namanya di abadikan sebagai nama salah satu jalan yang ada di kota tersebut. Al-Maraghi merupakan Ulama’ kontemporer terkemuka yeng pernah dimiliki oleh dunia Islam. Selama hidup, beliau telah mengabdikan diri pada ilmu pengetahuan dan agama.

Karya Imam Maraghi

Al-Maraghī telah melahirkan ratusan ulama, pelajar serta ribuan sarjana yang dapat dibanggakan oleh lembaganya masing-masing, beberapa di antaranya berasal dari Indonesia, seperti :

  • Abdul Razaq al-Amudy, dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya.
  • Ibrahim Abdul Halim, dosen IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
  • Mastur Jaghuhri, dosen IAIN Antasari Banjarmasin.
  • Muhktar Yahya, guru besar IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Selain itu al-Maraghī juga mepunyai banyak karya, karya tulis al-Maraghī yang terbesar adalah tafsir al-Maraghī, yang terdiri dari 30 juz, sedangkan karya-karya lainnya adalah ’Ulum al-Balaghah, Hidayah al-Ṭalib, Tahżīb al-Taudīh, Buhuṣ wa Ara‘, Tarīkh ’Ulum al-Balaghah wa Ta’rīf bi Rijaliha, Mursyid al-Ṭulab, al-Mu’jaz fI al-Adab al-’Arabī, al-Mu’jaz fī ’Ulūm al-Uṣūl, al-Diniyāt wa al-Akhlāq, alHisbah fī al-Islam, al-Rifq bi al-Ḥayawān fī al-Islam, Syarkh Salaṡin hadisin, Tafsīr Juz Innama al-Sabil, Risalah fī Zaujat al-Nabi saw., Risalah Iṡbat Ru‘yah wa al-Hilal fī Ramaḍan, al-Khuṭab wa al-Khuṭaba fī al-Daulatain al-Umawiyyah wa al-Abbasyiyyah, al-Muṭala’ah al- ’Arabiyyah li al-Madaris al-Sudaniyyah, Risalah fī Muṣṭala ‘ah al-Hadiṡ.

Pemikiran Imam Maraghi

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa metode penafsiran ayat-ayat alQur’an telah dibagi menjadi empat macam yaitu : metode tahlili ( analisis ), metode ijmali (Global), metode muqorin ( kompratif), dan metode maudhu’i ( tematik). Sedangkan metode yang digunakan penulisan Tafsir al-Maraghi adalah metode tahlli ( analisa), sebab pada mulanya, dia menempatkan ayat-ayat yang dianggap satu kelompok dan sistematikanya sebagai berikut :

  • Menempatkan ayat- ayat diawal pembahasan Pada setiap pembahasan ini, dia mulai dengan satu, dua atau lebih ayat-ayat al-Qur’an, yang kemudian disusun sedemikian rupa sehingga memberikan pengertian yang menyatu.
  • Penjelasan kata-kata Tafsir Mufrodat Kemudian dia juga menyertakan penjelasan-penjelasan kata-kata secara bahasa jika memang terdapat kata-kata yang dianggep sulit untuk dipahami oleh para pembaca.
  • Pengertian ayat secara ijmali (global) Kemudian dia juga menyebutkan makna ayat-ayat secara ijmali (global) dengan maksud memberikan pengertian ayat-ayat diatas secara global, sehingga sebelum memasuki pengertian tafsir yang menjadi topik utama para pembaca terlebih dahulu mengetahui ayat-ayat secara global.
  • Asbabun Nuzul (sebab-sebab turunnya ayat) Selanjutnya, dia juga menyertakan bahasan asbabun nuzul jika terdapat riwayat shahih dari hadist yang menjadi pegangan dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an.
  • Mengesampingkan istilah-istilah yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Didalam tafsir ini sehingga al-Maraghi mengesampingkan istilahistilah yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan misalnya, ilmu sharaf, ilmu nahwu, ilmu balagha, dan lain sebagainya. Walaupun masuknya ilmu-ilmu tersebut dalam tafsir sudah terbiasa dikalangan mufasirnnya terdahulu. Menurutnya, masuknya ilmu-ilmu tersebut justru merupakan suatu penghambat bagi pembaca di dalam mempelajari ilmu-ilmu tafsir.

Corak Tafsir al-Maraghi Corak yang dipakai dalam Tafsir al-Maraghi adalah corak adab alIjtima’i, sebagai berikut : diuraikan dengan bahasa yang indah dan menarik dengan berorentasi sastra kehidupan budaya dan kemasyarakatan. Sebagai suatu pelajaran bahwa al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk dalam kehidupan individu maupun masyarakat. Penafsiran dengan corak adab al-ijtima’i berusaha mengemukakan segi keindahan bahasa dan kemukjizatan al-Quran berusaha menjelaskan makna atau maksud dituju oleh al-Qur’an, berupaya mengungkapkan betapa al-Qur’an itu mengandung hukum-hukum alam dan aturan-aturan kemasyarakatan, serta berupaya mempertemukan antara ajaran al-Qur’an, teori-teori ilmiah yang benar. Dan dalam Tafsir al-Maraghi ini juga menggunakan bentuk bil ra’yi , disini dijelaskan bahwa suatu ayat itu uraiannya bersifat analisis dengan engemukakan berbagai pendapat dan di dukung oleh fakta-fakta dan argumen yang berasal dari al-Qur’an.

Related posts