Biografi Singkat Imam Ghazali : Profil, Pendidikan, Karya dan Pemikiran

  • Whatsapp
Biografi Singkat Imam Ghazali : profil, pendidikan, karya dan pemikiran


Biografi Al Ghazali | Biografi Singkat Imam Ghazali | Profil Imam Al Ghazali | Pendidikan Imam Ghazali | Karya Imam Ghazali | Pemikiran Imam Ghazali | Wislahcom | Referensi |

Profil Imam Ghazali

Imam Al-Ghazali merupakan tokoh muslim terkemuka di dunia. Beliau salah satu ilmuwan terkenal yang mempelajari ilmu di bidang filsafat dan tasawuf. Melalui pemikirannya, Imam Al-Ghazali menjadi salah satu orang yang berpengaruh bagi perkembangan dunia Islam.

Pemilik nama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i ini pernah memegang jabatan-jabatan sebagai naib konselor di Madrasah Nizhamiyah, sebuah pusat pengajian tinggi di Baghdad. Melalui beberapa karya buku, beliau berhasil memberi sumbangsih bagi perkembangan kemajuan umat manusia.



Maka tak heran apabila pemikiran Imam Al-Ghazali hingga kini terus dipelajari dan dikembangkan. Hal ini dikarenakan pemikirannya masih relevan hingga saat ini.

Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad bin Muhammad bin Ta’us Ath-Thusi Asy-Syafi’i Al-Ghazali, yang secara singkat dipanggil Al-Ghazali atau Abu Hamid Al-Ghazali, lahir di kota bersejarah Ghazlah, Thus Khurusan, sebuah kota di Iran pada tahun 450 H/1058 M, tiga tahun setelah kaum Saljuk mengambil alih kekuasaan di Baghdad. Ayah Al-Ghazali merupakan seorang muslim yang taat dan meninggal saat putranya masih bayi. Al-Ghazali dan saudaranya, Ahmad, 10 kemudian dibesarkan oleh ibu mereka yang memastikan mereka menerima pendidikan yang baik.

Pendidikan Imam Ghazali

Sebelum menginjak usia lima belas tahun, Al-Ghazali menguasai bahasa dan tata bahasa Arab, Alquran, hadits, fikih, serta aspek-aspek pemikiran dan puisi sufi. Selanjutnya, dia melakukan studi rinci mengenai fiqih di bawah bimbingan Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Radhkani di Thus dan Abul Qasim Ismail bin Mas’ada Al-Ismaili, seorang ahli terkemuka dalam bidang ini dalam seminar Jurjan. Pada usia tujuh belas tahun, Al-Ghazali berhasil menyelesaikan pendidikannya dalam bidang fiqih dan pulang ke Thus untuk melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi



Menjelang usia dua puluhan, Al-Ghazali berangkat menuju Naishabur untuk mengejar pelajaran lanjutan dalam ilmu ilmu keislaman. Dia mempelajari teologi islam dan fikih di bawah bimbingan “Imam Al-Haramain” Abdul Ma’ali Abdul Malik al-Juwaini (w. 478 H/1086 M). Al-Juwaini mengajar di madrasah Nizamiyyah yang terkenal di Naishabur dan AlGhazali menjadi salah seorang murid favoritnya. Al-Juwaini sangat terkesan dengan kecemerlangan intelektual dan kemampuan analisis Al-Ghazali, sehingga ia mencalonkan Al-Ghazali sebagai asisten pengajarnya.

Al-Ghazali berguru kepada Imam Al-Juwaini hingga menguasai ilmu manthiq, kalam, fiqh-ushul fiqh, filsafat, tasawuf, dan retorika perdebatan. Ilmu-ilmu yang didapatkannya dari Al-Juwaini benar-benar ia kuasai, termasuk perbedaan pendapat dari para ahli ilmu tersebut, hingga ia mampu memberikan sanggahan-sanggahan kepada para penentangnya. Karena kemahirannya dalam masalah ini, AlJuwaini menjuluki Al-Ghazali dengan sebutan bahr mu’riq (lautan yang menghanyutkan). Kecerdasan dan keluasan wawasan berpikir yang dimiliki Al-Ghazali membuatnya menjadi populer. Bahkan, ada riwayat yang menyebutkan bahwa diam-diam di hati Al-Juwaini timbul rasa iri.

Begitu Al-Ghazali mulai mengajarkan fikih, kalam, dan hadist di Nizamiyyah, nama dan ketenarannya mulai tersebar di seluruh wilayah Islam. Sebagai pelindungnya, Nizam Al-Mulk secara rutin mengkonsultasikan semua isu agama dan politik penting saat itu. Kuliah-kuliah harian Al-Ghazali di Nizamiyyah menjadi begitu terkenal sampai-sampai dihadiri oleh tiga ratus orang murid dalam sekali perkuliahannya. Namun ketika AlGhazali mengira telah mencapai semuanya dalam usia yang begitu muda, tiba-tiba dia merasa dirinya terdampar di tengahtengah krisis intelektual.



Karya Imam Ghazali

Karya-karya tulisnya meliputi berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Berikut beberapa warisan dari karya ilmiah yang paling besar pengaruhnya terhadap pemikiran umat Islam:

1. Maqfishid Al Falisifah (tujuan-tujuan para filosof), karangan pertama yang berisi masalah-masalah filsafat.

2. Tahfifut Al Faldsifah (kekacauan pikiran para filosof) yang dikarang ketika jiwanya dilanda, keragu-raguan di Baghdad dan Al Ghazali mengecam filsafat para filosof dengan keras.

3. Mi’yfir Al Ilm (kriteria ilmu-ilmu).

4. lhya ‘Ulum Ad Din (menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama), merupakan karya terbesarnya selama beberapa tahun dalam keadaan berpindah-pindah antara damaskus,Yerussalem, Hijfiz dan Thus yang berisi panduan antara fiqih, tasawaf dan filsafat.

 5. Al Munqidz Min Ad Dialfil (penyelamat dari kesatuan), merupakan sejarah perkembangan alam pikiran Al Ghazali dan merefleksikan sikapnya terhadap beberapa macam ilmu serta jalan mencapai Tuhan.

6. Al Malirif Al ‘Aqliyyah (pengetahuan yang rasional).

7. Misykat Al Anwar (lampu yang bersinar banyak), pembahasan akhlaq tashawuf.

8. Minhaj At ‘Abidin mengabdikan diri pada Tuhan).beriman kepada allah semua ibadahnya dan amalannya hanya untuk tuhan ,karena itu cara untuk mendekatkan dirinya dengan sang khalik.

9. Al lqtishad fi Al I’tiqad (moderasi dalam akidah).mengikuti ajaran dalam agama dan kepercayaan mereka

10. Ayyuha Al Walad (wahai anak) mengajarkan tentang akhlak seorang anak dalam akidah islam.

11. Al Mustasyfa (yang terpilih) orang yang terpilih dalam organisasi dalam islam.

12. Iljam Al ‘Aw-wam ‘an `al kalam : tentang perkataan tuhan kepada manusia.

13. Mizan Al ‘Amal (timbangan amal) tentang akhlak amal seseorang.

Pemikiran Imam Ghazali

Dalam masalah fikih, beliau seorang yang bermazhab Syafi’i. Nampak dari karyanya Al Wasith, Al Basith dan Al Wajiz. Bahkan kitab beliau Al Wajiz termasuk buku induk dalam mazhab Syafi’i. Mendapat perhatian khusus dari para ulama Syafi’iyah. Imam Adz Dzahabi menjelaskan mazhab fikih beliau dengan pernyataannya, “Syaikh Imam, Hujjatul Islam, A’jubatuz zaman, Zainuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi Asy Syafi’i.”

Sedangkan dalam sisi akidah, beliau sudah terkenal dan masyhur sebagai seorang yang bermazhab Asy’ariyah. Banyak membela Asy’ariyah dalam membantah Bathiniyah, para filosof serta kelompok yang menyelisihi mazhabnya. Bahkan termasuk salah satu pilar dalam mazhab tersebut. Oleh karena itu beliau menamakan kitab aqidahnya yang terkenal dengan judul Al Iqtishad Fil I’tiqad. Tetapi karya beliau dalam aqidah dan cara pengambilan dalilnya, hanyalah merupakan ringkasan dari karya tokoh ulama Asy’ariyah sebelum beliau (pendahulunya). Tidak memberikan sesuatu yang baru dalam mazhab Asy’ariyah. Beliau hanya memaparkan dalam bentuk baru dan cara yang cukup mudah. Keterkenalan Imam Ghazali sebagai tokoh Asy’ariyah juga dibarengi dengan kesufiannya. Beliau menjadi patokan marhalah yang sangat penting menyatunya Sufiyah ke dalam Asy’ariyah.

Akan tetapi tasawuf apakah yang diyakini beliau? Memang agak sulit menentukan tasawuf beliau. Karena seringnya beliau membantah sesuatu, kemudian beliau jadikan sebagai aqidahnya. Beliau mengingkari filsafat dalam kitab Tahafut, tetapi beliau sendiri menekuni filsafat dan menyetujuinya.

Ketika berbicara dengan Asy’ariyah tampaklah sebagai seorang Asy’ari tulen. Ketika berbicara tasawuf, dia menjadi sufi. Menunjukkan seringnya beliau berpindah-pindah dan tidak tetap dengan satu mazhab. Oleh karena itu Ibnu Rusyd mencelanya dengan mengatakan, “Beliau tidak berpegang teguh dengan satu mazhab saja dalam buku-bukunya. Akan tetapi beliau menjadi Asy’ari bersama Asy’ariyah, sufi bersama sufiyah dan filosof bersama filsafat.” (Lihat Mukadimah kitab Bughyatul Murtad hal. 110).

Adapun orang yang menelaah kitab dan karya beliau seperti Misykatul Anwar, Al Ma’arif Aqliyah, Mizanul Amal, Ma’arijul Quds, Raudhatuthalibin, Al Maqshad Al Asna, Jawahirul Qur’an dan Al Madmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, akan mengetahui bahwa tasawuf beliau berbeda dengan tasawuf orang sebelumnya. Syaikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud menjelaskan tasawuf Al Ghazali dengan menyatakan, bahwa kunci mengenal kepribadian Al Ghazali ada dua perkara:

Pertama, pendapat beliau, bahwa setiap orang memiliki tiga aqidah. Yang pertama, ditampakkan di hadapan orang awam dan yang difanatikinya. Kedua, beredar dalam ta’lim dan ceramah. Ketiga, sesuatu yang dii’tiqadi seseorang dalam dirinya. Tidak ada yang mengetahui kecuali teman yang setara pengetahuannya. Bila demikian, Al Ghazali menyembunyikan sisi khusus dan rahasia dalam aqidahnya.

Kedua, mengumpulkan pendapat dan uraian singkat beliau yang selalu mengisyaratkan kerahasian akidahnya. Kemudian membandingkannya dengan pendapat para filosof saat beliau belum cenderung kepada filsafat Isyraqi dan tasawuf, seperti Ibnu Sina dan yang lainnya. (Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asyariyah 2/628).

Beliau (Syeikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud) menyimpulkan hasil penelitian dan pendapat para peneliti pemikiran Al Ghazali, bahwa tasawuf Al Ghazali dilandasi filsafat Isyraqi (Madzhab Isyraqi dalam filsafat ialah mazhab yang menyatukan pemikiran dan ajaran dalam agama-agama kuno, Yunani dan Parsi. Termasuk bagian dari filsafat Yunani dan Neo-Platoisme. Lihat Al Mausu’ah Al Muyassarah Fi Al Adyan Wal Madzahibi Wal Ahzab Al Mu’ashirah, karya Dr. Mani’ bin Hamad Al Juhani 2/928-929). Sebenarnya inilah yang dikembangkan beliau akibat pengaruh karya-karya Ibnu Sina dan Ikhwanush Shafa. Demikian juga dijelaskan pentahqiq kitab Bughyatul Murtad dalam mukadimahnya.

Setelah menyimpulkan bantahan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terhadap beliau dengan mengatakan, “Bantahan Ibnu Taimiyah terhadap Al Ghazali didasarkan kejelasannya mengikuti filsafat dan terpengaruh dengan sekte Bathiniyah dalam menta’wil nash-nash, walaupun beliau membantah habis-habisan mereka, seperti dalam kitab Al Mustadzhiri. Ketika tujuan kitab ini (Bughyatul Murtad, pen) adalah untuk membantah orang yang berusaha menyatukan agama dan filsafat, maka Syaikhul Islam menjelaskan bentuk usaha tersebut pada Al Ghazali. Yang berusaha menafsirkan nash-nash dengan tafsir filsafat Isyraqi yang didasarkan atas ta’wil batin terhadap nash, sesuai dengan pokok-pokok ajaran ahli Isyraq (pengikut filsafat neo-platonisme).” (Lihat Mukadimah kitab Bughyatul Murtad hal. 111).

Related posts